Lacrymosa Part 2

lacrymosa part 2

Dosa merah itu mati. . .

Dan tak akan ada warna  jika dia semakin pekat.

Jin-ah mendengus kesal dan ingin menghancurkan seisi mobil yang ia tumpangi ini. Namja itu, Kim Jong-in, sukses menyeretnya masuk kedalam mobil Buggati Veyron hitam milik namja itu. Dan kalimat terakhir namja itu yang membuatnya berfikir keras karna sangat tidak dia pahami sama sekali.

“apa maksudmu tadi?!” ujar Jin-ah tanpa basa-basi membuka pembicaraan setelah lewat setengah jam saling berdiam diri.

“hm?” gumamnya yang masih sok fokus kedepan. Dan wajah kerasnya, datar, dan kaku itu terlihat sedang menahan sesuatu. Dan makin membuat Jin-ah kesal.

“Jelaskan semuanya. Kenapa kau menyeretku dan sebenarnya apa maksud kata-katamu?!” sungut Jin-ah yang hilang kesabaran. Namja itu hanya menyeringai dan menurunkan kecepatan mobilnya.

“sesuai dugaanku. Kau tak sabaran, kasar, kekanakan dan yang paling parah adalah, kau bodoh!”

“MWO?! YAK! KAU MAU KUBUNUH?!” seru Jin-ah sambil mengacungkan pistolnya.

“Wah wah wah. . . tenanglah, kau mau membunuh sesama anggota?” ujar Jong-in sambil menurunkan mulut pistol yang mengarah kekepalanya.

“Anggota?”

“FBI.” Ujar namja itu yang secara otomatis menampilkan layar kecil yang menampilkan data tiga dimensi yang membuat Jin-ah tercengang.

Sekarang Jin-ah merasa sesuatu mencekiknya saat melihat identitas yang dimunculkan dilayar tersebut.

“Kau ini K. . Kai?”

“apa kata-kata ku kurang jelas agen Lee? Kau mendengarkan tidak tadi? Ah. . . kau benar-benar bodoh.” Kekeh Jong-in. Dan membuat Jin-ah ingin sekali menendang wajah namja itu.

“lalu apa yang kau inginkan dariku?”tanya Jin-ah tajam. Tahu bahwa namja itu bukan tipe orang yang suka berbelit-belit

“Kau.” Jawab namja itu singkat.

“mwo? Co. . coba kau ulangi lagi?!”

“yang ku inginkan itu kau, jadi bisa kita menikah saja?” ujar Jong-in yang kali ini membuat Jin-ah tersedak nafasnya sendiri. Tapi detik berikutnya dia bisa mengendalikan dirinya sendiri.  Mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.

“kekuatanku ya? Apa sampai sebegitu relanya kah melepas masa lajangmu denganku hanya karna menginginkan kekuatanku berada dalam kendalimu? Maaf tuan muda, tapi aku tidak suka dikendalikan, bahkan FBI sekalipun.” Ujar Jin-ah sambil membuang muka kearah jendela mobil.

“ini memang sedikit menyebalkan, tapi kau ini takdirku.” Ujar Jong-in enggan.

“ Aku tak membual, dan kau harus tahu. Beberapa detik saja menyentuhmu seperti tadi, aku merasa butuh melakukan lebih dan itu membuatku mual.” Lanjutnya saat melihat ekspresi Jin-ah yang meremehkannya.

“Psikopat!” umpat Jin-ah.

“terserah kau saja!”

“Lalu sekarang kau mau membawaku kemana tuan?”

“Rumahku.”

“YAK!” seru Jin-ah.

“satu lagi tambahan untukmu, otakmu itu parah sekali.” Kekeh Jong-in

“DIAM KAU! Memangnya kau tau isi otakku? ” seru Jin-ah.

“Itu yang seharusnya. . .”

Belum sempat memabals ucapan Jong-in, tiba-tiba ponsel Jin-ah berdering memekakan telinga dan dengan kesal menyusupkan tangannya kedalam backpack yang ia kenakan. Sedikit tersenyum melihat nama yang tertera. Dan membuat Jong-in sedikit penasaran siapa yang membuat gadis ini terseyum hanya karna menerima telphone darinya.

“Yeobseo?” ujar Jin-ah setelah menekan tombol hijau pada layar ponselnya dan menaruh benda itu ditelinganya.

Eommanie. . . Appa, tolong hubungi appa sekarang.

“Eh? Ada apa? Kau tak bisa menelphone Appa? Kenapa harus eomma?” tanya Jin-ah bingung.

“Appa melarangku pulang, padahal Mr. Joen sudah kalah telak ada tak bisa mengekangku diasrama.”Gumam Gyu-ri yang jelas terdengar anak itu sedang kesal.

“ Apa maksudmu Gyu, baru kemarin bukan kau janji pada eomma bukan? Kau selesaikan dulu sekolahmu baru eomma izinkan.”

“Aku sudah selesai eomma. Aku mau pulang!”  ujar Gyu-ri dengan penuh semangat.

