Mianhae (part 4)

mianhae 4

Jin-ah berlari sekuat tenaga menekan asam lambung yang berontak ingin keluar dari mulutnya. Mual yang mengerikan, dia bahkan tak berani berdiri terlalu jauh dari toilet. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik ke toilet untuk muntah. Ada yang aneh dengannya akhir-akhir ini, apa karna ini efek obat yang dia minum? Entahlah, yang jelas ini sangat menyiksa.

Tiba-tiba seseorang menyodorkan sebotol air mineral didepan wajahnya, dan membuat Jin-ah mendongak dan mendapati Myun-ah dan Eun-ji yang berdiri didepan pintu toilet.

“Minumlah. . “ ujar Myun-ah.

“ Gomawo.”

“kau sakit? Perlu kupanggilkan Jong-in?” Tawar Eun-ji. Terlihat kerutan didahinya tanda dia sedang sangat khawatir.

“ANDWAE!!!” jerit Jin-ah sambil berbalik menatap kerah kedua temannya itu.

“ Andwae . . . nae Gwaenchana, arra?”

“akhir-akhir ini kau aneh. Aku sudah lama penasaran, apa karna kau menikah, lalu kau bosan berangkat kuliah?”

“Eonnie. . .”

“yak! Mungkinkah Jin-ah hamil?” seru Myun-ah sambil menepuk bahu Eun-ji dengan semangat.

“siapa yang hamil?” tanya Yesung yang tiba-tiba muncul dengan jubah putih yang ada dilengannya. Namja itu sudah mendapat gelar kedokteran tiga tahun lalu dan sekarang, dia mengajar sebagai dosen.

“Jin-ah.” Awab Eun-ji menjawab pertanyaan Yesung.

“ANIYA!” Jerit Jin-ah saat mulut Eun-ji itu mengeluarkan kata aneh itu.

“ Aku hanya masuk angin. Lagipula ini toilet perempuan bukan?”  lanjut Jin-ah dengan mengrucutkan bibirnya.

“Kalau kau sakit, lebih baik kau pulang Jin-ah. Kai menunggumu didepan, kau sudah tak ada kelas bukan? Dia terlihat sedang kesal.”

“aish. . . namja tengik itu benar-benar menyebalkan. Sudah kubilang aku pulang sendiri hari ini.”

“dia suamimu.” Timpal Eun-ji.

“Yeppa! Ku dengar kau akan menikah dengan Eun-ji? Itu gosip atau memang benar?” tanya Myun-ah antusias.

“memangnya aku akan menikah dengan siapa lagi?” senyum langsung tergambar jelas diwajah Yesung, dengan menarik Eun-ji berdiri disisinya dan mambuat wjah Eun-ji seketika menjadi merah seperti kepiting rebus.

“oh. . .”

“hanya itu tanggapanmu? YAK!” seru Eun-ji tak terima.

“Ugh. . “

Tanpa memperdulikan ketiga orang itu, Jin-ah langsung masuk kedalam toilet. Terdengar suara Jin-ah yang sedang muntah.

“ kalau dia keras kepala dia bisa kehilangan cairan.” Ujar Yesung prihatin.

“Biarkan saja dulu, aku harap di benar-benar hamil.” Kekeh Myun-ah.

“setengah tahun itu cepat sekali, tapi dimataku dia masih anak kecil. Sebenarnya ada yang ganjil dengan pernikahan mereka berdua.” Lanjut Eun-ji

“kau ini tidak suka kalau Jin-ah menikah ya?”

“bukan begitu, dia baru 20 tahun Eonnie. Itu sedikit aneh” ujar Eun-ji seperti membayangkan kemungkinan yang terjadi.

“bilang saja kau iri karna tak bisa menikah lebih dulu dari ku! Dasar Ahjumma, Aku pulang dulu.” Ujar Jin-ah yang tiba-tiba muncul dengan memberikan tisue bekas ingusnya pada Myun-ah dan dengan serampangan menjadikan baju Myun-ah sebagai lap tangan dan wajahnya.

“YAK! KAU FIKIR AKU TONG SAMPAH HAH?! LEE JIN-AH!!” seru Myun-ah detik berikutnya saat Jin-ah sudah lari menjauh dari jangkauannya.

*****

Jong-in menggeliat saat merasakan sinar matahari yang menyorot melalui celah tirai yang masih tertutup. Mengusap kedua matanya, dan menerjapnya beberapa kali. Sedikit terseyum saat mendapati Jin-ah yang masih tertidur disampingnya, nafas teratur gadis itu, wajah polos seperti boneka yang entah karna kebaikan tuhan yang berlebihan untuk gadis ini atau karna apa, dan suhu tubuh gadis itu yang hangat sangat nyaman terasa saat bersentuhan dengan kulitnya, menimbulkan sensasi menyenangkan.

Ini kali pertama dalam kurun waktu setengah tahun sejak pernikahan mereka, Jong-in bangun lebih dulu. Biasanya gadis ini yang bangun lebih dulu, merangkak mengambil ponselnya, mendengus, dan langsung kekamar mandi. Setelah keluar, baru dia akan menyuruh Jong-in bangun atau setelah itu, Jong-in yang akan mendapati Jin-ah menggigil dikamar mandi karna kakinya yang tak bisa bergerak dan yang paling sering gadis itu terjatuh dan menimbulkan luka ditubuhnya.

Yah. . . setengah tahun merupakan waktu yang cukup panjang, dan banyak yang sudah terjadi. Dan itu sulit, sangat sulit untuk mereka berdua. Itu sudah dia duga dan persiapkan sejak awal, bahwa apapun yang terjadi dia tetap ada disamping gadis ini. Gadis ini, terlihat saja wajahnya yang tegar, tapi didalamnya, dia sangat rapuh. Terkadang Jong-in mengutuk dirinya sendiri melihat Jin-ah menangis sendiri dibelakangnya. Gadis itu sudah sangat sering melakukannya dan dia hanya bisa diam melihatnya.

Sedikit merasa enggan membangunkan istrinya ini dan memilih diam dan mengeratkan lengannya di pinggang gadis itu.

“kau sudah bangun?” tanya Jin-ah terdengar serak sambil mendongak menatap Jong-in dengan masih setengah sadar. Namja itu hanya tersenyum sambil mengendikan bahu.

“ kau kira aku tak bisa bangun pagi ya?”

“hm. . . karna memang itu yang aku lihat setengah tahun ini.” Gumam Jin-ah.

“ada yang aneh tidak?”

“Apanya? Tubuhku? Ani, hari ini kau yang aneh.” Gumam Jin-ah yang masih memejamkan matanya.

“coba gerakan tanganmu.”

“Innie, jangan membuatkku seperti orang lumpuh. Aku belum lumpuh. . .” Ujar Jin-ah sambil melingkarkan lengannya kepinggang Jong-in.

“Belum, dan lebih baik tidak terjadi.” Ujar Jong-in terdengar kaku, sekilat perasaan takut menyerbu tubuhnya.

“ Itu memang takdirku, aku akan lumpuh” gumam Jin-ah.

“Kau mau membuatku kesal pagi-pagi?”

“kau yang mulai” dengus Jin-ah sambil menendang kaki Jong-in dan bangkit dari kasur dengan sedikit sempoyongan yang membuat Jong-in menahan nafas, karna biasanya Jin-ah akan jatuh tersungkur. Tapi sepertinya hari ini tidak, dia meneguk air minum yang ada diatas meja, membuka ponselnya beberapa saat, lalu berjalan dan membuka tirai yang menutupi jendela. Bahkan matahari belum benar-benar menampakan batang hidungnya secara sempurna.

“hari ini kita mau kemana?” tanya Jong-in yang masih memilih berbaring di kasur.

“Kita? Aku kuliah Kkamjong, aku tak ada waktu untuk pergi denganmu hari ini.”

“ah parah, otakmu itu benar-benar. . .” kekeh Jong-in

“Wae?!”

“hari libur kau mau kekampus? Rajin sekali istriku ini. . .”

“ Hari libur? Ini hari rabu.” Ujar Jin-ah sambil mengerutkan dahinya.

“dan tanggal merah.”

“Jinjja?”

“kesini. .” ujar Jong-in sambil menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong.

“mwoya. . . aku mau mandi, kalau nanti aku bisa-bisa malas mandi” dengus Jin-ah sambil berjalan mendekat lalu duduk dipinggir ranjang.

“Tidurlah… kau lelah”

“itu mau mu”ujar Jin-ah sambil mendorong kepala Jong-in.

