Timeless – memories Part 3

 

untitled

 

September 3,  2010

Aroma dedaunan kering dan semilir angin dingin, menandakan awal musim gugur.  Dedaunan menguning dan berguguran memenuhi jalan setapak. Awal dari semuanya, dimana musim pertama kali bertemu, saling menatap dan akhirnya tertawa bersama. Hanya sebuah petengkaran kekanakan, yang dilakukan anak kecil, dan sedikit duka yang ikut menyelimuti. Semuanya terasa seperti kerikil, hingga suatu yang tidak harus terjadi, akhirnya terjadi, dan membuatnya semakin sulit.

“Yak Yak yak! Apa yang kau lamunkan pagi-pagi huh?!” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dan mengacak-acak pucuk rambut gadis yang sedang berjalan dengan hikmat. Gadis itu bahkan tak mengeluarkan protesnya, dia hanya tersenyum pahit dan kembali menundukan kepalanya.

Namja itu hanya diam tak berani mengusik kebungkaman gadis itu, dan memilih mengalungkan lengannya dibahu gadis itu. Namja itu mengenakan kemeja putih, dasi yang terlihat kendor dilehernya dan blazernya yang dibiarkan tidak terpasang pada kancingnya layaknya siswa lainnya. Di bahunya, terlihat tali tas punggung yang ia gunankan. Namja cantik, mungkin sebuatan itu lebih tepat untuknya. Dengan wajah yang hampir sama cantiknya dengan gadis disampingnya, tubuh tinggi tegap dengan kulit seperti susu dan rambutnya yang berwarna pirang.

“ kau tak akan mendapatkan uang yang tergeletak dijalan. Kau mau menelannya?” Dengus seseorang sambil berjalan di sisi lain gadis itu, sambil menyentuhkan tepak tangannya di atas kepala gadis itu dan memaksa gadis itu untuk mendongak dan menemukan wajahnya.

 Wajah yang terlihat angkuh namun penuh aura mengiurkan, bengan bibir dan siluet wajahnya yang keras, kulit cokelat berbeda dengan orang korea kebanyakan, yang terlihat sangat kontras dengan gadis yang ada disampingnya, dan ditambah tatapan matanya yang tajam, memberikan kepuasan tersendiri bagi peminat wajah pria itu. Namja itu hanya mengenakan kemeja putih yang kedua kancing atasnya terlepas baju yang keluar dan blazer yang tak dia kancingkan pada tempatnya. Tanganya memanggul tas punggungnya.

 Kedua pria itu berjalan mengapit seorang gadis. Mungkin hampir semua anak seusia mereka atau yang satu sekolah dengan mereka akan merasa iri pada gadis itu. Dua namja tampan berada didekat nya dan tak ada orang lain mengusiknya, bukankah itu hal yang menakjubkan?

“Ada Masalah?” tanya namja berkulit gelap itu. Sedang gadis tu hanya menghela nafas berat.

“ ani. . .”

“ kau malas kesekolah karna tak mau menguras perasaanmu dan menahan diri untuk berusaha bersabar. Kau kena lagikan?” ujar namja itu yang membuat gadis itu bungkam seketika. Semua yang dikatakan namja itu memang benar, seluruhnya benar. Bulying, cacian, cemooh dan tindasan yang membuat siapapun merasa tak akan betah dan ingin bunuh diri.

“ kenapa kalian selalu terlihat mencolok. Aku hanya anak kelas satu. Dan langsung dibenci seluruh penjuru sekolah karna bisa dekat dengan kalian. Apa kalian ini tak bergaul dengan yang lain? Hah?!“ gadis itu terlihat berusaha tidak meledak dan menekan emosinya.

“ itu hal membosankan.mendengar teriakan dan rengekan mereka saja membuatku mual. Lebih baik tidur. Kurasa Luhan Hyung melakuakan interaksi lebih baik.”

“YAK KIM JONG-IN!!“ seru Jin-ah dengan kekesalan penuh sambil menendang kaki namja itu, hingga namja itu memiris kesakitan namun anehnya wajahnya malah terlihat sangat bahagia.

“Apa kau ini tak kasihan padaku hah?! Kau ini senang melihatku diperlakukan seperti itu hah?! Kau ini temanku bukan! Kau, dasar kau tengik!” seru gadis itu yang terlihat sangat emosi dan yang menakjubakn gadis itu tak kehilangan nafasnya.

“ bernafas Ah~ya. .  kau selalu lupa menarik nafas jika sedang marah.” Goda namja itu.

“ Itu juga gara-gara kau!”

