Timeless –part 2 (Teleportation)

Timeless part-2

“kau. . .” suara Jong-in yang terdengar serak kali ini. Jin-ah mendongak menatap Jong-in dan detik berikutnya dia sudah mengumpat segala macam pada dirinya sendiri dalam hatinya.

“. . .tak mengingatku?” lanjut Jong-in. Sambil menatap dengan wajah sayu.

Kata-kata itu langsung menusuk jauh kekepala Jin-ah dan berdenyut menakutkan. Seperti ada memori terpenting yang ia lupakan.

****

Jin-ah berjalan gontai keluar dari kamar, dengan handuk yang tersampir dikepalanya. Matanya masih terpejam karna masih merasakan kantuk yang masih bergelayut ditubuhnya. Mendengus kesal saat kepalanya terbentur pintu kamar mandi. Yah. . . dia terpaksa keluar dari kamarnya karna kamar mandi yang ada didalam kamarnya sedang bermasalah. Tak mau mengambil resiko mempermalukan dirinya didepan namja yang sudah dua hari ini tinggal dirumahnya seperti kemarin.

Entahlah, sejak namja itu datang, dia tak pernah bermimpi hal yang menyeramkan itu lagi. Tidak ada lagi gadis yang mengacungkan pisau kearahnya, tidak ada namja yang menangis didepannya penuh darah, dan tak ada lagi namja yang menyuruhnya lari sedangkan orang itu sendiri mandapat serbuan tusukkan dari gadis itu, yang sepertinya sangat menikmati kegiatannya. Jin-ah begidik ngeri saat menerawang kembali mimpinya itu yang tak pernah mau pergi dari kepalanya.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan menampakan sesosok namja yang hanya mengenakan haduk yang melingkar dipinggangnya dan sebuah handuk lagi yang tersampir di bahunya. Bulir air yang berjatuhan dari rambutnya dan membuatnya terlihat begitu memukau.

“YAK!” seru Jin-ah kaget  walaupun sedikit terlambat.

“Kau sedang apa disini Jin-ah?” tanya Jong-in polos.

“ apa kau tak menyadari kau serumah dengan perempuan hah?! Setidaknya pakai baju langsung setelah mandi!” seru Jin-ah

“Aku tak tau kau akan mandi disini.” Ujar Jong-in dengan santainya sambil mengusap rambutnya yang basah.

“Kamar mandiku rusak aku tak tahu kenapa air . . .” ucapan Jin-ah terhenti saat matanya menangkap bekas jahitan yang cukup panjang dan cukup banyak sekitar 5 jahitan diperutnya dan 2 jahitan didada kirinya.

“Ada apa ?” tanya Jong-in saat melihat ekspresi Jin-ah.

“ bekas jahitan itu . . .” ujar Jin-ah dengan memasang cengiran aneh dan tatapan yang terarah pada bekas jahitan yang ada ditubuh Jong-in.

Jong-in mengikuti arah tatapan Jin-ah dan hanya mengangguk mengerti.

“ ah. . .  aku hampir mati karna ini.” Ujar namja itu santai sambil tersenyum manis.

“kau ini teroris? Atau mafia? Atau pembunuh? Atau bahkan preman? Mengerikan memiliki bekas luka seperti itu.” Ujar Jin-ah dengan begidik ngeri.

“Ada seseorang mencoba membunuh teman sekaligus kekasihku, jadi aku harus bagaimana lagi?”

“Ouh? Lalu dimana kekasihmu?” ujar Jin-ah dengan wajah datar tapi masih bisa terdengar nada mengejek keluar dari mulut Jin-ah. Dan hanya dibalas kekehan Jong-in.

“sudah cepat mandi, kau crewet sekali. Kau tak mau kekampus?” ujar Jong-in sambil menarik hidung Jin-ah sekuat-kuatnya hingga gadis itu meronta kesakitan.

“Astaga. . . Appo! minggir!”

“ jangan berendam.”

“Arra . . .” ujar Jin-ah sambil menutup pintu.

Tiba-tiba ada sekelebat memori aneh yang terlintas diotak Jin-ah yang membuat kepalanya berdenyut menyakitkan.

