Lacrymosa (part 1)

 Lacrymosa

Sebuah tangisan dewa-dewi yang hidup dibumi . . .
Malaikat nyawa turun menyambung nyawa dan menjaganya. . .
Antara pertarungan, hidup, mati dan cinta. . .

Tak perlu GPS dan alat canggih apapun untuk melacak seseorang. Bukankah  itu kemampuan menarik? Hanya mengetahui nama dan wajah orang itu tanpa perlu menatapnya secara langsung, bisa mengintip apapun yang meraka lakukan jika orang itu pernah berbincang denganmu meski orang itu mati sekalipun. Yah . . . kematian, suatu hal yang sangat aku benci didunia ini. Tepat sesaat aku menerima kekuatan ini aku melihat ibuku mati berlumuran darah dimata dan otakku. Menjerit sendirian didalam kelas seperti orang kerasukan meminta pulang detik itu juga. Umurku baru 12 tahun aku orang pertama yang menerima kekuatan itu diusia tidak normal, normalnya dikaum kami menerima kekuatan saat berumur 17-19 tahun.

Sehari setelah kejadian itu aku yang belum bisa menggunakan kekuatan itu dikejutkan dengan kematian appa tiriku. Dia mati terkena serangan jantung saat polisi mengejarnya. Aku yakin laki-laki setan itu tak punya riwayat penyakit jantung yah. . . aku tak akan sudi memberi keterangan tentang hal itu dan aku sedikit menyesal karna tak menulitinya sebelum dia mati. laki-laki bejat yang kucita-citakan masuk penjara atau pun mati. Kerjanya hanya merampok membunuh dan memperkosa. Cih menjijikan jika mengingatnya, dan baru kusadari dia memanfaatkan Eomma yang kurasa memiliki kemampuan yang sama sepertiku. Ahjumma yang memberi tahuku. Yah . . . mungkin tuhan sudah mengaturnya dengan baik bahwa kekuatan itu hanya bisa dimiliki perempuan. Kalaupun sampai tak melahirkan anak perempuan kekuatan itu akan tersimpan ditubuh anak laki-laki itu hingga sampai memiliki keturunan berjenis kelamin perempuan.

Setelah kejadian itu, aku dititipkan dipanti asuhan karna Ahjumma tidak mungkin bisa menjagaku. Dia sakit-sakitan dan pada akhirnya di meninggal dunia setahun setelahnya. Aku keluar dari panti asuhan saat berumur 17 tahun. Dan bertemu dengan Lee Eun-ji. Dia memberiku tempat tinggal kami seperti kakak adik dan karna dia pula lah aku bisa marasakan kasih sayang orang tua yang utuh, dan kembali mempunyai keinginan menjaga keluarga kecil ini.

Aku. . . Deus Venato.

~ Author POV ~

Inha University
13:04 p.m

Gadis itu duduk dibawah pohon merasakan semilir angin yang  berhembus menerpa wajahnya. Sedangkan telinganya dimanjakan oleh alunan instrument lagu.

“Jin-ah!! “ seru seseorang yang masih bisa ia dengar.

Jin-ah menoleh dan mendapati sahabatnya berlari kearahnya dengan tergesa-gesa. Melepas headphone yang sejak tadi menghiasi telinganya.

“Aish. . . kenapa kau berteriak bodoh! Kau mengganggu!” sungut gadis itu dan langsung mendapat hadiah berupa pukulan keras yang melayang kearah kekepalanya.

“Katakan lagi! Kubunuh kau. Igeo!” sungut gadis itu sambil melanyangkan wajah kesal dan di balas wajah mengejek milik Jin-ah. Tanganya terulur menyerahkan sebuah benda yang sangat di gandrungi manusia manapun karna kegunaannya.

EOMANIE…” seru seseorang dari balik ponsel dan langsung membuat wajah Jin-ah kembali cerah.

“Chagi. . . Neomu bogoshipeo…”

itu menjijikan!” dengus gadis disebrang sana.