Tiba-tiba Luhan menarik Jin-ah mendekat kesisinya lebih dekat,. Terlihat raut kekesalan di wajah kedua pria itu.

“Kalian membuatku cemburu setengah mati. Jangan bertengkar layaknya pasangan kekasih, kalian ini tak lihat disini ada aku hah?” dengus Luhan yang terlihat sangat kesal. sedangkan Jong-in hanya mencibir dan memilih menatap kedepan dengan tangan yang terbenam di saku celananya.

“ cih. Apa aku harus melihatmu?”

“Mwo? Yak! Kau lupa perjanjian kita dulu kita. . .”

“HENTIKAN! Astaga tuhan. . . aku bisa gila sekarang.” Jerit Jin-ah yang membuat langkah mereka terhenti. Dan dengan kekesalan penuh gadis itu berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.

Gadis itu berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan mulut yang terus mengumpat dan bergumam sendiri.

“lihat ulah kalian. Menyusahkan saja.” Ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dengan mulut yang tersumpal dengan sedotan yang mengarah ke susu kotak yang ia pegang.

“bukan seluruhnya salahku.” Ujar Jong-in sampai sambil merebut susu kotak ditangan Eun-ji dan berlari kecil kearah Jin-ah.

“Aish. . . apa dia tak bisa mengubahnya? Apa-apaan itu? Yak! Kim jong-in bodoh”

“ dia benar-benar menyebalkan.” Dengus Luhan sambil mengalungkan lengannya di bahu gadis itu.

“ kau lagi. Sedang apa tangan mu ini? Menggoda ku? Atau sedang menjadikan topangan tanganmu?”

“dasar gadis bodoh.” Kekeh Luhan sambil berlari kearah Jin-ah dan Jong-in yang terlihat sedang berdebat satu sama lain setelah mengacak-acak rambut Eun-ji.

“YAK!”

Semuanya terlihat usang, seperti dedaunan yang berguguran waktu itu. Dan terus berlanjut seperti itu.

****

Jin-ah berjalan dengan cepat menuruni tangga. Tak peduli para pria yang menyapanya, dia bergumam seperti membaca mantera dengan tangan yang terkepal sempurna. Dan dengan langkah yang terlihat emosi tanpa peduli para namja memiringkan kepala mereka agar bisa melihat bagian dalam rok gadis itu yang sedikit tertiup angin. Terlihat Jong-in dan Luhan yang sekarang saling menatap dan Jong-in yang mengulurkan tangannya pada Luhan yang berbaring diatas rumput. Banyak gadis-gadis yang bergerombol menyaksikan mereka berdua. Berkelahi.

“Yak! Kalian berdua hentikan! Kalian mau mati hah?!” sungut gadis itu sambil memukul kepala mereka dan  meraih leher keduanya dan mengapit mereka di lengannya lalu menyeret kedua namja itu keluar dari lapangan.

“Yak! Yak! Yak! Ini memalukan Jin-ah~ya. . “ rengek Luhan. Gadis itu melepaskan lengannya dengan kasar dan menyeret keduanya berdiri dihadapannya.

“Kalian yang saling membanting satu sama lain tidak merasa malu?!” seru Jin-ah

“dengar! “ sungut Jin-ah sambil membenturkan kepala kedua namja itu hingga mereka memiris kesakitan.

“Jika aku melihat kalian bertengkar lagi, ku cekik kalian berdua Arraseo?!” Seru Jin-ah tepat di telinga kedua namja itu. Dan sepertinya telinga kedua namja itu tidak bekerja seperti semestinya sekarang.

“hei pendek, kau tak tahu apa-apa, tak usah ikut-ikutan.”

“kau bilang apa? Yak Kim Jong-in, kau. . ”

“Aku sunbae- mu chagi.”

“Sial!”

“Oppa!!” jerit seseorang dari belakang yang menarik perhatian mereka bertiga.

Seorang gadis dengan gaun putih dan rambut yang tergerai bebas berlari kearah meraka. Gadis itu memakai sepatu flat senada dengan gaunnya dan wajahnya yang terpahat begitu indahnya. Bibir yang berwarna pitch dan pipi yang merona, ditambah dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. Membuat gadis itu terlihat sangat mempesona dan membuat siapapun iri dibuatnya.

Dengan gerakan lambat, Jong-in menarik pinggang Jin-ah agar gadis itu merapat kearahnya, wajah mereka terlihat sangat was-was. Luhanpun berdiri didepan Jong-in dan Jin-ah seolah melindungi mereka berdua.

“sedang apa kau disini? Yeon hee” gadis itu hanya mengerutkan keningnya tapi masih ada senyuman diwajahnya saat mendengar pertanyaan Luhan.

