Mianhae (part 1)

mg_1455-23-06-45

Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini….
pastilah cinta akan menyatukan kita
di kehidupan yang akan datang

“Lee Jin-ah…. kau mau kita dideskualifikasi hah? Cepat!” jeritan yang memekakan telinga itu membuat Jin-ah bergegas memakai sepatunya dengan mulut yang masih tersumpal sandwicth. Dan langsung disambut gadis dengan tatapan membunuh.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan tadi malam sampai kau bisa dengan tulinya tidak mendengar alaram yang kupasang ditelingamu hah?!”

“berhenti mengomel dan cepatlah! kau bilang kita bisa telat, dan sekarang kau yang memperlambat gerakku.”

“dasar gadis tengik kau fikir aku siapa hah? Dongsaeng kurang ajar!”

“ kau hanya kakak kelasku dan bukan Eonnie-ku aku tak akan sudi punya eonnie dengan suara seperti nenek sihir seperti mu!”

“Kau!”

“Cepatlah eonnie..”

Dan dengan kemarahan sampai diubun-ubunMyun-ah menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas dengan kekuatan penuh sehingga Jin-ah yang duduk dibangku penumpang hampir terjungkal kebelakang.

“Yak! Aku tak mau mati bersamamu! Dan berhenti untuk balas dendam!”

“bisa kau tutup mulutmu?”

*****

“ sial! Mereka kuat sekali!” dengus Hyun-mi sambil memegangi lututnya yang serasa hampir lepas dari sendi-sendinya

“ masih ada waktu dan tinggal 3 orang lagi kita bisa menang telak dari mereka.” Ujar Eun-ji yang masih terlihat kelelahan

“Jin-ah lututmu?” ujar Hyun-mi yang menatap ngeri lutut Jin-ah yang membiru keunguan.

“jangan pikirkan aku! Konsentrasi saja aku masih bisa berdiri.”

“kau yakin!”

“berhenti membuatku kesal! Bola ditanganku pasti membuat mereka membayar untuk kakiku!”

“dasar pendendam!” dengus Myun-ah.

Terdengar peluit tanda istirahat selesai dan pertandingan dimulai kembali. Pertandingan basket kali ini adalah pertandingan yang akan menentukan siapa yang akan maju ke perlombaan nasional. Peluit dibunyikan dan tanpamemberi peluang untuk siapapun, Jin-ah dengan ganas melemparkan bola tepat kearah wajah gadis yang mendorongnya hingga terbentuk cidera dilututnya dan dagunya beberapa menit yang lalu. Kemampuan gadis itu memang tak terelakan dengan kondisi yang bisa dibilang cukup parah. Dia bisa bergerak dengan kecepatan menganggumkan. Menumbangkan 2 gadis yang mebuatnya kesal sampai keubun-ubun dan membuat Hyun-mi dan Eun-ji melongo melihat setan yang ada dalam gadis itu mengamuk.

Peluit akhirpertandingan pun berbunyi dan diregu lawan hanya selisih 1 satu angka. Tapi itu cukup membawa mereka melangkah ke jenjang nasional.

“Wooo Jin-ah kau hebat” seru Eun-ji sambil melompat-lompat sendiri. Sedangkan Jin-ahtak menujukkan ekspresi senang sedikitpun. Dia seperti menurunkan suhu tubuhnya yang seperti terbakar wajahnya tanpa ekspresi itu membuatnya terlihat seperti patung.

“Kita menang… kuharap wajah gadis tengik itu hancur dengan pukulanmu tadi Jin-ah. Itu bukan pelanggarankan?” Ujar Myun-ah bangga sambil mengkalungkan lengannya dipundak Jin-ah.

Namun detik berikutnya Jin-ah sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan wajah yang memucat ditambah lututnya yang membengkak. Dan tanpa ada perintah seorang laki-laki melompat memasuki arena pertandingan dengan membopong Jin-ah keluar lapangan di ikuti para pemain lainnya.

***

“Eomma!” jerit Jin-ah sambil bangun dari tidurnya namun detik berikutnya dia memiris kesakitan karna lututnya berdenyut menyakitkan.

“aish….” dengus Jin-ah sambil memegangi lulutnya yang sudah terbungkus gift.

“ Kau bangun juga.”

Suara itu begitu familiar di telinga Jin-ah dan membuatnya reflek menoleh kearah kanan ranjangnya dan menemukan sesosok namja yang duduk dengan wajah angkuhnya sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya dan menatap Jin-ah dengan tatapan mengintimidasi.

“ Yak! Sedang apa kau disini. Ini dimana?”

“ kau masih berani meneriakiku setelah aku menggendong mu kerumah sakit dan duduk disini selama 2 hari? Apa yang sebenarnya yang ada diotakmu itu…”

“2 hari kau bilang? Aigoo… aku harus latihan bukankah. . . . OMO hari ini aku harus berangkat ke Lond…Appo!” jerit Jin-ah saat merasakan lututnya denyut menyakitkan. Dan membuatnya hampir tersungkur jatuh jika Jong-in tidak menahannya. Lengan Jong-in melingkar diperut Jin-ah dan menahan bobot tubuh gadis itu hanya dengan satu tangan.