“ menghabiskan waktu dirumah juga bukan hal buruk.”

“ Sangat buruk jika itu menyakut dengan bersamamu seharian penuh. Jujur aku terlalu syok mengetahui kau itu benar-benar. . .”

“Apa?”tanya Jong-in menunjukan seringai jahilnya yang menyebalkan

“Tak usah menggodaku! Kau tahu, aku berfikir kau menipuku.”

“ Mwo? Baiklah kita coba saja aku menipu atau tidak.” Ujar Jong-in sambil menarik Jin-ah hingga terbaring diatas ranjang dan menindihnya.

Baru akan melancarkan aksinya, Jin-ah langsung mengatupkan mulutnya dengan tangannya, dan mendorong Jong-in menjauh. Gadis itu berlari kearah kamar mandi dengan terburu-buru. Jong-in bangkit saat mendengar suara Jin-ah yang muntah-muntah, dan langsung berlari kearah kamar mandi dan menemukan Jin-ah terduduk lemas sambil menghadap kearah kloset.

“Gwaenchana? Apa yang sakit?” ujar Jong-in panik sambil menangkup wajah Jin-ah yang pucat, mengusap keringat yang membasahi kening gadis itu.

“obat itu, membuatku mual.” Ujar Jin-ah susah payah

“Obat? Tapi kemarin kau baik-baik saja, jangan bilang kau. .”

“aku tak meminum obatnya. Itu menyiksa sekali ugh . . uwegh.” Potong Jin-ah yang sama sekali terlihat tak bertenaga dan kemudian kembali muntah

Jong-in sedikit panik karna Jin-ah kembali muntah. Makanan yang tadi malam dia makan, ia muntahkan semuanya. Padahal harusnya sudah tercerna dengan baik.

“ Mi. . . minum Jong-in. Uwegh ”

“tunggu sebentar.” Ujar Jong-in sambil berlari keluar mengambil sebotol air putih yang memang di sediakan di kamar. Dia kembali dan memberikan air minum itu ke Jin-ah.

“pelan-pelan. . .” ujar Jong-in sambil mengusap punggun gadis itu.

“kita kerumah sakit sekarang.”

“Shireo. . . suruh dokter Jang mengganti obatnya.”

“BERHENTI KERAS KEPALA!” seru Jong-in kehilangan kesabaran.

“ aku tak papa, Uweg. . uhug”

“ APANYA YANG TAK PAPA?” seru Jong-in yang membuat Jin-ah tersentah kaget. Jong-in yang menyadari apa yang baru ia lakukan hanya bisa menghela nafas berat.

“Berhentilah keras kepala, kau mau membunuhku?” ujar Jong-in frustasi, entah cara apa lagi yag harus dia lakukan agar istrinya ini menuruti kata-katanya.

Jin-ah mengeluarkan wajahnya dari dalam closet dengan nafas terengah-engah. Menundukan kepalanya sambil menekan dadanya yang terasa sesak. Sedangkan Jong-in hanya menghela nafas berat lalu mengulurkan tangannya dan menangkup wajah gadis itu, diam tak bersuara sama sekali sambil mengusap keringat yang membanjiri kening Jin-ah dan merapih kan rambut gadis itu.

Jin-ah sendiri tak berani membukasuara karna tahu Jong-in sedang menekan kemarahannya dan kekhawatirannya ketitik yang serendah mungkin yang ia bisa. Tatapan namja itu hanya terfokus di satu titik, wajahnya. Terlihat sangat menderita dan frustasi. Sebenarnya yang Jin-ah takutkan bukan bagaimana kemoterapi yang membuatnya menjerit kesakitan ataupun obat-obatan yang seperti makanan yang harus dihabiskan tepat waktu, tapi namja didepannya inilah yang membuatnya bersikeras tak mau kembali keempat yang berbau obat-obatan itu.

Melihatnya mengerutkan kening disaat dia melakukan kemoterapi, menekan kepalanya saat mengdengar penjelasan tentang keadaannya, memilih tidak tidur semalaman karna dia sendiri terlalu cemas dengan keadaan Jin-ah, dan yang paling tidak bisa Jin-ah terima, namja itu yang terlihat sangat lemah dan frustasi tidak seperti  Jong-in yang ia kenal selama ini. Sejak awal ini salah, namun sifat egoisnya dan Jong-in yang tak bisa di bantah yang membuat semuanya terasa sulit. Karna dia memilih bersamanya bukan untuk membuat namja didepannya merasakan kesedihan dan ketakutan sepanjang waktu.

“ Kau mau disini seharian? Aku lapar. . .” ujar Jin-ah sambil berusaha bangkit namun sialnya, kakinya terasa kaku, tak mau bergerak sama sekali. Inilah yang paling dia benci, takbisa melakukan semuanya sendiri didepan Jong-in dan membuat namja itu ketakutan.

Namja itu kembali menghela nafas berat mengangkat gadis itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan Jin-ah mengalungkan lengannya dileher Jong-in dan menyusupkan wajahnya di bahu namja itu.

“ kau marah? Baiklah besok kita kerumah sakit. Sekarang aku lapar” gumam Jin-ah.

“ kenapa harus besok?”

“ aku mau jalan-jalan . . . apa kau lebih suka rumah sakit hah?” ujar Jin-ah sambil menatap Jong-in. Tapi namja itu sama sekali tak menatapnya dan membuat Jin-ah kesal.

“ Jika itu yang membuat hidupmu terselamatkan, aku akan memilih berada di rumah sakit walaupun seumur hidupku.”

“Kalau begitu, jalan-jalan akan membuat hidupku lebih panjang aku janji, oke?”

“aku lebih suka kau kerumah sakit sekarang.”

“Kim Jong-in.”

“ Nyonya Kim Jin-ah, turuti saja perintah. ” balik Jong-in sambil mendudukan tubuh Jin-ah diatas kasur.

“ Aku tahu kau khawatir, tapi kau berlebihan Kkamjong. Aku mau jalan-jalan, makan, hujan-hujanan kalau nanti hujan. Apa itu sulit hah!”

Namja itu hanya terdiam terdiam tanpa mengatakan apapun, membeku menghadap kearah lemari seperti memikirkan sesuatu. Membuang ketakutannya sedikit dan berusaha mempercayai bahwa Jin-ah akan baik-baik saja.

“lalu apa yang akan kau berikan padaku kali ini?”

“ aku sudah janji kan, aku akan kerumah sakit besok.” Dengus Jin-ah kesal. sedangkan Jong-in sedang berkutat dengan sesuatu di lemari pakaian.

“ itubukan balasan, tapi keharusan.”

“Lalu apa?!”

“Kau tau tugas istri bukan?” ujar Jong-in sambil berbalik menatap Jin-ah dengan tubuh yang bersandar dipintu lemari dengan tangan terlipat didepan dada ditambah senyum miringnya yang menujukan aksen nakal.

Jujur saja Jin-ah merasa tertipu dengan sifat namja didepannya selama ini. Entah bagaimana otaknya berkembang mengerikan itu jika menyangkut dirinya. Dimana Kim Jong-in yang tadi? Mudah sekali moodnya berubah.

“ Kau tak gila kan? Ini masih pagi Jong-in.” Ujar Jin-ah was-was

“lalu kenapa kalau pagi? Pasangan lain juga melakukannya bukan?”

“kau melihat dimana bodoh!” umpat Jin-ah.

“ Hyukjae hyung yang mengatakannya pada ku.”

“dan kau menelannya mentah-mentah? Yang benar saja!” sungut Jin-ah kesal.

Jantungnya berdetak gila-gilaan saat Jong-in mulai berjalan mendekat. 6 bulan makin memperparah semuanya. Jantungnya makin tak terkendali tiap kali bersentuhan dengan Jong-in ataupun seperti ini, menggodanya dan menjahilinya habis-habisan

“apa salahnya? Toh itu tidak ada ruginya.”

“Itu merugikan ku ! sialan!” umpat Jin-ah saat Jong-in dengan sengaja berjongkok didepannya dan membuatnya harus membuang muka.

“Hidungmu merah”

“Mwo?” ujar Jin-ah sambil berbalik menatap Jong-in dan didetik berikutnya gerakan lembut dibibirnya dan seperti ada ribuan sayap yang menggelitik punggungnya. Yang terlihat hanya seringai dan suara kekehan Jong-in.

“Morning kiss,  tidak  terlalu buruk.”

