Lacrymosa part 3

lacrymosa 3

Jin-ah hanya bisa mendengus kesal sambil memijit kepalanya yang berdenyut menyakitkan akibat dari tidak tidur semalaman. Bukan tanpa alasan dia tidak tidur, tapi dia tidak bisa tidur. Entah mengapa, otaknya dan nalurinya terus mengawasi Gyu-ri dan Jong-in. Oke, mungkin masuk akal jika Jin-ah mengngawasi Gyu-ri, mengingat anak ini baru saja selamat dari bahaya walapun dia tidur disamping dirinya sendiri. Tapi Jong-in? Dia termasuk orang lain yang seharusnya tak perlu diawasi, bahkan dia baru bertemu dengannya dua kali, dan pertemuannya dengan Jong-in bukanlah pertemuan yang menyenangkan.Dan pria itu sendiri tidak tidur, dia hanya duduk dibalkon rumahnya dan terkadang berbicara sendiri, mungkin dia sedang bebicara dengan pendampingnya itu. Entah mengapa ada rasa ketertarikan tersendiri memandangi pungunggung, tengkuk serta leher pria itu dan membuatnya frustasi sendiri. Beginikah perasaan tertarik dengan seseorang? Ini sungguh konyol.

“ Lee Jin-ah~sii”

Jin-ah menggeram kesal saat seseorang sengaja berhenti didepannya menghalangi jalannya. Sempat berfikir, jika orang yang didepannya hanya mengatakan hal-hal sepele, dia akan menyemprotnya dengan seribu cacian yang sudah sangat ingin dia keluarkan pagi ini.

Jin-ah mendongak dan mendapati seorang gadis yang berdiri didepannya, dan kesan pertama yang muncul adalah ‘ kampungan’. Mengingat caranya memakai lipstik, blus on, dan make up lainnya terlihat sangat berlebihan. Terlebih bagian matanya yang membuat Jin-ah berfikir itu bukan mata, melainkan dua ekor kecoa yang sedang duduk diatas wajah gadis itu.

Gadis itu mengenakan dress pink pudar dengan aksen pita diperutnya dan wegges senada yang terlihat anggun walaupun tidak pada wajahnya. Jin-ah hanya menghela nafas berat karna dia tak mengenal gadis diepannya ini, dan entah mengapa diamerasa gadis ini akan menyulut emosinya. Sedikit melirik kearah jam yang menunjukan masih ada 1 jam lagi untuk meladeni gadis didepannya ini.

“Waeyo?” ujar Jin-ah malas.

“Jadi kau Lee Jin-ah?” ucapan itu terdengar seperti ucpan menghina. Dan Jin-ah hanya tersenyum sinis mendengar perkataan gadis itu.

“ Ne. aku Lee Jin-ah. Wae?”

“ ternyata gadis pendek jelek ini. Hah sudah kuduga.”

“Kau!” ujar gadis itu yang tiba-tiba saja mengacungkan telunjuknya didepan matanya dan membuat Jin-ah geram seketika.

“berhentilah berkhayal, kau tahu Jong-in Oppa tak akan mau dengan mu. Jadi jangan besar kepala dan menyingkirlah darinya. Arraseo?”

“  hanya itu? Baiklah sampai jumpa lagi.”

“ Kau fikir kau bisa lari dariku hah?”

“ Lari kau bilang? Astaga. . . aku bisa gila sekarang. Bukankah itu saja urusanmu? Aku tak pernah mendekatinya, dan asal kau tahu saja, aku sama sekali tak berminat dengannya, jadi kau tak perlu mengkhawatirkan itu. Dan ku fikir, kau bahkan tak bisa menyentuhnya. Kau pernah kerumahnya? Rumahnya sangat menakjubkan.”

“Sialan kau! Kau tak tahu siapa aku hah? Aku ini.  .”

“Seorang pelacur?” potong Jin-ah dan langsung mendapat tamparan keras dipipinya yang meninggalkan berkas merah dipipinya.

Tidak hanya itu, orang-orang pun mulai bergerumun menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kau bilang aku pelacur? Kau fikir kau siapa hah?! Kau sendiri anak seorang pelacur dan pembunuh! Ibumu mati karna dibunuh ayahmu sendiri bukan? Lalu apa yang kau katakan hah? Aku pelacur ? KAULAH PELACUR SESUNGGUHNYA SAMA SEPERTI IBUMU!!! KAU DENGAR!!” seru gadis itu sambil kembali menampar piipi Jin-ah hingga sudut bibir gadis itu robek.

“kau bilang apa?” gumam Jin-ah dengan wajah menunduk

“ Kau dan ibumu pelacur. Kenapa kau marah? Ugh. . .”ucapan gadis itu tercekat saat tangan Jin-ah mencengkram kuat leher gadis itu. Jin-ah hanya tersenyum sinis saat melihat gadis itu memukuli langannya.

“Kuperingatkan  kau nona, kau boleh saja menamparku, atau mencaciku sesuka hatimu, tapi. . .” Jin-ah makin mengeraktan cengkraman tangannya dileher gadis itu hingga waah gadis itu merah bahkan hampir keunguan.

“Ibuku pelacur kau bilang? Nyali besar juga ya? Ayah? Aku bahkan tak punya ayah. Dia bukanlah ayahku. Dia hanya seorang bajingan yang memanfaatkan keuntungan. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau itu pelacur? “

“Hentikan Jin-ah. . .” ujar seseorang dengan suara datar tanpa emosi namun membuat siapapun orangnya merasa tertusuk sesuatu yang menyakitkan.Jong-in muncul dengan wajah datar memandangi Jin-ah lekat.

