Mianhae (part 2)

MianhaeMianhae

Bunyi seseorang membuka pintu membuat Jin-ah sedikit mengalihkan perhatiannya kearah pintu.

“ Aku pulang. . .”

Suara yang bahkan tak asing ditelinga Jin-ah cara orang itu berjalan sangat ia hafal.

“Kau sudah pulang Oppa? Kau itu dari ma. . .”

Ucapan Jin-ah terhenti setelah melihat orang yang di bawa oleh Hyukjae. Gadis itu tak pernah membayangkannya sebelumnya, orang yang selalu ingin ia panggil setiap hari dan selalu ada dalam jangkauan matanya sekarang berdiri didepannya. Tubuh gadis itu sedikit gemetar. Ketakutan, itu sudah jelas. Takut mendengar kalimat itu lagi dari mulut orang yang ada didepannya.

“A. .appa?” ujar gadis itu sedikit ragu.

“Ah~ya… siapa yang datang?” ujar Jong-in yang muncul dari dapur sambil membawa 2 cangkir kopi yang mengepul.

Jong-in bahkan tak kalah kaget saat melihat orang yang Hyuk jae bawa. Namja itu hanya berdiri mematung dengan mata membelakak tak percaya bertemu dengan orang itu. mereka berempat terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Sesaat kemudian terdengar lagi suara pintu terbuka.

“Oppa. . .  bantu aku angkat koperku ini berat se. . .”

“U? JONG-IN OPPA!!!” seru gadis itu sambil menjatuhkan kopernya dan berlari kearah Jong-in dan langsung memeluk namja itu.

“Kazumi? Sedang apa kau disini?”

“ harusnya kau yang bertanya padamu Oppa, sedang apa kau dirumah Eonnie.”

“Eonnie?” pekik Jong-in tak percaya.

“Apa-apaan ini Kim Jong-in?!”

“Hyung tunggu dulu ini. . .”

“Ah. . . Hyuk oppa namja ini yang jadi tunanganku. Ternyata kau mengenal tunanganku Oppa.”

“Kazumi !” dengus Jong-in. Yang terlihat sangat amat tidak menyukai keadaannya sekarang.

Tatapan Jong-in tak lepas dari Jin-ah gadis itu sekarang terlihat hampir menangis. Getaran tubuh gadis itu begitu ketara bahkan, tangan gadis itu membiru sekarang. Jin-ah menatap Jong-in bingung dan terlihat tak bernyawa.

“Kazumi! Lepaskan!”  sungut Jong-in yang berusaha lepas dari dekapan gadis itu karna jelas tangannya tak bisa digunakan atau jika dia gunakan maka gadis yang memeluknya akan terluka oleh kopi panas didepan mata ayahnya.

“U? Wae? Ah mianhae aku tak sopan ya?” ujar Kazumi sambil melepaskan pelukannya.

Dan dengan cepat Jong-in langsung berjalan kearah Jin-ah dan duduk disampingnya.

“Gwaenchana?” tanya Jong-in sambil menatap Jin-ah bingung.

“Oppa!” Jerit Kazumi. jelas dia tak menyangka Jong-in akan mencampakannya.

“Maaf Kazumi bukankah sudah ku katakan padamu? Aku tak bisa menikah denganmu.”

“Apa-apaan kau Kim Jong-in!” seru Ayah Jin-ah yang membuat Jin-ah kaget mendengar suara itu lagi.

“Mianhae Ahjusshi aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi disini tapi aku tak bisa menikah dengan Kazumi, putrimu. Yang aku inginkan. . .”

Jong-in menarik Jin-ah ke dadanya. Dan Jong-in bisa merasakan kemeja hitamnya itu basah sekarang.

“Gadis ini. Kumohon jangan sentuh dia urus saja urusanmu dengan Appa ku aku tak peduli. Jin-ah Kajja.” Ujar Jong-in lirih sambil mengangkat tubuh gadis itu dan berjalan kearah pintu.

“Kau mau bawa kemana putriku!” Seru Lee Jae suk sambil berjalan kearah Jong-in yang sudah berdiri didepan pintu.