“hahaha… bagaimana sekolahmu? Bagaimana dengan appa? Apa guru disana bodoh?”

“Guru disini lumayan. . .  Appa membuatku bosan! Dia jarang menjengukku diasrama.” Grutu Gyuri

“Nanti eomma bunuh Appamu “ kekeh Jin-ah dan membuat Eun-ji melotot kearah gadis itu.

“Lee Jin-ah! Kau bilang apa barusan!” ujar Eun ji sengit.

“Membunuh suamimu. . . .” ujar Jin-ah enteng. Dan kembali mendapat pukulan yang bisa dibilang itu sangat menyakitkan.

“YAK! APPO! AKU BERCANDA!”sungut Jin-ah.

Eommanie. . . aku mau pulang. Aku bosan” rajuk gadis itu. Rengekan anak kecil yang pertama kali terdengar ditelinga Jin-ah, bisa dibilang sangat langka. Karna untuk anak seumuran dia, biasanya akan rewel dan seulit diatur.

Jin-ah menghela nafas bingung akan permintaan putrinya ini, ada rasa ingin mengiyakan permintaan anaknya karna dia sendiri merasakan kerinduan tersendiri pada gadis kecil yang ia temukan disamping tong sampah dengan keadaan kedinginan 7 tahun yang lalu.

“kau harus lulus dulu, baru eomma izinkan.” Ujar Jin-ah yang sekarang terlihat seperti ibu sungguhan.

Baiklah 1 bulan. Kurasa itu cukup. . . “ ujar gadis itu. Dan hanya disambut senyum Jin-ah.

Tak heran. Jin-ah, Eunji dan Sehun kuwalahan menyekolahkan anak yang sekarang baru menginjak 7 tahun. Bagaimana tidak, dalam 1 tahun setidaknya anak itu sudah meloncat kesana kemari melewati benua dan samudra hanya untuk mengajari mulut anak angkat mereka. Gadis cilik itu akan mengatakan apapun yang dia rasakan.

Bahkan dia pernah berbicara pada seorang dosen di Korea yang cukup terkenal  dan kebetulan sedang mengajar di kelasnya, dan Gyuri memang kebetulan ada di Universitas itu untuk mencari guru. Dengan seenaknya di mengatakan ‘Ahjusshi, Kau bodoh ya? Bagaimana bisa kau mangajar seperti itu? Aku yang melihatnya beberapa menit saja sudah mengatuk’ well entah siapa ayah dan ibu kandung gadis ini hingga bisa menurunkan mulut tajamnya. Bisakah di nalar anak umur 7 tahun yang mengatakan halseperti itu?

“Makan yang teratur. . . eomma tak suka kau sampai sakit.” Ujar Jin-ah

“Ne. . .”

“Singkirkan dulu komputermu dan fokus kesekolah. eomma tak suka kalau sampai kau memakai kaca mata sebelum umur 35 tahun.”

Shireo! Itu sangat sulit. Aku tak mau!”

“Kau mau bicara lagi dengan Eun-ji eomma?” tawar Jin-ah. Sambil melirik Eun-ji yang memang sedang menuggu giliran bicara pada putrinya

Ani ani ani… eomma lebih crewet dari eommanie. . . .Annyeong eommanie..”

“Ne. Annyeong..” kekeh Jin-ah puas.

“Yak! Kenapa kau matikan.” Sungut Eun-ji sambil merebut ponselnya. Dan nihil tak ada suara disana

“Gyu-ri sendiri yang bilang tak mau… katanya kau lebih crewet dariku.” Ujar Jin-ah dengan memasang wajah tanpa dosa.

“Huh menyebalkan!”

“Ada buronan lagi di FBI?”

“Ne. . . sekumpulan teroris yang mencabuli anak-anak di panti asuhan Carol’s House. Mereka harus dihukum.” Dengus Eun-ji sambil menggenggam erat ponselnya seakan akan meremukannya detik itu juga. Gadis itu mengempaskan tubuhnya didepan Jin-ah.