*****

Jong-in hanya menelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat Jin-ah. Gadis itu dengan mengerikan memesan sandwitch, Cappuchino, dan 3 porsiRamyeon  secara berturut. Dan sepertinya, masih belum cukup, dia mulai mengoceh tentang makanan lain yang tidak ada di kedai langganannya itu.

Sebenarnya kemampuan gadis itu masak tak perlu diragukan, toh dia juga selalu makan bersama wanita yang sekarang telah menjadi istrinya ini dulu. Hanya saja, Jong-in melarangnya setelah insiden yang hampir merenggut nyawa gadis itu sendiri. Tangannya kelu tak bergerak sedangkan api sudah menjalar masuk kedalam wajan dan terus menjalar kesegala tempat.

Tidak, hal itu terlalu berbahaya untuk Jin-ah. Walaupun Jin-ah tetap protes, namun gadis itu tak bisa berbuat apapun yang menghentikan rasa kekhawatiran suaminya itu.

“Apa selama ini kau tak makan hah? Kau seperti tak makan bertahun-tahun.” Ujar Jong-in yang akhirnya membuka suara.

Wajah Jin-ah terlihat bingung karna dia sendiri baru menyadari Jong-in sudah menatapnya lekat padahal sebelumnya, namja itu sibuk dengan ponselnya yang membuat gadis itu kesal dan berkutan dengan komik online-nya

“ entahlah aku sendiri bingung, mungkin karna aku selalu muntah.” Ujar Jin-ah sekenanya.

“ Selalu?” kening Jong-in berkerut saat mendengar kata yang langsung membuatnya ketakutan setengah mati, seperti terjun langsung kedalam lubang hitam.

“Yak, yak, yak . . . aku bilang aku tak cocok dengan obatnya, oke jangan memperpanjang masalah sepele.” Dengus Jin-ah.

“ bagaimana itu kau sebut masalah sepele, itu menyangkut. . .”

“ Jong-in, kau mau mulai lagi?!” potong Jin-ah.

Wajah yang tadinya mengeras sekarang mulai melunak. Namja itu seperti kebiasaannya, mengusap matanya lalu menghela nafas berat.

“Baiklah. . .”

Tiba-tiba ponsel Jin-ah berdering nyaring, memenuhi seluruh penjuru ruangan. Gadis itu mendengus kesal saat melihat nama yang terpampang di Ponselnya.

“Mwoya. . . “ ujar Jin-ah dengan mulut penuh. Dan membuat Jong-in langsung merebut sisa sandwicth yang ada ditangan gadis itu, karna mulut gadis itu sudah bersiap menelan bulat-bulat.

Ayo jalan-jalan, kau dimana? Aku sudah menekan bel rumahmu 5 kali, jangan bilang kau masih tidur dengan Jong-in.”Ujar Hyun-mi

“ memangnya apa urusanmu?! “ ujar Jin-ah sewot.

sudahlah, cepat keluar. . .”

“ aku memang diluar, sedang sarapan kedai depan apartement”

Sialan.! Tunggu, aku segera kesana.”

ne. . “ ujar Jin-ah malas lalu menutup ponselnya.

“Nugu?”

“ Hyun-mi, dia mengajakku jalan-jalan, tapi sepertinya aku harus gigit jari, kau kan pelit!” dengus Jin-ah sambil melanjutkan kegiatan memakan ramyeon terakhir.

“Jin-ah!” seru seseorang dari belakang. Dan ternyata Eun-ji dan Yesung  yang lengket satu sama lain.

“Wah wah wah. . . kalian ini ceritanya sedang bermesraan didepan publik?” gumam Jin-ah dengan mulut penuh.

“ memang apa salahnya! Annyeong Jong-in.” Sapa Eun-ji.

“ ada apa kau disini? Tumben sekali.” Tanya Jin-ah.

“ Hyun yang menyuruhku kesini barusan. Rencananya aku mau kerumahmu.”

“ Kunjungan dihari liburkah?” tanya Jin-ah sambil memasukan satu gulungan mie besar  kemulutnya.

“ igeo”

Eun-ji menyerahkan sebuah undangan dengan aksen cokelat dan pita emas setelah mengaduk-aduk isi tasnya.

“ undangan?” ujar Jin-ah sambil membolak-balik undangan yang ada ditangannya.

Membuka pita yang membungkus itu dan mendengus saat melihat foto Eun-ji dan Yesung yang langsung terpampang di lembar pertama. Undangan itu seperti album foto menurut Jin-ah, sangat narsis, terlebih keduanya sangat menyukai kamera. Jadi tidak heran jika undangnya akan seperti ini jadinya.

“kami akan menikah, kalian berdua harus datang arra?” ujar Yesung.

“ hm, Chukkahae hyung . .” ujar Jong-in dengan memasang  senyumannya sambil meraih cangkir kopi dan mengesap isinya.

“Kita jalan-jalan hari ini ya, sudah lama sekali kita tidak pergi jalan-jalan bersama. Terlebih sejak kalian berdua menikah.” Ujar Eun-ji.

“ kau sakit? “ tanya Yesung yang terarah pada Jin-ah yang membuat Jin-ah kelimpungan.

“ Ani! Nae gwaenchana. . .”

“ baik apanya?”

Wajah Jong-in kembali mengeras, bahkan Yesung saja tahu Jin-ah tidak sehat, tapi gadis itu masih saja keras kepala dan membuatnya ingin menyeret paksa gadis itu segera kerumah sakit dan meborgolnya disana.

“ Kudengar bacon juga ikut, kau tau? Eun-kyung. . . dia sedang mengincar gadis itu.”

“Jinjja?! Bacon ku?”

“ Siapa yang kau sebut baconmu?”

“Jin-ah~sii!”

Suara berat itu, membuyarkan ketegangan antara Jin-ah dan Jong-in, sebenarnya Yesung dan Eun-ji juga ikut tegang karna wajah mereka menyiratkan aura mengerikan dan setiap kata yang keluar dari mulut mereka seperti sebuah peluru yang bisa menimbulkan pertengakaran.

“Park chan yeol~sii! Waaa lama tak bertemu.”

“ Kau makin cantik Jin-ah.” Namja itu sepeeti anak berumur 5 tahun yang mendapat Es Cream melompat-lompat dengan tangan yang masih di genggam ibunya,

“ kuharap itu hinaan.”

Gadis itu mendengus saat mendengar kalimat itu meluncur dari mulut Chanyeol, jelas karna Jin-ah tidak pernah menyebut dirinya cantik. Gadis itu tersenyum saat seorang pelayan berjalan mendekat kerah meja mereka dengan nampan yang berisi mangkuk yang mengepul.

“Ramyeon anda nona.”

“Khamsa hamnida. . .”

“Aigoo aigoo aigoo. . .Yak Lee Jin-ah! Apa perutmu itu perut karet hah?! Kau baru saja menghabis kan ramyeon !”

“ 3 ramyeon lebih tepatnya” ujar gadis itu puas dan sukses membuat semuaorang di situ syokdan bingung harus berkata apa, kecuali Kai, dia berfikir itu bukan masalah asalkan gadis itu baik-baik saja.

“ Kau mau?” tawar Jin-ah pada Jong-in dan namja itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar setelah Jin-ah cukup yakin ramyeon yang ada di garpunya cukup dingin.

“kalian sarapanlah dulu, lagi pula ini setengah 7”

“romantis sekali, dasar menyebalkan.” Dengus Hyun-mi sambil berjalan menyeret Chanyeol duduk.

“ sudah kubilang jangan kebanyakan makan Mie, kau ini setiap hari hanya mie saja yang kau makan.”

“ Arraseo arraseo. . .”

“  Ahjumma!” seru Jin-ah saat melihat seorang wanita paruh baya memasuki kedai dengan barang bawaan ditanganya.

Wanita itu berjalan dengan terburu-buru saat meihat Jin-ah melambaikan tangannya.

“Astaga Jin-ah kau sudah disini? Apa ahjumma terlambat mengantarkan makanan?”  ujar Moonhwa ahjumma sambil mengelus rambut Jin-ah.

Jin-ah menyukai cara wanita ini menyentuh kepalanya, lembut dan hangat. Moon hwa ahjumma sudah Jin-ah anggap sebagai ibunya sendiri begitu sebaiknya, Moon hwa juga menganggap Jin-ah sebagai putrinya. Gadis ini yang menyodorkan dirinya untuk dipukuli oleh tangannya sendiri saat anak perempuannya meninggal karna kecelakaan tragis bus sekolahnya. Jin-ah lah yang selamat karna dia tidak ikut acara study tour.