“Oh Tuan Kim. . . Annyeong” ujar Jin-ah dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

“Lepaskan dia.”

“ kenapa harus ku lepaskan? Aku bahkan berniat membunuhnya.” Ujar Jin-ah dengan memainkan jarinya lalu tersenyum seperti tak ada beban. Sedangkan cengkramannya makin kuat.

“Opp .. . a. .” rintih gadis itu. Dengan cepat Jong-in menyambar tangan Jin-ah dan menghentakkannya, dan dengan cepat pula gadis itu menghambur kearah Jong-in dan meringkuh pinggang Jong-in.

“Gomaweo. . . jika kau tak ada aku mungkin sudah mati. . “ ujar gadis itu diiringi dengan isakan menjijikan.

“ Cih lepas, baiklah. . . selamat bersenang-senang” ujar Jin-ah sambil mengambil tas selempangnya yang baru dia sadari sudah tergeletak ditanah, baru saja melangkah, tangan Jong-in sudah mencekal lengan atas Jin-ah.

“Mwoya. . “

“mau kemana?” tanya Jong-in dengan nada datar yang sama sekali tak bisa ditebak apa yang terlintas dan apa yang akan ia katakan lagi selanjutnya.

“kau tak bisa lari Jin-ah~sii. Kau harus menanggung semua perbuatanmu.” Ujar gadis itu dengan isakan yang masih ia buat-buat..

“bisa kau menyingkir?” ujar Jong-in dan membuat Jin-ah menghentakan tangannya berusaha lepas dari cekalan Jong-in namaun gagal.

“ Im woo gi~sii kau tuli? Menyingkir dari tubuhku.”

“Oppa. . “ rengek gadis itu, namun tidak Jong-in gubris, yang ada mendorong gadis itu hingga limbung dan hampir jatuh. Dan dengan cepat pula, Jong-in menarik Jin-ah kehadapannya dan dengan perlahan menyentuh pipi Jin-ah yang sekarang sudah keunggungan dan darah yang sudah mengering disudut bibir gadis itu.

Jin-ah hanya bisa mematung dan diam saat Jong-in menyentuhnya, seakan tubuhnya sudah terpatri ditempat dan tak akan pernah bisa bergerak.

“apa yang kau lakukan hah? Dasar bodoh, kenapa kau tak balas menamparnya?” ujar Jong-in lirih dan sangat terdengar jelas suara gemlutuk giginya yang beradu satu sama lain.

“Kau. Yang ada diotakmu busuk sekali. Mendapatkanku kau bilang? Sejak kapan?” ujar Jong-im sambil menarik Jin-ah kesisinya.

“tapi oppa dia, dia mau membunuhku. Kau lihat? Dia . . .”

“ Jika itu aku, mungkin kau sudah menuju neraka sekarang, sayangnya itu terlalu manis untukmu. Kau mau aku beri satu hal menarik?” ujar Jong-in dengan senyum miringnya yang membuat siapapun merinding ketakutan.

Jong-in mendekat dan mendekatkan bibirnya agar lebih mudah berbisik. Ditelinga gadis itu.

“ Aku bisa membunuh orang hanya dengan memikirkannya saja, nona Im.” Ujar Jong-in yang sontak membuat tubuh gadis itu menegang seketika dan tangannya yang mulai gemetar.

“ Dan harus kau tahu,kau tak akan selamat kali ini. Malam ini, akan kukirim kau keneraka. Dan sebelum itu, kau akan menjadi bahan mainan ayahmu itu. Kudengar dia selalu mengunda ng pelacur kerumahmu itu. Kurasa kau lah yang akan menjadi pelacurnya malam ini. Dan kurasa mati dengan image buruk pun belum bisa membayar semua yang kau lakukan pada istriku. Jadi bersiaplah menyambut ajalmu.”

Jong-in hanya tersenyum saat melihat gadis itu membeku ketakutan. Sedangkan Jin-ah diam dengan wajah penuh tuntutan.

“sebenarnya apa yang sedang kau lakukan hah!” sungut Jin-ah sedangkan Jong-in hanya diam sambil menghadap kearah gerombolan orang yang sedang menyaksikan kejadian itu

“kalian semua, dengarkan baik-baik. Jika kalian melakukan sesuatu atau bahkan menyakiti gadis ku. Aku tak segan-segan memberi kalian perhitungan. Kalian mengerti?”

“Kau gila!” seru Jin-ah kesal saat mendengar pernyataan yang baru saja terlontar dari mulut pria itu sedangkan Jong-in sendiri tak bergeming dan memilih menyeret Jin-ah

“Yak! Kau mau menyeretku kemana hah? Lepaskan!”

“Setidaknya obati luka lebammu itu! Kenapa kau sebegitu bodohnya hah! Apa kau tak tahu aku ingin sekali mencekiknya sampai mati hah! Diam dan turuti saja perintahku. Atau kubuat dia sekarat sekarang juga.” Ujar Jong-in tajam sambil terus menarik Jin-ah.

****

“ Ah. . . bisa kau perlembut sedikit?” dengus Jin-ah saat Jong-in dengan santainya membersihkan luka yang ada diujung bibir Jin-ah.

“ Kau yang bodoh! Kau pakai otakmu tidak hah?! Sudahku bilang jangan sampai kau terluka, kau malah membuat onar. “ ujar Jong-in tanpa ekspresi dan masih fokus pada wajah Jin-ah. Dia sendiri benar-benar geram dan ingin sekali berlari kearah gadis itu lagi, dan mematahkan lehernya yang berani membuat gadis nya mendapat lebam biru dipipinya yang benar-benar membentuk telapak tangan.