“bagaimana bisa?”

aku bertaruh dengan Mr. Joen minggu kemarin. Perjanjiannya, jika aku bisamengerjakan seluruh soal ujian yang ia sodorkan, maka aku dinyatakan lulus tanpamenunggu 3 tahun lagi untuk pulang dan bertahan diasrama. Teman sekamarku ituidiot, terlalu menyembah-menyembah pria.”

“Astaga. . . kau boleh pulang kalau ijazahmu keluar.” Putus Jin-ah kehilangan akal.

“Sudah ada.”  Ujar gadis itu dan terdengar merasa menang.

Jin-ah mengacak-acak poni rambutnya dan sedikit menyandarkan lenganya di jendela mobil dan sedikit memijit keningnya

“besok, kau ambil tiket pesawat paling pagi.” Putus Jin-ah akhirnya lagi pula ini tidak buruk.

“yes! Dan eomma, aku tak mau kuliah. Aku harus sampai umur yang cukup untuk itu, menyebalkan jika berhadapan dengan wartawan.”

“Baik, baik, baik. . . terserah kau saja, hubungi appamu akan eomma suruh appamu itu membelikan tiket.”

“Eomma. . .  siapkan makanan, komputer, dan . . .”

“Eomma tau. Tak usah kau beri tahu eomma sudah tahu.” Potong Jin-ah.

“ eomma, ada seseorang yang mengambil seluruh data pribadi eomma daritahun kelahiran  eomma sampai sekarang, tapi aku menyembunyikan dan berhasilmemblokir informasi tentang kau mengangkatku sebagai anak.” Ucapan Gyu-ri terdengar serius kali ini.

“ kenapa harus kau blokir.”

“Dia berbahaya eomma. . .  teknologi itu”

“Kau yang melakukan tuan muda?” tanya Jin-ah pada Jong-in.

“ Data pribadi” lanjut Jin-ah saat melihat wajah bingung namja itu

“ne”

“kau dengar sayang? Dia ada disini disamping Eomma.” Sambil melirik kearah Jong-in dengan wajah mengejek.

“Aku ingin bicara dengannya.” Ujar Gyu-ri dan Jong-in bersamaan dan sontak membuat Jin-ah langsung menoleh kearah Jong-in.

 

“A. .Andwae!” jerit Jin-ah.

Waeyo. . . “ dan lagi mereka berbicara bersamaan.

“kenapa kalian bicara bersamaan?! Aku bisa gila.”

“eomma. . .”  rengek Gyu-ri.

“Baiklah, setelah kau sampai dikorea kau bisa bicara dengannya.” Ujar Jin-ah pasrah.

“Menarik.” Ujar Jong-in sambil tersenyum sedikit membayangkan orang yang akan dia temui besok.

“Aku. Tidak. Bicara. Denganmu. Tuan. Kim.” Ujar Jin-ah geram dengan penuh tekanan.

“Oh. . . dan aku perlu tahu semuanya setelah ini.” Ujar Jong-in.

“Eommanie??”

“Telphone eomma nanti arra?”

“Arraso. . . eum. . .  Eomma.” ujar Gyu-ri terdengar ragu. Jin-ah bisa menebak bahwa putrinya ini  akan menurunkan sedikit gengsinya yang membuat dirinya malu. Sifat dasar yang mirip dengan Jin-ah yang jelas membuat mereka akrab.

“Ne?” tanya Jin-ah dengan tersenyum dan menebak-nebak apa yang akan Gyu-ri katakan padanya.

“Saranghae.” Putus gadis itu cepat dan membuat Jin-ah makin tersenyum lebar.

“Nado” balas Jin-ah dan terdengar suara sambungan terputus. Jelas Gyu-ri sedang mengutuki dirinya sendiri mengatakan itu pada Jin-ah, dan itu sangat mudah ditebak oleh Jin-ah sendiri.

“nah sekarang kau diam sebentar.” Ujar Jong-in sambil mengambil sebuah remote kecil dari dasbor dan menekannya mengarah ke arah rumput dan sulur yang membentuk benteng besar tanpa celah.

Jin-ah baru menyadari bahwa dia mulai kehilangan arah dan tak mungkin bisa kabur, dia tak memperhatikan jalan.

“Dimana ini?!” tanya Jin-ah yang terdengar sedikit kesal dan mengutuki dirinya yang tak memperhatikan jalan karna dia benar-benar tak mengenal daerah ini dan tak pernah kesini.

“Rumahku.” Ujar Jong-in singkat.

“oh bagus. Ini yang kau sebut rumah?” Dengus Jin-ah sambil menghentakan tubuhnya dijok mobil dengan kasar.

Rumah dia bilang? Ini lebih pantas di bilang hutan karna tak terlihat sama sekali bangunan di balik pagar rumput itu, yang terlihat hanya pohon beringin besar yang bisa dibilang terlihat seperti tiang diantara gerbang.

Jin-ah menganga lebar saat melihat dinding itu terbuka lebar-lebar seperti sebuah mulut. Dan langsung disambut oleh rindangnya pohon cerry blossom yang belum berbunga.

Jong-in hanya tersenyum melihat ekspresi Jin-ah dan menyentuhkan tangannya tanpa sadar, dan sedikit mengacak-acak pucuk rambut Jin-ah.