“seberapa besar memori otakmu itu Ah~ya… kau bodoh sekali”

“ Yak! Lepaskan tanganmu !”

“ pikir dulu jika aku lepaskanmu, kau akan tersungkur. Kau mau lututmu membengkak lebih besar?” ujar Jong-in sambil mengangkat Jin-ah dan mendudukannya diatas ranjang.

“Aku tak akan membiarkanmu jalan dengan kakimu. orang gila macam apa kau! pakai otak mu Lee Jin-ah!”

“ berhenti memanggilku bodoh!”

“Kau memang bodoh.”gumam Jong-in sambil mengambil kain kasa,dan alat-alat lainnya didalam laci. Sedangkan Jin-ah mengupat namja yang ada disampingnya.

“angkat dagumu.”

“Eoh?”

“Apa kau tuli? Angkat dagumu…” sungut Jong-in sambil mengangkat dagu Jin-ah. Dan melepaskan perban yang menempel didagunya.

“Aish… sakit bodoh.”

“diamlah… berapa luka lagi yang mau kau buat hah? Ini sudah ke 7 kali kau pingsan dan entah berapa ratus kali kau jatuh sampai terluka? Kau bosan hidup? Apa kau tak bisa tidur? kepalamu sakit ? kau benar-benar gadis gila.”

“jangan berlebihan kau seperti nenek-nenek yang sedang berceramah. Dasar menyebalkan.”

“ diamlah…”

“ah…bisakah kau pelan sedikit?”

“Jin-ah!” seru seseorang sambil membanting pintu. Namja itu langsung berlari kearah Jin-ah .

“Gwaenchana? Kau sudah sadar? Syukurlah…” ujar Hyukjae yang tanpa memberi kesempatan Jin-ah mengatakan sesuatu. Dan langsung memeluknya.

“dia baru saja bangun. Dan kalau kau tak melepasnya sekarang dia mungkin akan pingsan lagi karna kehabisan nafas.” Ujar Jong-in santai sambil duduk lalu menaruh gunting dan bekas perban yang Jin-ah pakai.

Hyukjae pun sadar dan melepaskan adik perempuannya itu.

“kenapa kau disini Oppa… bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“masa bodo tentang pekerjaan kau tak papa kan?”

“Oppa… kau lihat sendiri aku seperti apa bukan? Berhentilah menanyaiku dengan pertanyaan yang tak bermutu.!”

“kau benar-benar. Apa diagnosanya sudah keluar?”tanya Hyukjae yang tertuju pada Jong-in.

“belum.”

“Oppa.. aku mau pulang ne? Ne?”

“yak! Kau tak lihat kakimu? Betis mu retak 3cm lulutmu juga engkelnya geser dan retak! Dan kau baru saja sadar beberapa menit yang lalu sekarang kau mau pulang?” bentak Jong-in sambil berdiri melotot kearah Jin-ah dan tak mau kalah Jin-ah juga ikut melotot hingga wajah mereka beradu.

“yak kenapa kau yang membentakku!Oppa saja tak pernah membentakku.”

“Oppa… kita pulang hm?”rengek Jin-ah dan mengeluarkan jurus Aegyo sambil mengedipkan matanya beberapa kali.

“Aku bukan Park Jung soo yang mudah kau tipu dengan Aegyo payahmu Chagi… “

“Oppa itu menjijikan! Dasar monyet menyebalkan.”

“tunggu sampai diagnosanya keluar.” sela Jong-in

“aku hanya patah tulang… kenapa sampai menunggu diagnosa. Aku mau pulang”

“Yak! Ini rumah sakit jangan teriak seenak perutmu saja. Kau bisa membuat gendang telinga bayi yang baru lahir pecah kau tau?”

“apa hubungannya dengan bayi?”

“ruangan sebelah memang banyak bayi… dan kau”

“sudahlah. Bersiap kita pulang, Kkamjong~a… kau panggil suster untuk menyabut infusnya lalu kau bawa sekalian dia pulang. Aku akan membayar biaya rumah sakit. Aku mana betah mendengar rengekannya …” sela Hyukjae karna dia tau kedua orang disampingnya ini tak akan mudah untuk berhenti berdebat.

“Oppa…. Saranghae..”seru Jin-ah dengan mata yang melirik kearah Jong-in dan dengan tatapan mengejek namun Jong-in terlihat tak terpancing dan hanya memasang  wajah datar.dia hanya diam dan berjalan keluar ruangan

“ternyata kau bisa membual Chagi… kau tunggu disini.” Uajr Eunhyuk sambil berjalan keluar ruangan mengikuti Jong-in yang sudah lebih dulu keluar.