“kau ini cerewet sekali. . . mandi sana! Atau kubuang komikmu ini” ujar suara itu sambil menarik hidungnya kuat-kuat.

“YAK! Appo! Ne . . . arraseo! Lagipula apa hak membuang bukuku, dasar gila!”

“Jangan berendam . . .” ujar suara itu lagi.

“aku tau!”

“ingatan siapa ini? Kata-katanya? Dia Jong-in?” gumam Jin-ah yang masih memegangi kepalanya yang masih berdenyut menyakitkan. Siapa dan apa hubungan dirinya sendiri dengan Jong-in atau Luhan? Apa yang sebenarnya yang salah disini?

****

Mereka berdua hanya terdiam didalam mobil sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jin-ah yang masih asyik dengan komiknya dan Jong-in dengan jalanan yang macet. Sepertinya mereka memang tak berminat memulai pembicaraan, mengingat hubungan mereka sejak awal memang kaku.

Jin-ah menutup manga tebal itu dengan kasar, lalu menoleh kearah Jong-in dengan tatapan kesal.

“Mwoya? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Jong-in yang masih memandang kearah depan.

“apa-apaan itu?! Ini aneh kau tau? Apa-apaan dengan masker dan topi mu itu huh?! Kau menyembunyikan diri dari siapa hah?! Tak mungkin hanya karna flu kau memakai masker, sedangkan dirumah kau tak memakainya!” seru Jin-ah dengan intonasi padat, tegas, dan entah bagaimana bisa gadis ini memiliki nafas panjang .

“bernafas. . . kau selalu saja lupa menarik nafas jika marah.“ kekeh Jong-in.

“bernafas. . . kau selalu saja lupa menarik nafas jika marah.“

kalimat itu tiba-tiba kembali berdengung di kepala Jin-ah. Gadis itu hanya menggeleng berusaha mengenyahkan hal itu.

“Yak! jawab saja pertanyaanku!”

“hanya tak mau merubah sejarah terlalu banyak.” Gumam Jong-in cepat dan benar-benar tak bisa didengar Jin-ah.

“apa? Aku tak mendengarnya?!” tuntut Jin-ah dan hanya dibalas cengiran Jong-in.

“Aku ini manusia tampan, bagaimana jika ada yang menyukaiku diluar sana? Bukankah itu akan membuatmu risih? Kau kan benci kerumunan orang-orang seperti itu.”

“wah . . . Percaya diri sekali kau”

“Baekhyun? Kau masih berhubungan dengannya?” ujar Jong-in tiba-tiba yang langsung membuat Jin-ah kaget saat namja itu menanyakannya.

“kau kenal dia?”

“Ani. . . tapi setidaknya sebagai suamimu, aku berhak tau kau dekat dengan siapa saja.”

“kau membahas itu lagi. Kau benar-benar membuatku kesal!”

“kau istriku ingat itu.” Ujar Jong-in santai.

“YAK! AKU TAK MAU PUNYA SUAMI SEPERTI MU!” jerit Jin-ah.

“Aigoo . .  tak perlu berteriak ah~ya. Kau mau aku tuli? Dasar”

“ Biar saja kalau kau tuli! Aku tak peduli.”

“ susah payah datang, aku disumpahi tuli. Ya tuhan. . .” ujar Jong-in tapi sama sekali tak menunjukan ekspresi sedih, malah sebaliknya, dibalik masker itu, dia tersenyum.

“tak ada yang memintamu datang.” Dengus Jin-ah sambil membuang muka kearah jendela mobil.

Jong-in sedikit menghela nafas berusaha sabar untuk tidak mencongkel otak gadis itu dan memasang memori yang terlepas di otak gadis itu. Jong-in menghentikan mobilnya ditepi trotoar yang lumayan ramai. Namja itu menoleh kearah Jin-ah dan memasang tatapan tajam menunjukan dia sedang serius sekarang.

“ memang tidak ada, kau tau? Aku disini sedang merubah sejarah, membuatmu ingat tentang hal yang ka lupakan, semuanya. Aku, Luhan, Yeon hae, dan kau sendiri. Semua hal yang harus kau ingat.”