Jin-ah melarang Moon hwa memukuli Ha Jeon yang sudah terbujur kaku. Dan pada akhirnya, Moon hwa sadar semuanya memang sudah takdir. Entah mengapa, dia merasa Jin-ah menyelamatkannya. Bahkan dia sampai harus memindahkan kedainya agar bisa berada didekat Jin-ah.

“Aniya. . . apa aku tak boleh mampir ditoko?” gumam Jin-ah dengan mulut penuh. Dan pada akhirnya dia bisa menelannya dengan susah payah.

“bukan itu maksudku. . .”

“ Ahjumma, bisa minta tolong bikinkan kibab? Kami semua mau piknik?”

“Astaga. . . tentu saja, apa yang tak akan ku lakukan untukmu. “

Wanita itu dengan semangat tanpa beban menepuk tangannya. Seperti orang yang baru saja mendapatkan hadiah saat Jin-ah meminta sesuatu darinya. Ini jarang dilakukan Jin-ah

“Ahjumma, jaga kesahatanmu.” Ujar Jong-in yang akhirnya angkat bicara.

Jong-in tahu kalau Moon hwa ahjumma menyayangi Jin-ah, tapi dia selalu saja tidak pernah memikirkan kondisinya sendiri.  Sepertinya Moon hwa ahjumma merasakan kejanggalan pada Jin-ah yang membuatnya selalu khawatir pada Jin-ah. Naluri ibu.

“kau Kim Jong-in! Aku sedang tidak bicara denganmu.” Bentak Moon hwa ahjumma walaupun detik berikutnya dia tersenyum sambil menepuk bahu Jong-in dan meremasnya lalu berjalan meniggalkan mereka.

“astaga. . . dasar ahjumma.”

Jong-in hanya bisa menggeleng heran, kadang wanita itu susah ditebak sama sekali. Tubuh Jong-in tersentak kebelakang saat sebuah garpu yang penuh dengan mie disodorkan kewajahnya. Dan membuatnya bingung.

“kenapa kau jejalkan terus padaku?” dengus Jong-in walaupun begitu, dia tetap membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima yang Jin-ah sodorkan padanya.

“ siapa suruh kau tak makan?” dengus Jin-ah tak kalah sengit.

“kau tak lihat aku makan sandwitch?”

“hanya satu potong.”

“ itu cukup untuk sarapan. . .”

“ tidak jika itu menurutku.”

Kata-kata telak dan langsung membuat Jong-in diam, tidak ada cara lain selain cara memalukan ini. Jin-ah tak mau melihat Jong-in jatuh sakit karna tidak makan. Merasa kesala karna dia hanya bisa merepotkan suaminya dan tak pernah mengurusnya sama sekali.

Ada hal yang tidak ingin ia lihat dari namja didepannya ini. Dia sakit, menderita, dan sangat terlihat lemah. Bukan seperti Kim Jong-in yang ia kenal selama ini. Dia terlalu menyiksa dirinya sendiri dan Jin-ah tak ingin menambah kekhawatirannya tentang keadaannya.

“ Kalian berdua berhenti berdebat! Dasar berisik!” seru hyun-mi sambil melayangkan sendoknya dan bersiap memukul kepala Jin-ah walaupun akhirnya dia mengurungkan niatnya.

“ Kau cerewet Lee Hyun-mi!”

“ ngomong-ngomong kita mau kemana? “ lanjut Jin-ah

“ kita ke busan, bukankah musim semi lebih menyenangkan bermain di pantai?”

“ aku tak membawa baju ganti! Dasar Hyun-mi sialan!”

Seru Jin-ah sambil melayangkan sendok yang ada ditangannya ke kepala Hyun-mi dan membuat gadis itu menyesal setengah mati tidak memukulnya tadi.

“Kau kan tinggal melangkah masuk keapartementmu! Rumahmu bukan di jeju hingga kau mengumpat kearahku dan memukulku sialan!”

“ sekarang kalian yang ribut, lebih baik kau pulang siap-siap Jin-ah. . .” ujar Eun-ji yag akhirnya buka mulut.

Jin-ah dan Hyun-mi hanya saling mencibir dan saling membelakangi satu sama lain. Terkadang mereka masih bertingkah seperti anak kecil. Dan membuat yang makin membuat Eun-ji heran, ia akan terbawa dalam sifat kekanakan mereka berdua.

“  ayo pulang.” Ujar Jong-in sambil memegangi lengan atas Jin-ah. Ketakutannya adalah Jin-ah jatuh tersungkur dan semua orang panik. Dan benar saja, Jin-ah limbung seakan dia kan jatuh dan dengan cepat tangan Jong-in melingkar di pinggang Jin-ah dan membuat gadis itu kebingungan.

“ ayolah Jong-in aku mau ikut!” rengek Jin-ah

“ Aku tidak bilang bahwa kau tidak boleh ikut bukan? Sekarang pulang dan ganti piayama mu itu setidaknya cuci muka mu dulu. Kajja.  . .”

“ kalian tetap disini arra. Ahjumma. . . aku pulang sebentar! Jaga mereka kalau perlu ikat mereka”

“YAK! Kau mau Kimchi tidak?”

“Ne. . . masukan saja yang bisa dimakan.” Seru Jin-ah dengan cengiran lebar sebelum akhirnya dia keluar dari kedai.

“Chagi, ada apa? Kau memandangi Jin-ah dan Kai terus dari tadi. Apa yang sedang kau fikirkan? Kau cemburu? Kau menyukai Jong-in?”

pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Yesung yang sejak tadi mengamati Eun-ji diam dan serius memandangi gerak gerik Jin-ah dan Jong-in.Dan itu yang membuatnya berfikir yang tidak-tidak. Apa Eun-ji sedang cemburu dan iri pada Jin-ah karna dia juga menyukai Jong-in, atau mungkin hal lain.

“Aniya! Kau gila oppa? Mana mungkin”

“lalu?”

“Jin-ah, kau mengamati dia Oppa?”

“yah. . . sedikit. Wae?” akhirnya namja itu bisa bernafaslega. Setidaknya bukan karna Jong-in Eun-ji ber tingkah seperti Itu.

“ada yang salah dengan Jin-ah, terlalu banyak kejanggalan. Dia berbeda.”

“itu hanya perasaanmu saja. Menurutku dia. .”

“kubilang ada yang salah!” potong Eun-ji, wajahnya kelihatan sangat khawatir.

“ Dia, tak bisa memakai sumpit, dia jarang masuk kampus padahal dia bukan tipe orang yang yang seperti itu, selalu muntah dan jatuh tanpa sebab. Dan baru saja, dia tidak bisa berdiri dengan benar. Ada yang salah oppa.”

“Eun-ji~a. . . kau terlalu khawatir. Jin-ah baik-baik saja, kau tahu Jong-in seperti apa protektifnya? Dia lebih tahu darimu. Oke?”

“ tapi oppa, aku merasa Jong-in dan Jin-ah menyembunyikan sesuatu. Dan aku benar-benar melihatnya sendiri. Dia menjatuhan sumpitnya berkali-kali, bahkan kesulitan mengambil makanan dengan sumpitnya,dia juga kesulitan menulis sekarang. Dia. Dia. . . ”

gadis itu hanya bisa menggegam erat tangannya sendiri untuk meredakan getaran tubuhnya, yang ada dibenaknya sekarang adalah perasaan was-was yang sama sekali tak terbendung sedikitpum. Tiba-tiba tangan Yesung terulur dan menyentuh tangan Eun-ji.

“tenanglah. . . aku akan mencari tahu tentang itu. Oke?” ujar Yesung yang berusaha menenagkan Eunji, gadis itu hanya bisa menunduk dan mencengkram erat tangan Yesung.

“kuharap kau benar oppa, tidak akan ada suatu hal yang buruk. “

****

“Woaaaa pantai. . . “ seru Hyun-mi sambil berlari kebibir pantai diikuti Eun-kyung. Sedang kan Jin-ah masih bertahan dimobil memandangi mereka. Bukan tanpa alasan, tubuhnya lah yang tak bisa dia ajak kompromi dan tak mau menuruti kemauannya.

“ Kkamjong~a.” Ujar Jin-ah saat Jong-in melongok dari jendela mobil setelah menurunkan tas-tas dari bagasi mobil.