“Tak usah mengguruiku! Kau bahkan baru saja menimbulkan skandal. Bagus sekali tuan Kim. Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan kampus ini?”

“Pemilik sah.”

“lalu untuk apa kau kuliah?”

“Hanya sebagai kedok. Kau tahu, topeng kadang diperlukan.”

“Topengmu itu sudah cukup tebal.”

“Jangan melukai dirimu sendiri kau mengerti? Kau yang masih utuh saja membuatku hampir gila.” Gerutu Jong-in sambil mengusap pucuk kepala Jin-ah setelah memberikan sekantung es pada Jin-ah. Lalu berjalan kearah pintu.

“Hei. . .”

Suara Jin-ah itu menghentikan langkah kaki Jong-in dan membalikkan tubuhnya.

“ Apa kau ini benar-benar menyukaiku? Kau menyukai ku begitu?” tanya Jin-ah yang terlihat sangat was-was dan hati-hati mengingat dia ada diruang kesehatan yang bisa saja ada orang yang menguping pembicaraannya .

“ternyata kau cukup bodoh ya ?”

Jong-in hanya tersenyum dengan tangan yang terbenam di saku celananya. Dia duduk diatas ranjang dan memperhatikan Jin-ah yang duduk dikursi. Jin-ah tanpa sadar menahan nafas saat melihat pria itu tersenyum, dan jantungnya juga tak bisa dikendalikan.

“Apa aku kurang jelas? Ya benar, aku memang menyukaimu. Aku tahu ini hal gila, dan aku sendiri tak paham apa aku menyukaimu atau tidak. Yang jelas aku sangat membenci jika kau terluka maupun kau berdekatan dengan pria lain. Dan bahkan tanpa sadar kau yan sekarang menutupi otakku dan itu membuatku gila. Jadi setidaknya jaga dirimu itu baik-baik atau kurebut itu darimu dan kau tak akan pernah baik-baik saja denganku.”

“  ‘tak akan pernah’? apa maksudmu?”

Jong-in hanya menhela nafas berat. Lalu dengan menggunakan kakinya, dai menarik kursi Jin-ah hingga gadis itu sekarang berada tepat didepanya. Jin-ah sendiri, tak mengeluaran protes sama sekali.

“ Apa kau ini polos atau bodoh, aku sendiri tak mengerti. Dan aku  juga tak tahu, kau ini pura-pura atau tidak. “ Jong-in menarik punggung Jin-ah mendekat dan secara singkat mengecup bibir gadis itu dan selebihnya dia langsung melepaskannya, karna seperti ada magnet yang tidak mengizinkan mereka terlepas.

“kau tahu ini bukan? Kau tak kan pernah baik-baik saja, tak akan pernah utuh begitu saja jika kau bersamaku. Dan harus kuakui, aku masih manusia yang memberikan kebebasan untukmu yang mungkin memilih pria lain, aku tak akan mengikatmu sebelum kau benar-benar mau ku ikat, karna aku sendiri benci di paksa.”

“kau mengkangku! Kau sendiri yang mengatakannya barusan, bahwa kau membenci oranglain yang dekat denganku.”

“lalu? Kau sekarang memilih ku.”

“Aku bukan wanita murahan!”

“ Walaupun begitu,  aku juga merasa aku sudah gila sekarang, dan kaulah penyebabnya sepertinya tuhan sedang mempermainkan kita.” Gerutu Jin-ah lirih.

Jong-in hanya tersenyum geli mendengar penjelasan yang bisa dibilang, terlalu jujur  dari mulut gadis itu. Bahkan dia hampir tertawa lepas saat mendengarnya.Ternyata bukan hanya dia saja yang gila, melainkan gadis ini pun mulai kehilangan akalnya.

“Berhenti mentertawakanku! Kau fikir kau tidak hah?!” dengus Jin-ah kesal.Dalam hati sebenarnya dia mengutuki mulutnya yang bertindak diluar kendali. Bagaimana pernyataan bodoh itu keluar dari mulutnya dengan mudah.

“Hanya merasa aneh saja, kau sangat jujur. Atau polos?”

“Sialan kau!”

“Kalau begitu . . . menikah saja denganku”

“kau lebih gila ternyata. . “ ujar Jin-ah yang tak habisfikir. Bukan karna tawaran Jong-in,melainkan hati dan otaknya yang menyuruhnya untuk mengatakan‘ Baiklah kalau begitu’

“baiklah kalau itu keputusanmu, tapi jangan salahkan aku jika kau hamil sebelum menikah”  kekeh Jong-in

“Astaga tuhan. . .Kau fikir aku mau tidur denganmu?!”

“ Tidak. Tapi mungkin belum.” Senyum miring Jong-in mengembang.

“KIM JONG-IN!”

“setelah selesai temui aku, arra?”

Jong-in hanya tersenyum geli sambil mengacak-acak pucuk rambut Jin-ah yang terlihat sangat kesal lalu berlalu pergi. Dia merasa sudah tidak waras, yang dia lakukan adalah tersenyum sepanjang jalan yang membuat Drak yang ada disampingnya terlihat seperti kerasukan setan walaupun sebenarnya, dia juga sejenis dengan itu.

Jong-in hanya tersenyum dan memilih mengambil ponsel disakunya lalu menempelkannya ketelinga.

“kau terlihat sangat syok, Drak”

kau seperti orang gila. Seumur hidupmu baru kali ini aku melihatmu tersenyum sebanyak itu. Astaga. . . tuanku gila.” Ujar drak yang memilih melayang disisi kanan Jong-in dan menembus setiap manusia yang lewat didepannya. Sebenarnya kepakan sayap Drak terasa seperti angin yang berhembus.