Mata itu bergerak intens menelusuri lekuk wajah Jin-ah, seperti mencari sesuatu diwajah gadis itu.

“hah?”

“sudah cepat turun, jam 2 bukan kau pulang? Ku tunggu disini.” Ujar Jong-in akhirnya menyerah karna sepertinya gadis itu benar-benar lupa semuanya.

“Tunggu Jong-in, jadi kau mau bilang aku ini hilang ingatan begitu? Lalu kau datang dari masa depan untuk membuatku mengingat apa yang aku lupakan, begitu?” tanya Jin-ah sambil menarik lengan Jong-in agar dia kembali menatapnya.

“setidaknya kau tak harus mati karna ingatan itu.”

“mati?”

“turunlah. . .” perintah Jong-in. Wajahnya terlihat frustasi

“jelaskan!”

“Eun-ji mencarimu, kau harus menemukannya sendiri Jin-ah, bukan aku” ujar namja itu, terlihat kerutan yang terbentuk diantara alis matanya

“ lagi pula Jin-ah. . .” lanjut Jong-in sambil memegangi tangan Jin-ah yang sedang mencengkram lengannya. Mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa inchi dari wajah Jin-ah, dan sedikit saja wajahnya itu maju, maka bibir gadis itulah yang dia raih.

“jika kau tak mau turun, aku akan menyerangmu sekarang juga. Tak peduli ini dikampus, atau didalam mobil.” Ujar Jong-in dengan seringai yang masih terlihat jelas dibalik maskernya, dan jelas membuat Jin-ah salah tingkah, karna jantungnya berdetak diambang normal.

“kau benar-benar tidak waras! Baiklah jam 2 ingat itu.” Dengus Jin-ah sambil menghentakkan cengkraman tangan Jong-in dan beralih membuka sabuk pengaman mengalihkan tatapannya terhadap namja yang ada didekatnya ini. Dan langsung melompat turun setelah sedikit susah payah melepas sabuk pengaman itu.

“Arraseo. .” ujar Jong-in sambil menyandarkan dagunya di kemudi mobil dan tangan yang melingkar di stir mobil itu. Memandangi Jin-ah yang berlari kecil, menjauh dari mobilnya.

“jadi Hyung, kau menemukan bukuku?” ujar namja itu pada ponselnya yang tergeletak di dashbor mobil. Setelah dia menekan tombol loudspeaker.

“mengerikan, kau mau apakan adikku barusan? Dasar idiot! Aku sudah menemukannya. Sedikit membaca. . . nyawamu terancam jika ini gagal. Jadi ini kerjamu setelah lulus SMA?” Sahut seseorang dari speaker ponsel itu.

“tak usah memberi tahuku hyung.”

Jin-ah… jangan biarkan dia mati.”

“aku bukan tuhan, aku datang kemasa ini juga berusaha, untuk menyelamatkannya”

****

Jin-ah mengetuk-ketukan penanya di atas meja, menatap kosong ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dia sedang berfikir tetang mimpi-mimpi yang ia alami, dia yakin, bahwa orang itu adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Tapi apa? Dia sama sekali tak bisa mengingatnya. hanya potongan-potong memori itu dan semuanya tak berada dia akal nalar untuk sebuah urutan kejadian.

Dan dia sekarang semakin yakin bahwa mimpinya ada kaitannya dengan Jong-in. Namja yang tiba-tiba muncul dan langsung diproklamirkan sebagai suaminya, padahal dia tak pernah melihat wajah itu sama sekali. Terlebih sejak namja itu muncul, mimpi itu lenyap seketika.

“kau ini kenapa lagi?” tanya Eun-ji sedikit meremas bahu Jin-ah, lalu duduk disamping gadis itu.

“entahlah. Aku sendiri sedang bingung. Yak! Eonnie, aku mau bertanya padamu.” Ujar Jin-ah sambil memutar tubuhnya menghadap kearah Eun-ji.

“ apa?”

“ kau sudah bersama ku berapa lama, maksudku kapan tepatnya kau mengenalku?” tanya Jin-ah yang terlihat sangat antusias sendiri.