“ Kaki ku, bisa kita masuk ke vila dulu?” lanjut Jin-ah dengan memasang cengiran kecut. Jong-in hanya bisa menghela nafas berat sambil membuka pintu mobil.

“ Harusnya kau dirumah sakit sekarang.” dengus Jong-in sambil berjongkok didepan gadis itu. Jin-ah melingkarkan lengannya di leher Jong-in dan kebiasaanya menyandarkan dagunya dibahu pria itu.

“ Jinnie, gwaenchanayo? “ ujar Baekhyun yang ikut menghampiri Jin-ah.  Miris, mungkin satu kata itu saja bisa menggambar Jin-ah keseluruhan.

“Gwaenchana. . . kau jangan pasang wajah seperti itu, aku hanya perlu istirhat. Kau juga.” Ujar Jin-ah pada Baekhyun dan Jong-in. Kedua namja itu akhirnya hanya bisa mengerutkan kening.

Dengan keadaan seperti ini pun dia masih bisa tersenyum. Dan siapapun tanpa sadar akan merasa kesal karenanya.

“Hyung, tolong panggilkan dokter Jang, dan jangan sampai yang lain tahu” ujar Jong-in sambil berdiri dan mengangkat tubuh Jin-ah bersamanya

“Jong-in. . .”

“Baiklah. Nanti akan kusuruh dia kesini.”

Jin-ah hanya bisa mendengus saat kedua orang itu mengabaikannya. Apa boleh buat, dia harus menurut atau jika tidak semuanya bisa kacau ditangan Jong-in.

“Kau ini, sudah ku bilang besok kan?” dengus Jin-ah

“dan kau ini. Sudah kubilang kau harus kerumah sakit masih saja keras kepala.”

“kau yang keras kepala.”

Mereka berdua bergumam sepanjang perjalanan masuk ke vila. sedangkan Eun-ji mengamati dari jauh  sekarang berharap banyak pada Baekhyun yang berjalan kearahnya, dan memberikannya jawaban.

“ Baekhyun~a. . .”

“ne nunna?”

“Jin-ah kenapa? Dia sakit?”

“Dia bilang perutnya mual. Sebentar lagi dokter Jang juga kesini, kudengar Jin-ah  muntah dari kemarin ya?”

“Dia baik-baik saja kan?” terlihat jelas Eun-ji yang terlihat sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan raut kepanikan gadis itu. Baekhyun hanya bisa menghela nafas dan mencoba mencari alasan agar setidaknya gadis itu tenang.

“ Tenanglah nunna, Lihat saja Jong-in, Jin-ah muntah saja dokter langsung bertindak. Hanya kebiasaan buruk Jin-ah yang tak mau merepotkan orang lain yang membuat semuanya khawatir. Ayo Nunna, percuma kalau diam saja.” Ujar Baekhyun dengan senyuman khasnya sambil berlari kearah Eun-kyung yang membuat gadis itu seketika salah tingkah.

Yesung yang mendengarkan percakapan Eun-ji dan Baekhyun sekarang terlihat sedang berpikir. Dan membuat Eun-ji penasaran apa yang sedang namja itu pikirkan.

“ Wae geure Oppa??”

“ Ani gwaencahana, hanya ada yang membuatku sedikit janggal. kenapa harus dokter Jang. Seingatku, dokter Jang itu dokter syaraf “ gumam namja itu tanpa memperhatikan ekspresi wajah Eun-ji yang ketakutan. Menyadari hal itu Yesung segera merubah ekspresi wajahnya. Tersenyum sambil menarik  tangan Eun-ji.

“Hei. . . dokter Jang juga dokter keluarga Kim kan? Mungkin Jong-in hanya percaya pada dokter Jang, tak usah kau fikirkan seperti itu. Kau ini.”

“Kau membuatku takut. Perasaan apa ini, menyebalkan”

****

“Mwoya. . .” dengus Jin-ah sambil berdecak pinggang dengan bibir yang mengerucut sempurna.

Sedangkan Jong-in hanya menatap istrinya itu sambil duduk santai menikmati minumannya. Tatapan teman-temannya terlihat kesal saat melihat Jin-ah muncul. Yah mungkin Jin-ah tahu alasannya mengapa gadis itu menjadi objek tatapan mereka. Berniat datang bersama menghabiskan hari libur bersama, tapi apa yang gadis itu lakukan? Menghilang entah kemana.

“kau hamil” ujar Eun-kyung yang tiba-tiba bersuara dan membuat semua orang yang ada disitu menatap kearah Eun-kyung. Nada bicara gadis itu terdengar seperti dia mengetahui bahwa Jin-ah hamil. Bukan  sebagai kalimat tanya, melainkan kalimat penerang.

“kau gila? Yak! Lee Eun-kyung! Aku tidak hamil.” Seru Jin-ah.

“oh.” Balas gadis itu singkat tanpa berusaha membuang tenaganya. Dan membuatJin-ah menggretakakn giginya seolah, gadis itu sedang mengunyah kepala orang yang ada disitu.

“apa yang tadi dokter katakan?” tanya Eun-ji yang terarah pada Jong-in. Sedikit kaget saat mendapati dirinyalah yang di ajukan pertanyaan itu. Jong-in menegakkan tubuhnya dan menaruh minumannya.

“terlalu banyak makan dan membuat lambungnya bekerja terlalu berat dan pada akhirnya muntah. Itu hanya diagnosa awal, ada tes urine juga. Tenanglah nunna, kulihat kau kaku sekali. Jika Jin-ah hamil. bukankah akan menyenangkan?”

Eun-ji hanya bisa menghela nafas walaupun dia merasa belum merasa puas dengan jawaban Jong-in.

“sebenaranya apa yang barusan kau katakan!” seru Jin-ah sambil melemparkan sandal kearah Jong-in, dan membuat Jong-in berdecak kesal dengan desisan dan tatapan saling menantang. Jin-ah bahkan sudah mengakat satu sandalnya lagi dan bersiap melemparnya lagi kearah Jong-in.

“tidak berubah juga ternyata. Jagung bakar?” tawar Baekhyun yang muncul dari belakang Jin-ah dengan membawa satu nampan penuh dengan jagung bakar.

Namja itu mengarahkannya langsung kedepan wajah Jin-ah. Dan terang saja, gadis itu seperti manusia yang tidak makan berbulan-bulan dan dengan liur yang sepertinya hampir menetes. Dan dengan sigap mengambil dua Jagung sekaligus. Baekhyun hanya tersenyum meilhat tingkah Jin-ah.

“duduk sana. “ perintah Baekhyun mendorong pinggang Jin-ah dan membuat Jong-in mengretakan giginya dan menatap Baekhyun tajam. Sedangkan diam-diam Jin-ah kembali mengambil satu jagung bakar lagi.

“sebagai mantan pelayanmu, aku tak perlu dipelototi seperti itukan?” kekeh Baekhyun sambil berjalan berkeliling membagikan jagung bakarnya.

Jin-ah dengan langkah kesal berjalan kearah Jong-in. Duduk diatap rumah yang dibentuk seperti padang rumut dengan pot bunga yang ditata rapi disetiap pinggir pembatasnya. Ditambah hembusan angin malam dan suara deburan ombak yang menenangkan, membuat semuanya terlihat sangat sempurna. Jong-in menarik Jin-ah dan merapatkan dadanya di punggung Jin-ah dan menaruh kepalanya di bahu Jin-ah.

Semua yang melihatnya bahkan hanya bisa membuka mulut mereka lebar-lebar menyaksikan hal menakjubkan yang disuguhkan Jin-ah dan Jong-in dan anehnya dengancepat Jong-in tertidur dibahu Jin-ah. Baru saling mendesis satu sama lain sekarang saling bemersaan. Mood mereka benar-benar mengerikan

“ menikah membuat kalian seperti alkohol ya? Atau narkoba? Mengerikan.” Ujar Eun-kyung datar sambil memakan jagung bakarnya dan semuanya mengangguk setuju.

“ meledekku?” gadis itu terlihat kesal saat mengajukan pertanyaan itu.

“ aneh saja. . . kalian itu seperti minyak dan air dan anehnya sekarang. Kau Lee Jin-ah, kau berubah menjadi alkohol yang melarutkan si minyak.” Ujar Hyun-mi sambil menggigit jagung bakarnya. Chanyeol yang tadinya berjarak cukup jauh dari Hyun-mi, sekarang sudah memposisikan dirinya disamping Hyun-mi sambil membuka mulutnya lebar-lebar, dan sial bagi Chanyeol karna gadis itu sama sekali tidak peka dan memilih mengatupkan muutnya lagi dan menelan ludahnya sendiri.