“menemui oppa. Eu? Jin-ah eonnie? Annyeong?” Jin-ah hanya bisa tersenyum pahit sambil mengangguk. Gadis itu terlihat sangat bahagia melebihi siapapun.

“A. . Annyeong Yeon hee~sii”

“oppa Kajja.”

“ kau tak lihat ini sekolah? Pulang.” Ujar Luhan sinis tanpa mau menatap gadis itu sedikitpun.

“OPPA!!!” gadis itu dengan amarahnya menjerit hingga mungkin seluruh penjuru sekolah bisa mendengarnya.

“Hyung. . .”

Mendengar peringatan Jong-in, Luhan hanya bisa menghela nafas sambil menunduk lalu kembali mengangkat kepalanya. Menatap wajah gadis itu yang terlihat sangat kesal dengan tangan yang terkepal sempurna.

“Oppa, harus sekolah. kau tahu bukan? Lalu kenapa kau tak berangkat sekolah. jangan lakuakn lagi, arra? Pulang sekarang, nanti kita jalan-jalan.hm?”

“Jinjja? Hanya berdua kan?” wajah gadis itu seketika berubah seperti mendapatkan lotre. Terlihat sangat bahagia melebih yang tadi.

“Ne. Jin-ah ada kencan dengan ku.” Ujar Jong-in tiba-tiba yang membuat Jin-ah mendelik kaget.

“horee. . “

“ dimana Jung woon? Telphone Jung woon suruh dia menjemputmu. Jangan sampai kau terluka.” Ujar Luhan sambil mengalihkan wajahnya dari gadis itu dan menatap kearah gedung sekolahnya.

“Arraseo! Oppa,” ujar gadis itu sambil menangkup wajah Luhan dan dengan cepat mencium pipi namja itu lalu berlari dengan wajah bahagia.

“Saranghae oppa!!!” seru gadis itu. Luhan hanya bisa tersenyum kaku sedangkan Jong-in mencengkram bahu Jin-ah kuat-kuat.

 Seolah semuanya baru saja terjadi. Gadis itu, Yeon hee, tiba-tiba muncul diantara mereka, saat Jin-ah,  Jong-in ,dan Luhan berada didalam cafe bersama. Gadis itu langsung memecahkan salah satu botol dan langsung melukai leher Jin-ah.

Kening Jong-in berkedut karna melihat luka itu masih ditutupi dibalik kerah baju Jin-ah. Tidak ada yang bisa disalahkan disini, anak itu sudah terlambat dan sangat tak terkendali. Luhan langsung terduduk dan memegangi keningnya yang berdenyut menyakitkan.

“ inilah alasanku membanting Jong-in. Kau, aku tak tahu kenapa harus kau Jin-ah.”

***

Jin-ah bangkit dari kursinya saat melihat Jong-in sudah berdiri didepan pintukelasnya dengan telinga yang tersumpal oleh earphone. Namja menyebalkan yang tak memperdulikan gadis-gadis yang sudah berkerumum diluar kelasnya.

“ cinta sekali ya. . . sampai masuk di koridor anak kelas satu.” Suara itu membuat Jin-ah menghela nafas berat sambil menoleh kearah teman sebangkunya itu.

“kyung~a. . . tak usah menggodaku. “ dengus Jin-ah sambil mengepaki barang-barangnya yang ada dimeja. Sedangkan gadis ber nama Eun-kyung itu, sibuk dengan permen lolipop yang ada di mulutnya dengan wajah datar.

Sebenarnya gadis ini tidak jahat. Hanya wajahnya saja yang mirip penjahat yang tak bersahabat. Namun jika diperhatikan baik-baik, gadis ini sebenarnya sangat cantik. Pembawaan yang terlalu tenang tanpa emosi, tanpa ekspresi yang terkadang  membuat orang salah paham padanya.

“Jinnie, kulihat Luhan pergi bersama seorang gadis yang kemarin muncul. Nugu?”

“dia adiknya.”

“ dia gila.”

“ lebih tepatnya autis.” Desah Jin-ah sambil menggendong tasnya di punggungnya.

“kau ini mau sampai kapan bergosip huh?” seru Jong-in dengan wajah mengantuknya yang selalu dia perlihatkan dimana-mana, bersandar pada pintu kelas. Jin-ah hanya bisa berdecak lidah sambil melangkah kesal kearah namja itu.

“ Innie, jangan makan Jin-ah.” Seru Eun-kyung datar saat Jin-ah sudah berdiri didepan Jong-in dan membuatnya harus berbalik.

