Mianhae ( Part 3)

mianhae part 3

Jin-ah hanya duduk diam dikursi panjang dekat sungai Han sendirian, gadis itu memutuskan untuk keluar rumah. Dia bahkan tak bisa merasakan kehidupannya seperti biasa hanya karna penyakitnya. Dia sudah terlalu sering meminta Jong-in mengizinkannya pergi kekampus walaupun Jin-ah tau itu tak akan berhasil, ketakutan namja itu melebihi siapapun. Bahkan baru kali ini dia bisa kabur.

Gadis itu merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya merasakan semilir angin yang membelai nya lembut dan memberikan kenyamanan walaupun sebenarnya tak cukup untuk menghilangkan kegundahan yang ia rasakan saat ini apa dia benar-benar siap membatalkan pernikahan ini? Padahal hal ini mungkin kesempatan terakhirnya. Setidaknya dia ingin mempunyai kenangan indah sebelum dia meninggal, tapi dia juga ingin meninggalkan kenangan yang indah juga untuk orang lain. Serakah? Egois? Yah . . .itu benar, dan Jin-ah merasa itu terlalu sulit. Dan harus memilih salah satu diantaranya. . .

Tiba-tiba handphonenya berdering memecah keheningan yang nyaman, gadis itu hanya mendengus sambil merogoh saku celananya.dan bisa ditebak yang sekarang terpampang dilayar ponsel nya. ‘Namja Pabo’. Sedikit tarikan nafas dia menekan tombol hijau dan memasangkannya ketelinga tapi didetik berikutnya dia sudah menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

“YAK! BODOH! SIAPA YANG MENYURUH MU PERGI TANPA IZIN HAH!” serunya hingga Jin-ah benar-benar harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya

“Kau yang bodoh kecilkan suaramu. . . kau mau membuatku tuli?”sungut Jin-ah.

“Kau dimana?”

“kau sedang menyetir?” tanya Jin-ah mengalihakan pembicaraan.

“YAK! JAWAB SAJA PERTANYAANKU!” seru Jong-in. Dia terdengar sangat kacau.

“hentikan mobilmu, suara mobilmu seperti hampir meledak. Aku tak papa aku bukan anak kecil kenapa kau sebegitu takutnya bodoh! Apa jangan kau menyembunyikan sesuatu dari ku?” seru Jin-ah tak mau kalah.

“Ne ne aku berhenti” dengus Jong-in. Jin-ah sedikit syok saat melihat mobil Jong-in berbelok ketepi sungai dan terdengar suara decitan ban mobil yang sangat ketara. Membuat beberapa burung yang ada disekitar sana terbang.

“ Sudah bukan? Sekarang beritahu kau ada dimana?”ujarnya terdengar suara bantingan pintu mobil yang begitu ketara. Terlihat dari kejauhan Jong-in keluar dari mobil dengan wajah kesal.

“Kau menyembunyikan apa dariku Kim Jong-in? Apa kau benar-benar tak mau mengatakannya?”

“Memangnya aku menyembunyikan apa darimu hah? Cepat beri tahu aku kau dimana! Jangan mengalihkan pembicaraan.” Seru Jong-in.

“Pembohong! Kau menyembunyikan sesuatu bukan? Beri tahu aku sekarang!”

“Apa! Aku tak menyembunyikan apapun bodoh!” sungut Jong-in sangat terdengar frustasi, jadi separah itukah? Sesekarat itukah dirinya sekarang hingga namja ini sama sekali tak bisa menahan emosinya?

“Kau fikir aku mengenalmu baru satu hari hah? Aku mengenalmu dari sekolah dasar dan kau tak pernah lepas dari pandanganku kau sadar itu bukan? Jadi beritahu aku, apa yang sebenarnya yang kau sembunyikan.”

“Lee Jin-ah!”

“ Kalau begitu aku tak bisa menikah denganmu. Kau jelas melanggar peraturan pertama dalam pernikahan, tak ada yang disembunyikan atau pun di rahasiakan.”

“Jin-ah!”

“kau benar-benar tak mau mengatakannya padaku? Baiklah kalau begitu, aku akan meminta Appa agar kau dan Kazumi saja yang menikah.”