“ hei, kalau kau berniat menerangkan sesuatu, cari murid SD dan ajari mereka. Kau hanya bisa mengoceh saja.” Mendengar Ucapan Jin-ah, Hyun-mi dengan cepat meledak seperti bom atom gadis itu bahkan sampai memuncratkan sedikit jagung yang ada di mulutnya.

“Yak! Bodoh! Aku harap kau hamil dan anakmu akan ku beri setumpuk materi untuk dia kunyah! Tak perlu menunggu dia tumbuh. Satu detik dia lahir aku akan mengoceh disamping telinga anakmu.”

“Do’a yang konyol. Gunakan otakmu Hyun. . . kau bodoh sekali”

“wanita sekali mengobrol seperti burung yang tak mau berhenti mengoceh ya?” komentar Chanyeol yang akhirnya ikut berkomentar. Menandakan kepalanya di bahu Hyun-mi

“dan entah apa yang di bahas, tapi bagiku itu konyol. Yah lumayan karna kalian tak menyinggung masalah make up atau pun fashion.” Ujar Baekhyun yang akhirnya ikut berkomentar.

“selera rendahan.” Tambah Jong-in yang erdengar seperti gumaman danlangsung mendapat hantaman keras dari Jin-ah dikepalanya.

“katakan lagi? Kubunuh kau!”

“Aegi.” Gumam Eun-kyung tiba-tiba dan membuat suasana menjadi hening. Semua mata terarah pada Eun-kyung yang sibut mengunyah jagung bakarnya. Kecuali Jong-in yang sepertinya berniat melanjutkan tidurnya dengan melingkarkan lengannya dipinggang Jin-ah.

Gadis itu sama sekali tak mengeluarkan protes atas sikap idiot Jong-in, karna dia sendiri dengan bodohnya merasa nyaman dengan posisi seperti ini. Lagi pula dia sedang berkonsentrasi pada Eun-kyung sekarang.

“apa maksudmu chagi?” tanya Baekhyun yang membuat pipi Eun-kyung memerah seketika namun tetap dengan wajah kosong datar.

Gadis itu memiliki wajah tanpa ekspresi dan sulit ditebak. Terlebih kepribadiannya yang selalu mengejutkan. Entah apa yang terlintas dipikiran gadis itu sekarang, namun sekali dia mengeluarkan pertanyaan atau bebicara, akan sangat seru untuk dibahas.Gadis itu terlihat normal saat upacara penikahan Jin-ah dan setelah itu, dia kembali menjadi gadis misterus. Entah orang tua nya memberinya makan apa hingga gadis itu mempunyai kepribadian aneh seperti itu.

“ aku sedang berfikir tentang anakku kelak. Aku menginginkan bayi laki-laki.” Gumam gadis itu sambil menatap Baekhyun seklias lalu kembali memakan jagung bakarnya.

“ melihat bayi yang ada diruangan bayi membuatku ingin duduk disana berlama-alam pun.” Ujar Eun-ji tiba-tiba dan langsung mendapat perhatian dari Yesung walaupun gadis itu tak mengetahuinya,

“pantas kau pura-pura sedang menjaga bayi waktu praktek. Sialan, ternyata itu kerjaanmu?” dengus Jin-ah sambil mengigit jsgung keduanya.

“ aku tak peduli dianggap psikopat atau apalah. Mereka diam dengan mata yang masih terpejam dan tangan yang masing menggegam erat. Ah. . . rasanya aku ingin kembali kesana.” Angan gadis itu membuat Yesung memikirkan sesuatu yang sejenis dengan itu sedangkan Hyun-mi hanya mencibir.

“buatlah anakmu sendiri. Kau membuat ibu-ibu bayi ingin mencekikmu kalau sampai mereka tahu kerja mu hanya mengusili bayi-bayi.” Dengus Hyun-mi akhirnya.

“aku tidak usil! Ngomong-ngomong Jin-ah. Kurasa sebaikanya kau punya anak saja. Buatlah anak, aku yang akan mengurusnya. Ia kan oppa?” ujar Eun-ji antusias.

“benarkah? Sayang sekali aku tak mau anakku terkontaminasi virus gila sepertimu. Lagipula istilah yang kau gunakan itu, membuatku ingin mencekikmu. ‘Buat anak’ Kau bilang?Kau fikir mereka mainan? Kimbab? ” Eun-ji hanya terkekeh mendengar jawaban Jin-ah.

“Mudah bukan? Apa kalian tidak berniat membuatnya?”

“ Sialan Eonnie! Sudah kubilang bayi itu bukan tanah liat yang dibentuk dan langsung bisa kau mainkan!”

“dasar, aku tak bilang itu tanah liat kan? Jong-inkau berniat membuatnya tidak?”

“pertanyaan apa itu? Aku kan membuatnya saat  kita menikah nanti.” Ujar Yesung yang sontak membuat Eun-ji terlonjak kaget. Tidak hanya itu, Jin-ah dan yang lainnya pun terlihat sangat kaget mendengar ucapan namja itu. bahkan dia masih terlihat tenang setelah mengatakan itu.

“Wah. . . mengerikan” Jin-ah dan Hyun-mi hanya menggelengkan kepalanya saking tak percayanya. Seorang dokter kandungan mengatakan itu? bahkan sulit dipercaya lelaki itu mengatakan hal itu.

“Oppa! Apa yang kau katakan!” seru Eun-ji dengan wajah yang sudah merah padam, dan sangat terlihat panik. Yang ada dipikiran Jin-ah sekarang adalah gadis itu sedang gugup bahkan ketakutan jika pria itu tiba-tiba menyerangnya.

Sedikit melirik kearah kepala Jong-in yang terkulai dibahunya dan dangannya yang masih terjalin rapat. Pria ini bahkan lebih mengerikan dari apa yang Jin-ah pikirkan selama ini jika menyangkut dirinya. Selalu memaksakan diri dengan apapun dan pada akhirnya kelelahan.

“aku tidak salahkan?” kekeh Yesung dan membuat Chanyeol bersiul bahkan Jin-ah tersenyum melihat tingkah Eun-ji yang makin kelimpungan.

“selamat kalau begitu. Hei, kita tidak diperbudak menjadi pengiring pengantinmukan?” terlihat wajah Hyun-mi yang sepertinya sedang membayangkannya, gadis itu bahkan bergidik ngeri mengingatnya.

“kurasa kali ini Eun-kyung dan Gyu-ri. Ya kan, Kyung~a?” Eun-ji hanya bisa menghela nafas saat melihat gadis itu sudah dalam keadaan tertunduk dan jangung bakarnya masih ada ditangannya.

“mengagumkan.” Ujar Chanyeol yang terlihat sangat takjub. Hyun-mi pun mengangguk setuju.

Entah setan apa yang merasuki Baekhyun, namja itu dengan perlahan menarik bahu Eun-kyung dan membuat kepala  gadis itu terkulai dibahunya. Hal menarik yang langsung menyita perhatian semua yang ada disitu, kecuali jong-in yang memang sudah tertidur dari tadi.

Jin-ah sediki mengakat alisnya saat melihatnya. Dan membuat Baekhyun berkeringat dingin meraskan aura aneh yang tiba-tiba terasa mencekiknya. Namja itu perlahan mengahadap kedapan dan menemukan tatapan penasaran semua yang ada disitu. Dan Jin-ah lah yang memasang wajah paling mengerikan.

“kukira kau menyukai Kazumi.” Ujar Jin-ah dan membuat namja itu panik dan hanya bisa menunduk sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Tepat. Namja itu bahkan seperti tak bisa berkata apapun, dia tahu bahwa Jin-ah pasti akan marah karna memepermainkan adiknya. Apa adiknya itu menyukainya dan mengatakannya pada Jin-ah? Sehingga wanita itu mengeluarkan aura semangrikan itu denagn tatapan tajam yang bahkan melebihi tatapan Jong-in yang sudah ia lihat dari dulu selama menjadi pelayannya

“heh? Dia menyukai kazumi? Adikmu itu?” tanya Hyun-mi. Yang terlihat sangat antusias dan terlihat juga ikut menatap Baekhyun tajam.

“yak yak yak. Kalian sedang membuat isu apa ini hah?!” Baekhyun terlihat panik dan was-was sambil beberapa kali menoleh kearah Eun-kyung yang bernar-benar sudah tertidur pulas. Dia berusaha tersenyum menyembunyikan ketakutanya sekaligus kegugupannya. Menghadapi wanita memnag sangat sulit pikir Baekhyun.