“Eun-kyung!” seru Jin-ah kesal.

“ne. . . “

Dengan malas Jong-in menarik tangan Jin-ah dan memasukkan tangan gadis itu kedalam saku blazer. Jin-ah mendelik kearah Jong-in dan berusaha melepaskan diri, tapi tangan pria itu mencengkram kuat tangan Jin-ah.

“ kau mau ikut?” tawar Jong-in pada Eun-kyung dan membuat gadis-gadis di situ bergumam tak karuan.

“kalian saja dulu, aku masih ada perlu”

“ baiklah. Kajja” Jong-in dengan seenaknya menarik Jin-ah keluar dari kelasnya dan berjalan santai dengan posisi tak berubah. Tangan gadis itu berada di genggaman namja itu dan didalam saku namja itu.

“ kenapa kau dingin sekali?” ujar Jin-ah akhirnya saat merasakan suhu tubuh namja itu yang begitu dingin.

“ oleh karna itu tetaplah seperti ini, tubuhmu itu ajaib. Selalu hangat bahkan panas, kau tak pernah kedinginan. Mungkin karna lemakmu.”

“ jangan mulai Jong-in.” Dengan kesal Jin-ah menendang kaki pria itu. Sedangkan Jong-in hanya memiris kesakitan.

“ sepertinya akan makin banyak yang membencimu.”

“biarlah, sekarang aku tak peduli. Toh mereka bakal merasa lelah sendiri.”

“ bagus, kau kembali lagi ke Jinnie ku yang dulu”

“ Jinnie-mu? Cih. . . jangan harap.”

“ mau kemana kita sekarang?”

“ pulang. Mau apa lagi?”

“ Yeon hee mengawasi kita. Jangan buat Luhan Hyung sulit.”

“ dia bersama Luhan kan? Bagaimana dia mengawasi kita?”

“Luhan hyung yang mengatakannya padaku. Kau mau mengantar ku?”

“ eodiga?”

***

“Huaaaa Hyung. . .!!!” seru seorang anak kecil sambil berlari kearah Jong-in dan membuat Jin-ah langsung terperangah kaget. Anak itu langsung berdiri didepan Jong-in sambil mengangkat kedua tangannya. Jong-in hanya tersenyum lalu mengangkat tubuh anak itu di atas bahunya. Anak itu kira-kira berumur 3 tahun. Setelah membuat gadis itu kesal membuntuti namja itu kedalam mini market dan memborong hampir satu troli penuh cokelat dan menyuruhnya membawa cokelat-cokelat itu, sekarang dia dikejutkan dengan hal lain. Namja itu,dekat dengan anak kecil? Dan tersenyum sebanyak itu?

“ kau sehat tidak?” tanya Jong-in setelah memposisikan anak itu dibahunya dengan benar.

“Em! Hyung, kau bawa cokelat?” gaya bicara anak itu masih belepotan khas anak kecil ditambah sepertinya anak itu cadel yang membuat siapapun gemas mendengarnya.

“Ani. . . nunna yang membawanya.” Ujar Jong-in sambi mengendikan bahunya kearah Jin-ah dan membuat anak itu menatap Jin-ah yang berdiri dengan memegang sekantong besar berisi cokelat.

“Nunna. . . kau mau memberiku satu?” ujar anak itu dengan wajah ragu.

“tentu saja. . .” gadis itu dengan riangnya mengambil salah satu cokelat didalam kantong plastik itu.

“Igeo. . .” ujar Jin-ah sambil memberikan salah satu cokelat.

“ Gomawo nunna.” Ujar anak itu dan dengan cepat langsung membuka cokelat itu dan mengigitnya besar-besar. Tak lama setelah mereka berjalan beberapa meter, seorang gadis kecil berlari kearah mereka berdua. Gadis mungil  yang berlari dengan boneka usang yang ia bawa.

“Jojong Oppa. . .” seru gadis itu sambil berlari mendekat dan memeluk kaki namja itu. Lalu melompat-lompat didepan Jong-in dan menarik-narik Blazer Jong-in.

“ Jan geum. Namaku bukan Jojong.” Ujar Jong-in yang masih memasang senyuman langkanya.

“Yak! Bonbon kenapa kau mendapat cokelat!”

“apa masalah mu?!”

“ kau mau?” tawar Jin-ah sambil menyodorkan sebatang cokelat kearah gadis itu yang membuat gadis itu bingung namun langsung terperangah gembira saat melihat cokelat yang di sodorkan. Gadis itu menerima cokelat itu dengan wajah yang sangat bahagia.

“ khamsa hamnida, eonnie.”