“Kau punya data mereka? Berapa orang?” tanya Jin-ah  tanpa mengalihakan pandangnya dari buku yan sedang ia baca. Dan jangan berharap dia sedang belajar untuk persiapan kuliahnya, melainkan sebuah komik tebal yang dan menumpuk dipangkuannya.

“Tidak baik seorang agen  rahasia mengoceh tentang pekerjaan disini. . . kau tak mau FBI tau mereka merekrut gadis bodoh sepertimu? Yang benar saja Jin-ah. . .” ejek Eunji

“ aku tak bodoh dan mereka bergantung padaku kau harus ingat itu. Kau fikir kau jenius?”

“Aish. . . aku rindu pada Sehun. . .” ujar Eun-ji yang entah bagaimana bisa melayang dan mengabaikan topik yang sedang mereka bahas.

“ Aish… kau  mulai lagi. Makan Sehunmu! Menyebalkan” dengus Jin-ah sambil kembali memasang headphonenya.

“bilang saja kau iri. . .”

Jin-ah sedikit bingung bagaimana bisa seorang gadis sebegitu menjijikannya  sampai keluar kata-kata memalukan hanya karna seorang pria. Dan Lee Eunji adalah satu-satunya orang yang menurutnya masih dibilang waras. Terang saja karna Jin-ah baru sekali memergoki Eun-ji melakukan ‘itu’ dengan Sehun suaminya. Itupun dua-dua nya dalam keadaan mabuk setelah upacara pernikahan dan pesta. Menurutnya Eun-ji masih polos walaupun gadis itu memang kekanakan jika menyangkut namja dengan marga Oh itu.

Jadi, Apa seperti itukah orang jatuh cinta? Mabuk lelaki? Menyerukan perasaannya seakan mereka tak menggangu orang lain dan merasa dunia ini milik mereka tak peduli tempat umum atau tempat pribadi? Jadi berapa gadis didunia ini yang rela mati demi manusia bajingan yang meninggalkannya? Apa seks begitu penting di dunia ini? Yah. . . Jin-ah hanya memikirkan semua pertanyaan itu dan tak ada yang terjawab dengan pasti.

“Eun-ji!~sii” panggil seseorang. Suara bass itu membuat Jin-ah merasa ada sengatan listrik yang aneh seakan ada ribuan sayap yang menerpa telingannya dan punggungnya.  Padahal jelas dia sedang mengenakan Headphone dengan Volume mengerikan. Dan sontak membuatnya membatu.

“Ne?” jawab Eun-ji sambil menoleh.

“Ah. . .  Kim Jong in. Wae?” Lanjut Eun-ji saat bertatap muka dengannya

“Kau meninggalkan. . .” Entah mengapa namja itu tak melanjutkan ucapannya saat melihat Jin-ah.

Entah terpesona atau apa yang jelas kening namja itu berkerut seperti ada yang salah dengan Jin-ah. Begitu pula Jin-ah, gadis itu bahkan terpaku beberapa menit mengagumi seluit indah ynag terbentuk diwajah namja itu tapi, detik berikutnya Jin-ah yang menyadari arah tatapan namja itu sekarang  balik menatap tajam namja itu dengan pipi mengembung menandakan dia  sedang marah.

“ Yak!! Apa yang kau lihat hah!” Sungut Jin-ah sambil berdecak pinggang.

“Bodoh! Kenapa kau berteriak! Abaikan dia. Ada apa?” sungut Eun-ji sambil menonyor kepala Jin-ah dan kembali memasang senyumnya untuk namja didepannya.

“Hun~a. . . istrimu selingkuh. . .” ledek Jin-ah

“Lee Jin-ah!! Kucekik Kau.” Umpat Eun-ji

“ Notebook mu tertinggal di kantin. “ ujar namja itu datar dengan mulut terkatup seakan menahan sesuatu keluar dari mulutnya.