“YAK! KAU BICARA APA BODOH!”

“ tak usah berteriak seperti orang gila. . .” kekeh Jin-ah, melihat Jong-in diseberang sungai Han. Dia bahkan terlihat sangat berantakan dengan kancing kemeja yang terbuka memperlihatkan dada bidangnya

“Aku memang benar-benar gila, kau tau siapa yang melakukannya? KAU! Jadi cepat beri tahu kau dimana!”

“Aku makin malas. Lihat dirimu, pasti kau berantakan. Cih kau pasti sekarang lebih mirip orang gila.”

“Lee Jin-ah!”

“jangan seperti itu. . . apa separah itukah aku? Sampai kau tak mengizinkanku? Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kau tak bisa selamanya menyembunyikannya. Karna ini tubuhku bukan tubuhmu.”

“Ah~ya. . .”

“Bodoh! Lihat dirimu orang gila. Kau tak pernah sekacau ini pabo! Aku tak papa, tak perlu sekhawatir itu hm?” dengus Jin-ah sambil memperhatikan Jong-in diseberang sungai.

Namja itu telihat mulai tenang menghela nafas panjang dan mengacak-acak rambutnya sambil menyandarkan tubuhnya di kap mobil.

“betulkan bajumu itu bodoh!” sungut Jin-ah. Namun tak digubris Jong-in.

“Kau dimana?” ujar Jong-in suaranya terdengar lelah, frustasi, ketakutan, lemah dan membuat Jin-ah sendiri lelah. Gadis itu menghela nafas berat.

“Kau lihat tanganku?” ujar Jin-ah sambil melambaikan tangannya kearah Jong-in.

Sedangkan Jong-in mulai menghamburkan tatapan kepenjuru tepi sungai hingga matanya seperti terkena magnet saat menangkap sosok Jin-ah yang duduk bersila diatas kursi panjang di seberang sungai sambil tersenyum dan terlihat mulutnya bergerak tanpa suara yang membentuk kata ‘Pabo’. Jong-in terlihat kelelahan dan menatap Jin-ah lemas.

“kau membuatku lelah kau tau? Duduk disana jangan kemana-mana mengerti? Aku kesana.” Ujar Jong-in sambil mematikan ponselnya dan masuk kedalam mobil.

Jin-ah langsung bangkit dan berlari seperti anak kecil ke arah pedagang kaki lima yang cukup jauh dari tampatnya duduk dan langsung memesan bakso ikan dan 3 porsi hamburger dan membuat pedagang itu tercengang.

“Khamsa Ahjumma. . .” Ujar Jin-ah saat menerima pesanannya dan langsung berlari ketepi sungai dan memilih duduk dirumput.

Dan mulai memasukkan satu-persatu bakso ikan yang dia beli kedalam mulutnya.

Terlihat mobil ferari hitam melaju pelan dan berhenti tepat dibelakang Jin-ah. Jong-in turun dari mobil itu sambil mengusap matanya.

“Innie Pabo!” sungut Jin-ah tanpa menoleh kebelakang.

“Ne.. terserah kau saja lah..” ujar Jong-in sambil duduk disamping Jin-ah. Sesaat terasa hening karna mereka berdua terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.

“Innie…” ujar Jin-ah membuka percakapan.

“Kau menyembunyikan sesuatu bukan? Apa?” lanjut Jin-ah.

“apa yang aku sembunyikan?”

“Tak perlu berbohong… kau payah tentang hal itu…” dengus Jin-ah sambil kembali memasukan satu tusuk bakso ikan kedalam mulutnya.

Jong-in sama sekali tak menjawab pertanyaan gadis disampingnya tidak sampai benar-benar dia anggap waktu yang tepat untuk mengatakannya.

“ kau benar-benar tau mau memberi tahuku? “

“Marstenia Gravis. Itu bukan yang kau sembunyikan? Wae? Kau kasihan padaku? batalkan pernikahan aku tak mau!” sungut Jin-ah sambil membuang tusuk bakso itu kesungai.

“ darimana kau tau?” ujar Jong-in sedikit kaget karna Jin-ah mengetahuinya padahal dia sudah menyuruh siapapun untuk tutup mulut.