“ kaubenar, aku memang gila.”

bagus kau sadar, dan kurasa, kau tak akan melupakan tujuan awalmu kan?”

“ yah. . . tak akan kulupakan, mengikat gadis itu untukku dan memenggal kepala bajingan itu.”

ternyata tujuannya sudah berubah dan bertambah.”

“ yang harus dikhawatirkan sekarang adalah nyawa gadis itu.”

aku sampai tak habisfikir, untuk apa Clond memeras habis darah. Dia bangsa kami, darah menusia tak lebih sebagai sampah.”

“ tapi orang itu menggunakannya sebagai alat membunuh. Kau tahu bukan, titisan siapa dia sebenarnya.”

Aku tahu,semua yang ada diotakmu.”

****

Gyu-ri hanya terdiam memandangi Jin-ah yang duduk diseberang mejanya yang sangat terlihat sibuk dengan laptopnya, walaupun tangan anak itu sibuk menyendokkan es cream kemulutnya. Tidak jarang tetesan Es cream itu mengotori bajunya yang memang sudah penuh dengan noda cokelat dan sesuatu yang berwarna.

Sedangkan Jong-in yang duduk disamping Gyu-ri berusaha menyibukan diri dengan ponselnya, walaupun sebenarnya sama sekali tak berhasil. Jin-ah selalu membuatnya tak bisa mengalihkan gadis itu darinya.

“Abeoji. . .” panggil Gyu-ri walaupun tatapan gadis itu masih terarah pada Jin-ah.

“ hm. . .” gumam Jong-in yang akhirnya punya alasan menyingkirkan poselnya itu.

“Pelaku pengeboman itu, dalangnya adalah orang yang sedang Abeoji cari kan? Clond. Kurasa dia akan muncul kembali.” Ujar Gyu-ri sambil kembali memasukan sesendok es krim kemulutnya.

“maaf jika pada akhirnya kau yang terlibat”

“Aku punya firasat bahwa ini ada hubungnnya denganku, sesuatu menarikku untuk menghentikan orang itu. Kau pernah bertemu dengannya kan, Abeoji?” tanya Gyu-ri, pada Jong-in. Namja itu terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu yang akan dia ucapkan selanjutanya.

“ ne. . . dia keluarga Kim yang dibuang.”

Wajah Jong-in mengeras saat menyebutkan kalimat itu. Tidak hanya itu, Jin-ah pun akhirnya tertarik dan langsung syok mendengar pengakuan orang itu.

“kau bilang kau mengenalnya? Lalu kenapa tak kau bunuhsaja dia hah?!” dengus Jin-ah sambil menggebrak meja membuat pandangan seisi cafe menatap kearahnya.

“Dia bukan manusia Jin-ah. Aku tak bisa membunuhnya, aku hanya membunuh manusia” ujar Jong-in sambil menatap Jin-ah tajam.

“ kalau begitu beri tahu aku wajah dan namanya.” Ujar Jin-ah tak kalah sengit.

“ aku ”

“kau bilang kau sudah pernah bertemu denganya! Apa maksudmu dengan ‘aku’!”

“ dia bisa mengganti wajahnya sesuka hatinya, bahkan dia mengunakan wajahku saat bertemu dengan ku.”

“ Ini menarik” ujar Gyu-sambil menganyangga wajahnya.

“ kita butuh wajah aslinya sekarang.” Dengus Jin-ah  sambil menghentakan punggungnya di punggung sofa dan melipat tangannya didepan dada.

“yang ku ingat matanya, matanya seperti lautan dalam yang berwarna hijau.”

“ hijau?” tanya Jin-ah

“Hades. dia bukan manusia sembarangan. Tubuhnya memang manusia, tapi jiwanya bukan manusia. aku tak tahu kapan dia memulai pembantaiannya yang jelas, itu akan dimulai, pasti. Dan aku pastikan kalian semua harus hidup.”

“lupakan yang barusan, kau eomma. . .” ujar Gyu-ri akhirnya.

“kenapa dengan wajahmu? Kau sedang menato pipimu itu kah?” lanjut gadis kecil itu, dan membuat Jin-ah kelimpungan.

“Dia, dengan bodohnya membiarkan seseorang menamparnya.” Ujar Jong-in.

“Sangat bodoh” angguk Gyu-ri menyetujui ucapan Jong-in.

“yak apa-apaan kalian?!”

****

Jin-ah hampir saja memuntahkan isi perutnya saat melihat gambar-gambar yang dikirim Panber untuknya. Dan yang membuat Jin-ah heran adalah, bagaimana bisa kasus mengerikan ini tersimpan dan tak pernah tersentuh dan sekarang dia lah yang harus mengusutnya tanpa ada petunjuk sedikitpun. Terlebih perintah ini terkesan buru-buru dan sangat tidak jelas.. Syarat yang diajukan dalam surat perintah itupun terdengar aneh. ‘Aku percaya padamu, kau harus mengusutnya sendiri. Jangan pernah melaporkan apapun dan bertanya apapun, atau kau akan dalam masalah. Kuserahkan semuanya padamu. ZpOSAO109. Aku di Seoul sekarang, jangan tanyakan aku berada dimana. aku percaya padamu ’

Jin-ah melempar ponselnya keatas meja dan berusaha memecahkan semuanya. Dan anehnya dia sendiri baru sadar bahwa dia tidak sedang berada dirumahnya sendiri, melainkan rumah Jong-in. Gadis itu mendengus kesal menyandarkan kepalanya dan menatap langit-langit yang berisi ukiran para malaikat berserta yesus yang tersalib dan dengan bodohnya berfikir, berapa uang yang namja itu keluarkan hanya untuk hiasan langit-langit. Pikiran gadis itu kembali kearah kode yang diberikan Reay panber padanya. ‘ZpOSAO109’ kode apa itu, dan untuk apa? Semuanya hanya menemui jalan buntu.