“Mw. mwoya. . . “ ujar Jin-ah sambil menghindar dari tangan namja itu.

“ kau terlihat sangat menyukainya, Kau bisa jalan-jalan nanti.” Kekeh Jong-in sambil menjalankan mobilnya dan membuka  bagian atas mobilnya dan langsung disambut semilir angin dingin yang langsung menusuk tulang.

“ aku tak melihat rumah.” Ujar Jin-ah polos. Dan membuat Jong-in terkekeh geli.

“masih dua setengah kilo lagi.”

“oh. Tuhan, memangnya apa yang kau harapkan?”

“privasi.”

“orang gila!” umpat Jin-ah dan hanya mendapat kekehan ringan Jong-in.

“nikmati saja.”

Jin-ah hanya mendengus sambil membuang muka kearah luar dan menikmati pemandangan yang terlihat. Telihat air yang menetes dari pucuk daun karna barusan memang hujan, burung-burung yang bertengger mengibaskan badan mereka yang terkena air hujan. Tupai yang melompat-lompat diantara dahan. Terlihat juga beberapa kelinci yang melompat dari bawah tanah.

Ini memberikan sensasi menenangkan, pantas namja ini membiarkan lahan seluas ini sebagai kebun, tunggu mungkin lebih mirip hutan.

“hewan-hewan ini pernah masuk kedalam rumahmu?”

Pertanyaan bodoh pikir Jong-in, apa gadis ini benar-benar anggota FBI? Bodoh sekali.

“ani, disini tempat mereka. Kau tau privasi bukan? Aku tak suka diganggu.”

“lalu? Kenapa kau membawaku? Aku ini pengganggu.”

“Entahlah. . . aku hanya merasa nyaman didekatmu lagi pula aku membutuhkanmu.”

“jangan bahas tentang takdir dan semacamnya itu membuatku muak.” Ujar Jin-ah was-was.

“itu juga membuatku muak.”

“Apa masih lama?”

“ Sudah sampai.” Ujar Jong-in saat kembail memasuki memasuki gerbang besar dan langsung disambut deretan  patung pion-pion catur berukuran besar dan memancurkan air.

Mobil berhenti tepat didepan pelataran rumah  yang cukup luas dengan dikelilingi tiang-tiang beton yang di ukir membentuk Dewi Athena dan Dewi Aprodite. Pintu depan yang terlihat seperti gerbang kematian. Berwarna cokelat kayu asli dengan ukiran-ukiran aneh. Dan tangga yang menuju kepintu itu panjangnya sama dengan tangga yang menuju kelantai dua.

“lamban!” kekeh Jong-in saat dia sendiri sudah berada diatas sedangkan Jin-ah malah baru setengah jalan karna mengamati patung Dewi Aprodite yang hampir telanjang.

“Diam!” semprot Jin-ah.

“ Kau sudah pulang. .  .” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu yang besar itu.

“kau di rumahku lagi hyung? Kau mau rumahmu itu ku bom?” dengus Jong-in wajah kakunya kembali terpasang. Wah, dia benar-benar bukan orang yang ramah, pikir Jin-ah.

“pelit sekali.” Kekeh suara itu yang membuat Jin-ah penasaran dan mempercepat langkahnya untuk menaiki tangga dan melihat siapa yang sedang berbicara dengan Jong-in.

“ Bacon oppa?” seru Jin-ah saat melihat wajah namja yang berbicara dengan Jong-in.

“Huaaa…. Jinnie.” Seru namja itu sambil berlari kearah Jin-ah dan langsung memeluk Jin-ah lalu mengangkat tubuh gadis itu seperti mengangkat anak kecil.

“Kau ini kenapa kau tak mau mencariku hah? Kau tak merasa rindu padaku ya?” dengus namja itu sambil mengacak-acak rambut Jin-ah. Wajah namja ini bisa dibilang lebih cantik dari seorang wanita. Kulit putih bersih, dan wajah yang seperti bayi yang menyamarkan umur sebenarnya.

“ Bacon pabo! Aku tak tau namamu! Mana bisa aku melacakmu. Huaaa aku rindu sekali. Kau tau aku sudah punya anak?”  ujar Jin-ah sambil memeluk namja itu lalu mendongak.

“Mwo?” tujar namja itu terlihat sangat kebingungan. Namun detik berikutnya, dia sudah mengetahui apa yang Jin-ah maksud dan melihat gambaran wajah Gyu-ri diotaknya.

“ini bukan tempat untuk reuni mengenang masa lalu. Hyung kau mau ku patahkan lehermu itu?”

ckckckck dia labil sekali.” Kekeh Drak yang sejak tadi hanya diam.

“diam drak!” sungut Jong-in. Dan membuat Jin-ah bingung setengah mati. Bicara dengan siapa namja ini.

“lebih baik kau diam drak atau kau tak akan dapat jatah darinya dan aku tak mau memberimu makan.” Timpal namja yang Jin-ah panggil Bacon itu.

Baiklah. . .

“ kalian ini bicara dengan siapa?” tanya Jin-ah kebingungan.

“kita bahas didalam. Lagipula Jinnie . . .” ujar Namja itu sambil menarik tubuh Jin-ah mendekat kearah tubuhnya dan merangkul gadis itu dengan lengannya.