“dia menanyakan kazumi padaku. Entahlah, aku tak tahu.” Jin-ah dengan gayanya malas dan langsung mengacuhkan Baekhyun dan mengambil minumannya dan menyingkarkan bekas jagungnya yang ketiga.

Inilah yang jurus Jin-ah. Dia cukup tahu seluk beluk gadis itu. dia akan sangat mengacuhkan orang yang sedang ia benci. Dan dia tak suka membicarakannya dibelakang. Tatapan sinis bahkan sifat kasarnya pun keluar dengan sendirinya. Jika yang ia rasa, orang yang ia benci itu mengeluarkan kata-kata menjijikan. Sejuh ini, sudah puluhan mungkin yang menjadi bahan Jin-ah untuk hal itu.

“Wah. . . ternyata kau orang yang seperti itu ya? Aish . . .” dengus Hyun dan langsung mendapat anggukan setuju dari Chanyeol, mereka benar mengacuhkan namja itu.

“aku tak menyangka. Mudah sekali dia? Melihat mangsa cantik, langsung saja di libas. menjijikan” gumam Hyun-mi dengan suara yang cukup keras untuk bisa didengar. Bakhyun hanya bisa menundukan kepalanya mengcengkaran erat lututnya dan tanganya yang masih memegangi bahu Eun-kyung agar gadis itu tidak terjungkal kebelakang

“menyedihkan.” Timpal Jin-ah dengan tatapan tajamnya yang menunggu baekhyun mengangkat wajahnya, dan semuanya mengangguk setuju atas ucapan Jin-ah. Kata-kata itu sontak membuat Baekhyun mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata Jin-ah yang penuh dengan rasa jijik dan penghinaan.

“Yak! Tunggu dulu. . . aish. Jangan langsung menyimpulkan dong.  Bukan seperti itu posisinya, aku hanya. . .”

“memakan mangsa.” Potong Chanyeol dengan mata yang tertutup sambil mengigit jagung yang ada ditangannya. Tangan Baekhyun terkepal sempurna dengan nafas yang memburu seolah telah berlari marathon sama dua hari.

“ Yak! aku mengaggap Kazumi itu adikku, tidak lebih. Aku kasihan padanya yang sedih seperti itu.“ seru namja itu penuh penekanan

“Lagipula, Aku benar-benar menyukai Eun-kyung. Dia, terlihat sangat cantik dan mengagumkan dimataku” Baekhyun terlihat mengumam di akhir kalimat. Dia benar-benar merasa bodoh sekarang.Namja itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya karna semua yang ada disitu hanya diam tanpa mengatakan apapun.

“Puhuaahahahahaha” tawa Jin-ah meledak, gadis itu bahkan memukuli lantai tak hanya itu semuanya pun ikut tertawa dan Jin-ahlah yang paling bersemangat.

“Yak! apa lagi sekarang!” seru Baekhyun tak terima. Dia dipermainkan sekarang huh?! Sangat sial.

“Kau bodoh Bacon~a. . . hahaha aduh perutku” ujar Hyun-mi disela tawanya.

“ sama sekali tidak lucu.” Ujar Baekhyun dengan wajah hingga telinga yang sudah memerah seperti buah delima yang sangat matang. Keringatanya bahkan lebih banyak dari yang tadi, dia sangat malu sepertinya.

“ hahahaha astaga. . . mudah juga membuatnya kelimpungan. Kau lihat tidak , dia panik. . . ahahaha” seru Jin-ah tak mau kalah

“ kalian mempermainkanku ya? Sial” umpat Baekhyn sambil membuang wajahnya kearah lain menyembunyikan rasa malunya.

Semuanya tertawa seperti tak akan ada salah satu dari merka yang berhanti.

“ Eh? Gerimis?”

Jin-ah yang mendengar ucapan Chanyeol berhenti tertawa dan langsung mengadahkan tangannya. Benar, sepertinya akan hujan. Musim semi dengan  hujannya.

“ayo masuk.” UjarYesung sambil menarik Eun-ji untuk bangun.

Tanpa banyak bicara, Baekhyun langsung membopong Eun-kyung dan membuat semuanya berdecak kagum.

“wah . . . benar-benar cinta ya? Channie~a gendong” goda Hyun-mi dengan mulut mengerucut dan hanya dibalas dengan gerakan bahu yang menyuruh Hyun-mi melompat sendiri kepunggung Chanyeol.

“ romantis sekali.” Kekeh Eun-ji, tangan Yesung sudah terpasang sedemikian rupa dipinggang Jin-ah

“diamlah kalian semua. . . astaga, berhenti menggodaku, bagaiman Jika Eun-kyung bangun hah? Sudahlah.” Dengus namja itu yang terlihat sangat kesal sekaligus malu sambil berjalan masuk kedalam.

“Jin-ah ayo masuk.” Ujar Yesung. Gadis itu hanya tersenyum sambil menelengkan kepalanya hingga menyentuh kepala Jong-in yang ada dibahunya.

“kalian saja , dulu aku mau mengurus dia dulu”

Yesung hanya mengangguk diikuti Eun-ji yang tersenyum sambil melambaikan tangannya. Sepanjang kearah pintu masuk, keduanya mengobrol dengan senyuman yang masih berkembang diwajah mereka. Jin-ah merasa sangat menrindukan hal itu. dai merasa hidup kemabli hari ini.

Jin-ah hanya mendengus mendorong kepala Jong-in yang masih bersandardibahunya. Dan membuat pria itu menggeliat dan makin memperat lengan yang ada ditangannya.

“kau mau aku mati hah? Cepat bangun, ini dingin bodoh.” Dengus Jin-ah sambil menyikut perut Jong-in. Dan membuat namja itu mendengus dan mengusap matanya dan makin menempelkan wajahnya di pipi gadis itu.

“ayo masuk.” Ujar Jin-sambil menyingkirkan tetesan air hujan yang ada diujung rambut pria itu. gerimis yang makin lebat.

“kau senang?” ujar pria itu saat Jin-mengangkat tubuh Jin-ah untuk berdiri, gadis itu terlihat limbung saat baru beberapa senti Jong-in melepaskannya.

“eh?” gadis itu hanya menoleh saat Jong-in mempertanyakan pertanyaan Jong-in. terlebih cara bicaranya yang tanpa emosi dan membuat kedua kata itu memiliki makna ganda. Bisa positif maupun negatif.

“kau bahagia ternyata. Baguslah.” Ujar namja  itu sambil menarik pinggang gadis itu mendekat di depannya dan kembali meletakannya dagunya di bahu gadis itu. sagat sulit, karan agadis itu sangat pendek.

“Yak. Bicara yang jelas. Kau selalu saja menggunakan bahasa ambigu.” Dengus Jin-ah yang terdengar seperti sedang berkumur dengan mulut mengembung penuh dan membuat Jong-in tersenyum.

“ sudahlah. . . tak usah dibahas.” Kekeh Jong-in dan detik berikutnya, namja itu sudah menguap dan membuat Jin-ah hanya bisa terkekeh geli.

“dasar raja tidur.”

****

“ ah yang ini.” seru Jin-ah sambil mengangkat sebungkus kentang dan membuat Jong-in mendengus, merebut bungkus itu dan meletakkan kembali ditempatnya. Dan membuat Jin-ah menggembungkan pipina karna kesal.

Ada yang aneh dengan gadis ini. dia berkeringat terlalu banyak dan bibirnay yag terlihat sangat pucat.

“ kau ini, sudah kubilang tak usah memasak bukan?” ujar Jong-in akhirnya sambil mengulurkan tangannya kearah kening gadis itu dan mengusap keringat yang ada dipelipis gadis itu. suhu tubuhnya bahkan dingin.

“kau kan ada dirumah. Aku tak enak merepotkan bibi, bagaimana kalau daging?” tawar Jin-h dan membuat Jong-in makin mengerutkan keninganya

“Jin-ah. . .”

“Aku tak dengar. . .” Jin-ah hanya mendorong trolinya sambil berteriak-teriak sendiridan menutup telinganya, mengundang perhatian orang-orang yang ada di supermarket itu, membiarkan Jong-in berdiri mematung didepan keranjang kentang.

“kau mau jadi orang gila?”

“entahlah” kekeh Jin-ah sambil mengangkat satu persatu jejeran tomat yang terbungkus rapi

“Jin-ah!!”