“tidurlah didalam. Kau perlu istirahat” Ujar seseorang yang mengusik konsentrasi Jin-ah, gadis itu akhirnya tahu siapa yang mengusiknya dan hanya bisa mendengus kesal.

“Tidak terimakasih.” Ujar Jin-ah sekenanya.

“Apa yang kau pikirkan?”

“ tidak ada.”

“ Pembohong “

“Yak!! Ada pun itu bukan urusanmu.” Seru Jin-ah akhirnya. Entah mengapa terkadang, berbicara dengan pria itu membuat emosinya memuncak sampai ketitik tertinggi

“cih” namja itu hnya mendengus sambil duduk dengan menyilangkan kedua kakinya dan melipat kedua tangannya didepan dada. Mata namja itu bahkan tak lepas dari wajah Jin-ah.

“Dimana Gyu?” Tanya Jin-ah

“ di kamar ku”

“Komputer?”

“hm. . “
Pertanyaan siangkat dijawab singkat. Tidak terlalu panjang lebar dan sangat jelas tanpa basa-basi. Itulahnya yang terkadang membuat Jin-ah kagum. Walaupun tetap saja dia tidak menyukai sikap pria didepannya ini.

“apa ini?” saat namja itu akan memngambil remote TV dan yang ia temukan adalah ponsel Jin-ah.

“ Kau pernah diberi khasus itu?”

Gadis itu dengan antusian menunjuk kearah foto-foto yang ada di ponselnya. Seketika wajah Jong-in mengeras dengan dahi yang berkerut, tanda ada masalah dengan khasus itu.

“ dari mana kau mendapatkannya?” tanya Jong-in tajam. Benar dugaan Jin-ah, ada yang tidak beres dengan khasus itu

“Reay Penber”

“Sialan!” umapat itupun akhirnya keluar bersamaan  dengan berdirinya namja itu dan meraih ponselnya didalam saku. Namja itu berjalan dengan cepat kearah kamar, yang dia sebut kamarnya sendiri di ikuti Jin-ah. Gyu-ri yang tahu ada yang tidak beres dan Jong-in pasti akan menggunakan komputer itu, langsung menyingkir dan duduk diatas kasur.

“Yak! Ada apa sebenarnya?” Seru Jin-ah meminta penjelasan

“Dimana orang itu?”

“ dia bilang dia di Seoul.” Jawab Jin-ah

“ Lacak dia sekarang. Berapa waktu saat dia mengirim ini?”

“sekitar 2 jam lalu.”

“ semoga belum”

Wajah namja itu terlihat sangat panik dan penuh aura mengerikan yang menguar dari tubuh namja itu. Tangannya terkepal sempurna seperti dendam yang meluap dan akan meledak.

“yak jelaskan padaku!” seru Jin-ah yang akhirnya kehilangan kesabaran karna Jong-in tidak memberikan jawaban dan hanya mengajukan perintah.

“ Dia bisa saja mati. Dia mempertaruhkan semuanya dan kau juga dipertaruhkan disini” gerutu Jong-in dimatanya hanya terlihat kilat kemarahan.

“Mwo!”

“Hyung, kumpulkan semua orang. Drak, awasi buku yang ada ditangan bajingan sialan itu, dia mungkin saja menggunakannya.” Seru pria itu seketika pada ponselnya dan tangannya sudah mulai menutak atik isi komputernya.

“dan kau! Tetap disini” Seru Jong-in sambil menarahkan jari telunjuknya kearah wajah Jin-ah.

“dia masih hidup. Dia didaerah Gyeonggi-do” ujar Jin-ah datar. Wajahnya kaku tanpa ekspresi yang tidak dipedulikan oleh Jong-in sama sekali. Namja itu tetap berkutat pada komputernya dan sepertinya sedang memberikan sinyal atau peringatan darurat.

“hyung cari Reay Panber sekarang. daerah Gyeonggi”perintah Jong-in saat seorang namja dengan seperti anak kecil yang muncul di layar komputernya.

“Abeoji? Waeyo?” tanya Gyu-ri yang sekarang berdiri disamping Jong-in.

“Gwaenchana, kau tetap dirumah arra?! Dimana eommamu?” tanya Jong-in saat menyadari gadis itu sudah tidak berada di ruangan itu

“Eommanie baru saja berlari keluar”

“gadis itu benar-benar. . “

Dengan kasar, Jong-in mendorong kursi yang duduki dan membuat Gyu-ri tersentak kaget.

“Abeoji!! Aku ikut!”

“ Tunggu disini. Arra?” ujar Jong-in setelah menyambar kunci mobil dan mencium kening Gyu-ri sebelum akhirnya dia berlari keluar kearah mobilnya. Tangan namja itu bahkan berkutat dan hampir membanting ponselnya karna masih belum menemukan nomer ponsel Jin-ah.

Entah dia yang bodoh atau gadis itu yang ceroboh, sekarang nyawa gadis itu dalam bahaya, bisa jadi gadis itu melihat sesuatu yang membuat gadis itu bertidak gegabah. Terlebih jika yang sebenarnya itu jebakan.

“KAU HENTIKAN MOBILMU!” seru Jong-in setelah akhirnya gadis itu mengangkat Ponselnya. Terdengar suara deratan mobil yang bisa dibilang, gadis itu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan sialnya lagi, gadis itu mudah sekali menghilang dari daerah sekitar rumahnya.