“Astaga. . . Gomawo” ujar Eun-ji sambil membungkuk

“Ne. . .” ujar namja itu sambil berjalan cepat meninggalkan mereka berdua dan masih sempat-sempatnya melirik Jin-ah dan langsung diplototi Jin-ah

“Yak! Kalau appa melihatmu kau pasti kena marah!” ujar Eunji. Dan hanya dibalas cibiran aneh dari Jin-ah

“Hun~a. . .  ceraikan istrimu. . .” ledek Jin-ah sambil bangkit.

“JIN-AH!!!” jerit Eun-ji

***

~KAI POV~

“dimana gadis itu. . . aish”

“kau akan menemukannya dan . . . akan menemukan hal yang menarik pula.” Ujar seseorang yang memang tak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Perwujudan yang bisa di bilang mengerikan. Sepasang kaki yang tak menginjak tanah, tangan terlihat seperti tulang yang  menyembul dari tubuh yang terlihat seperti lembaran kain yang tertiup angin dan wajah tak terlihat karna sesuatu yang menutupinya seperti topi yang menutupi bagian mata seseorang yang memakainya. Dan sepasang sayap yang bisa dibilang adalah hal paling indah menurutku dan sangat tidak cocok untuknya. Berdiri disamping ku

“Hal menarik? Apa maksudmu!” gumamku berusaha agar tidak telihat mencolok.

“Kau mau dianggap gila? Bicara sendiri? Ingat. hanya deus mortis saja yang bisa melihatku.” Kekeh makhluk disampingku. Sambil mengarahkan telunjuknya kearah gadis yang sadang ku cari dan mengepakan sayapnya kearah gadis itu.

Ya. . . dia bukan manusia aku pun bisa dibilang bukan manusia biasa. Aku mempunyai kemampuan membunuh orang  hanya dengan mengetahui nama dan wajah mereka. Bukan tindakan kriminal, itu karna tugas kami. Kami? Bisa dibilang aku lah keturunan terakhir.  Pembantaian yang dilakukan oleh buku kematian yang sekarang sedang aku buru. Kami biasa disebut Deus Mortis, dewa kematian. Dan setiap dewa kematian memiliki pendamping  seperti drak dan hanya satu pendamping terus selama nyawanya berenkarnasi. Dan hanya Deus mortis yang bisa melihat para pendamping itu.

“Aish. . . aku rindu pada Sehun. . .” ujar gadis itu sambil menghela nafas yang samar terdengar. Yah menurut penglihatanku dia sudah punya suami.Apa sebegitu pentingnya menikah?

“ Aish… kau  mulai lagi. Makan Sehunmu! Menyebalkan” sungut gadis disampingnya yang  tak bisa ku lihat wajahnya. Siapa gadis itu? Auranya. . .

“Eun-ji!~sii” panggil ku.

“Ne?” jawab Eun-ji sambil menoleh.

“Ah. . .  Kim Jong in. Wae?” Lanjut Eun-ji saat bertatap muka denganku.

“Kau meninggalkan. . .” ucapan ku ter cekat saaat bertemu dengan manik mata gadis itu.

Memang biasa, tapi yang tidak biasa adalah aku tak bisa melihat namanya dan seketika membuat jantungku  berdetak mengerikan karna ketakutan bahkan akau memerlukan cukup tenaga untuk mencoba melihat namanya dan hasilnya nihil.

Apa-apaan gadis ini siapa dia? Bagaimana bisa aku tak bisa melihat namanya apa dia tak punya nama?

“Tuan Kim. . . berkedip dan sadarlah, gadis didepanmu akan meledak sebentar lagi “ kekeh Drak yang membuat ku tersadar. Dan benar saja didetik berikutnya gadis itu sudah berdecak pinggang dan menatapku tajam dan bahkan dimataku hal itu sangat menarik? Oh tuhan. . . dimana kewarasanku!