Sedangkan Jong-in hanya mematung. Putriku dia bilang? Ini tak masuk akal. Hyukjae mencekal Jae suk dan mencengkram lengan pria tua itu dengan kuat.

“Aku membawamu kemari tidak untuk menakuti adikku Appa. Kkamjong bawa Jin-ah pergi.”

“Jong-in Oppa aku ikut! “ seru Kazumi sambil berlari kearah Jong-in yang juga dicekal oleh Hyukjae.

“kau tetap disini. Pergilah Jong-in.”

****

Jong-in menghentikan mobilnya ditepi sungai Han. Membuka pintu mobil lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu melongok kearah Jin-ah yang terdiam seperti patung.

“ Ah~ya? Kajja?”

“ Mau kemana?” ujar Jin-ah yang bahkan tak ada ekspresi sama sekali, kaku.

Yang jelas membuat Jong-in frustasi dan mengutuk dirinya sendiri yang bisa-bisanya terjebak dalam masalah aneh ini yang bahkan tak dia pahami. Dan harus melihat gadisnya seperti mayat hidup. Gadisnya? Itu tak buruk bukan.

“ Cuaca cerah kau tak mau jalan-jalan?” Ujar Jong-in sambil tersenyum kearah gadis itu

Tanpa mengatakan apapun Jin-ah langsung merentangkan tangannya kearah Jong-in. Namja itu langsung membalik tubuhnya dan sedikit jongkok agar bisa meraih kaki Jin-ah.

Sepanjang perjalanan menyusuri tepi sungai Jin-ah hanya diam dan menyandarkan dagunya dibahu Jong-in. Tak ada yang ingin merusak ketenangan diantara mereka. Angin hulu memberikan kesejukan. Hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.

“kau tak mau menangis?” ujar Jong-in akhirnya membuka pembicaraan.

“Kau mau aku menangis?” dengus Jin-ah

“Jika itu membuatmu lebih nyaman. Aku izinkan”

“Aku sudah tak papa untuk apa menangis?! Lagi pula apa aku harus lapor padamu aku akan menangis tersenyum atau mati?”

“baguslah. Hentikan bicara tentang kematian kau tau bukan aku benci itu.”

“Ye ye. . . mianhae”Gumam Jin-ah.

Gadis itu membenamkan wajahnya di punggung Jong-in dan menghirup aroma yang menguar dari namja yang menggendongnya itu. entah mengapa dia sedikit bersyukur dengan keadanya sekarang karna dia bisa mencium aroma namja itu tanpa diketahui oleh pria itu sendiri. Namja yang membuatnya tak bisa berpaling ke pria lain. Bahkan Byun Baek hyun sekalipun. Entah sejak kapan dia tak tau detailnya, bagaimana dia mencintai pria ini Pria kaku yang terlihat angkuh dan keras kepala. Yang membuat jantungnya meloncat keluar hari itu dengan lamaran anehnya.

“ Kau berat!” ujar Jong-in yang memecah lamunan Jin-ah dan membuat tempramennya naik secara drastis.

“YAK!” sungut Jin-ah.

Tanpa banyak bicara Jong-in medudukan Jin-ah ke kursi  besi yang ada di tepi sungai. Gadis itu terlihat sangat kesal dengan tangan yang terlipat didepan dada dan mulut yang mengerucut kesal.

“Wae? aku lelah bodoh!” sungut Jong-in sambil duduk disamping Jin-ah lalu menyandarkan kepalanya dibahu Jin-ah.

“Kapan kaki ku sembuh. Aku sudah bosan dirumah aku mau kekampus berhenti melarangku berjalan dengan kruk Innie, kau mau aku mati bosan?” dengus gadis itu.

Jong-in sedikit lega melihat Jin-ah kembali normal. Cara gadis itu berbicara dan tingkah gadis itu. membuatnya bisa bernafas lega sekarang.

“Kau tanggung sendiri akibat yang kau lakukan sendiri. jadi berhenti protes jika kau memang mau sembuh. Resiko kau jatuh lagi saat pakai kruk lebih tinggi bodoh!”