“Yah. . . aku memukuli salah satu suster. Perasaan, kau tenang sekali. . . padahal kau seperti orang gila tadi.” ujar Jin-ah enteng.

“harusnya aku yang bicara seperti itu.”

“Wae? Kau kasihan padaku?” tanya Jin-ah sambil menyumpal mulutnya dengan burger. Menanyakan iu sebenarnya membuatnya sakit. Bagaimana jika namja disampingnya ini mengatakan iya? Apa dia benar-benar harus merelakannya?

“Aku mencintaimu sejak dulu. kau saja yang tak menyadarinya. Kau itu terlalu bodoh dan tak peka!”

“Cih. . . aku akan mati bodoh! Apa kau tak menyesal? Kau akan tersiksa hidup denganku.”

“Astaga Ah~ya. . .” sergah namja itu sambil membalik tubuhnya kearah Jin-ah.

“semua orang itu akan mati! Kau saja yang terlalu beruntung mengetahui cara mu mati. Kau tak akan mau mati di perkosa kan?”

“YAK!” sungut Jin-ah sambil memukul kepala Jong-in keras-keras dan anehnya Jong-in hanya terkekeh lalu detik berikutnya menatap Jin-ah tajam tapi tidak seperti akan menelannya bulat-bulat hanya tatapan yang menujukan sekarang dia serius.

“Aku akan lebih gila jika aku menyia-nyiakan hidupmu.”

“Dan aku bahkan memilih mati dari pada aku tak mendapatkanmu di sisa hidupmu itu. Yah. . .konyol memang, tapi aku serius, aku sudah bosan hidup kau pernah mendengarnya dari mulutku bukan? Tak ada artinya aku hidup tanpa eomma. Dan waktu itu kau langsung memukuliku keras-keras dan berteriak  kearahku. ‘dasar manja!! aku saja yang tak pernah tahu seperti apa eomma tak merengek seperti mu! kau beruntung bodoh appa-mu disampingmu dasar namja bodoh!!!’ kau memukuliku tapi kau yang menangis waktu itu.”

“Kau yang membuatku kesal!” sungut Jin-ah sambil menyumpal mulutnya dengan satu gigitan besar burger yang langsung memenuhi mulutnya dan membuat pipinya menggembung  besar. Dan mengalihkan pandangan kesisi lain agar namja disampingnya ini tak melihat dirinya yang mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus.

“ saat itu aku berfikir kau mirip eomma. Sangat mirip hanya saja eomma tak pernah memukulku. Waktu itu aku tak melakukan apapun yang baik pada eomma ku dan sekarang aku dihadapkan bahwa kau akan mati lebih cepat. Kau fikir aku bisa hidup kalau kau mati? Belum waktunya kau mati jadi, tak kuizinkan. Aku tak peduli apapun yang akan terjadi padamu.  kau tak bisa berjalan aku akan menjadi kakimu, menjadi tanganmu dan semuanya. Kau itu satu-satunya orang yang paling berharga dimuka bumi ini dan aku mencintaimu lebih dari yang kau fikirkan. . . .”

“Jadi berhenti berfikir kau akan mati detik ini. Arra?” Lanjutnya sambil tersenyum lalu menoleh kearah Jin-ah yang menatap lurus kedepan dengan burger yang melayang didepan mulutnya.

“apa yang barusan kau katakan huh?! menjijikan sekali!” semprot Jin-ah

“Terus saja berpura-pura. . . kau bahkan syok barusan bukan” kekeh Jong-in sambil melorot dan dengan santainya meletakan kepalanya dipangkuan Jin-ah dan berbaring di rerumputan.

“Sosok melow tak cocok untukmu.” Dengus gadis itu sambil menyumpal mulutnya dengan gigitan besar Burger

“Hei. . . aku memang seperti itu kan?”

“Apanya? Kau tak mendekati kriteria itu sedikitpun. Kau bahkan tak pernah tersenyum. hanya akhir-akhir ini saja kau aneh. . kau itu seperti robot!”

“Eh? “

“ne kau tau robot seperti apa bukan? Kaku, dingin, angkuh, dan bisa melakukan apapun sesuai perintah.”

“Jinjja? Aku seperti itu?”