“ne cheonmaneyo. .. siapa namamu?”

“Jan geum! Hwang  Jan geum! Eonnie?”

“Jin-ah, Lee Jin-ah imnida. Bangapseumnida Jan geum~sii.”

“Jan geum~a, ajak eonnie ke yang lain.”

“ ne! Kajja!” seru gadis itu sambil menarik Jin-ah dengan semangat dan Jin-ah mengikuti gadis itu sambil menoleh kebelakang dan mendengus kearah Jong-in. Jong-in tahu bahwa gadis itu akan menyuai tempat ini.

“Hyung, igeo nugu? Neo yeojachingu eoh?”

“ hm. . . begitulah.”

“Woo yeppuda. ”

“ begitulah”

Jong-in tersenyum saat melihat gadis itu sudah dikerubungi sejumlah anak yang ribut dengan cokelatnya. Gadis itu terlihat sangat menikmati kegiatannya itu, gadis itu mengangkat salah satu anak kecil yang menangis karna berebut cokelat dengan yang lain. Sepertinya gadis itu berhasil mengatur anak-anak itu untuk berbaris.

“ ternyata kau.” Ujar sebuah suara yang membuat Jong-in berbalik. Seorang biarawati yang sudah cukup tua berdiri hadapannya, Jong-in hanya menundukan kepalanya memberi salam.

“sudah lama tak melihatmu. Kau makin tinggi.” Wanita itu tersenyum keibuan dikiri kanannya ada dua anak kecil yang menggegam tangan wanita itu. Sepertinya mereka berdua saudara kembar, beruntung mereka perempuan dan laki-laki, hingga lebih mudah membedakan mereka berdua.

“ anda sehat?” ujar Jong-in

“yah. . . seperti yang terlihat.”

“anak-anak semakin banyak ya.” Ujar Jong-in sambil mengendikan dagu pada kedua anak yang berada disamping wanita itu. Kedua anak itu masih tetap berdiri sambil menatap barisan anak-anak yang mengantri untuk mendapatkan cokelat.

“kau benar, greja ini sangat penuh sesak dengan anak kecil. Aku sangat menyukainya. Siapa gadis itu? Cantik sekali.” pandangan wanita itu mengarah pada Jin-ah yang sedang membagikan cokelat.dan anak kecil yang masih sesenggukan duduk dipangkuan gadis itu.

“ dia pacar hyung.” Ujar anak yang ada di bahu Jong-in.

“ Joon woo, kau sedang apa? Ayo turun.” Suara wanita itu bahkan selembut beledu.

“Shireo.”

“biarkan saja. Kalian, kenapa tak ikut mengantri? Kalian tak suka cokelat?” tanya Jong-in pada dua anak yang sejak tadi diam.

“  Joon woo ajak mereka ke tempat Nunna.” Perintah Jong-in.

“ Baiklah. . .” degus anak itu, Jong-in mengakat Joon woo turun dan anak itu langsung menarik bocah kembar tadi kearah Jin-ah.

“ berkat kau, Joon woo kembali tersenyum. Anak kembar itu kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan. Tak ada saudara dan pada akhirnya mereka di bawa kesini. Mereka baru datang jadi kurasa mereka masih trauma.”

“ dunia makin mengerikan, aku senang kau ada menjaga mereka.”

“ baiklah bermainlah dengan mereka, aku harus melakukan sesuatu sekarang.” Ujar  wanita itu sambil berlalu pergi dan Jong-in hanya membungkuk memberi salam. Tatapannya sekarang tertuju pada Jin-ah yang berjongkok di depan dua bocah kembar tadi.

Dia tahu bahwa Jin-ah sangat menyukai anak kecil. Sejak dulu samapi sekarang, gadis itu selalu ia. berlari kearah anak kecil yang mengundang perhatiannya. Melihatnya tersenyum bahkan tertawa diantara anak-anak itu membuatnya ikut merasa bahagia. Namja itu melangkahkan kakinya karah Jin-ah yang sedang duduk bersama anak yang tadi menangis, anakitu sepertinya sangat lengket dengan Jin-ah. Dengan nyamannya mengalungkan lengannya di leher Jin-ah dan kepalanya yang bersandar dibahu Jin-ah.

“Kau mau?” Jin-ah menyodorkan sebatang cokelat saat Jong-in sudah berada didepan Jin-ah. Namja itu hanya tersenyum dan memiringkan wajahnya.

“ aku mau seperti Min sung.” Ujar namja itu sambil menaikan alisnya dan langsung mendapat lemparan cokelat dari Jin-ah.

“Mimpi saja kau” dengus Jin-ah.