“YAK! Dari tadi kau memanggil ku bodoh kau fikir kau jenius?” sungut Jin-ah dan hanya di balas kekehan renyah Jong-in.

“Bagaimana pendapatmu? Aku keren bukan bicara seperti itu?” Ujar Jong-in mengalihkan pembicaraan dan Jin-ah langsung bisa menangkap arah pembicaraannya kali ini.

“ Keren kau bilang? Aku tak suka kau bicara seperti itu pada adikku ada Appa ku”

“lalu aku harus bagaimana lagi? Aku disitu tak tau apa-apa dan aku tak mau melepasmu enak saja. Aku tak peduli walaupun dia ayah mu sekali pun.”

“Dasar keras kepala! Kau tak akan bisa menikah denganku tanpa restunya bodoh!”

“aku bilang aku tak peduli.”

“ Kau itu benar-benar. . . .”

“ Kau dan Kazumi bersaudara? Bagaimana bisa? Eommamu kan.”

“Kazumi adik tiriku. Appa menikah lagi saat eomma masih mengandungku.”

“Oh.”

“Hanya itu tanggapanmu?”

“apalagi? Cukup itu yang kuketahui. Lagipula harusnya aku bertanya pada Hyung bukan padamu.”

“Hei.”

“Mwoya? Aku disini disampingmu bodoh!”

“Aku belum mengatakan ini padamu bukan?”

“Apa?”

“Saranghae Ah~ya. . .”

****

Untuk kesekian kalinya Jong-in menghela nafas didepan pintu rumah Jin-ah. Bukan gadis itu yang akan ia temui melainkan Ayah Jin-ah. Hyukjae menyuruhnya kerumahnya karna Ayahnya ingin bicara dengannya. Dengan sedikit ragu Jong-in menekan bel rumah. Dan deru jantungnya berdetak tak beraturan saat melihat perlahan pintu rumah itu terbuka.

“Jong. . .Jong-in Oppa?” seru Kazumi saat melihat Jong-in berdiri didepan pintu dengan sedikit basa-basi Jong-in menunduk memberi salam.

“ Aku datang untuk bertemu ayahmu.” Ujar Jong-in datar.

Ucapan Jong-in sama seperti yang biasa ia dengar sejak pertama kali betemu. Kaku, dingin, angkuh, tanpa ekspresi. Bahkan dia tak pernah menyangka akan melihat ekspresi berbeda dari namja tersebut seperti seminggu yang lalu.

“Masuklah Oppa.” Ujar kazumi yang sedikit enggan Jong-in karna perkataan namja itu  seminggu yang lalu.

“Appa. . . Jong-in oppa ingin bertemu denganmu.” Seru Kazumi saat mempersilahkan Jong-in masuk kedlam rumah.

“Suruh dia masuk.” Seru Jae suk.

“masuklah Oppa. Appa ada dikamar.” Ujar kazumi sambil mengendikan dagunya kearah pintu kamar.

Baru selangkah Jong-in melangkah kazumi langsung mencekal Jong-in dengan memeluk namaja itu dari belakang.

“Kazumi apa yang kau lakukan lepaskan!”sungut Jong-in sambil berusaha melepaskan tangan gadis itu yang melingakar diperutnya

“Jangan katakan itu pada Appa aku mohon. Jangan batalkan pertunangan kita Oppa aku benar-benar mencintaimu. Aku mohon padamu Oppa.”

“Kau tau Kazumi? Kau egois.” Ujar Jong-in lirih yang terdengar sangat tajam.

“KAZUMI KUBILANG  SURUH DIA MASUK! “ seru Jae suk dan mambuat Kazumi tersentak dan melepaskan pelukannya.

“Bersikaplah dewasa Kazumi. Kau terlalu egois.” Ujar Jong-in tanpa menoleh sekaliapun  kearah Kazumi.

“ Permisi Ahjusshi. Kau memanggilku kemari?” ujar Jong-in saat memubuka pintu.

Terlihat pria tua yang sedang duduk menghadap ke jendela. Pria itu berbalik dengan tatapan tajam. Tidak usah heran dialah ketua Yakuza geng yang sangat terkenal sadis di Jepang.