“Ne. . . tapi kau itu kadang terlihat seperti Ahjumma tengik yang memberi petuah!”

“Yah. . .  terserah kau saja. Tapi jangan pergi tiba-tiba seperti ta. . .. . Astaga.  . . sebenarnya kau beli berapa banyak? Tak ada habisnya dari tadi.” Sedikit kaget karna sejak tadi gadis itu tak henti-hentinya mengunyah.

“ Kau mau?”tawar Jin-ah

“Ani. . . makanlah dasar tong sampah.” Ledek Jong-in.

“Yak!” seru Jin-ah

“Hahahahaha. . . .”

“Mwo!! Memangnya itu lucu hah?!”

“Perutmumu itu perut karet ya? Hahahaha.. . “

“Aku mau pulang!” dengus Jin-ah

“sekarang?”

“nanti dan pulang yang kumaksud bukan pulang keapartementmu tapi rumahku sendiri.” Gumam Jin-ah.

“Wae?”

“Kau itu bukan suamiku bodoh! Kau mau aku dianggap gadis murahan yang tinggal di rumah lelaki tanpa status? Lagi pula aku sudah terlalu lama menghindar.” Ujar Jin-ah.

“Besok jalan-jalanlah dengan Abeoji, bicara apa yang ingin kau katakan dia tak akan membentakmu lagi dan tak akan berteriak didepanmu.”

“Siapa yang kau panggil Abeoji hah?!”

“Ayahmu juga ayahku, lagi pula kau salah menggunakan kata tadi, statusmu itu calon istri bukan tanpa status. Dan aku calon suamimu bukan orang lain dasar bodoh”

“Kau mulai lagi, menyebalkan!”ujar Jin-ah sambil menyingkirkan kepala Jong-in dari pangkuannya.

“Bagaimana kalau kita ciuman?”

“KIM JONG-IN KUBUNUH KAU!”

****

“eonnie. . . Ireona” ujar Kazumi sambil mengguncang tubuh Jin-ah. Gadis itu terduduk dengan keadaan mata masih tertutup.

“kau yang bilang sendiri mau jalan-jalan. . . Appa menunggu eonnie, Ppali”

“Mwo?”

“Aish benar kata oppa kau itu amnesia kalau sudah tidur. Yak ppali atau ku tinggal kau”

“Ne. Tunggu sebentar” ujar Jin-ah sambil melompat dari atas kasur yang membuat kazumi sedikit menahan nafas karna bisa saja gadis tolol itu terjatuh dan keadaan akan makin parah karna 3hari lagi dia menikah.

Kazumi hanya tersenyum melihat tingkah Jin-ah dan sedikit merasakan miris, bagaimana keadaanya jika kakak tirinya itu sudah mulai tak bisa berlari, berjalan. . .  bahkan semalam saat makan gadis itu udah tak bisa mengenakan sumpit. Dan anehnya dia hanya tersenyum, apa gadis itu sudah tau keadaan dirinya?

Masih ada rasa iri yang terlintas, dan kadang masih berfikir mengapa tak dia saja yang terkena penyakit itu? Mungkin Jong-in akan memilih untuk menikah dengannya. Namun perasaan itu seakan menguap saat Jin-ah ada didepannya. Dia mungkin akan terpuruk lebih parah dari Jin-ah dan tak akan bisa menerima kenyataan itu semua.

“Kau masih disini?” ujar Jin-ah yang keluar dengan hanya mengenkan handuk dan satu handuk yang tersampir dikepalanya.

“Eonnie. . . kenapa kau keluar dengan keadaan seperti itu bagaiman kalau Jong-in oppa masuk?”

“Mwo? Dia disini? Bagaimana bisa?”

“Ani. . . cepat ganti.”

****

Jin-ah keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga perlahan, yah ketakutannya meningkat sejak dia sendiri tak bisa merasakan tanganya. Bahkan dia selalu merasa akan jatuh tiap saat.  Dan entah apa yang terjadi jika Jong-in tau dia terjatuh. Membayangkannya saja dia tak ingin.

“nah. . . si babi turun juga.” Sambil Hyuk jae saat melihat sosok Jin-ah berjalan menuruni tangga. Gadis itu mendengus sambil menggembungkan pipinya dan hanya di balas cengiran Hyuk Jae.