“Jahat sekali kau melupakannya.”

“Sudahlah eonnie… jawab saja.” Dengus Jin-ah kesal.

“dari SMP kelas 3, kurasa, karna aku pindah ke Seoul waktu aku masih SMP.”

“ seragam, seperti apa seragamku dulu?”

“sebenarnnya ada apa denganmu?”

“sudahlah Eonnie, jawab saja.”

Eun-ji hanya berdecak kesal sambil mulai mengutak atik ponselnya. Lalu tersenyum seperti menemukan sesuatu.

“kau beruntung aku masih menyimpannya, Igeo.” Ujar Eun-ji sambil menyodorkan ponselnya kearah Jin-ah.

Dahinya langsung berkerut bingung, karna bukan seragam ini yang dia lihat dimimpinya. Walaupun tidak terlihat jelas tapi Jin-ah yakin bukan ini.

“ bukan, bukan ini.” Gumam Jin-ah

“ kau . . . Jin-ah, kau ingat dia?” ujar Eun-ji ragu sambil menujukan seorang namja berkulit gelap yang sepertinya enggan menghadap kearah kamera, namja itu berdiri disamping namja yang membawa buket bunga. Kelulusan?

Jin-ah berusaha melihat namja yang Eun-ji maksud, karna kualitas foto itu sendiri tidak terlalu bagus. Dahi gadis itu kembali berkerut seperti mengenal siapa namja itu.

“Eotte? Kau ingat dia?”

“ Kau sedang melihat Apa?” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dan menyandarkan dagunya di bahu Jin-ah.

“Eh? Bacon~a?!“ seru Jin-ah kaget.

“ kau rindu padaku?” ujar namja itu sambil membuka tanganya lebar-lebar dan Jin-ah langsung melompat kearah namja itu.

“Huaaa . . .dasar bodoh kau pulang?!” dengus Jin-ah sambil memukul kepala namja itu. Eun-ji sendiri hanya mendesah melihat tingkah mereka berdua.

“ Eun-ji~a. . . bagaimana kabarmu?”

“ baik, ah . . . aku memang sial tak bisa memben. . .” ucapan Eun-ji menggantung seperti melihat sesuatu. Gadis itu langsung berlari mengejar seseorang yang sudah berbalik arah.

“YAK! LEE EUN-JI!!” Seru Jin-ah sambil melompat turun dari tubuh Baekhyun.

“ada apa dengan Eun-ji? Siapa namja yang dia kejar?” tanya Baekhyun beruntun.

“molla. . . Oppa, oleh-oleh ku mana? Kau ke Jeju tak membawakanku oleh-oleh, kubunuh kau.”

“ harus dibayar dulu. Waktumu, bayar oleh-oleh dengan waktumu. Bagaimana?” ujar namja itu sambil mengedipkan sebelah matanya.

“ ayo makan!” seru Jin-ah sambil menglingkarkan kedua tangannya di lengan Baekhyun

“ Kau ini mau pacaran denganku hanya untuk makan dan komik ya?”

“Dan kau menjadikanku pacarmu karna kau terlalu menyukaiku benar?” ledek Jin-ah.

“Astaga. . . kau mengerikan. Kajja!”

****

Terlihat Jin-ah keluar dari sebuah mobil dengan senyum yang benar-benar mengembang di wajahnya. Dia turun bersama Baekhyun, sedangkan Jong-in hanya menatap mereka dari balik jendela. Tangannya terkepal sempurna dan benar-benar ingin menghantam sesuatu saat ini. Gadis itu tertawa, dan dengan mudahnya memeluk namja lain. Dia tahu dia tak berhak merusak semuanya saat ini, dan itu makin membuatnya kesal.

Dengan mudahnya Jin-ah memeluk, tersenyum, tertawa didepan namja lain, tapi bukan dengannya. Baekhyun bukan orang yang jahat, Jong-in tahu itu, karna dia benar-benar mencintai Jin-ah, tapi bisakah dia melepaskan Jin-ah? Byun Baekhyun tidak bisa menjamin Jin-ah hidup panjang dimasa depan. Itulah yang membuat Jong-in tak bisa merelakan gadis itu.