“Duduk lah.” Perintahnya sambil bangkit dari kursi kerja dan berjalan kearah sofa.

“Kau seperti tak takut padaku.”

“Untuk apa aku takut padamu Ahjusshi. Kau sama sepertiku kau dan aku manusia.” Ujar Jong-in sambil duduk dan sedikit membetulkan blazernya

“Jawaban yang bagus. bagaiman keadaan Jin-ah?”

“Besok dia melepas gift nya. Keadaannya membaik dia sudah bisa menggegam pensil dan sumpit setelah kupaksa ikut terapi. Tapi ada ganggunan pada saraf otak belakangnya yang akan membuatnya sering kehilangan keseimbangan.”

“lalu apa yang akan kau lakukan pada Kazumi.” Tanya Jae suk. Jong-in terlihat sedang berfikir namun hanya sekilas terlihat seperti itu

“Membatalkan pertunangan dengannya dan menikahi Jin-ah.” Ujarnya mantap dengan memandang kearah Jae suk.

“ APA YANG KAU KATAKAN!!” seru Jae suk yang menggema di seluruh ruangan itu

“Mianhae Ahjusshi tapi ini keputusanku. Aku beruntungkau ayah Jin-ah jadi tak perlu khawatir kau akan melukainya sama seperti yang Appa katakan padaku. Aku akan menikahinya walaupun tanpa seizin anda. Aku tak peduli dengan perusahaan Appaku. Aku tak peduli tentang itu.” ujar Jong-in panjang lebar yang terlihat tanpa ragu mengatakan itu kepada Jae suk.

Jae suk masih tak habis fikir dengan namja didepannya ini. Batinnya masih berkata bahwa orang yang ada didepannya ini orang yang sangat keras kepala sama seperti dirinya. Pria tua itu menghela nafas dan kembali menatap Jong-in. Memastikan namja itu tidak ketakutan. Dan nihil namja yang ada didepannya bahkan terliaht seperti patung, tak menunjukan ekspresi apapun.

“Kau sangat yakin dengan ucapan mu itu ya?”

“ benar. Apa hanya ini yang ingin anda bicarakan padaku? Aku harus pulang sekarang Jin-ah sendirian dirumah aku tak mungkin meninggalkannya terlalu lama dirumah.” Ujar Jong-in sambil bangkit dari tempat duduknya.

“ Kim Jong-in. Chamkkanman” ujar Jae suk. Jong-in terdiam tapi masih dalam posisi berdiri.

“Jaga Jin-ah untukku dia sudah terlalu banyak terluka karnaku. Mungkin yang bisa aku lakukan untuknya.”

“APPA!” jerit Kazumi besamaan dengan suara pintu yang menjblak membentur dinding.

“ Tidak! Kau jahat Appa kenapa kau izinkan!”

“Sedang apa kau disini Kazumi keluar!” perintah Jae suk.

“Sampai matipun aku takan melepaskan Jong-in Oppa.”

“KAZUMI!” saru Jae suk. Tapi gadis itu sudah berlari keluar dari kamar Jae suk dan masuk kedalam kamarnya.

Gadis itu benar-benar tak habis fikir bagaimana ayahnya bisa berkata seperti itu. kazumi memang belum tau keadaan Jin-ah yang sebenarnya, tidak untuk sekarang ini.

****

“ Aku pulang. . .” ujar Jong-in sesaat setelah menutup pintu apartementnya. Sedikit canggung tak biasannya dia mengatakan hal itu. Jong-in mengusap lehernya yang terasa kaku.

Jong-in terpaksa membeli sebuah apartement  karna tak mungkin dia membawa Jin-ah kerumahnya.

“Innie kau pulang ayo makan Bacon bawa banyak makanan kau belum makan bukan?!” seru Jin-ah dengan mulut yang masih penuh.

“Kapan kau kemari Hyung?”

“Aku dilarang kemari ya tuan muda.” Goda Baekhyun dengan mulut penuh.

“Ne. Aku melarangmu.”

“Bacon Oppa bawa makanan bodoh! Buka mulutmu?” gerutu Jin-ah sambil menyodokan kimbab kearah Jong-in.