“Panggil aku Baekhyun, Byun Baekhyun. Memalukan jika aku masih dipanggil dengan nama kecil ku.”

“Ne, arraseo.” Ujar Jin-ah dengan cengiran aneh sambil mencubit lengan namja itu yang seenaknya merangkulnya.

“Singkirkan lenganmu atau kubuat tanganmu lumpuh.” Ancam Jong-in tanpa menoleh sama sekali.

“Huah pelit sekali kau.” Kekeh Baekhyun

“apa maksudmu tuan Kim!”

“ dia pencemburu. Yah sikap egoisnya keluar, kau tau? Kau ini takdirnya mitos bangsa kami, Deus Mortis.”

“kau juga mortis?”

“dan aku akan membunuhmu detik ini juga jika kau tak mau berhenti bicara Byun Baekhyun.” Ujar Jong-in sambil menendang pintu rumah yang terlihat sangat ringan itu hingga menjeblak dan menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. Aneh, dia tak seharusnya cemburu bukan?

****

Jin-ah duduk bersila di atas sofa dengan mulut yang terisi keripik kentang. Setelah hampir satu jam memahami apa yang Baekhyun ceritakan padanya dan Jong-in yang memilih tidur disampingnya dengan seeanaknya menggunakan kakinya sebagai bantal dan mambuatnya makin kesal.

“biarkan dia Jinnie. . .” ujar baekhyun sambil menaruh cangkir cokelat diatas meja. Dia tahu Jin-ah sama sekali tak nyaman dan dia sendiri sedikit kaget melihat Jong-in bisa tidur sepulas itu dengan posisi yang sangat tidak nyaman.

“bagaimana bisa ku biarkan? Dia seenaknya.” Dengus Jin-ah tapi masih merasa waras untuk tidak mendorong tubuh namja itu dari pangukannya

“paling tidak biarkan dia sebentar. Aku tak pernah melihatnya bisa tidur sepulas itu.”

“dia ini siapa?” tanya Jin-ah yang tanpa sadar sudah memainkan rambut Jong-in. Benar, namja ini memang tertidur dan sangat pulas.

“Adikku. Aku menganggapnya seperti itu. Dia darah murni deus Mortis, karna lahir dari sepasang Mortis. Dan keluarga tertinggi. Dan dia sudah kuanggap adikku karna dialah yang memungutku di panti asuhan.”

“dan meninggalkan ku?” dengus Jin-ah dengan menggembungkan pipinya.

“hahahaha. . . kau marah ya?” tawa Baekhyun pecah.

“benar.”

“dia membutuhkanmu Jin-ah” ujar Baekhyun dengan memasang wajah serius walaupun masih terlihat wajah anak-anaknya yang tak bisa dipungkiri siapapun.

“apa?”

Namja itu menautkan kedua tangannya membentuk kaitan untuk tumpuan wajahnya. seperti menerawang kehari itu.

“seperti yang kukatakan tadi, tentang buku kematian. Keluargannya dibunuh dan seluruh Deus Mortis pun lenyap. Hanya dia, dia yang berhasil lolos dari maut karna seorang malaikat kematian. Lalu aku waktu itu aku masih di panti dan tak tahu aku mempunyai kekuatan itu. Dia yang membawaku.”

“tugasku?”

“bukan tugas, ini kewajibanmu. Dulu, Dea Venato adalah pendamping Deus Mortis dan bertugas melacak manusia yang akan dicabut nyawanya. Namun seabad yang lalu,  tugas mereka berubah, mereka dijadikan budak untuk perang, perampokan dan sebagainya.”

“arra. Lalu aku masih menganggap dia ini gila karna selalu menyebut takdir padahal jelas sekali dia muak mengatakan hal itu dan akupun mual karna dia mempercayai hal itu.”

“aku sudah tau pertanyaan itu dari tadi tersimpan diotakmu.”

“membaca pikiran?”

“semua deus mortis, kecuali yang mortis itu bertemu dengan takdirnya. Kau itu lebih mirip alkohol baginya dan sebuah pedang yang menjunus dan siap menancapkan ujungnya di jantungnya, memabukan juga menyakitkan. “ ujar Baekhyun sambil menyunggingkan senyumnya, menyandarkan tubuhnya dipungung sofa dan menumpukan tumitnya pada meja.

“konyol.”

“itu kenyataan Jinnie. . . dan rasanya sakit menggrogoti bagian dalammu. Karna bagi seorang Mortis, tak bisa melihat nama, batas kematian, dan isi pikiran adalah mala petaka. Dan kau akan merasa ketakutan seakan orang yang tak bisa ia lihat namanya akan mati ditangan iblis atau Leibe Mortis.”

“kenapa harus difikirkan? Itu hidup mereka.”

“dan itu sifat dasar kami Jinnie. . .”

“aku tak suka mempunyai takdir seperti dia.”

“ kau akan menyukainya. Aneh memang, tapi aku benar-benar kagum dia tidur tanpa merasa terusik. Biasanya dia akan langsung kesal dan menyuruh siapapun tutup mulut apalagi dia belum makan. Dia tak akan bisa tidur karna kelaparan.”