“ Yak!! Apa yang kau lihat hah!” Sungut gadis itu

“Bodoh! Kenapa kau berteriak! Abaikan dia. Ada apa?” tanya Eun-ji. Benar, abaikan gadis itu selesaikan  dan cepat menjauh. . . aku sudah terlalu kacau jika melihat gadis itu.

“Hun~a. . . istrimu selingkuh. . .” ledek  gadis itu.

Cih… ternyata dia gadis menyebalkan? Perubahan ekspresi wajahnya  terliaht menyenangkan dan sialnya otakku berfikir bagaimana cara agar gadis itu mengeluarkan ekpresinya yang lain.

“Lee Jin-ah!! Kucekik Kau.” Umpat Eun-ji sambil mengacungkan kepalan tanganya kewajah gadis itu dan hanya mendapat cibiran gadis itu.

“ Notebook mu tertinggal di kantin. “ ujarku sambil menyerahkan benda berbentuk bujur sangkar.

“Astaga. . . Gomawo” ujar Eun-ji sambil membungkuk

“Ne. . .” ujarku itu sambil berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.

Aku menoleh kearah Drak yang masih berdiri disamping gadis itu dan memberi isyarat untuk menyingkir dan pada akhirnya gadis itu langsung mengarahkan bola matanya yang besar dengan wajah kesal. Percaya diri sekali dia? Dia fikir aku meliriknya?

“Bagaimana bisa aku tak bisa melihat namanya! “ dengusku

“kalau dia takdir hidupmu mau kau apakan lagi? Kau bahkan tak bisa berhenti berimajinasi tentangnya nanti atau. . . itu sudah terjadi.” kekeh Drak.

“Diam kau!” umpatku dengan mulut yang masih terkatup. Sial! Apa yang sebenarnya terjadi denganku!

~Author POV~

Namja itu menendang pintu rumahnya dengan malas sambil berjalan masuk kedalam rumah yang bisa di bilang sangat besar dengan interior klasik gaya Roma dengan ukiran di tembok dan tiang-tiang betonnya. Dan sangat elegan. Tak terlihat ada orang yang berkeliaran di rumah itu seperti pembantu dan sejenisnya. karna namja itu sangat membenci orang yang bekerja didepannya. Walaupun mereka dibayar, tapi namja itu benar-benar melarang pembantunya bekerja saat dia dirumah. Bahkan dia tak mau orang lain yang menyiapkan makanannya. Bisa dibilang sangat sensitif dengan orang lain. Karna dia berfikir bisa saja pembantunya akan mati ditangannya karna itu tugasnya. Danakan sangat sulit jika dia menganggap orang itu keluarganya

Berpura-pura kuliah untuk menyembunyikan identitasnya yang merupakan putra seorang konglomerat dan memiliki saham yang tak terhitung jumlahnya. Keluarganya itu mati dalam pembantaian besar-besaran oleh buku kematian yang mereka sebut Leibe mortis saat umurnya masih 3 tahun. Dan dia mendedikasikan hidupnya untuk memburu buku itu. Dari 3 buku yang ada didunia ini 2 diantaranya ada ditangannyan sekarang.

“wah wah wah. . . ada apa dengan wajahmu itu huh?! Kau stres? Carilah gadis untuk menghiburmu“ kekeh seseorang yang duduk di sofa dengan santai menumpuk kakinya dan bertumu pada meja yang ada diepannya dan tangan yang asyik mengutak-atik remote TV dan mengganti setiap chanel yang ada. Wajahnya sangat cantik untuk ukuran pria dengan mata sipit dan kulit putih susu yang terbungkus mulus oleh kemeja putih ,rompi hitam yang membalut tubuh namja itu  celana tiga per empat yang menunjukan betis kakinya.

“ Kau Byun Baek hyun! Sudah kubilang kau tak kuizinkan masuk seenaknya kerumahku kau fikir kau siapa?! Buang isi otakmu! Kau fikir aku maniak?” ujar Jong-in sambil menghempaskan tubuh disofa menarik paksa kemeja hitamnya lepas dan meperlihatkan  tubuhnya ynag hanya terbalut  kaus singlet hitam yang pas dibadan dan membentuk tubuhnya.