“Aish kalian berdua membuatku iri saja.”

“ kalau kau iri carilah pacar.” Ledek Jin-ah sambil menyodorkan kimbab kemulut Jong-in yang masih penuh lalu mengambil satu dan menyodokan kearah Baekhyun.

“Kalau begitu kau saja yang jadi yeojaku? Eotthe?”

“Hyung. . .” dengus Jong-in sambil menatap tajam kearah Baekhyun.

“Ne ne ne aku hanya bercanda kau mengerikan sekali Jong-in.” Ujar Baekhyun sambil bergidik sendiri.

“itu apa?” tanya Jong-in.

“Ouh tadi aku yang membawanya. Hyun-mi dan Eun-ji menitipakn itu padaku isinya cokelat cemilan dan sepatu. Sepertinya oleh-oleh dari London.” Jawab Baekhyun.

“Kau tak memberi mereka uang kan  Kim jong-in ?” tanya Jin-ah dan menyodor kan Kimbab lagi kearah Jong-in namja itu membuka mulutnya dan mengunyah kimbab itu.

“Ani. . . mereka hanya memintaku menyuruh Chanyeol menjemput mereka di bandara. “

“Bagus kalau begitu.”

“Kapan kalian menikah?”

“Mwo?” pekik Jin-ah.

“Abeoji bilang 2 bulan lagi.” Ujar Jong-in yang membuat Jin-ah meblakak tak percaya.

“siapa yang kau maksud Abeoji? Apa ayahmu mengizinkanmu?”

“Ayahmu bodoh! dia yang menyuruhnya.”

“MWORAGO! Uhug.”

“Mulut penuh jangan berteriak dasar bodoh.”ujar Jong-in sambil menyodorkan air putih kearah Jin-ah

“mengerikan, cepat sekali rencana dibuat.” Gerutu Baekhyun.

“ Appa-ku yang bilang seperti itu? kapan? Apa tadi?” tanya Jin-ah.

“Ne.”

“Lalu Kazumi? Bagaimana dengannya?”

“Abeoji yang mengurusnya. Aku tak tau.”

“tapi kau tunangan Kazumi. Apa dia setuju kau menikah denganku?”

“dia tak setuju. Dia marah.”

“Kim Jong-in!”

“Dia egois Jin-ah. Aku tak punya perasaan apapun padanya dia hanya ku anggap adikku tidak lebih.”

“dan harus kau tau dia juga adikku! Kau fikir aku akan membiarkan dia terluka karna ku? Tidak secuilpun!”

“Dan membuatmu menderita? Aku bahkan tak bisa membiarkan hal itu.”

“Kalian berdua berhenti bertengkar. Aigoo. . .” ujarBaek hyun yang berusaha melerai mereka berdua.

“Aku lebih tak amu membaut orang lain menderita!”

“Lalu aku apa?! Aku mau membiarkanku menderita?!”

“Ada apa ini?” Ujar Hyuk Jae yang tiba-tiba muncul.

“Mereka bertengkar karna masalah pernikahan.” Terang Baekhyun yang sedikit ragu.

“ Pernikahan?”

“ tentang Kazumi lebih tepatnya yang tak setuju dengan pernikahan ini.” Terang Baekhyun lagi dan dua orang itu masih tetap diam tak mengatakan apapun.

“ Tenang Jin-ah aku akan bicara dengan Kazumi. Akan ku buat dia mengerti aku janji dia datang ke pesta pernikahanmu dan Jong-in. Hm?” ujar Hyuk jae sambil mengelus kepala Jin-ah.

****

Hyuk jae berjalan perlahan kearah kamar Kazumi dan berdiri tepat didepan kamarnya. Gadis itu sudah hampir satu minggu tak keluar kamar. Ayahnya sering mempergoki Kazumi menyusup ke dapur tengah malam untuk mengambil makanan. Tapi Jae suk tak pernah berani mengatakan apapun pada gadis itu. dia tak akan mau melihat putri kesayangannya mati kelaparan.

Hyuk jae menghela nafas berat lalu  mengetuk pintu kamar Kazumi.

“Kazumi ini Oppa,  boleh Oppa masuk?” ujar Hyuk jae namun tak ada jawaban.