“Wah Bacon~a . . . kau seperti istrinya.” Ujar Jin-ah sambil memasang wajah mengejek.

“ Kurasa sebentar lagi kau akan tinggal disini.”

“eh? Kenapa aku harus tinggal disini?”

“karna Jong-in bukan tipe orang yang membiarkan hal yang berharga baginya lepas.”

“memang aku berharga untuknya?”

“lebih. Itu yang kupikirkan.”

“kau yakin dia tak pura-pura tidur?” ujar Jin-ah was-was, bisa saja namja ini bangun dan dengan besar kepala bahwa dialah bintang utama dalam percakapan ini.

“sangat yakin. Pikirannya kosong dan tenang. Selagi kau tak bisa bergerak, bagaimana kau kalau kau melihat ini.”

Dengan antusias Jin-ah membuat tubuhnya nyaman sedikit mengangkat kepala Jong-in agar dia bisa meluruskan kakinya dan menatap kearah monitor besar yang bisa dibilang lebih mirip  layar  yang ada di bioskop yang di perintah dengan suara dan gerakan tangan.
“tampilkan berkas GDXC14” ujar Baekhyun.

sedang dalam proses, silahkan menunggu.”

 

Perlahan deretan angka keluar dengan sangat cepat. Jin-ah tau itu adalah sistem keamanan komputer dan sangat mengerikan karna beberapa kode yang harus dimasukan. Dan akhirnya hanya menampilkan tiga buah gambar buku polos .

“Buku apa ini?” tanya Jin-ah.

“Leibe mortis”

“aku kira akan akan ada gambar tengkorak atau semacamnya, ini sangat sederhana kecuali yang itu” ujar Jin-ah sambil mengarahkan jarinya kearah buku hitam yang terlihat seperti buku yang sudah usang seperti bekas dibakar.

“buku itulah yang terparah! Namun sekarang ada ditempat yang sangat aman. Jangan tanya kan dimana, aku tak bisa memberi tahumu yang jelas buku itu dan yang berwarna putih ada ditempat dan tangan yang benar. Buku Lord. Black Mortis itulah yang abadi, karna terbentuk oleh nyawa seorang malaikat kematian yang melanggar perintah dan dikutuk.”

“Lalu yang hitam polos itu?”

“ada ditangan Clond, kami menyebutnya seperti itu.”

“siapa dia?”

“dia yang membantai seluruh Mortis. Dia hanya manusia tapi tak pernah bisa dilacak, Jong-in mengabdikan hidupnya untuk itu dan menjadi tujuan hidupku. Dan yang membuatku heran, manusia yang menggunakan Leibe Mortis nyawanya akan terkikis dan masuk keneraka dan perlahan tubuhnya akan kering dan mati tapi dia, dia masih hidup. Entah keturunannya yang melanjutkan atau apa yang jelas ini parah.”

“tak ada foto? Apa dia benar-benar tak bisa dilacak?”

“kami menemukan beberapa identitas dan kami tak bisa menemukan nyawa disitu dan setelah kami menemukan itu mereka lenyap”

“boleh aku lihat?”

“tampilkan data Clond lengkap dengan fotonya.”

memproses data, silahkan tunggu.”

 

Dengan cepat, deretan wajah lengkap  muncul dengan identitas mereka. Dan semuanya dalam kondisi mati. Itu yang tertulis tapi Jin-ah menyeringit bingung saat menatap tajam kearah sebuah foto dan mulai melacak wajah itu.

“tunggu Oppa. . . kau yakin dia sudah mati?” tanya Jin-ah bingung sambil menatap kearah Baekhyun.

“aku Deus Mortis Jinnie. . . aku sangat yakin.”

“Tapi dia bergerak dan sepertinya juga berinteraksi dengan beberapa orang tidak bisa terlihat jelas memang karna aku hanya mengetahui nama dan wajahnya. Tapi aku melihat bayangan yang berjalan diantara orang itu dan dia bergerak oppa. Aku berani bersumpah.”

“bisa kau lihat tempat apa itu?” ujar Baekhyun antusias yang langsung mengambil Keyboard dan alat-alat lain keatas meja.

“tunggu. . . itu. . . astaga dia memasang bom?” seru Jin-ah

“Jinnie?” panggil Baekhyun saat gadis itu mematung dengan memasang wajah ketakutan, bahkan gadis itu menahan nafas.

“GYU-RI!” jerit Jin-ah sambil beranjak dari atas sofa hingga Jong-in terdorang dan terbangun.

“Wae?” ujar Jong-in yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali.

“Ponselku, PONSELKU OPPA!!!” jerit Jin-ah wajahnya pucat, dengan tangan yang langsung membiru dan gemetar hebat.

“Biar aku yang melakukan.” Ujar Baekyun sambil merebut ponsel Jin-ah dari tangan Jin-ah dan mencari nama yang terngiang di pikiran Jin-ah

“Putriku . . . putriku bisa mati disana!! Oh. . tuhan”

“Yeobseo. . .” ujar Baekhyun saat Gyu-ri sudah mengangkat telphonenya. Namun Jin-ah langsung merebutnya.