“Cih… dasar monyet” cibir Jin-ah saat Hyukjae menghilang.

“aku mendengarnya Dongsaeng tengik!” sungut Hyukjae sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.

*****

“Jiah…itu menjijikan Shireo!”

“kalau kau tak mau jalan saja sendiri dengan kakimu!” sungut Jong-in yang masih mempertahankan posisi jongkoknya.

“Kau sendiri yang bilang ‘tak akanku membiarkan kau berjalan dengan kakimu sendiri’ lalu kenapa kau malah menyuruh jalan sendiri hah?” ujar jin-ah sambil meniru logat Jong-in berbicara.

“ Aku sedang mempertanggungkan ucapanku dengan rela menggendong tubuh beratmu itu. kau saja yang tak mau.”sungut Jong-in sambil melirik kearah Jin-ah.

Jin-ah hanya mengerucutkan bibirnya sekaligus menimbang-nimbang apakah dia harus naik kepunggung Jong-in atau ah… tak ada pilihan lain. Hanya ini cara yang tidak terlihat seperti orang pesakitan yang duduk dikursi roda.

“Yak! Cepat kau mau pulang atau mau duduk disini seharian hah?”

“Ne..ne..ne..” Ujar Jin-ah malas sambil mengalungkan kedua tangannya keleher Jong-in dan kedua kaki Jin-ah sudah terjuntai diantara lengan Jong-in.

“Cih… ini memalukan.” Dengus Jin-ah saat melewati beberapa ornag yang memperhatikan mereka berdua.

“Diamlah….”

“eum… Innie~a… “

“Hm..”

“Bagaimana keadaan mereka. Maksudku tim..”

“Mereka tak papa, kaulah yang harusnya dikhawatirkan. Berhenti memikirkan hal yang tak harus kau fikirkan.” Sela Jong-in memotong ucapan Jin-ah yang membuatnya geram.

“Pabo! Mana mungkin aku tak khawatir. mereka pergi tanpa ku!” sungut Jin-ah dan dengan sekuat tenaga memukul Jong-in. Namun namja itu sama sekali tak mengaduh kesakitan membuat makin Jin-ah kesal.

“mereka tak akan mati hanya karna tak ada kau! Dan jangan memukulku atau ku jatuhkan kau sekarang!”

“Cih… kau hanya mengretak. Kyaaa”jerit Jin-ah saat Jong-in melepaskan kaki Jin-ah dan membuat Jin-ah mengaduh kesakitandengan tangan yang masih melingkar di leher Jong-in sehingga Jin-ah masing mengelantung dibadan Jong-in.

“Jangan meremehkanku. Aku tak pernah main-main dengan ucapanku bukankah yang paling tau tentang itu. kakimu itu bukan alasan.” Ujar Jong-in sambil kembali meraih kaki Jin-ah dan menggendongnya lagi.

“aku hanya bilang ‘kau hanya menggretak’ kenapa kau malah benar-benar menjatuhkanku. Aku tak memukulmu kan?”

“itu karna kau menantangku”

***

“Kau sudah tau diagnosanya Hyung?” tanya Jong-in sambil duduk disofa menatap kearah Hyukjae yang sedang berkutik dengan laptopnya.

“belum. Belum keluar, dokter bilang masih dibawa ke laboratorium. Sudahlah jelas Jin-ah hanya kelelahan.”

“hm…” gumam Jong-in. Tapi pikirannya masih melayang ke keadaan Jin-ah. Firasatnya benar-benar mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

“kalau kau mau tau kau bisa memintanya langsung bukan? Rumah sakit itu milikmu, Kau tuan muda yang tersasar.” Goda Hyukjae sambil menyenggol lenganku dengan sikunya.

“berhenti membahas kekayaan.”

“kau khawatir karna kau hanya dekat dengan Jin-ah dan dia satu-satunya temanmu bukan? Kau terlalu pemalu untuk mencari teman. Dan adik ku yang bodoh itu tidak peka dengan apa pun dan menganggap semua orang yang ada disekitarnya itu temannya dan membuatmu sedikit nyaman dengannya.”

“Jin-ah… dia juga berharga bagiku oleh karna itu aku percaya padamu dan meninggalkannya disini dengan mu. Jung soo hyung mungkin akan sampai sebentar lagi, dia bilang mau pulang.” Ujar Hyukjae sambil menunjukan senyum gusinya yang menawan. Dan menepuk bahu Jong-in

***

“dari mana saja kau? Jong-in” ujar seorang laki-laki tua yang duduk sambil membaca koran dengan kacamata yang bertengger diatas hidungnya.

“menemani Jin-ah dirumah sakit aku sudah bilang pada Ahjumma 2 hari yang lalu” ujar Jong-in sambil berlalu meninggalkan Appanya.

“Aku sedang mengajakmu bicara jangan seenaknya kau pergi”

Tanpa mengeluarkan protes apapun Jong-in langsung berjalan kearah ayahnya dan berdiri tepat disampingnya.