“ayo makan cokelatnya Min sung~a” ujar Jin-ah sambil mengoyang-goyangkan lengannya karan anak lelaki yang bernama Min sung itu masih memeluk Jin-ah tanpa mau melapaskan diri.

“ Dia hampir tidur.” Ujar Jong-in saat mengintip anak itu. kepalanya sudah terkulai dibahu Jin-ah.

“ anak kecil kalau sudah menangs pasti tidur.” Kekeh Jin-ah sambil mengusap punggung Min-sung dan menatap anak-anak yang berlari kesana kemari dengan cokelat ditangan mereka. Pandangan Jin-ah terhenti pada dua anak kembar yang sejak tadi tidak mau bicara. Keduanya duduk hanya diam dan sama sekali tidak membuka cokelatnya.

“Mereka kehilangan orang tuanya karna kecelakaan. Dan mereka baru saja dibawa kesini.” Terang Jong-in seperti menegtahui apa yang Jin-ah fikirkan. Jin-ah hanya mengagguk memahami situasinya. Tangan gadis itu masih tak berhenti mengusap punggung Min Jun.anak itu spertinya bener-benar sudah tertidur pulas.

“Kenapa kau bisa tahu tempat ini? tempat ini lumayan jauh dari rumah kita kan?”

Gadis itu menoleh kearah Jong-in meminta jawaban. Cukup lama Jong-in terdiam dengan senyum yang masih mengembang diwajahnya dan tatapannya yang masih tertuju pada anak-anak.

“Dulu aku pernah tinggal disini selama  2 minggu.” Ujar namja itu akhirnya sambil menoleh kearah Jin-ah.

“ kenapa kau ada disini?”

“ aku kabur dari rumah waktu itu, dan dirawat disini selama 2 minggu. Setelah itu, nenek dan kakek menemukanku disini. Kakek memarahiku habis-habisan waktu itu dan nenek menasehatiku panjang lebar.”

“dan kau tak mendengarkannya.”

“ semacam itulah.”

“ sifat dasarmu.”

“ bukankah disini sangat nyaman?”

“kau benar. Kenaap kau tak mengajakku dari dulu bodoh!”

“ Luhan hyung pasti juga akan ikut kesini, jujur saja. Aku tak suka dia datang kemarkasku.”

“ Aaaa… karna Luhan lebih tampan dan menawan, eoh?”

“ bukan. Kau, kau pasti akan lengket dengan pria itu dan anak-anak disini seakan kalian keluarga besar yang bahagia.”

“ wah. .. kau berfikir sampai sejauh itu? daebak”

“maka dari itu, cepat putuskan. Kau akan memilih aku atau Luhan, memonopoli kami juga tidak menyenangkan. Apa kau benar-benar mau dua-duanya?”

“kalau aku tak mau dua-duanya?”

“ jangan bercanda,”

“ aku tak akan memilih untuk saat ini. kalian teman, keluarga dan kakakku, mana mungkin aku memilih salah satu dari kalian?”

“suster Jung,” seru Jong-in pada salah satu biarawati yang lewat, wanita itu langsung menolehdanberjalan mendekat.

“ Jong-in kau datang.”

“ Ne. . . bagaimana kabar anda.”

“ sangat baik.” Ujar wanita itu sambilmelirik kearah Jin-ah, gadis itu hanya tersenyum sambil menundukan kepalanya.

“boleh ku bawa Min sung? Anak ini selalu sulit tidur, aku tak menyangka di bisa tidur senyenyak itu.”

“Ah silahkan.”

Dengan perlahan, suster Jung mengakat Min sung yang masih mengalungkan lengannya erat. Anak itu menggeliat saa suster Jung mengakat anak itu.

“Eommaa . . .” gumam Min sung saat sudahberada digendongan suster Jung dan membuat Jin-ah mengerutkan dahinya mendengar gumaman itu.

“mungkin anak ini mengira kau ibunya, sulit bagi Min sung. Sering-seringlah kemari, Min sung pasti senang.”

“ Tentu.”

Suster itu berjalan pergi sambil mengusap punggung Min sung. Jin-ah hanya bisa menghela nafas berat mengingat apa yang terjadi barusan. Anak itu, masih beruntung di bandingkan dengan dirinya. Jin-ah sama sekali tak pernah tahu seperti apa wajah ibunya, yang ia tahu hanya dia, Hyukjae dan ayahnya.

“Kajja.”

“ pulang? Kita baru disini sebentar kan?”