“Ayolah tuan muda. . . aku ini lebih tua darimu sopan sedikit. Drak, kenapa dia?”

“kesal karna bertemu gadis menarik.” Jawab Drak

“Woaa. . . Kim Jong-in tertarik dengan wanita?! Nuguya?”

“Aku tak tau!” ujar Jong-in gusar.

“YAK! Jangan bercanda! Kau pelit sekali.”

“Dia memang tak tau. Itu sebabnya dia mengerutu seperti orang gila.”

“Jinjja? Bwahahahahaaa… menggelikan!” tawa namja itu meledak

“Drak! Kukurangi jatah anggur dan bir mu  satu bulan kalau kau terus bicara.” Ancam Jong-in dengan mulut terkatup tapi masih terdengar tajam dan mengintimidasi.

“oh. . . ayolah kau lebih hebat dariku mana mungkin kau tak bisa melihat nama gadis itu!”

“Kau fikir aku sedang bercanda?”

“Ah. . . sepertinya aku tau apa penyebabnya cih menyebalkan! Kau bertemu dengannya terlalu cepat! Hari ini aku juga menemukan hal yang bagus” ujar Baekhyun sambil meraih remote lain yang tergeletak diatas meja dan benar saja, TV didepannya berputar masuk kedinding.

Dan membuat dinding polos. Dan lampu mulai mati satu persatu dan menampilkan layar proyektor dan dengan cepat memasukan kode saecara otomatis dan cepat membuka  file-file aneh yang sangat memusingkan

“apa?” ujar Jong-in malas

“Dea Venato. Dewi pelacak terakhir, dan kuharap keturunanku lahir dari rahimnya.” Gumam Baekhyun yang masih menuggu komputer itu berjalan. Terliaht cengirang diwajahnya.

“Bukankah mereka sudah punah? Bukannya nyonya Park yang terakhir?.”

“kau fikir mereka hewan punah?!  Dan jika kau tak tuli, dia dea Venato terakhir.”

“ tunjukkan padaku.”

“igeo. . . dia gadis yang dulu tinggal bersamaku di panti asuhan cantik bukan? Aku tak tau kalau dia dea venato.”Ujarnya sesaat sebuah foto yang terpampang sangat besar dengan biodata data yang keluar disampingnya.

“gadis ini?!” ujar Jong-in kaget. Saat melihat gadis yang terpampang dilayar Proyektor.

“Woaaa gadis manarik itu. .  .” seru Drak.

“eh? Jangan bilang Jinnie ku yang kau maksud!” ujar Baekhyun tak kalah kaget.

“Dia milikmu? Sejak kapan?” tanya Jong-in datar dan menatap tajam kearah Baekhyun yang membuat namja itu sedikit merinding.

Dengan posisi duduk tangan yang disangga oleh kedua pahanya dan jari-jari yang bertaut rapi membentuk tautan yang cukup untuk menyangga wajahnya, memudahkan baginya untuk mengintimidasinya.

“ Yak! Kau seperti mau menelanku bulat-bulat.”

“Jawab saja atau kau benar-benar kutelan” ujar Namja itu yang masih menatap tajam kearah Baekhyun

“bukan. . . aku bahkan belum sempat bertemu dengannya dia makin cantik, kudengar dia juga sekolah di Inha.” Ujar baekhyun kesal.

“bagus kalau begitu.”  Ujar Jong-in yang kali ini malah menujukan seringai yang sangat mengerikan.

“Yak! Kau makin membuatku takut”

“Jangan sentuh dia atau kau akan ku bunuh” Ancam Jong-in yang kembali memasang wajah datar tanpa ekspresi miliknya. Yang mengerikan.

“Woaaa…Drak apa dia bertemu takdirnya?”

“yah. . . begitulah.”