“duduklah.” Perintah ayahnya itu langsung ia turuti tanpa protes, tanpa ekspresi dan tanpa emosi dan membuat namja itu terlihat seperti robot yang melakukan apapun yang diperintahkan oleh sang majikan.

“apa tak ada yang ingin kau tanyakan padaku?”

“untuk apa. Aku tak perlu bertanya apapun karna aku sudah bisa menjawab pertanyaan itu sendiri. Untuk apa aku bertanya padamu.”

“baik giliran aku yang bertanya.” Ujar pria itu sambil melipat koranlalu menaruhnya diatas meja bersama kacamatanya.

“pergi ke Jepang dan menikahlah disana. Kazumi menunggumu. Kau mau berpisah denganku kan?”

“itu bukan pertanyaan itu perintah aku tak akan menjawab apapun”

“Keras kepala. kau fikir kau hidup dengan uang siapa hah?!”

“Aku tak pernah mau dan tak pernah meminta kau untuk membesarkanku dengan uangmu.”

“Kim Jong-in!”

“Appa saja yang menikah dengan Kazumi aku tak berminat.”ujar Jong-insambil bangkit dari tempat duduknya

“Kau mau Jin-ah dalam bahaya hanya karna kau menolak menikah dengan Kazumi?” ujarnya yang membuat Jong-in menghentikan langkah kakinya.

“Apa kau lupa bahwa kazumi itu putri pemimpin Yakuza? Nyawa Jin-ah dan bisnis kuakan terancam!”

“JANGAN LIBATKAN JIN-AH DALAM BISNIS KOTORMU !” Seru Jong-in sambil menatap ayahnya tajam.

“gadis itu. menyikirlah dari sisi gadis itu jika kau mau dia tetap hidup”

“APPA!”

“TURUTI PERINTAHKU!”

Mereka berdua terlihat sangat menyeramkan satu sama lain. Jong-in berusaha tenang dengan mengepalkan tangannya disamping tubuhnya. Berusaha tidak menghambur kearah pria tua didepannya dan menghajarnya, karna dia masih menghormati ayahnya.

“Jin-ah tak akan kulepaskan. Dan pikir saja nasibmu sendiri dengan Yakuza itu. aku akan bicara dengan Kazumi. Aku bukan robotmu Tuan Kim.” Ujar Jong-in sengit lalu berjalan meninggalkan ayahnya diruang tamu. Dan kembali memacu mobilnya meninggalkan rumah itu.

***

“Wooaa tuan muda?! Sedang apa anda dirumahku?” ujar Baekhyun kaget saat tau siapa yang berada dibalik pintu

“aku boleh menginap dirumahmu kan Hyung?”

“apa anda…”

“Jangan bersikap formal denganku hyung. Tak ada yang mengikutiku dan kau tak akan dihukum.”ujar Jong-in sambil menorobos masuk kedalam rumah lalu menghempaskan tubuhnya disofa.

“ Hah. Baru kali ini ada tuan muda yang lebih menyebalkan. Bagaimana keadaan Jin-ah dia sudah sadar?”

“dia bahkan sudah pulang Hyung. Gadis keras kepala itu membuatku hampir terkena serangan jantung.”

“karna kau terlalu menyukainya tuan muda.”

“Hyung. Sudah ku bilang..”

“ ‘Jangan bersikap formal didepanku’aku tau, kau benar-benar. Kau majikanku dan aku hanya memanggilmu tuan muda saja kau semarah itu? jika aku jadi kau..”

“kau akan tersiksa.” Sela Jong-in. Membuat Baekhyun sedikit menyeringit lalu menghela nafas.

“ ah… benar Appa mu itu menakutkan.” Ujarnya sambil menyadarkan punggungnya ke kekursi

“Yak! Ayo kerumah Jin-ah aku mau bertemu dengannya. Hari ini aku libur.”timpal Baehyun dengan wajah berseri-seri.

“Cih…”

“Wae? Kau tak suka aku mendekatinya? Kau tak punya hak karna Jin-ah bukan Yeoja mu harusnya kau jadikan dia milikmu nikahi dia..”

“Kau gila?”

“Mungkin iya jika aku jadi kau.”ujar Baekhyun puas dan membuat Jong-in terdiam beberapa saat.

“ kau benar. mungkin itu satu-satunya cara…” Gumam Jong-in yang membuat Baekhyun membulatkan matanya lebar-lebar.

“Yak! Kau tak serius dengan ucapan ku kan?” pekik Baekhyun

“Tidak! Aku sangat serius sekarang. Mungkin itulah satu-satunya jalan.” Ujar Jong-in dengan wajahnya yang sangat serius membuat Baekhyun merinding.

Tiba-iba bunyi nyaring Handphone Jong-in memecahkan keheningan yang tercipta. Dengan malas Jong-in mengambil Handphone-nya. Namun rasa malasnya langsung berubah saatmelihat nama yang ada di poselnya.