“ ikut aku, apa susahnya.”Jong-in mengelurkan tangannya kearah Jin-ah. Gadis itu hanya bisa mendengus sambil menerima tangan itu dan berdiri disamping namja itu. Tangan Jong-i terasa begitu besar hangat.

“mau kemana?”

“tempat kesukaanku.”

Jin-ah hanya mengangguk tanpa mengajukan pertanyaan lagi. Jalan yang mereka lewati cukup sepi tenang dan menyejukan. Terlihat di kanan kiri jalan setapak deretan pohon bambu yang berjajar membentuk jeruji hutan yang nyaman, tak jarang terdengar suara deratan bambu yang saling bergesekan.

“kencan kali ini tak buruk bukan?”

“Luhan pasti akan marah-marah.”

“aku tak peduli soal dia.”

“ Yeon hee, kita harus bebuat apa pada anak itu? aku sedikit.”

“aku juga tidak tahu. . . Yeon hee bukan orang yang bisa kita lawan. Yang bisa kita lakukan sekarang menuruti semua apa kemauannya.”

“apa yang dia inginkan.”

“mati, dia ingin kau mati.” Terasa tangan jong-in mencengkram tangan Jin-ah erat. Jin-ah pun merasakan itu akan mejadi hal buruk yang mungkin saja merusak semuannya.

“tapi tak akan kubiarkann kau mati. Tenang saja hm?”

“ kau bukan tuhan.” Dengus Jin-ah dan hanya dibals dengan tawa kecil Jong-in. Mereka terus berjalan menaiki bukt hingga berada di ujung tebing yang dikelilingi pepohonan. Namaj itu menghentikan langakanya dan membuat Jin-ah bingung.

“coba kau berjaln kesana” tubjuk Jong-in kearah pepohonan tang ada diujung tebing, matahari kian menenggelamkan diri. Jin-ah berjalan perlahan diikuti Jong-in yang ada di belakangnya.

Gaid itu langsung berdecak kagum saat melihat matahari tenggelam dianatar atap rumah dan danau yang ada dibawah, terlihat dari atap gerja burung-burung beterbangan menglilingi greja.

“Aaa. . . yeopuda. . .” seru Jin-ah.

“ ini tempat yang ingin kutunjukan padamu. Tempat yang aku temukan dulu, aku berjanji pada diriku untuk membawa orang yang kucintai datang kesini. Keren bukan?” ujar namja itu yang membuat Jin-ah berbalik dengan wajah bingung. Entah papa yang harus di fikirkan sekarang. Namja itu benar-benar. . .

Tiba-tiba Jong-in menarik Jin-ah dan mengecup bibir Jin-ah dan membuat gadis itu kaget. Ini yang pertama baginya dan temannya sendiri yang mengambilnya. Jong-in melepaskan bibir gadis itu namun dahinya masih menempel didahi Jin-ah seakan meminta izin pada gadis itu. namun Jin-ah sama sekali tak mengatakan apapun hingga Jong-in menarik tengkuk gadis itu dan melumat bibir gadis itu.

****


“jaga kesehatanmu suster Jang.” Ujar Jong-in sambil menurunkan Joon woo yang ada dipunggungnya. Anak itu memaksa untuk ikut mengantarnya.

“Aku tahu, kau juga jaga dirimu.”

“Eonnie, datanglah sering-sering” ujar Jan geum sambil molompat-lompat didepan Jin-ah

“Aku mau es cream!” seru Joon woo yang

“Arraseo. . . jalja Min sung~a.”Jin-ah mencium pipi Min-sung ayang ada digendongan Suster Jang dan membuat pipi anak itu bersemu merah.

 “ popo.” Ujar Jong-in dan dengan mudahnya namja  itu mendapat ciuman dari Jan geum dan membuat Jin-ah tanpa sadar memegangi bibirnya lalu menggeleng menghilangkan bayang itu dari kepalanya. Dan hanya membuat suster Jang hanya tersenyum melihatnya

“Annyeong eonnie!!” seru Jan geum saat Jin-ah naik kedalam bus diikuti Jong-in yang ada dbelakangnya

“Saranghae nunna!”

“oppa! Saranghae!”

Mereka berteriak entah apa dengan tangan yang masih melambai saat bus mulai bergerak maju. Anak-anak itu terlihat bahagia. Duduk disamping jendela dan melambaikan tangannya kearah Joon woo, Jan geum dan Min sung. Bus itu bergerak sedikit cepat sehingga dengan cepat pula anak-anak itu tak terlihat dari pandangan. Entah kenapa Jin-ah merasa berat meninggalkan Min sung yang tadi terlihat hampir menangis.