Tak lama mobil itu pergi meninggalkan pelataran rumah dan Jin-ah seperti anak kecil, lambaikan tangannya dengan riang dan semangat. Gadis itu benar-benar bahagia.

“Aku pulang. . .” seru Jin-ah sambil melepas sepatunya dan menggantinya dengan alas kaki rumah.

Sedangkan Jong-in sudah menunggu gadis itu dengan berdiri bersandar pada tembok dengan lengan yang terlipat didepan dada.

“Mwo?” ujar Jin-ah menuntut sesuatu yang aneh. Ekspresi namja itu, datar, tak ada emosi, tapi juga masih terlihat bahwa dia sedang marah.

“ pacarmu sudah pulang dari Jeju ya?”

“kau menyelidikiku?”

“  Ani. Hanya tadi melihat tontonan menyebalkan dikampusmu dan didepan rumah. Manis sekali.” Ujar Jong-in yang jelas menyiratkan nada tidak suka didalamnya.

“ aku tak peduli! Ini urusan pribadi, kau tak berhak ikut campur”

“tak berhak ikut campur kau bilang? Aku berhak Lee Jin-ah, ingat itu.” Ujar  Jong-in datar sambil meninggalkan Jin-ah didepan pintu dan memilih masuk kedapur dan mengambil gelas yang sudah ber isi wine .

“ Kau berhak apa? Bisa kau jelaskan? Kau hanya orang baru yang tiba-tiba datang dan menggangu hidupku! Kau fikir aku sudi menikah dengan mu? Itu hanya alasan konyol yang kau berikan untuk mendekatiku bukan? Bisa kau tunjukkan bukti bahwa kau suamiku!?”

“ Sialan Lee Jin-ah!”

“ Kim Jong-in! Kuperingatkan! Kau tak berhak atas apapun yang aku lakukan! Kau bukan suamiku! Kau dengar?” Jerit Jin-ah tak  mau kalah.

“tidurlah aku sedang tak mau berdebat denganmu.” Ujar Jong-in akhirnya dengan nada yang masih terdengar aneh, setengah marah, setengah tidak.

“Apa! Kau fikir aku sudi mengingatmu? Aku mati, aku bernafas, aku hidup, itu bukan urusanmu!” jerit Jin-ah yang kehilangan kendali dirinya sendiri dan tanpa sadar, dia menangis. Dan detik itu juga, Jong-in membanting gelas wine-nya dan berjalan cepat kearah Jin-ah, lalu mencengkram kuat kedua lengan Jin-ah.

“ Kau mati bukan urusanku? KAU TAHU?! AKU HAMPIR GILA KARNA KAU MATI! DAN KAU BILANG KAU MATI BUKAN URUSANKU?! LALU APA YANG HARUS AKU KATAKAN NANTI PADA LUHAN HAH! JAWAB AKU!” seru Jong-in sambil mengguncang tubuh gadis itu. Dan detik berikutnya, Jong-in menarik Jin-ah kedalam dekapannya. Meringkuh tubuh gadis itu dengan kuat seakan dia benda yang akan direbut seseorang.

“Jangan pernah kau katakan kau akan mati. Kau dengar?” ujar Namja itu yang terdengar serak. Seperti merasakan sesuatu yang perih, menusuk-nusuk dirinya yang melebihi rasa sakit  yang ditimbulkan oleh sayatan pisau tajam.

****

“ Jin-ah, lihat itu! Mereka sedang apa? Kau beruntung bisa dekat dengan kedua senior itu. Padahal baru 2bulan kau disini.” seru seseorang yang membuat Jin-ah mengalihkan pandangnnya dari komik yang sedang ia baca, kearah luar jendela. Suasana sekolah, seragam yang terkenal di negara ini.

Terlihat dua orang namja yang berdiri ditengah lapangan dengan saling bertatatapan. Entah apa yang mereka bicarakan, karna dia sendiri berapa didalam kelas tak bisa mendengarkan percakapan mereka sama sekali. Terlihat salah satu namja yang berkulit lebih terang mengulurkan tangannya dan mambuat Jin-ah tersenyum, namun senyum itu hilang ketika namja itu membanting namja yang satunya.