“Oppa…!” seru seseorang dari balik sana.

“Kazumi wae?”

“ kapan kau kesini aku tak sabar menunggumu.”

“Aku tak akan kesana.”

“Waeyo?” pekik Kazumi

“Aku tak  mau menikah denganmu. Mianhae …”

“Chamkkanman, apa maksudmu Oppa kau tak bercandakan?”

“aku serius Kazumi, aku tak bisa… “

“Wae?” terdengar isaknya yang tertahan dari seberang telphone.

“ Aku tak mencintaimu..”

“Tapi oppa kita bisa merangkainya dulu… cinta itu bisa terakhir Oppa..”

“Kau mau ke Seoul sekarang? Mau kujemput dibandara? Aku mau bicara denganmu langsung.”

“Oppa~ya….”

“Kazumi… aku mohon mengerti perasaanku. Kutunggu jika kau memang mau ke Seoul.”ujar Jong-in lalu menutup telphonenya.

“Kazumi?” tanya Baekhyun memastikan

“Hm.. gadis yang di tunangkan dengan..”

Ucapan Jong-in terpotong saat Hpnya kembali berdering.

“Aish…”

“Kazumi a..” keluh Jong-in langsung  tanpa melihat nama yang tetera di layar Handphone-nya

“Maaf tuan muda. Ini dari rumah sakit.”

“Ah ne. Eotthoke?”

“lebih baik tuan mengambilnya langsung kerumah sakit.”

“Baiklah.” Ujar Jong-in dan untuk kedua kalinya dia menutup telphone-nya

“Nugu?”

“dari rumah sakit. Kau mau kerumah Jin-ah ? aku antar sekalian aku mau ke Rumah sakit”

“ada urusan apa kau kerumah sakit?”

“Diagnosa Jin-ah keluar aku mau mengambilnya. Aku sedikit khawatir dia sudah terlalu sering jatuh dan pingsan aku takut ada masalah pada tubuhnya.”

“Cih kau. Cinta sekali kau pada Jin-ah…”

“Ppali..”

“Ne..”

****

“Annyeong…” ujar Baekhyun saat pintu rumah Jin-ah terbuka.

“Nuguya?” tanya Hyukjae.

“Baekhyun imnida. Aku teman Jin-ah” ujar Baekhyun sambil menujukan smiling eyes nya pada Hyuk Jae.

“masuklah..”

“Huaaa….. Bacon~a.. kau datang? Kau bawa apa itu?” sambut Jin-ah yang masih tergeletak disofa dengan kaki yang terjulur di atas sofa kecil. Dan menujuk kearah tas kertas yang Baekhyun pegang

“Aish… keadaanmu seburuk ini kau masih bisa membantai dua orang? Kau bukan manusia Jin-ah” ujar Baekhyun sambil menatap Jin-ah intens dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Dia hanya bisa menggelengkan kepala melihat keadaan gadis didepannnya. Dan hanya dibalas cengiran aneh milik Jin-ah.

“Kau bawa es krim, roti , atau makanan yang lainnya? Itu makanan kan?”

“hah… kau kelaparan tingkat tinggi ya? 2 hari tak makan.”

“Aish apa yang sebenarnya kau bawa..”

“ Kimbab, sushi, shasimi dan Es krim. Kau mau kan?” ledek Baekhyun sambil mengangkat isi katong pastik yang ada ditangannya.

Dan membuat Jin-ah menelan ludahnya karna sangat ingin makan.

“kau menakutkan.” Ujar Hyukjae yang tiba-tiba muncul dengan susu stoberry yang ada ditangannya.

“ Ayo kita makan Jinnie….”

“KAJJA!” seru Jin-ah sambil mengangkat tangan kanannnya.

*****

“Mrastenia Gravis?!”  ujar Jong-in kaget saat dokter yang ada didepannya menyebutkan nama penyakit itu penuh penekanan.

“ne tuan…neuromuscular juction penyakit ini terbilang langka.”

“penyakit apa itu?” tanya Jong-in yang membuat dokter didepannya gelisah.

“penyakit ini membuat sel- sel syaraf rusak dan mengganggu keseimbangan tubuh dan perlahan membuat kelumpuhan total pada tubuh penderita.”

“Lumpuh?!! Kalian gila? Mana mungkin Jin-ah terkena penyakit seperti itu! lakukan pemeriksaan ulang! Atau kalian aku aku bunuh satu persatu.” seru Jong-in syok mendengar kata itu keluar dari mulut sang dokter.

“Maaf tuan muda selama pasien pingsan kami sudah melakukan pemeriksaan berulang kali dan terakhir anda lihat itu adalah tes terakhir yang kami lakukan. Kami tak berani mengatakan hal seperti itu jika hasilnya belum keluar dan Nona Jin-ah positif terkena Mrastenia Gravis.”

“ Dan penyakit itu tak bisa disembuhkan ini lebih berbahaya dari kanker.”