“Oppa masuk ya?” ujar Hyuk jae sambil membuka kamar Kazumi.

Terlihat gadis itu hanya diam duduk dipinggir penghalang balkon dengan headphone terpasang di telinganya. Gadis itu mengenakan baju kotak-kotak milik Jin-ah dan hot pants.

“Hei.” Sapa Hyuk jae. Kazumi menoleh tapi kembali mengacuhkan Hyuk jae.

“umurmu bahkan sudah 19 tahun tapi lihat sikapmu seperti anak kecil. Aku bawa Es Cream kau suka es cream kan?”

“ada apa kau kemari Oppa. Aku tetap tak akan datang kepernikahan Eonnie.” Ujar gadis itu dingin.

“ itu terserah padamu bukan? Jin-ah akan membatalkan semuanya jika kau tak datang.”

“Itu bagus.”

“ Kau tau mengapa aku meminta appa ke Korea?” tanya Hyuk jae sambil duduk disamping Kazumi

“ Untuk ini bukan? Membatalkan pertunanganku dan melangsungkan pernikah Jin-ah eonnie.”

“ bukan itu. “

“Lalu?”

“aku hanya ingin dia bahagia. Dan bisa merasakan bagaimana memiliki orang tua”

“lalu kau membiarkan kebahagiaanku terenggut begitu Oppa?”

“ itu bukan keinginanku. Aku tak pernah berharap kau akan terluka seperti ini. Tapi kau masih punya banyak waktu untuk mencari kebahagiaan mu kazumi. Sedangkan Jin-ah, aku bahkan tak tau apa aku bisa hidup tanpanya.” Ujar Hyuk jae lirih

“Apa maksudmu Oppa? Ceritakan padaku!”

“kau tau Mrastenia Gravis?” ujar Hyukjae miris.

Bahkan terdengar hampir menangis. Kazumi hanya menggelengkan kepalanya dan merasakan firasat buruk tentang itu.

“ itu nama penyakit yang merusak saraf tubuh. Akan sangat menakutkan jika penyakit itu menyerang alat vital.”

“Oppa jangan menakutiku dengan hal seperti itu. eonnie tak mungkin. . .”

“benar. Jin-ah terserang penyakit itu.”

“KAU BOHONG OPPA!! KAU MENGATAKAN ITU AGAR AKU MELEPASKAN JONG-IN OPPA BUKAN? BERHENTI BERCANDA!” jerit Kazumi.

“Aku tak bercanda Kazumi untuk apa aku bercanda. Jong-in dia yang mengetahuinya lebih dulu dariku. Dia bahkan sangat tertekan mendengar itu. Jin-ah adalah orang yang paling berharga bagi Jong-in. Dan mungkin perasaanku tidak sekuat Jong-in. Kudengar dihampir mencekik dokter Jang saat itu.” ujar Hyukjae yang masih memaksakan diri untuk tersenyum walaupun pada kenyataannya air matanya tumpah didepan Kazumi.

Kazumi marasakan sesuatu yang menghantam jantung dan paru-parunya. Matanya terasa panas tak tertahankan.

“Aku tak meminta kau memaafkanku dan Jong-in. Dan aku tak pernah memaksamu datang kepernikahan mereka. Tapi karna kau tak mau makan jadi aku terpaksa mengatakan ini padamu. Aku sudah cukup Eomma dan Jin-ah kau tak boleh mengikuti mereka.” Ujar hyukjae sambil mengacak-acak rambut Kazumi.

“Oppa aku jahat ya? Aku memang egois” gumam Kazumi.

“benar! Kau jahat kalau kau tak mau makan. Kita habiskan ini?” tawar Hyuk jae sambil mengangkat 2 cup besar es cream

Kazumi mengusap air matanya dan mengangguk sambil tersenyum.

Tanpa diketahui keduanya Jae suk meperhatikan Hyuk jae dan Kazumi. Pria tua itu hanya tersenyum miris.