“Siapa yang kau sebut babi dasar monyet sialan!”

“kalian berhentilah bertengkar. . .” ujar sesorang dengan suara beratnya.

Jin-ah sedikit ternganga saat melihat ayahnya keluar dari kamarnya. Tak hanya dia, Kazumi dan Hyuk jae pun tak kalah terkejut. Lelaki paruh baya itu yang biasanya tak pernah lepas dari stelan Kemeja dan jas sekarang hanya mengenkan Jeans dan sebuah kaos putih polos ditambah sebuah blazer. Aksen anak muda?

“Wae? Apa terlihat aneh?”

“Appa. . . itu lucu sekali aku baru pertama melihatnya” komentar Kazumi.

“Apa hanya kalian saja mau terlihat muda? Kakek tua ini juga masih bisa dibilang muda.”

“Appa. . . kau menyaingi Hyuk jae oppa. Bahkan sekarang  oppa lah yang terlihat tua.” Ujar Jin-ah yang masih saja tak bisa mnegtupkan mulutnya.

“YAK!”

“Hyuk jae Harabeoji . . .”ledek Kazumi.

“Kajja. . .” ujar Kazumi sambil menyeret Hyuk jae. Keluar dan membuat Jin-ah bingung.

“Kau tak mau menggandeng kekek tua yang tampan ini?” ujar Jae suk dengan senyuman yang terlihat tak asing, yah Hyukjae memiliki senyuman itu. Jin-ah tersenyum dan berlari kecil ke arah Jae suk lalu mengalungkan lengannya ke lengan Jae suk.

“Nah. . . apa yang terjadi jika suami mu melihat kau mengandengmu. Dia pasti akan cemburu.”

“Biarkan.”

“Appa. . .” lanjut Jin-ah.

“Waeyo?”

“ bisakah kau tetap diKorea? Aku hanya takut tak bisa melihatmu lagi . . .”

“Gadis bodoh! Apa yang aku katakan? Tentu saja appa akan disini kau ini . . . ngomong-ngomong. . .”

“Kau sudah pernah berciuman denganya? Appa penasaran.”

“APPA!!” jerit Jin-ah tak habis fikir bagaimana ayahnya yang terkenal sadis itu mengeluarkan pertanyaan konyol itu.

“kau itu, tak usah berteriak kalau kau memang tak mau memberi tahuku. Bagaimana kalau pernikahanmu dipercepat? Selesai jalan-jalan kita coba gaunmu, Jong-in dilarang melihatnya. Ah. . .  appa tak sabar menunggu cucu.”’

“Aigoo APPA  . . . KAU MENGERIKAN!” jerit Jin-ah.

*****

Jin-ah duduk didepan cermin besar yang memperlihatkan sosoknya dengan balutan gaun putih bersih yang membentuk  lekuk tubuhnya. Gadis itu terlihat sangat tidak tenang dengan menatap sesuatu yang terpantul dari cermin besar didepannya. Dia hanya megigiti kukunya dan mengumpat pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba pintu ruangan itu menjelebak menampakan sosok lain yang ada di depan pintu.

“Eun-ji~a. . . .” rengek Jin-ah saat melihat Eun-ji yang berdiri didepan pintu.

“Jin-ah paboya!!” seru Hyun-mi sambil menghambur kearah Jin-ah dan mencubit pipi gadis itu.

“YAK!!! HYUN KAU MAU MERUSAK MAKE UP JIN-AH HUH!!” jerit Gyu-ri sambil menarik tangan Hyun-mi dari wajah Jin-ah.

“Astaga Jin-ah! Sedang apa kau huh! Lihat kukumu!” dengus Gyu-ri

“Eonnie. . . Jong-in mau membunuhku!” rengek Jin-ah sambil memeluk perut Eun-ji.

“Hah? Dia akan jadi suamimu. . . apanya yang akan membunuhmu?”

“Itu!” dengus Jin-ah sambil mengedarkan  telunjuknya kesatu titik. Dan jelas membuat langsung Hyun-mi tertawa terpingkal-pingkal.

“YAK! Tidak lucu bodoh!”sungut Jin-ah.