“sebenarnya apa yang Luhan lakukan!” dengus Jin-ah.

Baru akan beranjak dari kursinya, giliran namja yang berkulit hitam yang menarik namja yang satunya dan membatingnya.

“mereka gila!” sungut Jin-ah sambil berlari keluar dari dalam kelas.

Jin-ah berjalan dengan amarah sampai ke ubun-ubun dan benar-benar siap meledak sekarang. Gadis itu melipat lengan bajunya dengan kasar dan berlari kearah kedua namja itu.

“Yak! Kalian berdua hentikan! Kalian mau mati hah?!” sungut gadis itu sambil memukul kepala mereka dan  meraih leher keduanya dan menyeret kedua namja itu.

“Yak! Yak! Yak! Ini memalukan Jin-ah~ya. . “ rengek namja yang bernama Luhan.

“Kalian yang saling membanting satu sama lain tidak merasa malu?!” seru Jin-ah, sambil berhenti menyeret kedua namja itu.

“dengar! “ sungut Jin-ah sambil membenturkan kepala kedua namja itu hingga mereka memiris kesakitan.

“Jika aku melihat kalian bertengkar lagi, ku cekik kalian berdua Arraseo?!” Seru Jin-ah tepat di telinga kedua namja itu. Dan sepertinya telinga kedua namja itu tidak bekerja seperti semestinya.

“kalian bertiga akrab sekali. . .” ujar seseorang dan membuat Jin-ah melepaskan lengannya dari leher kedua namja itu.

Dia tahu yeoja didepannya ini punya paras yang sangat cantik, tapi dia juga berbahaya. Gadis ini, memiliki kelainan mental, Autis. Dia adalah adik tiri Luhan.

“Yeon hae. . .” ujar Jin-ah ragu dengan senyuman yang ia paksakan.

“aku tak akan memukul Jin-ah eonnie kog. . . Oppa ayo makan.” Ujar gadis itu sambil menarik Luhan dari sisi Jin-ah.

“dimana Jung won? Kenapa dia tak bersamamu.” Tanya Luhan

“Oppa. . .”

“Lebih baik kau menurutinya hyung. Kau sudah janji padaku.” Ujar Jong-in dengan wajah yang begitu khawatir. Membuat Jin-ah sendiri kebingungan.

“Eonnie! Kau harus ikut. Kau juga Jong-in Oppa. .  aku tidak suka penolakan.” Ujar gadis itu riang sambil melingkarkan lengannnya di lengan Jin-ah.

“Eum . . . Yeon hae, aku. . .”

“kau menolak Eonnie?” ujar gadis itu terdengar gemletuk didalam mulutnya.

Tiba-tiba langit menggelap. Jin-ah menoleh kepenjuru arah disekitarnya dan tidak menemukan siapapun, tidak Jong-in , tidak juga Luhan. Ketakutan benar-benar menyelimuti nya karna didepannya, Yeon hae, menyeringai dengan pisau yang mengkilap terpantul cahaya bulan.

Tebing, dia ada ditebing sekarang, dan Yeon hae terlihat bahagia memegang pisau itu.

“ada apa eonnie? Kau takut? Kemarilah . . .”

“ Yeon hae  kumohon, singkirkan pisau itu oke? Kita bicara baik-baik ada apa dengan mu.. . .” ujar Jin-ah sambil berjalan mundur menghindari Yeon hae.

“bukan pisau ini yang harus disingkirkan Eonnie. . . tapi kau!!KAU HARUS MATI!  Kyaaaa…” seru gadis itu sambil berlari kearah Jin-ah dengan mengacungkan pisaunya. Jin-ah hanya bisa berlari menghindari Yeon hae.

“berhenti Lee Jin-ah! Kau harus mati!”

“Yeon hae. . . kumohon hentikan! Apa yang salah denganmu . . .” ujar Jin-ah yang sudah kehabisan tenaga karna harus berkeliling hutan, menghindari kejaran Yeon hae.