“ aku tak bisa mendengarmu sekarang. Ada seseorang yang membututinya, mungkin dia orang yang kau maksud ingin membunuhnya. Aku tak bisa membiarkannya”

“SIALAN! ITU URUSANKU! BISAKAH KAU TIDAK IKUT CAMPUR!”

“ Demi tuhan Kai, kau berteriak malah membuatku tak bisa. . “ ucapan gadis itu tercekat saat terdengar bunyi rem mobil yang berdecit mengerikan.

“ mendengarmu. Jadi, kau tenang saja dan aku . . .” ucapan gadis itu kembali terpotong saat bunyi klakson yang memekakan telinga. Dan membuat Jong-in menginjak pedal gas lebih dalam.

“ku Telphone kau nanti.” Ujar gadis itu lalu menutup telphonenya.

“Sialan Jin-ah! Kau benar-benar mau mati hah!”

hei tenanglah sedikit.” Ujar Drak yang mengetahui namja itu bisa saja membunuh orang-orang yang tak berdosa sama sekali.

“KAU BILANG TENANG?! BAGAIMANA AKU BISA TENANG!“

ya, kau harus tenang, jika tidak, kau akan membunuh orang tak berdosa yang berada di jalan. Jangan berlebihan”

“ Apa gadis itu tidak bisa mendengarkanku sekali saja?” ujar Jong-in yang terdengar kesal. dan dengan sembarangan, menikung dengan tajam memotong jalan yang bisa dibilang ramai. Yang ada di otaknya sekarang adalah mencekik gadis itu atau memasung gadis itu setelah berada dijangkauannya.

****

Jin-ah hanya duduk diam didalam mobil karna dia terlambat, benar-benar terlambat. Pria itu sudah tercabik-cabik dengan tubuh yang bermandikan darahnya sendiri. Perumahan kumuh sehingga jarang ada orang yang berada disekitar sana membuat semuanya terlihat tanpa cacat, sangat rapih untuk sebuah pembunuhan. Kepala gadis itu bahkan seperti hampir meledak karna menyaksikan pembunuhan itu dengan matanya sendiri dan dia tak bisa berbuat apapun. Dan yang makin membuatnya tak bisa berbuat banyak, pembunuh itu bukan manusia. Lagi-lagi robot dengan tubuh manusia.

Jin-ah menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan kiri yang mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menampung isi perutnya yang sudah berada diujung mulutnya.Dan akhirnya dia memuntahkan semuanya kedalam kantong plastik yang dia temukan didasbor mobil. Tidak puas dengan mengorok kepala pria itu hingga putus, manusia buatan itu, meluncur kearah perut dan mencabik isi perut pria itu hingga semua darah mengucur dari perut pria itu.

“Reay bodoh! Uwgh.” Gumam gadis itu disela muntahnya. Bahkan dia sendiri tidak sadar bahwa air matanya sudah mengucur deras. Seluruh tubuhnya bergetar dan jantungnya seperti tertusuk jarum membuatnya sesak nafas. Entah sudah berapa kali dia melihat kematian, dan pada akhirnya dia seperti ini menangis dan muntah.

Tiba-tiba terdengar ponselnya berbunyi, Jong-in. Namja itu sepertinya belum menemukannya.

“Dimana kau?!” ujar namja itu tajam. Tanpa salam sama sekali

“perumahan kumuh, yang jelas bukan di gyeonggi, “ jawab Jin-ah sekenanya sambil berusahan menahan isi perutnya agar tidak kembali keluar dan setidaknya telphone dari namja itu bisa sedikit mengalihkan pikirannya.

“berikan daerah yang segnifikan bodoh!”

“Dia mati.” Ujar Jin-ah datar yang terdengar sangat tertekan dibalik suaranya itu. Dan bisa didengar isakan tipis yang membuat Jong-in hanya bisa menghela nafas berat.

“ aku kesana, jangan bergerak tetap ditempat. Aku tak akan memaafkanmu jika kau bergerak sedikit saja.” ujar namja itu dan detik berikutnya hanya terdengar bunyi sambungan telphone yang terputus.

Gadis itu hanya bisa menahan tangisnya agar tidak menetes kembali dan memilih menyembunyikan wajahnya dibalik stir mobil dan memejamkan matanya berusaha menghilangkan seluruh bayangan yang ada diotaknya.

Tiba-tiba terdengar seseorang yang mengetuk kaca mobilnya dan membuat gadis itu tersentak dan mengangkat wajahnya. Terlihat pria dengan wajah seperti wanita dengan rambut pirang sebahu tersenyum dengan ramah dengan bola mata keemasan dan kulit seputih salju. Pria itu mengenakan baju rajut leher tinggi dan blazer hitam pekat. Dan entah bagaimana bisa, pria itu terlihat begitu tidak manusiawi dengan aura aneh yang menyelubungi pria itu. Pria itu memberikan instruksi agar Jin-ah menurunkan kaca mobilnya, sedangkan Jin-ah sudah siap melakukan yang terburuk.

“ ne? Wae gurae?” ujar Jin-ah saat menurunkan kaca mobilnya.

“bisa turunkan pistolmu? Aku tak akan membunuhmu. Ah. . . kau tak akan percaya, baiklah agashi, aku harap kau tidak bertemu dengan-nya. Hanya ini intruksiku, lari dari sini sekarang juga, ini demi keselamatanmu. Yah cukup, kurasa ini waktuku pergi. Jangan membuatku repot.” Ujar pria itu dan anehnya dengan sekejab pria itu sudah berada diatas motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi.