“ Aish. . . . Ini sebabnya kau memanggilku Eonnie? Aku tak akan membantumu memangnya ada orang menikah dengan sepatu kets atau sneakers mu itu? Astaga Jin-ah sebegitu bencinya kah kau pada sepatu jenis High heels?”

“Dia mau mematahkan kaki ku dengan itu eonnie. Aku baru sembuh!” gerutu Jin-ah diperut Eun-ji

“tenanglah itu bahkan tak lebih dari 15cm” ujar Eun-ji.

“Woaaaa Yeopoyo. . .” seru Gyu-ri. Sambil menghambur kerah sepasang sepatu yang tergeletak dia atas meja yang bahkan terlihat bagitu menawan.

“Aku kesini mau protes! Kenapa aku harus memakai ini? Mengiring pengantin? Aigoo.” Dengus  Hyun-mi.

“Aku menderita kau juga menderita!” gumam Jin-ah.

“aku bukan budakmu!”

“Eonnie?” ujar seseorang sambil menyembulkan wajah manisnya dari balik pintu.

“Kazumi. .  . masuklah”

“ wah . . . kau cantik eonnie.” Ujar Kazumi sambil sedikit melompat-lompat ditempat. Jin-ah tau wajahnya itu hanya topeng. Dia menahan kesedihannya kali ini. Benar-benar sangat terlihat dimata Jin-ah.

“Kazumi~a. . .”

“Eonnie bukan waktunya sedih. Aku akan jadi fotografer hari ini “ ujarnya riang sambil menujukan kamera yang dikalungkan dilehernya.

“ Kazumi kau lancar sekali bahasa korea.” Tanya Hyun-mi.

“Aku kursus karna ku kira aku akan mempunyai suami orang korea.”

“Eh?”

“Ah lupakan!! kalian mau ber foto?” Tawar Kazumi

“Ah bagus! Fotokan kami semua!” ujar Eunkyu yang entah sejak kapan sudah ada didalam ruangan.

“Yak! Pemotretan itu nanti!” sungut Jin-ah.

“aku mau pamer ke Hyuk Oppa. . . dia belum melihat mu kan? Ppali!” ujar Kazumi.

“benar kata Kazumi. Kau diam saja aku tau kau akan kabur dan langsung melepas semuanya setelah upacara pernikahan! Jangan anggap aku tak tau otakmu!” sungut Hyun-mi. Sambil menyeret Jin-ah agar merapat.

“Ah. . . Gyu-ri eonnie, pegang buket ne? Kau kan ditengah?!” ujar Kazumi.

“Kenapa Gyu-ri! Dia gadis gila!” sungut Hyun-mi

“Kris Oppa yang menyuruhku.”

“Mwo?! Kau mengenal Kris? Darimana?” ujar Gyu-ri yang terlihat tidak senang. Yah. . .  dia bisa dibilang gadis gila yang mendapat pangeran super tampan. Maka dari itu, sifatnya sedikit pencemburu.

“Kapan fotonya kalau kau terus mengoceh!! Mulai saja kazumi” sungut Eun-kyu sambil menoyor kepala gadis itu.

“Hana. . . Dul. . . Set.” Ujar Kazumi dan lampu blizt menyala menandakan bayangan mereka  sadah tercetak disana. Kazumi langsung melihatnya sendiri dan tersenyum simpul.

“Yeopoyo. . .”

“Yak lihat-lihat!” seru Gyu-ri sambil menghambur kearah Kazumi

“Igeo. .”ujar Kazumi sambil menyerahkan kamera itu pada Gyu-ri dan langsung dikerubungi oleh lalat pengganggu.

“itu apa bagaimana bisa aku terlihat seperti badut! Hapus! Berikan padaku!” sungut Jin-ah.

“ gantian aku juga mau berfoto.” Ujar Kazumi sambil memposisikan dirinya disamping Jin-ah dan memegang buket bunga yang tergeletak di atas meja.

“Aish. . . Kazumi, kau mau berfoto dengan badut?”

“bilang saja eonnie tak suka berfoto denganku, ku adukan appa kau”

“Aish. . . dasar sudahlah cepat.”