“Apa yang salah denganku? KAU YANG SALAH! LUHAN OPPA MEMBENCIKU! DIA LEBIH MEMILIHMU DIBANDING AKU! KAU HARUS MATI KARNA MEREBUTNYA DARIKU!” Jerit gadis itu yang benar-benar tak terkendali.

“aku akan pergi dari Luhan, dari Jong-in semuanya. Jadi tolong, jangan kotori tanganmu itu Yeon hae. . .” ujar Jin-ah yang masih berlari.

“TIDAK! TIDAK BISA! JIKA KAU MAU PERGI, KAU HARUS KENERAKA! DIMANAPUN KAU PERGI, LUHAN OPPA MASIH BISA MENEMUKANMU!”

“Yeon hae. Hentikan!” seru seseorang yang muncul dengan peluh yang mengucur dari pelipisnya.

“Jong-in oppa. . . kenapa kau datang?” tanya Yeon hae dengan senyuman yang terukir dibibir manisnya itu. Nada suaranya pun terdengar tenang.

“hentikan oke? Luhan akan marah jika kau melakukan itu.”

“ KAU MEMBERI TAHU OPPA?! SIAPA YANG MENYURUHMU MEMBERI TAHUNYA!” Jerit Yeon hae. Sambil berjalan kearah Jong-in.

“MATI KAU!!” jerit Yeon hae yang tiba-tiba berbalik kearah Jin-ah dan sialnya, Jin-ah terjatuh tersandung akar pohon dan mambuat gadis itu tak bisa lari sekarang. Gadis itu hanya bisa menutup mata membiarkan tubuhnya tercabik oleh pisau itu.

Tercium bau anyir darah yang begitu pekat, dan terdengar suara pisau yang menusuk sesuatu, namun Jin-ah tak merasakan rasa sakit.perlahan dia memberanikan membuka mata. Dan langsung disambut oleh kucuran darah segar yang tepat menganai wajahnya.

“hahahaha. . .. Oppa pabo. . . jadi kau mau ikut mati hah? Baik, matilah kau!” seru Yeon hae sambil menghujamkan beberapa tusukan ketubuh Jong-in dan tepat dibawahnya, ada Jin-ah. Namja itu melindungi Jin-ah dengan tubuhnya sendiri.

“lari Jin-ah. . “ ujar Jong-in sambil memegangi tangan Yeon hae, walaupun tangan gadis itu yang satunya bebas memenggang pisau yang masih dengan semangat mengujamkan ujungnya hingga mengucurkan banyak darah dari tubuh Jong-in

“Jo. .JONG-IN!!! “

“HENTIKAN!!” Jerit Jin-ah yang langsung terduduk diranjangnya. Dia memengang lehernya sendiri karna merasakan sesuatu yang mencekik lehernya. Tubuhnya bergetar hebat, mimpi mengerikan itu datang kembali dan sekarang lebih nyata.

Tiba-tiba pintu kamar Jin-ah menjeblak memeperlihatkan sosok yang berdiri didepan pintu dengan rambut yang sangat berantakan.

“Gwaenchana?” tanya Jong-in sadangkan Jin-ah masih duduk diam dengan wajah pucat dan tubuh yang bergetar hebat. Namja itu berjalan kearah Jin-ah dan menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya.

“tenanglah, itu hanya mimpi.”  Ujar Jong-in sambil mengusap pungung Jin-ah. Terasa bajunya yang basah karna sesuatu.

“tadi. . . ku. Kukira kau. . .kau sudah mati. . mianhae. .” ujar Jin-ah dengan suara seraknya dan tangisnya pun pecah. Entah dari mana perasaan lega dan rindu itu muncul seketika membaur menjadi satu dan membaut dirinya sendiri bingung.
jadi apa sekarang? Benarkah hidupnya akan bersama namja ini? Lalu Baekhyun?

3 thoughts on “Timeless –part 2 (Teleportation)

  1. Merinding bacanya ehww ><
    Tpi sumpah ini keren. Tpi thor pls bkin next chap-nya jgn lama2 yah saya aja udh nungguin lacrymosa lama bngt tpi gk update2 hehe
    Oiya satu lg thor bkin ff-nya kurang panjaaannggg hehe but overall suka bngt sma smua ff kaijin dsini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s