“Pasti ada cara! Cari obat apapun yang akan menyebuhkannya!!”

“Tidak ada tuan… kami juga akan berusaha obat ini memulihkan sel yang mulai rusak. Nona Jin-ah harus selalu diawasi. Dia akan sering jatuh tanpa sebab. Kami mohon tuan muda harus bersabar.”

“Jin-ah… kenapa Jin-ah…” dengus Jong-in yang takbisa menahan emosinya yang meluap dan tetes demi tetes air mata jatuh dari matanya.

Namja itu hanya bisa terduduk dilantai setelah mengetahui kenyataan itu. Gadis yang ia cintai harus menderita dengan penyakit yang sama sekali tak bisa disembuhkan dan yang membuatnya labih kesal karna dia tak bisa melakukan apa-apa.

****

“Eh?”

“waeyo?”tanya Baekhyun dengan mulut penuh

“Shasimi ini licin sekali…” dengus Jin-ah saat menyadari Shasimi yang ada disumpitnya selalu jatuh.

“apanya yang licin… kau ini” ujarnya sambil berusaha menelan isi mulutnya

“Oppa…. ambilkan garpu? Ne?” rengek Jin-ah sambil mengedipkan kedua matanya

“Aigoo kau merusak acara makanku Jin-ah.”

“Kau tau aku tak bisa berjalan… hem?”

“ne..ne.. ne arraseo! Kau lebih menyebalkan kalau kau sakit Jin-ah” dengus Baekhyun sambil bangkit dari tempat duduknya dan menuju kedapur.

“Namja itu sering disini?” tanya Hyukjae saat Baekhyun menghilang.

“Dia pengawal Kkamjong. Dia memang sering disini.”

“ouh…”

“Wae Oppa?”

“Ani… hanya saja dia terlihat bodoh”

“Kau lebih terlihat bodoh. Aku rasa dia lebih pintar dari Oppa hanya saja nasibnya yang kurang beruntung.”

“Cih kau..”

“Mwoya?”

“kalau tak ada Baekhyun kubuang kau.”

****

“Kau senang bukan?”

“Tumben kau baik padaku? Kau dapat komik ini dimana? Kau baik Kkamjong~a…” ujar Jin-ah sambil dimanis-maniskan dengan mata berbinar-binar.

“yang jelas aku tak mencurinya.”

“sering –seringlah kau belikan aku komik.” Ujar Jin-ah dengan semangat menyobek segel buku itu.

“Kau ini membuang uang hanya untuk membelikannya komik” Ujar Hyuk-jae sambil menarik kuping Jin-ah.

“Apo! Oppa. . .” Miris Jin-ah

“Hyukjae! Ku tendang kau keluar jika kau melakukannya lagi.” Pekik Jin-ah.

“Cih bigini saja kau sudah kesakitan.” Ujar Hyuk Jae sambil memukul kepala Jin-ah dengan tumpukan komik tebat di atas meja.

“Oppa! Apo. Kepala ku sakit dasar monyet!”

“Kau!”

“Hyung hentikan. Kau bisa ikut aku sebentar? Dan kau manusia langka duduk manis saja disini Arra?” ancam Jong-in.

“Aku akan duduk manis” ujar Jin-ah dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

****

Jong-in hanya duduk bersandar dikursi kayu yang memang disediakan ditaman. Menatap miris dedaunan kering menutupi jalan setapak ditaman itu.

“Apa yang mau kau katakan” tanya Hyuk Jae sambil menyodorkan sekaleng Kopi dingin.

“Bisakah kau tak memukulinya seperti tadi aku bahkan hampir menghajarmu tadi Hyung.”

“Mwo? Hahahaha kau menyukai Adikku sampai seperti itu? jelas aku hanya bercanda, Jangan dimasukan kedalam hati. Kau fikir aku benar-benar akan melukainya.”

“Dia sudah terlalu sakit Hyung. Aku yakin tadi dia benar-benar kesakitan” ujar Jong-in dengan wajah yang benar-benar frustasi.

Dia menakup wajahnya dengan kedua tangannya. Merasakan denyutan menyakitkan dikepalanya. Entah apa yang bisa dia lakukan saat ini memikirkan gadis itu lumpuh saja membuatnya tak bisa berfikir Jernih.

“Ada apa sebenarnya? Hah?”

“Mrastenia Gravis.”

“Mwo?”

“Jin-ah. Kenapa harus gadis itu? dia tak melakukan kesalahan apapun.” Ujar Jong-in lemah. Suara seraknya keluar seperti terpaksa menggunakan pita suaranya.

“Apa yang sebenarnya kau maksud? Jawab pertanyaanku!!” Pekik Hyukjae sambil mencengkram kerah baju Jong-in tapi namja itu masih menunduk menyebunyikan wajahnya.

“Mrastenia Gravis, penyakit itu   Jin-ah dia   akan lumpuh Hyung.” Ujar Jong-in dan didetik berikutnya kepalan tangan Hyukjae melayang kearah pipi Jong-in.