“Gyu. . . lari nak! Kumohon, keluar dari asramamu! Tekan semua alarm kebakaran waktumu 5  menit oh tuhan. . . selamatkan dirimu Gyu.”

“Eomma.. . . kumohon tenang. Ada apa? Akan kulakukan, tenanglah ne?”

“BAGAIMANA AKU BISA TENANG!! KELUAR SEKARANG!” jerit Jin-ah tak sabar

Terdengar dari seberang telphone suara alarm berdering nyaring. Dan Gyu-ri langsung beranjak dari kursinya dan berlari namun dia langsung tersungkur karna terdorong oleh tubuh anak-anak lain yang berlari ketakutan.

“dimana?” tanya Jong-in singkat dia sudah berdiri mengadap proyektor dan keybord proyektornya.

“Maulen’s House.”

“Kris hyung ada disana.” Ujar Baekhyun.

“Aku tahu. Hyung. Cari gadis kecil. . .” ujar Jong-in yang entah bagaimana bisa secepat itu menghubungi seseorang, tapi tidak untuk Jin-ah, hal itu termasuk sangat lama karna nyawa putrinya yang menjadi taruhan disini. Jin-ah langsung merebut ponsel itu dari Jong-in.

“Koridor 3 lantai 2 Oh Gyu-ri tersungkur kumohon bantu dia keluar ada Bom. Waktumu 3 menit kumohon selamat putriku. . .” ujar Jin-ah yang akhirnya tak bisa menahan berat badannya sendiridan menjatuhkan ponsel Jong-in saat melihat koridor 7 meledak. Tubuhnya bergetar hebat, dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan nafas yang tersengkal-sengkal.

“ bomnya dikendalikan jarak  jauh. . . kumohon jangan . . kumohon jangan Gyu-ri.” Tangis Jin-ah pecah. Gadis itu menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua kakinya. Dia benar-benar menangis sejadi-jadinya karna melihat Gyu-ri tergeletak pingsan tepat disamping bom.

Tiba-tiba Jong-in menarik Jin-ah dan memeluk gadis itu. Mengerikan, dia juga merasakan ketakutan Jin-ah bahkan tangannya serasa ingin menghancurkan sesuatu.

“sebenarnya apa yang Kris hyung lakukan.” Dengus Jong-in geram.

Tubuh Jin-ah mengelinjang hebat lalu membeku seperti batu dengan jantung yang berdetak cepat dan langsung pingsan.

“apa yang terjadi! Yak! Bangun! Sadarlah Jin-ah! bangun. SEBENARNYA APA YANG DILAKUKAN KRIS! SIALAN!”

“Kris!” seru Jong-in setelah menyambar ponselnya yang tergeletak dilantai.

 

“dia hanya pingsan. aku telat 1 detik saja anak ini sudah mati benar-benar memacu adrenalin. Aku kaget kenapa di asrama ini ada anak kecil. Aku sedang membawanya kerumah sakit.”Ujar seseorang dari sebrang telphone. Yang membuat Jong-in bisa sedikit merasa lega.

“bodoh! Pastikan dulu semua anak di sana keluar!”

“semua alarm berbunyi Kkamjong. Entah siapa yang melakukannya dengan cepat dan semuanya sudah selamat dan aman, bagaimana bisa aku tak tahu seluruh gedungku di bom. Astaga!!” Seru Kris dan membuat Jong-in merasakan ketakutan itu lagi.

“Wae? Dia terluka?” ujar Jong-in sambil mencengkram ponselnya erat dan tangan kanannya yang masih memegangi tubuh Jin-ah.

“ani. . . dia baik-baik saja. Yang membuat ku kaget, dia yang menyalakan seluruh alarm dengan ponselnya. Ini tidak mungkin dia baru berumur 5 tahun.”

“ bukan waktunya kagum. Hubungi ayahnya lalu bawa mereka ke Korea hyung”

bisa kau jelaskan? Aku tak tahu kau punya koneksi, tapi siapa gadis yang berteriak padaku tadi?”

“ibu anak itu dan dia akan jadi istriku.”

“Yak! Kau mau merebut istri orang??”

“jika perlu.”

ada apa denganmu huh?!”

“ sudahlah Hyung, apa aku harus menjelaskanya satu persatu? Apa semua serigala sepertimu?”

 

“tak usah membawa-bawa serigala. Apa Baekhyun salah memberimu makan?”

 

“ aku ingin anak itu selamat.” Ujar Jong-in singkat.

kurasa ini ulah Clond. Apa kau sudah menemukan Dea Venato itu?”

 

“ Kau baru saja mendengar suaranya. Jika dia tidak sedang melihat nama-nama Clond, mungkin semua anak di Maulen’s House akan mati.”

Wah. . . sangat menarik,akan jadi seperti apa jika Dea venato bergabung dengan Deus mortis darah murni. Sejarah baru akan muncul. Karna sepanjang riwayat hidup, Mortis tak pernah bersatu dengan Venato. Aku jadi sangat penasaran.”

 

Kau, Baekhyun sama saja. Kalian banyak bicara. Kau juga drak!”