“kalian bisa diam?” sungut Jong-in. Dan langsung membuat keduanya bungkam. Jadi seperti inikah? Menjijikan memang, mendengar kalimat ‘Cinta pada pandangan pertama’ tapi apa boleh buat itulah yang terjadi sekarang. Takdir? Sepertinya tidak buruk.

*****

“Lee Jin-ah. . .” panggil seseorang yang membuat gadis itu  mendongak  dan mendapati namja didepannya. Tak begitu terlihat jelas wajah namja itu karna matanya yang tertusuk cahaya matahari. Sedangkan gadis itu duduk bersandar dibawah pohon besar. Gadis itu melepas Headphonennya.

“Ne? Nuguya?” tanyanya.

Namja itu perlahan berjongkok dan membuat Jin-ah makin penasaran akan wajah namja itu, jantungnya bergemuruh menyambut wajah yang akan muncul itu. Dan bahkan dia lupa untuk menarik nafas, karna tak pernah seorangpun yang membutnya sekacau ini hanya dengan mendengar suaranya.

“ Kita bertemu lagi nona Lee?” ujar namja itu yang ternyata Jong-in sambil menujukan senyum miringnya yang terlihat mengandung arti tersembunyi dan kacaunya Jin-ah berfikir bahwa senyumnya itu adalah senyum terindah yang pernah ia lihat.

“KAU! Sedang apa kau disini?!” seru Jin-ah.

“Lee Eun-ji?” Ujar Jong-in santai sambil memiringkan kepala untuk melihat gadis didepannya dengan jelas dan terang-terangan, serta lengkungan manis yang sejak tadi terukir dibibirnya

“dia. . .”ucapan Jin-ah sedikit mengambang seperti mencari sesuatu diotaknya.

“Dia dikantin sudah bukan? pergi lah menjauh! Menyebalkan” sungut  Jin-ah sambil kembali berusaha berkonsentrasi kembali kearah bukunya. Namun gagal karna bau namja itu. Cih dia bukan Vampir yang mabuk hanya karna bau seseorang.

“Kau barusan melacak Eunji kan? Jadi benar kau Dea Venato yang punah itu?” ujar Jong-in sambil mengangkat wajahnya menatap dedaunan diatas sana dan masih sempat-sempatnya melirik kearah Jin-ah untuk melihat ekspresi apa lagi yang akan di tunjukan gadis diepannya dan juga merasa tak rela mengalihkan tatapannya dari wajah polos gadis itu yang entah bagaimana bisa terlihat sangat menawan.

Jin-ah sedikit menyeringit kaget saat mendengar ucapan namja didepannya dan langsung  menyerbu tatapan tajam pada namja didepannya. Jin-ah tak habis fikir, dari mana namja didepannya ini tau padahal hanya keluarganya saja yang mengetahui tentang hal itu. Namja itu tersenyum puas seakan dia baru saja memenangkan lotre.

“Ekspresi bagus nona Lee.” Kekeh Jong-in.

“Kim Jong-in Imnida.” Lanjut namja itu sambil mengulurkan tangannya.

Alih-alih menepis uluran tangannya, Jin-ah malah menyambut tangan itu. Tapi detik berikutnya, Jin-ah mengarahkan tatapan tajam penuh ancaman kearah Jong-in. Yah. . . bukan karna apa, melainkan tangannya yang malah digenggam erat dan dengan seenaknya menariknyauntuk berdiri.

“Yak! Lepas.” Sungut Jin-ah.

“Apa ada yang mau kau tanyakan Ah~ya?” goda namja itu yang dengan bodohnya membuat Jin-ah salah tingkah.

“ Siapa yang kau panggil itu hah!”

“Kau bukan? Ah. . . aku lupa. Ku jelaskan, kau menyambut tanganku berarti kau terkekang denganku. . .  selamanya.” Ujarnya dengan penuh penekanan di akhir kalimat.

“Yak! Apa-apaan itu?! Apa seumur hidupmu kau tak pernah berkenalan dan saling bersalaman?! Kau gila, yang benar saja! Tak ada peraturan seperti itu ingat itu!”