“Ha jin. . . lihat putramu dia terlihat rapuh sekarang. Dan Jin-ah putri kesayanganmu biarkan dia menerimaku lagi, padahal dia putriku tapi seklipun aku tak pernah memeluknya. Ayah macam apa aku ini. . . .” gumam Jae suk yang masih menatap lekat Hyuk jae dan Kazumi. Lalu berjalan meninggalkan mereka.

****

Terdengar suara bel yang berbunyi nyaring sejak tadi. Tapi entah kenapa gadis itu tak bisa beranjak dari sofa. Kakinya terlalu sakit sedangkan dia dirumah hanya sendirian.

“Nuguya!” seru Jin-ah.

“Eonnie. . .  ini aku Kazumi!” seru Kazumi.

“Tunggu sebentar. . .”

Jin-ah berusaha bangkit tapi dia sama sekali tak bisa merasakan kakinya. Bahkan hanya untuk bergerak saja dia tak bisa.

“Ayolah ada apa denganku. Tadi aku bisa berjalan dengan lancar kenapa aku merasa tak bisa menggerakkannya.” Gumam Jin-ah.

“Eonnie. . .Gwaenchana?” seru Kazumi.

Tapi di detik kemudian terdengar suara kaca pecah yang langsung membuat Kazumi panik. Dia memasukan kode rumah dengan asal karna panik.

“EONNIE JAWAB AKU! KAU TAK PAPA? EONNIE!!” jerit Kazumi sambil menggedor-gedor pintu. Tapi tak ada jawaban.

Tangannya kini bergerak panik mencari sesuatu di Handphonenya tangannya benar-benar gemetaran. Dia memasangkan handphonenya ditelinga.

“Yeobseo? Wae Kazumi?”

“Oppa Aku mohon cepat pulang keapartement aku tak bisa masuk ada yang terjadi dengan Eonnie aku mohon kau cepat pulang Oppa aku mohon.” Ujar Kazumi. Matanya terasa panas sekarang dengan tangan masih gemetaran.

Mendengar suara Kazumi yang ketakutan Jong-in langsung berlari keluar ruang kerjanya. Berteriak kesekretarisnya agar menyiapkan mobil sekarang juga.

“EONNIE ! JAWAB AKU! KUMOHON KAU MEMBUATKU TAKUT!  EONNIE!“ jerit Kazumi. Gadis itu benar-benar panik.

“Oppa cepatlah. . .” gumam Kazumi sambil mengegam erat handphonenya.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Kazumi yang membuat gadis itu terlonjak kaget.

“Kau Kazumi kan? Wae? “ ujar orang yang menepuk bahunya yang ternyata Baekhyun.

“Kau tau kode pintu ini? Eonnie tadi. . . ada suara. . . kaca pecah . . . setelah itu.” Ujar Kazumi yang bener-benar tak bisa mengatur nafasnya dia.

Dengan cepat Baekhyun membuka kode pintu itu dan langsung masuk di ikuti Kazumi.

“Jin-ah kau dengar aku? kau dimana.” Seru Baekhyun sambil mengahmbur keseluruh penjuru ruangan.

“Eonnie. . . kau dimana?” seru Kazumi sambil membuka setiap pintu.

“JIN-AH!” seru Baekhyun sambil berlari kearah Jin-ah yang sudah tersungkur disamping pecahan kaca .

“Jin-ah yak! Sadarlah. . . sial! Kau telphone Jong-in sekarang.” Seru Baekhyun.

Tapi belum sempat mencari nomor di handphonenya, Jong-in sudah masuk kedalam rumah. Dan langsung menghambur kearah Jin-ah yang berlumuran darah.

“Jin-ah. . . bangun. Hei ini aku bodoh bangun. Sial! “ umpat Jong-in sambil mengangkat Jin-ah keluar dari rumah.

“Yak! Jong-in kau tak bisa menyetir mobil dengan keadaan seperti itu.” seru Baekhyun sambil berlari. Di ikuti Kazumi yang ada di genggamannya.

Entah setan apa yang merasuki Jong-in dia langsung memacu mobilnya seperti setan terdengar suara bising dari mesin mobilnya. Baekhyun yang mengejarnya dengan motornya bahkan kuwalahan.