****

Jin-ah menggeliat dan merasakan nyeri dikepalanya dan detik berikutnya dia langsung bangkit dan terduduk diatas ranjang. Mengingat apa yang dilihatnya dia berusaha memfokuskan diri untuk mengetahui keadaan Gyu-ri. Sangat ketakutan tangannya bergetar hebat. Mengingat bom itu meledak dan Gyu-ri masih tergeletak disana.
“Kau sudah bangun ya?” ujar Jong-in sambil membuka pintu dengan Gyu-ri yang ada dalam gendongannya.

Anak kecil itu melompat adri gendongan Jong-in dan berlari karah samping ranjang. Wajahnya datar, benar-benar tanpa ekspresi. Sedangkan Jin-ah tangannya benar-benar gemetaran.

“Eommanie, Gwaenchana?” tanya Gyu-ri dan langsung disambut ringkuhan Jin-ah. Gadis itu memeluk Gyu-ri erat dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ada di pelukannya ini benar-benar Gyu-ri.

“harusnya eomma yang bertanya seperti itu. Kau tak tau betapa takutnya eomma? Sedikit saja dengarkan ucapan Eomma.”

“Eommanie. . . aku sulit bernafas.” Ujar Gyu-ri sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Jin-ah. Anak itu merangkak naik keatas ranjang. Dan Jin-ah baru menyadari bahwa dia ada dikamarnya sendiri.

“Kau yang membawaku kesini?”tanya Jin-ah ke arah Jong-in yang sedang bersandar dipintu kamar dengan tangan yang terlipat didepan dada.

“Hm . . . kurasa kau tak akan mau tidur diranjangku.” Ujar Jong-in sambil berdiri tegak dan berjalan kearah ranjang Jin-ah mengangkat tubuh Gyu-ri dan mendudukannya di pangkuannya.

“Abeoji. . . aku mau naik pesawat jet itu lagi.”

“A. . Abeoji? Gyu. . . Kau tak terbentur sesuatukan? Kenapa kau memanggilnya aeboji?” ujar Jin-ah bingung.

“ Karna kau harus menikah denganku. Bisa kita menikah saja? Terlalu banyak yang harus kukendalikan, dan sialnya kau mengerikan untuk dibiarkan.”

“ kau gila?”

“Aku suka Abeoji. . . Abeoji tidak bodoh. Eomma. . . .”rayu Gyu-ri.

“kau memperalat Gyu-ri?!” dengus Jin-ah tak terima sambil melotot kearah Jong-in

“ani. . .” ujar Jong-in dan Gyu-ri bersamaan.

“Eommanie. . . Abeoji. . . kalian menikah saja ne?” ujar anak itu sambil meraih tangan Jin-ah dan jong-in dan menumpuknya menjadi satu.

“Gyu. . . bisa kau keluar sebentar? Appa mau bicara dengan Eomma Jin-ah.” Ujar Sehun yang tiba-tiba muncul dan diikut Eun-ji.

Anak itu mendengus kesal sambil berjalan keluar dari kamar Jin-ah.

“Mwoya?” tanya Jin-ah. Entah kenapa tubuhnya sulit untuk melakukan suatu gerakan. Semua tubuhnya terasa lemas.

“ Chagi. . . kau diluar saja, temani Gyu-ri.” Pinta Sehun sambil mengusap punggung Eun-ji

“ ada apa ini?”

“Pekerjaan. Kau bukan anggota FBI sayang. . .”

“Hun~a kau tak pernah begini sebelumnya ada apa?” tuntu Eun-ji dan membuat Sehun kehabisan kata.

“Biarkan istrimu disini, toh apa ada yang rugi?” Ujar Jong-in sambil menumpukan tubuhnya dengan kedua tangannya.

Sehun menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di tembok sambil menarik Eun-ji agar berdiri didalam jangkauannya dan melingkarkan lengannya dipinggang istrinya.

“ Kau benar Kkamjong, Clond yang melakukan semuanya untuk memastikan seberapa besar koneksimu. Dan putriku, Gyu-ri, dia dalam bahaya saat ini.”

“ memang sangat sulit, bisa saja dia membunuh Gyu-ri sekarang tapi dia membutuhkan Gyu-ri. Itu yang mungkin ada dipikiran mereka dan dia, Clond berusaha merebutnya dariku.”

“ Kau, tak bermaksud menjadikan Gyu-ri sebagai umpan kan?” ujar Jin-ah yang terlihat sudah siap menghantam wajah namja di depannya ini.

“mana mungkin, tenanglah kurasa dia tak mengetahui identitas Gyu-ri. Baekhyun hyung sedang mengusahakan sesuatu untuk melindungi Gyu. Dia tidak aman disni.”

“ kenapa kau tak membunuhnya? Bagaimana kau tak bisa merebut buku itu!” ujar Jin-ah kesal.

“ sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?! Kenapa kalian membawa-bawa Gyu?!” ujar Eun-ji. Ketakutan terlihat sangat jelas diwajahnya, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

“ Chagi. . . kumohon tenanglah hm? Gyu-ri aman aku berjanji tentang ini.”