“Siapa bilang? Bukankah kau baru mendengarnya?”

“Lepaskan!” sungut Jin-ah yang tak henti-hentinya memberontak agar tanganya lepas dari namja didepannya

“Ikut dengnku, aku ada perlu denganmu.”

“lalu apa? Mau memperkosaku? Tak sebersitpun keinginan untuk ikut dengan mu. Lepaskan dasar idiot!” umpat Jin-ah sambil berusaha berontak. Tiba-tiba Jong-in menarik pinggang Jin-ah hingga tak ada jarak antara tubuh mereka. Dan membuat keduanya sedikit tersentak saat merasakan reaksinya walaupun kekangan itu tak kendur sama sekali.

“Nah. . .  Rui bagaimana kalau semua orang disini tau kalau kau anggota FBI dan bagaimana kalau ku bocohkan bahwa anggota rahasianya seorang gadis bodoh yang saja mempunyai kemampuan mengerikan bagaikan anjing pelacak. Kudengar honormu yang terakhir 43 juta dollar. . .” ujar Jong-in yang membuat jantung Jin-ah melocos hilang entah kemana dan disambut kekehan geli Jong-in.

“Siapa kau dan apa mau mu?!” dengus  Jin-ah dengan mulut terkatup yang masih terdengar tajam dan penuh ancaman

“Kau! Kau yang kuinginkan eotthe? Kita menikah?”

“Kau gila!” Umpat Jin-ah

“Kau tak mau?”

“Jelas!  Kau fikir itu masuk akal?” semprot Jin-ah

“Yah . . . masuk akal jika kau takdirku.”

“Mwo?!”

“Aku tak ada waktu berdebat. Aku perlu kekuatanmu!”

“Untuk apa?! Merampok?! Tidak terima kasih!”

“Untuk apa aku merampok aku bahkan membuang uangku.” Kekeh Jong-in

“lalu siapa kau sebenarnya! Yakinkan aku bahwa kau orang baik!”

“Orang baik kau bilang? Dengarkan baik-baik. Aku. . . Deus Mortis, Dewa kematian. Dan aku bukan orang baik karna aku bisa dengan sesuka hati ku membunuh seseorang hanya dengan keinginkanku. Jadi jangan coba-coba lari dariku atau kau akan berakhir dipeti mati Chagi. . “ ujarnya dengan seringai yang terukir  di wajahnya

“CHAGI!! KAU GILA?!” seru Jin-ah dan membuat beberapa pasang mata menoleh dan mendapati pemandangan langka. kedua makhluk yang sangat anti pada lawan jenis sekarang  malah saling berpelukan dengan lawan jenis mereka masing-masing.

“Hei . . . bukankah ini posisi yang bagus?” kekeh Jong-in, Jin-ah melotot kearah Jong-in dan berusaha lepas.

“Yak! Lepaskan!”

“Anggap saja perkenalan untuk mereka.”

“Ah satu lagi” ujar Jong-in sambil mendekatkan bibirnya ketelinga Jin-ah. Jika dalam angel yang bagus akan terlihat bahwa namja itu mencium leher gadis itu. Bahkan bulu kudu Jin-ah meremang saat merasakan hembusan nafas Jong-in dilehernya.

“berusahalah untuk menyukaiku didunia nyata. . . jangan hanya mengagumiku di tanpa tau siapa aku. Kai hanya detektif sedangkan aku detektif dan juga pembunuh Legal Kai tidak nyata dan aku nyata. Satu manusia, satu otak, dua nama. Sama sepertimu Nona Lee, dan ku tegaskan lagi. . .”

“Kau milikku sekarang. . .”

-TBC-

7 thoughts on “Lacrymosa (part 1)

  1. ide nya bagus
    kata2 yang digunakan juga bagus sayang banget nggx dilanjuti
    dan typo juga masih belum terlihat
    dan satu lagi rapi , mempunyai ide yang briliant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s