Sampai dirumah sakit Jong-in membentak seluruh suster.  Yang langsung membawa Jin-ah keruang ICU.

Baekhyun datang dan langsung melempar helmnya dan menarik kerah Jong-in lalu membenturkanya ketembok.

“KAU FIKIR KAU MAU MEMBUNUH JIN-AH HAH?! AKU TAU KAU PANIK, TAPI TADI TINDAKAN BODOH YANG BISA MEMBUNUH KALIAN BERDUA KAU TAU ITU?!” seru Baekhyun yang tak bisa mengontrol emosinya.

“HENTIKAN!” jerit Kazumi

“kumohon hentikan. . .”

Badan Kazumi bahkan gemetar dan terdengar isakannya. Dan tanpa sadar Bakhyun berjalan kearah Kazumi dan memeluk gadis itu.

“Jin-ah akan baik-baik saja.” Ujar Baekhyun.

***

Perlahan Jin-ah membuka matanya. Tak ada sinar yang menyilaukan matanya. Yang terasa sekarang adalah kepalanya yang berdenyut menyakitkan dan tangannya yang di genggam seseorang. Dia melayangkan tatapannya ke sekeliling penjuru ruangan yang terlihat hanya Hyukjae yang tertidur di sofa dan Jong-in yang tidur disampingnya.

“Innie. . .” ujar Jin-ah serak. Jong-in sedikit mengeliat dan makin mengegam erat tangan Jin-ah.

Jin-ah hanya terdiam sekarang, menatap namja itu tidur disampingnya tak ada yang lain dia hanya diam memandangi wajah polos Jong-in yang tertidur pulas disampingnya.

“Kau, pasti lelah ya? Berapa lama aku tidur kau kusut sekali. Dasar bodoh!” gerutu Jin-ah sambil perlahan menyingkirkan poni yang menutupi wajah namja itu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka Jin-ah langsung berpura-pura tidur. dia melirik dari sudut matanya yang terlihat dua orang suster yang masuk dan berdiri disamping Jin-ah. Jong-in dan Hyukjae bahkan tak menyadari keberadaan mereka sepertinya mereka dilatih untuk itu.

salah satu dari mereka menyuntikan jarum suntik ke lengan Jin-ah dan satunya lagi memeriksa di bagian kaki. Aneh memang entah apa yang sedang dilakukan suster yang satunya itu dia memijat kaki Jin-ah seperti mencari sesuatu dikaki Jin-ah. Apa ini disebut pelayanan kamar? Otaknya langsung tertuju pada Jong-in, jelas siapa lagi yang melakukan semua ini kalau bukan namja itu.

“padahal nona ini cantik, tapi kenapa memberikan penyakit mengerikan seperti itu. aku kasihan padanya dan tuan muda.” Ujar salah satu suster yang membuat Jin-ah menyeringit kaget. Penyakit mereka bilang? Penyakit mengerikaan?

“Mrastenia gravis. Mendengarnya saja aku baru kali ini, dunia tak adil ya? Apa benar tak bisa disembuhkan?”

“Aku tak tau. Sudahlah lebih baik kita keluar sudah selesai?”

“ ne. . . semoga tuhan melindungimu dan memberimu cukup waktu nona.”

Mrastenia Gravis? Semengerikan itu kah penyakit itu? itukah sebabnya Jong-in selalu mengekanganya melakukan sesuatu? Itukah sebabnya dia tak bisa merasakan kakinya waktu itu? Dan tak bisa disembuhkan mereka bilang? Apa hidupnya benar-benar singkat?

Jin-ah hanya bisa terdiam memandangi laki-laki yang akan menikahinya. Sampai seperti itu kah seorang Kim Jong-in merelakan hidupnya bersama wanita yang hidupnya mungkin bisa diperkirakan akan berakhir kapan. Dan tanpa sadar air mata gadis itu mengalir karna mulai memahami situasi sekarang ini. Diotaknya sekarang  berputar-putar dua hal. melepaskan lelaki yang ia cintai dan membiarkannya bahagia diluar sana dengan orang lain atau mengekang namja itu bersamanya dalam kesedihan.

-TBC-

6 thoughts on “Mianhae (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s