“ liburan kita bisa kesini bukan? Tak perlu menangis. . .” ujarJong-in sambil menyandarkan kepalanya dibahu Jin-ah.

“ siapa yang menangis?! Aku tak menangis. Aku hanya khawatir pada Min sung.” Dengus Jin-ah.

“hm. . “ gumam namja itu sambil meletakan kepalanya dipangkuan Jin-ah.

“Yak berat!”

“ngantuk.” Gumam namja itu.

“lalu? Kau fikir aku ini bantal?” dengus Jin-ah, namun tak ada jawaban. Namja itu benar-benar sudah tertidur.Raja tidur. Jin-ah hanya diam membiarkannya, dia hanya memilih memandangi pemandangan yang disuguhkan.

Kencan? Jadi inilah kencan yangJong-in inginkan? Tanpa sadar Jin-ah sudah diolak alik oleh sebuah kenyataan. Bahwa dia harus memilih sekarang, antara Jong-in atau Luhan. Walaupun sebenarnya dia tak ingin hal ini terjadi, namun dia benar-benar harus melakukannya. Yang dia inginkan tetap seperti ini, berteman dan menjalani hidup seperti biasa.

“sekarang apa yang harus kulakukan? Aku tak bisa melakukannya, bahkan untuk memilih kalian berdua. Aku tahu aku tak boleh egois tapi, apa yang harus kulakukan? Dan apa yang aku lakukan tadi dengan Jong-in. . .”

****

Jin-ah mendengus saat melihat Jong-in sudah berada didepan kampusnya. Entah mengapa dia sedang tak ingin melihat namja itu. terlebih setelah kejadian dimana dia menangis didepan namja itu. Padahal sebelumnya dia tak pernah melakukan hal itu. Dan mimpinya tadi malam yang membuatnya sedikit malu bahkan syok. Membuatnya benar-benar ingin menghilang dari tempat ini sekarang juga.

Namja itu berdiri tegak saat melihat dirinya melihat Jin-ah yang berjalan enggan kearahnya. Sedangkan gadis itu mengacuhkannya dan membuatnya hanya bisa menghela nafas.

“Hyuk Jae hyung pulang hari ini, kau mau menjemputnya?” tanya Jong-in dan gadis itu hanya menghela nafas dan mengangkat wajahnya.

“kita pernah kepanti asuhan? Lalu gedung sekolah itu, ada dimana? Min sung?”

Jong-in terlihat kaget atanya membelakak tak percaya melihat Jin-ah bisa mengingat anak itu. namja itu hanya tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di pintu mobil. Gadis itu tetap menaap dengan tatapan tajam yang menuntut.

“aku tak bisa kesana, jika itu mau mu. Tapi mungkin aku bisa mengatarmu kesekolah kita dulu.”

“Wae?”

“hm?” gadis itu sedang berusaha mengorek masa lalunya dariku pikir Jong-in. Sangat jelas dari cara bicaranya.

“kenapa kau tak bisa”

“karna memang aku tak diizinkan untuk itu. Min sung ku jamin, dia baik-baik saja.”

“ apa sekarang kau perlu izin?”

“jangan memaksaku.” Jong-in hnya menghela dan tetap memeperhatikan gadis didepannya itu. gadis itu benar-benar labil saat ini.

“ ceritakan semuanya.”

“tidak bisa.”

“WAEYO!” Seru Jin-ah yang membuat semua orang yang berlalu lalang terhenti dan memperhatikan mereka berdua. Sudah samapi puncak nya, gadis itu sudah tak bisa menahan emosinya lebih lama lagi.

“karna semuanya akan berubah jika aku melakukannya.”

“ jangan membuatku gila dengan semua ini cepat jelaskan! Berubah seperti apa maksudmu hah?!”

“kau yang harus mengingatnya. jika memang kau tak bisa mengingatnya, itu takdirmu. Takdir kita. Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Rasa sakit yang tak bisa menyelamatkanmu sedikitpun itulah yang membuatku seperti ini, dan kurasa kau juga perlu berjuang untuk dirimu sendiri, aku tak punya kuasa sepenuh itu. karna aku, aku bukan tuhan.”

“apa hubungannya ini dengan tuhan!” jerit Jin-ah yang akhirnya hilang kendali. Mata gadis itu mulai berkaca-kaca dan suara serak yang mendominasi dari mulutnya.

“memori itu abadi Ah~ya. . . dia akan kembali jika kau meyikini dia akan kembali. Dan jangan membuatku mengumpat pada tuhan, karna dia sudah sangat berbaik hati membuatku bertemu denganmu. Lagi. “

-TBC-

One thought on “Timeless – memories Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s