“ Tapi bagaimana Gyu. . . kenapa kau tak mau menjelaskan apapun padaku huh? Hun~a kumohon jelaskan, bagaimana bisa kalian baru 2 bulan langsung pulang sedangkan Gyu masih sekolah. Kau yang bilang akan menahannya disana, lalu sekarang kau bilang Gyu-ri dalam bahaya? Sebenarnya ada apa ini?!”

“ kita bicara diluar.”

“Wae?!”

“Eun-ji~a. . . .”

“Gyu-ri. . .” potong Jong-in. Lalu mendongak menatap tajam kearah Eun-ji.

“otak Gyu-ri. Anak itu bukan dibuang. Tapi diselamatkan dan disembunyikan diantara manusia.”

“maksudmu Gyu-ri bukan manusia?” tanya Eun-ji

“ Dia manusia, mengalir darah manusia. dan yang membuatku yakin dia bukan manusia adalah, batas hidup anak itu, tak terlihat. Itu yang membuatku dan Baekhyun bingung.”

“bukan takdir? Kau tak bisa melihat nama dan batas hidupku dan kau ketakutan setengah mati, dan yang paling konyol aku takdirmu. Apa Gyu tidak dikategorikan seperti itu?” ujar Jin-ah. Ada sedikit nada mengejek didalam intonasi bicaranya tadi.

“ berbeda, sangat berbeda. Kau, hanya aku yang tak bisa melihat nama, dan batas hidupmu sedangkan Baekhyun bisa melihatnya, itu tandanya kau terikat denganku. Sedangkan Gyu-ri, hanya namanya yang terlihat dan batas hidupnya yang tak terlihat.”

“Kau ini apa Jong-in?” Tanya Eun-ji. Namun Jong-in hanya tersenyum sambil bangkit dari atas ranjang.

“ Istirahatlah besok kau harus kuliah bukan? Aku kaget kau bisa pingsan.” Ujar Jong-in tanpa menjawab pertanyaan Eun-ji sambil mengusap kening Jin-ah yang sedkit berkeringat.

“Sialan!” umpat Jin-ah dan hanya dibalas kekehan renyah Jong-in.  Entah bagaimana Jin-ah menyukai senyuman namja itu, mungkin senyuman itu akan menjadi senyuman favorit Jin-ah.

“Sehun, Senang bertemun denganmu lagi.” Ujar Jong-in sambil menepuk bahu Sehun

“Aku juga.” Ujar Sehun sambil tersenyum.

“Jong-in!” seru Jin-ah saat Jongin baru saja memutar knop pintu. Namja itu menoleh dan seakan ada perasaan kesal karna meninggalkan gadis itu disini.

“aku akan membantumu. . . sesuai permintaanmu.” Ujar Jin-ah dengan wajah serius dan tatapan tajam.

Jong-in hanya menghela nafas dan menghamburkan pandangan kemanapun untuk memilih dan mencari kata yang akan dia ucapakan. Dan entah harus berapa kali dia mempermalukan dirinya seperti ini.

“Permintaanku itu kau harus menikah denganku, bukan kau membantuku. Yah terserah kau saja, aku tak akan memaksamu. . . “ ujar Jong-in sambil menatap Jin-ah dan terdiam beberapa saat sebelum membalik tubuhnya kerah pintu.

“Lagipula Ah~ya. . . “ ujar Jong-in lagi yang sepertinya memang harus dia katakan. Jong-in terdiam beberapa saat.

“luka dalam itu bagaikan samudra dan dosa merah itu mati, dan tak akan ada warna  jika dia semakin pekat. Walaupun aku tak mau, kau pasti akan mengalami itu. Luka dan darah. . . kau mengerti bukan? Sebisa mungkin menjauh dari hal itu, aku tak mau kau terluka. Kau tau?” Jong-in menghela nafas panjang lalu membuka pintu lebar-lebar sambil memikirkan kalimat terakhir yang harus dia ucapkan.

“Kau sekarang lebih berharga dari apapun yang aku miliki termasuk nyawaku sendiri. Ingat itu”

****

tempatnya begitu gelap, yang terlihat hanya sebuah cahaya dan seseorang yang berada di samping jendela duduk dengan segelas minuman berwarna merah kental yang terlihat sangat mengiurkan sekaligus mengerikan.

“Sir. . .”

” sayang sekali. . . ” ujar namja itu sembil merogoh saku bajunya atau bisa dibilang jubah putih bersih dengan lambang aneh di bagian samping dadanya.

” ratuku, hilang. . .” ujarnya sambil memandangi sebuah pion ratu putih dengan tatapan nanar, dia menoleh keseseorang yang ada dibelakangnya.

” aku tak suka milikku direbut, bisa bunuh dia saja?” ujarnya dengan mengembangkan senyuman manis, lalu kembali menatap kearah luar jendela yang sengaja di bbuka lebar-lebar. Lalu detik berikutnya, dia menjatuhkan pion itu.

” Lee Jin-ah. . . selamanya kau harus jadi milikku. . .”

10 thoughts on “Lacrymosa Part 2

  1. wah ceritanya keren, punya imajinasi yg luar biasa…
    di tunggu next chap.a rui ‘gpp y manggil nama nickname’ kebetulan seumuran kk~~ ^_^

    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s