****

Jin-ah berjalan tertatih kearah pintu greja. Yah karna kali pertama dia mengenakan gaun yang menurutnya sangat aneh dan bisa saja jatuh kapan saja terlebih High Heels yang membuatnya makin lama berjalan, bahkan Hyun-mi dan Gyu-ri kuwalahan mengandeng Jin-ah. Sedangkan Jaesuk yang menuggu didepan pintu greja hanya tersenyum dan bahkan pengawalnya membuka mulutnya lebar-lebar tak percaya bahwa seorang ketua yakuza bisa tersenyum.

“Kau itu membuat Jong-in menunggu Jin-ah.” Kekeh Jae suk dan disambut tatapan kesal dan bibir yang mengerucut milik Jin-ah.

“ini tak lucu Appa, kenapa ada sepatumacam ini didunia! Menyebalkan. “ dengus Jin-ah

“Seperinya kau tak tegang.” Ujar Jaesuk yang membuat Jin-ah serasa akan melakuan hukuman mati dan membuat gadis itu membeku. Tangannya gemetar, yah. . . . ucapan penuh rangsangan yang membuat gadis itu tengang.

“Seharusnya aku tak mengatakan itu kajja?”

“Appa. . .”

“Gwaenchana. . . ketakutanmu itu telat. Kajja” ujar Jaesuk dan dengan persaaan ragu Jin-ah mecengkram lengan Jae suk.

“Kau itu membuat jasku kusut.”

“Appa. . “

“Gwaenchana. . . “

Nafas Jin-ah tercekat saat pintu lebar-lebar seakan kan menelan Jin-ah bulat-bulat didalamnya, ketakutan memuncak saat melihat Jong-in berdiri didepan altar menunggunya. Namja itu terlihat sangat bersinar dengan balutan jas hitam yang menekan dada memperlihatkan dada bidangnya. Namja itu seperti melihat hantu, hanya diam terpaku.

Pertama kalinya dia melihat Jin-ah seperti malaikat turun dia surga dengan balutan gaun putih sederhana yang menyempit dibagian pinggang yang memperlihatan lenkuk tubuhnyadan rambut yang ditarik kebelakang membentuk jalinan dan sanggulan cantik dan beberapa anak rambut ynag tergerai bebas. Memperlihatkan leher jenjang yang tak dihiasi apapun. Namja itu menatap Jin-ah yang kelihatan sangat ketakutan. Jong-in hanya tersenyum berharap yeoja itu tenang.

Langkah demi langkah perlahan mendekati latar dan membuat gadis itu benar-benar ketakutan. Jae suk mengusapkan tanganya pada cengkraman Jin-ah agar putrinya itu tenang.

“Dilarang pingsan” bisik Jae suk yang mambuat Jin-ah sedikit tenang.

Benar-benar tepat didepan Jong-in, Jin-ah dan Jaesuk berdiri. perlahan Jong-in mengulurkan tangannya kearah Jin-ah menunggu sampai ayah Jin-ah menyerakan tangan putirnya yang ada di genggamannya.

“Kubunuh kau jika kau berani menyakiti putriku.”

“Appa . . .” dengus Jin-ah tapi hanya di balas senyuman Jong-in yang bisa dibilang sangat langka. Bahkan, Eun-ji, Hyun-mi, Gyu-ri, dan Eun kyu tak berkedip sama sekali melihat adegan langka itu.

Tangan Jin-ah mencengkram kuat tangan Jong-in yang menggegamnya. Dan bergitu pula Jong-in. Seakan mereka tak akan melepaskan tautan tangan itu selamanya. Mereka berbalik menghadap pastor yang menikahkan mereka. Berjanji dari dalam hatinya sendiri tak akan melukai gadis secuilpun.

Mendengarkan gadis itu mengucapkan janji yang sama dengannya membuatnya bahagia melebihi apapun dimuka bumi ini. Benar-benar mengutuk dirinya untuk membuat gadis yang membuatnya gila hanya karna sifatnya, senyumnya, gerak tubuhnya agar bisa bahagia disisa hidup gadis itu. Gadis yang dia cintai melebihi apapun dimuka bumi ini. Apapun yang terjadi, dia akan membuat gadis ini bahagia tanpa penyesalan.

TBC-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s