Suara itu membuat kedunya menoleh dan menemukan seorang gadis yang berdiri dengan keranjang kecil yang sudah hampir penuh.

“Eonnie? Apa yang kau lakukan?”

“ wah belanja?” gadis itu bahkan mengacuh kan pertanyaan Jin-ah dan membuat Jin-ah kesal setangah mati.

“hm, kau sedang apa? Pernikahanmu tinggal dua hari lagikan? Apa yang sedang kau lakukan hah? Lalu apa itu?” ujar Jin-ah sambi menunjuk kearah keranjang yang berisi bahan-bahan yang tak cocok satu sama lain untuk dimasak.

“ah. . . ayah Yeppa datang kerumahku hari ini dan aku harus menyiapkan makanan bukan? Aku harus memasak untuknya, itu yang Eomma katakan padaku.”

“Eh?? Eomma?”

Entah mengapa mendengar sebutan itu, jantung Jin-ah seakan melocos hilang entah kemana meninggalkan tempatnya. Eomma, entah seta apa yang merasukinya hingga dia ingin memnaggil seseorang dengan ‘Eomma’ atau mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan itu

“Waeyo?” pertanyaan itu hanya disambut senyum tipis Jin-ah.

“Ani, geureonggo anindae. Aku hanya penasaran, sejak kapan kau bisa memasak? Kau kan selalu menghanguskan masakanmu. Terakhir kau bahkan membuat kare kering dengan kerak yang penuh mendasari panci karna kau tinggal tidur.”

“YAK! Apa yang kau katakan hah! Disni ada suam. . .” ucapan Eun-ji tercekat saat tiba-tiba Jin-ah tersungkur memegangi perutnya. Tangan Jong-inmencengkram bahu Jin-ah dan membuat gadis itu tetap berdiri.

“Ugh. . . .” gadis itu mencengkaran lengan Jong-in erat, menahan sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya. Tubuhnya benar-benar kaku. Sedikit mengumpat dalam hati karna Eun-ji ada didepannya sekarang.

“Gwaenchana?” tanya Eun-ji yang terlihat panik.

“ sa. . .kit” wajah Eun-ji dan Jong-in mulai panik saat Jin-ah mengeluarkan satu kata itu. dan detik berikutnya, gadis itu terkulai dilengan Jong-in dengan wajah pucat pasi.

“yak! Bangun Jin-ah! Jin-ah! Sialan!” umpat Jong-in sambil membopong gadis itu dan berlari keluar dari super market. Semua orang menatap mereka penuh tanya.

Terlihat darah yng mengucur dari hidung Jin-h dan membuat Eun-ji mengatupkan mulutnya agar tak berteriak histeris.

“bodoh! Apa yang sedang kau tahan hah!” umpat Jong-in sambil terus berlari kearah mobil yang terparkir di parkiran.

****

Eun-ji berlari panik di lobi rumah sakit bersama hilangnya Jong-in karna krubungan para suster yang membuatnya tersingkir saat Jong-in datang dan berteriak habis-habisan didepan pintu rumah sakit.

Tangannya gemetaran dan matanya yang tak mau berhenti meneteskan airmata hingga nafasnya tersengkal dan berjalan tak tentu arah entah kemana.

“Eun-ji~a?” ujar seseorang yang membuat Eun-ji berbalik dan menemukan Yesung yang berdiri dari kejauhan. Namja itu terlihat panik saat melihat Eun-ji berlari kearahnya dan menangis sekeras kerasnya.

“Waeyo? Ada apa. . . kenapa kau menangs hah?”

“Jin-ah, oppa, aku tak menemukannya. Dia . . .dia .  . . ayo cari dia sekarang! Aku mohon. Oppa!!” jerit Eun-ji sambil menguncang tubuh Yesung dan memukulinya.

“kumohon tenang kan dirimu, apa maksudmu? Jin-ah kenapa?”

“ kumohon antar aku ketempat Jin-ah sekarang.”

“Hyuk jae!” seru Yesung saat melihat sosok Hyuk jae yang panik berlari kearah ruang UGD di ikuti segerombolan orang dengan jas hitam yang mengawal seorang pria paruh baya yang sama terlihat paniknya dan membuat wajahnya makin menakutkan.

Eun-ji langsung berlari sambil menyeret Yesung mendekat kearah Hyuk jae.

“Jin-ah eodiga! Apa yang terjadi dengannya! Kumohon jawab!” jerit Eun-ji sambil memukul tubuh hyuk jae.

“ sebelah sini.” Ujar salah satu orang dengan jas hitam itu dan tanpa mengatakan apapun, Hyuk jae berlari kearah lobi yang ditunjukan

“ kumohon tenangkan dirimu. . .” ujar Yesung sambil merangkul bahu Eun-ji. Gadis itu tetap menangis dan makin memperburuk keadaan

“ Jin-ah, dia sakit oppa. Dia kesakitan. . .”

Tak ada yang bisa Yesung lakukan. Sekarang yang dibisa ia lakukan adalah menenangkan Eun-ji. Dan memahami apa yang sednag terjadi hingga gadisnya menangis panik seperti ini.

Terlihat dari kejauhan Jong-in yang tergeletak dilantai meninggalkan kursi yang nyaman dn memilih duduk dilantau dengan menunduk dan tangan yang berkali-kali menghantam lantai. Tanpa pikir panjang, Hyuk jae langsung berjalan cepat kerah Jong-in dan memaksa namja itu berdiri.

“ dimana Jin-ah? Apa yang terjadi hah?!” seru Hyuk jae sambil meraih baju Jongin dan menariknya.

“Hyuk jae hentikan.” Ujar Pria paruh baya itu sambil perlahan menyingkirkan tangan Hyuk jae dari leher Jong-in.

“apa yang terjadi?” tanya pria itu yang terdengar tenang namun juga sedikit bergetar. Tangannya lah yang tak bisa ditipu.

“dia keras kepala tak mau kerumah sakit.”

Semuanya terdiam kecuali Eun-ji yang mulia kehilangan kesabaran, dengan emosi yang masih sangat labil maju kedepan berada diantara ketiga pria itu. Yesung mencoba menghalangi gadis itu namun gagal.

“apa yang sebenarnya kalian sembunyikan hah? Kumohon Hyuk jae oppa, beritahu aku sekarang.”

“Eun-ji~a. . . tenangkan dirimu.”

“bagaimana bisa! Jin-ah tak pernah seperti itu didepanku, tak pernah sekalipun dia mengatakan sakit. Jika dia sampai mengatakannya, maka dia benar-benar kesakitan.” Jerit gadis itu tak habis fikir, kenapa namja itu tetap mengatakan hal yang tak mungkin bisa dia lakukan.

“Lalu kau memaksa mereka?! Dengarkan aku dulu. Tahan emosimu dulu!” seru Yesung sambil mengguncang tubuh gadis itu. Jong-in hanya bisa terduduk menahan kepalanya dengan kedua tangannya dan bulir air mata yang mulai menetes perlahan.

“Marstenia Gravis. “ ujar Hyuk jae memecah pertengakaran mereka berdua. Dan membuat Yesung  terlihat sangat syok mendengar dua kata yang disebuatkan Hyuk jae. Dan Eun-ji yang mulai terdiam mendengarkan apa yang dikatakan Hyukjae selanjutnya.

“ Jin-ah akan total perlahan karna penyakit itu. dia menyembunyikannya karna khawatir pada kalian. Hal ini menjawab semua pertanyaan yang mungkin berseliweran diotakmu.” Ujar Hyunk-jae yang terdengar serak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Tubuh Eun-ji langsunglemas dan hanya bisa pasrah. Gadis itu menangis histeris di pelukan Yesung. Entah bagaimana bisa dia melakukannya. Gadis itu, Lee Jin-ah, bagaimana bisa dia tega menyembunyikan semuanya dan berusaha menutupi semuanya.

Terlihat pintu UGD itu bergerak dan mengeluarkan seorang dokter dengan masker yang menutupi wajahnya. Tangannya berlumuran darah danmembuat leher mereka terasa tercekik sesuatu.

Dokter melepas perlahan maskernya dan menatap dengan penuh ketakutan.

“nona Jin-ah . . .”

-TBC-

One thought on “Mianhae (part 4)

  1. Ah semakin penasaran sama ceritanya. Makin kesini makin sedih alurnya, kesian sama jonginnya ;(
    Keren banget thor cepet dilanjutin ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s