“ ‘Dengan-nya’ ? siapa yang dia maksud . . . “ leher gadis itu terasa seperti tercekik, saat seorang gadis keluar dari rumah kumuh dengan tubuh bersimbah darah.

Gadis itu tersenyum sambil memiringkan kepalanya menatap kearah Jin-ah. Jin-ah hanya membeku menatap wanita itudan tak lama kemudian sebuah mobil yang dipoles dengan sangat halus hingga terlihat sangat mengkilat berhenti disamping manusia buatan itu.

Seketika itu pula tubuh Jin-ah kelu dan tak terasa, semuanya seperti tubuh kosong dan dikendalikan. Dia berusaha agar tidak membuka pintu mobilnya walaupun tangannya berusaha membukanya. Tubuhnya bergerak diluar kuasanya. Nafas Jin-ah melesat dan terhenti saat seorang pria keluar dari dalam mobil itu dengan baju pendeta greja berwarna hitam yang terlihat sangat elegant dan sekaligus memberikan aura mengerikan. Sebuah kalung perak meluncur dari balik lehernya dan berkliau saat terkena pancaran sinar matahari yang tak terlalu terik. Dan jantungnya berhenti berdetak saat wajah pria itu terlihat dimatanya. Dia orang yang sangat dia kenal, wajah, bibir dan tatapan mata itu. Sangat ia kenali.

“K. . Kai?” dengan sisa tenaga yang ada, dia menyembut nama pria yang ada dihadapannya sekarang. Dia tahu bahwa orang itu berbeda dengan orang yang ia kenal, karna baru saja dia menyadari, Jong-in sedang melaju dengan mobilnya. Pria itu berdiri didepan kap mobil dan menyandarkan tubuhnya dengan memandang kearah Jin-ah. Mata pria itu seperti lautan dalam yang berwarna hijau, sangat bisa dilihat oleh Jin-ah.

“Apa kau mau ikut denganku?”suara itu tiba-tiba berdengung ditelinga Jin-ah, seolah pria itu berbicara hadapannya.

“sayang sekali, putri venato terakhir. Aku mencintaimu. Jadi bisa kah kau hidup bahagia? Akanku lepaskan penderiataanmu dibumi ini dan pergi ke dunia ku. ”

Senyum pria itu bahkan tidak lepas dari wajahnya, dan dengan langkah tenang, dia berdiri dan kembali masuk kedalam mobil.

“Lee Jin-ah. . . kau bukan permaisuriku lagi.” Kalimat terakhir yang berdengung ditelinga Jin-ah tepat saat mobil itu melaju meninggalkan tempat perkara, sedangkan manusia buatan itu, sudah menghilang bersama mobil mewah tadi. Tubuh Jin-ah seketika melemas, walaupun dia bisa kembali merasakan tubuhnya, namun semuanya sia-sia karna tenaganya terkuras habis. Butuh cukup waktu, dia benar-benar harus mengumpulkan tenaganya lagi jika tidak mau sesuatu yang lebih buruk menimpanya.

“Jin-ah keluar!” seru seseorang sambil menggebrak-gebrak pintu mobilnya. Jong-in terlambat, pikir Jin-ah. Gadis itu berusaha mengumpulkan tenaganya untuk membuka kunci mobilnya.  Dan  gadis itu berhasil, walaupun sekarang dadanya terasa sesak dan lehernya terasa tercekik, tapi gadis itu masih bisa merangkak keluar.

Namja itu langsung mengangkat tubuh Jin-ah dan berlari sejauh mungkin dari mobil yang Jin-ah tumpangi. Sedangkan gadis itu sudah mulai kehilangan kesadarannya. Tak lama kemudian, terdengar bunyi ledakan yang memekakan telinga. Mobil Jin-ah meledak dan merusak apapun yang ada disekitar mobil itu, Jong-in meringkuh Jin-ah berusaha melindungi gadis itu.

“apa yang sebenarnya kau pikirkan bodoh!” ujar namja itu lirih, dangan tangan yang masih mencengkaram tubuh Jin-ah kuat-kuat.

****

Jin-ah merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan, bahkan tubuhnya terasa seperti tidak digerakan selama bertahun-tahun. Perlahan dia membuka matanya, sedikit menerjap-nerjap membiasakan diri dengan cahaya lampu yang menusuk matanya.

“Eomma?”

Terasa kasur yang dia tiduri bergerak, seseorang duduk disampingnya menghalangi cahaya lampu yang menyorotkearahnya.

“Gyu-ri?”

“kau tak papa? Lama sekali kau pingsan.” Ujar seseorang lagi. Suara seorang gadis. Jin-ah berusaha bangun dan membuat kesadarannya penuh kembali.

“Dimana ini?” tanya Jin-ah yang masih menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.

“Rumah Abeoji. Gwaenchana eomma?”

“hm. . “ gumam Jin-ah. Terdengar seseorang memuka pintu dan terlihat Eun-ji yang masuk sambil memabwa sebuah mangkuk besar, gadis itu terlihat kaget saat menyadari Jin-ah yang sudah terduduk dan tersenyum sambil berjalan mendekat kearah ranjang Jin-ah.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Kau pingsan terlalu lama.” Ujar Eun-ji sambil duduk dikursi yang ada disamping ranjanganya dan menaruh baskom berisi air itu diatas meja.

“aku sendiri tak tahu.”

“Abeoji, dia terlihat ketakutan tadi. Kau bertemu seeorang Eomma?” tanya Gyu-ri dan menatap penuh harap. Sedangkan Jin-ah terdiam dan kembali mengingat apa yang sebelumnya terjadi.

“ Laut dalam berwarna hijau.” Gumam Jin-ah.