****

Handphone Jin-ah berdering keras disamping sofa yang ia duduki dengan susah payah dia meraihnya.

“U? Nuguya?” Ujar Jin-ah

“Yeobseo?”

Lee Jin-ah Pabo!” jerit sesorang diseberang sana yang dengan cepat ia kenali.

“YAK! KAU MAU MEMBUATKU TULI LEE HYUN MI?!”

hahahaha….kau masih hidup? Paboya aku merindukanmu!”

“Cih yang benarsaja.Bagaimanapertandingannya?”

“Kau harus janji dulu padaku.”

“Janjiapa?”

“ Jangan marah “

“Ku tebak kaliankalah?”

“yah bisa dibilang seperti itu. Sangat memalukan kau tau?”

“Yah itubisaditebakpulanglahdanakuakanmencekiki kalian semua “

“Hahahaha mulutmu memang tajam! Kau fikir bisa mengejarku? Kau bahkan tak bisa berlari bodoh!”

“YAK!”

“Kau mau aku bawakan apa?”

“tidakbanyak. Kau tau bukanapa yang aku mau kau manusia yang paling mengertikubodoh.” Ujar Jin-ah sambil menyandarkan pungggungnya disofa.

berhenti memanggilkubodoh! Atau kupatahkan kakimu itu!”

“ Kalian berdua memang bodoh “ seru seseorang siapa lagi kalau bukan Eun-ji.

”YAK! Kau fikir kau jenius?”cibir Hyun-mi

“kalian bahkan tak mau jujur satu sama lain. Ah. . . jangan-jangan kau sedang merayu Jin-ah dan menanyakan keadaan ‘Happy Virus mu itu’?”

“YAK! LEE EUN JI !!! KAU MAU AKU BUNUH YESUNG-MU ITU HAH?!!”

“ Kalian berdua benar-benar bodohya?”

KAU JUGA BODOH! PABO!”seru mereka bersamaan dan langsung membuat tawa Jin-ah meledak bagaikan Bom.

“YAK!APA YANG LUCU HAH?!”

“ Ani . . . bawakanaku, makanan. . .”

“Itu selalu ada didaftar paling atasya?Aish…kau monyet perut karet.” Cibir Hyun-mi.

“Kau bilang apa tadi Huh?”

“Apalagi?”

“Sepatu!Ingat snekers jangan berani kaubeli warna pink atau kujejalkan sepatu itu kemulutmu detik itu juga.”Ujar Jin-ah dengan penuh penekanan di akhi rkalimat.

“Aigoo kau sedang memerasku?Ini London Lee Jin-ah bukan Korea, kopi disini saja lebih mahal daripada di Korea kau jangan gila!”

“kau yang menawarikubukan? Jadi aku sama sekali tak salah.”

“Yak! Hyun pabo!kau minta saja pada suaminya dijamin rekening mu penuh”seru Eun-ji dari belakangsana.

“Kau benar! Eun-ji ternyata kau bisa berfikir lancarya?”

Terdengar suara pukulan yang cukup keras. Tangangnya disitu sepertinya memang tak bisa berhenti untuk tidak memukul seseorang walaupun hanya satu hari.

“YAK! APPO” Seru Eun-ji

Apa maksud kalian?”

“Kim Jong-in siapalagi? Bisa dibayangkan berapa uang yang akan dia kucurkan kerekeningku.”Kekeh Hyun-mi. terdengar suara kegirangan Eun-ji dari belakangsana.

“YAK! KAU BERANI MEMINTA PADANYA ATAS NAMAKU KU BUNUH KALIAN BERDUA!”

“Jin-ah ini waktunya Shopping sampaijumpa di Korea. . .Annyeong”

“YAK! PABO”

“Aish…merakabenar-benargila!”

****

“KYAAA. . . .”

Mendengar jeritan itu Jong-in langsung berlari kearah kamar Jin-ah dan membuka pintu kamar Jin-ah hingga terdengar suara benturan pintu kamar dengan dinding. Terlihat Jin-ah sedang duduk dikursi meja belajarnya.

“Wae? kau membuatku kaget.”

“pensil ini, kenapa sulit sekali hanya memegangnya. . . ada apa denganku?” tanyanya suaranya terdengar frustasi. Tangannya sampai gemetaran membuat Jong-in bingung sendiri.

Dia berjalan menghampiri Jin-ah yang terduduk dikursi dengan wajah kesal sekaligus frustasi.

“memangnya apa yang mau kau tulis?” tanya Jong-in sambil menyeret sebuah kursi mendekat kekursi Jin-ah dan duduk disampingnya.

“Aku hanya bosan dan kebetulan otak ku bekerja baik untuk berkhayal. Lagi pula aku sudah lama tak mengisi blog ku” Protes gadis itu sambil mangerucutkan bibirnya.

“Kau yakin tak bisa memegang pensilmu itu?”