Eun-ji dan Gyu-ri hanya mengerutkan kening mereka tanpa mau berkomentar. Keduanya memilih sabar menunggu jawaban selanjutnya.

“Hades.” Gumam jin-ah. Wajahnya mengeras dan langsung berkeringat dingin.

“Dimana Kai?”

“Aeboji di bawah.”

“sedang apa dia?”

“Entahlah yang jelas banyak sekali orang dan aku bahkan syok. Hampir semua yang ada dibawah aku mengenalnya. Yak!!! Kau mau kemana?!” seru Eun-ji saat Jin-ah melompat turun dari ranjang.

“Kebawah.”

Gadis itu berjalan keluar dari dalam kamar dan berjalan menuruni tangga. Gadis itu bisa melihat segerombolan orang yang duduk memenuhi dan satu orang yang membuat perhatiannya tertuju pada pria itu.

“ Kurasa istrimu sudah baik-baik saja.” Ujar orang itu yang sepertinya menyadario kehadisran dan tatap Jin-ah padanya.

“Jinne~a gwaenchana? “ Tanya Baekhyun saat Jin-ah berjalan kearah mereka.

“kurasa kepalanya sakit. Jelas karna itu juga salah satu efek dari buku itu. Yah beruntung saja aku masih mengawasimu. Sebenarnya aku tak mau ikut campur.” Ujar Pria itu dengan wajah yang meyembalkan.

Tiba-tiba Jong-in menarik tangan Jin-ah dan memaksanya untuk duduk dipangkuannya. Jin-ah tidak protes sama sekali meskti dengusan kesal masih meluncur dari mulutnya.

“ Siapa kau? Dan kenapa kalian semua ada disini?” Tanya Jin-ah dengan sorot mata terarah pada beberapa orang yang dia kenal. Park Chanyeol, Do Kyung-soo, Kim Jong Dae, dan Luhan.

“ dia yang menyelamatkan nyawamu, setidaknya berterimakasihlah. Dia Ren. Dan bukan teman yang baik.” Ujar Jong-in sambil melingkarkan lengannya diperut gadis itu dan menyisipkan wajahnya di bahu gadis itu.

“ cih. . . kau masih berkata seperti itu. Sepertinya sudah cukup, aku harus kembali. Tugasku masih sangat banyak. Perang akan dimulai sekarang, berhati-hatilah.” Ujar Pria itu sambil berdiri dan sedikit menyentak pancoat hitamnya.

“Luhan… kau masih mau dibumi?”

“Apa maksudmu?” Tanya Jin-ah seketika.

“ Aku bukan manusia, Jin-ah… aku tak harus pulang denganmu. Aku bias pulang sendiri.”

“Kujelaskan, kau memikirkannnya tak akan pernah ada jawabnnya.”

“Ren, malaikat mengantar nyawa. Dia yang mementukan roh akan dikirim kedunia roh atau kembali ketubuh pemilik roh dan Luhan, malaikat penjaga gerbang surga. Dia sedang bermain disini. Sudah bukan? Kalian boleh pulang.” Ujar Baekhyun.

“ kami juga perlu pulang, kau harus tenangkan dirimu sendiri Kai~sii, kurasa hal bisa kita bahas lagi setelah otakmu benar.” Ujar Jong-dae sambil bangkit dan diikuti semua orang yang ada ditempat. Dan berjalan keluar. Semuanya terlihat lega, sekaligus kelelahan, mereka berjalan keluar dari ruangan.

“ senang melihatmu lagi, Jin-ah” ujar Luhan sambil mengusap sedikit pucuk kepla Jin-ah dan detik berikutnya tubuh pria itu seperti transparan dan lenyap perlahan.

“ Ren. . “ ujar Jong-in saat pria itu masih berdiri memperhatikan dirinya dan Jin-ah.

“Gomawo.”

“ wah, menakjubkan mendengarnya dari mulutmu,” ujar Pria itu dan seketika sebuah jubah hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya menggantikan pakaian pria itu dan sebuah sayap melingkar dan melenyampkan pria itu.

Suasana hening benar-benar hening. Baekhyun dan Sehun memilih meninggalkan mereka berdua dan berjalan kelantai dua.

“bukankah ini sudah cukup?” dengus Jin-ah sambil berusaha lepas namun tak bisa. Namja itu makin mencengkramnya kuat-kuat.

“ harusnya itu kata-kataku. Ini sudah cukup Ah~ya, kau benar-benar membuatku kacau. Cukup hari ini saja kau tak mendengarkanku, ini bukan dunia manusia biasa yang bias kau hadapi sendiri, kau sudah terlibat dengan itu. Kau tak boleh mati sebelum kuizinkan untuk mati jadi bisakah kau mendengarkanku?” gumam Jong-in. namja benar-benar kacau, dia tak pernah berfikir sebelumnya bahwa ini kan terjadi, dia benar-benar kacau jika menyangkut gadis ini, gadis yang membuatnya gila setengah mati.

“Mian. . . Mianhaeyo, Jeongmal.”

“ pemenang menerima hadiah dan yang kalah menerima hukuman. Ingat itu”

-TBC

7 thoughts on “Lacrymosa part 3

  1. penasaran…
    banyak banget yang buat aku penasaran di ff ini.
    sebenernya exo di sini ikut jadi cast juga ya..
    dan siapa itu ren. ren nu’est ya..???

    next partnya sangat sangat ditunggu thor…

  2. Finally, nongol jg ff favorite ku ini. Duh, aku mkin pnasaran thor please jgn lama2 ngelanjutinnya ya please ^^
    Good job thor pokonya ditunggu ya next chapnya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s