“ Apa aku terlihat berbohong?” sungut gadis itu yang terlihat sangat kesal.

“Kau mau aku yang menulisnya?”

“ itu memalukan!”

“lalu kau mau apa sekarang?”

“Aku bosan dirumah. Kapan kaki ku sembuh Innie. . . aku bosan. . .” gumam gadis itu sambil menyembunyikan wajahnya diantara lipatan tangannya.

Tiba-tiba Jong-in mengangkat tubuh Jin-ah dan menggendongnya. Dan sekaitka memabuat Jin-ah tak bisa bernafas karna kagetnya.

“YAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!”

“kau bilang kau bosan. Kita jalan-jalan? Eo”

“ Kalau kau mau menggendongku lebih baik aku di belakang bodoh”

“Kau sedang berkhayal tentang apa sekarang huh? Pangeran menggendong rakyat Jelata? Atau suami istri yang mau masuk ranjang?”

“YAK! DASAR MESUM!”

“otakmu, aku sadang membaca otakmu.”

“  aku sama sekali tak membayangkan hal-hal yang kau sebutkan itu tadi bodoh!”

“Jinjja? Aku tak yakin.”

“Innie kau mau mengantarku ke makam Eomma? Aku merindukanya. . .” gumam Jin-ah sambil mengalungkan lengannya keleher Jong-in dan menyembunyikan wajahnya di bahu Jong-in.

****

“Appa. . .” ujar Hyuk jae sambil membuka pintu dan terlihat seseorang yang duduk membelakangi pintu dan menatap ke jendela kaca transparan. Dia memutar kursi dan menatapa putra sulungnya berdiri didepannya sekarang.

“Ada apa kau kemari? Kau tak biasanya ke mari Lee hyuk jae.”

“ Bisakah kau pulang? Jin-ah membutuhkanmu.”

“ u? Eunhyuk Oppa? Kapan kau sampai diJepang?”  ujar seseorang dari belakang yang terlihat sangat cantik.

“Kazumi?”

“ wah kau makin tampan. Appa aku bisa ke Seoul bersama oppa kan?”

“ kau mau apa ke Seoul?”

“Apa aku tak boleh? Aku mau bertemu dengan tunanganku.”

“tunangan?”

“Ye. Kau harus datang ne? Mana Jin-ah eonnie?”

“ dia tidak itu. aku tak mungkin membawanya.”

“Wae?”

“ Tulang kakinya patah.” Ujar Hyuk jae sambil menatap ayahnya yang terlihat syok.

“patah kau bilang? Kau sebenarnya menjaga adik mu atau tidak Lee Hyuk jae?!”

“Lalu apa kau menjaganya? Kau bahkan meninggalkan Eomma yang sekarat.”

“ Oppa. . .”

“Kazumi kau keluar ini tak ada hubungannya denganmu ne? Jebal” pinta Hyuk jae yang terlihat sangat memohon pada gadis disampingnya itu. gadis itu mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan itu.

“ Aku datang kesini untuk memohon padamu Appa. Kalau kau memang masih menganggap kami anakmu. Temani Jin-ah aku tak mau melihatnya sedih memegang sumpit saja dia tak bisa.” Suaranya sekarang terdengar serak dan perlahan air matanya mengalir.

“ Apa yang terjadi dengan Jin-ah? Apa yang terjadi dengan putriku!!”

“Mrastenia Gravis. Jin-ah perlahan akan lumpuh Appa. . . aku tak mau melihatnya terlalu sedih. Sudah cukup dengan kepergian eomma. Aku mohon bantu adikku hidup, dia tak boleh meninggalkanku sendiri. Lakukan apapun yang kau bisa untuk menyelamatkannya. Kau satu-satunya orang yang bisa menolongku karna kau ayahku. Aku mohon padamu sebagai anak.”

****

Mereka berjalan menuruni perbukitan setelah mengunjungi makam dan berdo’a disana. Udara musim gugur yang memang baru di mulai bulan ini dedaunan yang menutupi jalan setapak dan suara angin yang berhembus yang memberi kenyamanan. Jin-ah mengeratkan tangannya dileher Jong-in dan menaruh dagunya dibahu Jong-in.

“ Kau bilang apa pada Eommamu?” tanya Jong-in membuka percakapan.

“ Aku bilang aku merindukan eomma dan menumpahkan kekesalanku karna aku sekarang sulit makan karna tak bisa memegang sumpit. Kau bilang apa pada eomma ku?”

“ Aku? Kau mau tau apa yang aku katakan pada Eommamu?”

“Ye.”

“ Aku meminta izin mengikatmu untukku apalagi.”

“Mwo?”

“ Kau  harus jadi istriku. Arra?”

“Chamkkanman. Apa maksudmu?”

“Menikahlah denganku maka aku akan bisa mengaturmu yang serampangan itu dan aku tak perlu menahan nafas lagi karna ketakutan kau akan mati. Jadi menikahlah denganku Lee Jin-ah.”

-TBC-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s