My Angel

 

1527114_344236795718151_246909914_n

 

Author                        : Chun0414

 

 

“Apa? Aku? Aku? Hahahah….aku sekarang seorang malaikat?”suara tawa keras itu seakan menggoncangkan bangunan tua yang saat ini di huni beberapa orang yang menatap pemuda tinggi yang saat ini tertawa tanpa henti.

 

“Park Chanyeol!!!”suara itu muncul di depan sebuah meja yang cukup tinggi untuk di gapai pemuda yang baru saja di panggil itu. Park Chanyeol terdiam dan melihat kearah laki-laki tua berjubah putih yang duduk sedangkan matanya mengarah tajam padanya. Chanyeol melihat kesekelilinganya bukan hanya mata laki-laki tua itu yang menatapnya tapi juga mata semua orang yang saat ini ada di dalam ruangan bersama Chanyeol.

“Maaf, aku terlalu senang mendengar hal ini”jawab Chanyeol saatt sadar dirinya kini ada di tengah para tetua Malaikat yang akan di sandang nama oleh Chanyeol.

 

“Dengar baik-baik. Park Chanyeol kau di tugaskan turun kebumi untuk menemani sekaligus menjemput seorang wanita yang akan mati satu bulan lagi. Sebelum dia pergi tuntaskan permasalahnya yang ada di bumi agar rohnya nanti bisa tenang saat dia pergi”jelas laki-laki tua tersebut pada Chanyeol. Kalimat yang sungguh panjang dan asing bagi Chanyeol. Menuntaskan? Menuntaskan apa? Kenapa harus Chanyeol yang melakukanya? Kenapa buka dia sendiri? Manusia memang sangat manja.

 

“Baik. Saya mengerti Yang Mulia. Tapi kapan saya akan turun?”Tanya Chanyeol mencoba untuk memahami isi otak orang tua yang berambut putih di hadapanya itu.

 

“Sekarang”

 

“Kalau begitu aku akan siap-siap”Chanyeol berbalik dan berjalan keluar tanpa di persilahkan. Sebelum keluar Chanyeol berhenti di depan pintu kemudian kembali berbalik. Matanya menyorot aneh dengan ekspresi wajah yang sulit di artikan.”Tapi, apa resiko di balik semua ini?”lanjut Chanyeol kebingungan.

 

“Siapa yang menyuruhmu pergi? Aku belum selesai menjelaskanya”

 

“Ah, iya. Baiklah aku akan kembali”Chanyeol kembali masuk dengan terus menyebar senyumanya. Chanyeol kembali berdiri di tempat yang tadi dia tinggalkan. Tanganya berada di depan kemudian telinganya siap untuk mendengarkan.

 

“Jika kau gagal dalam melakukan tugas ini. Kau akan menjadi Roh gentayangan”sungguh hal yang tidak bisa di bayangkan oleh seorang Park Chanyeol. Dia akan hidup seperti dua tahun yang lalu. Saat pertama kalinya Chanyeol meninggal dia hanya bisa hidup di daerah yang sangat gelap, dingin dan juga kumuh. Udara dingin terus menggerogoti tubuhnya hingga tubuh Chanyeol tinggal tulang benulang hingga sebuah cahaya masuk untuk membantunya. Membantunya untuk hidup dan kembali bernapas seperti sekarang. Dan di saat gelar Malaikat ada di tangan Chanyeol resikonya sungguh membuat hati Chanyeol kembali terdesak.

 

“Kenapa? Kau tidak bisa?”

 

“Aku….”

 

“Kau takut kehidupanmu seperti dulu? dimana hanya ada kegelapan yang menyelimutimu?”Chanyeol diam dengan pertanyaan yang menumpuk di kepalanya.

 

“Yang Mulia saya tidak bisa melakukan ini”jawab Chanyeol tegas. Wajahnya penh keseriuasan di sela ketakutan yang dia tidak ingin perlihatkan lagi.

 

“Bukankah ada satu hal yang ingin kau lakukan?”Chanyeol yang semula menundukan kepalanya perlahan menatap orang yang saat ini bicara denganya”Kau ingin mengatakan pada orang-orang yang kau sayangi bahwa kau sangat mencintai mereka? Orang tuamu bahkan calon istrimu”lanjutnya mencoba untuk meyakinkan Chanyeol. Chanyeol terlihat begitu kebingungan. Dia memang menunggu hari ini tiba dimana kesempatan untuk bertemu keluarganya dan calon istrinya akan terjadi selama dia menjadi malaikat. Tapi jika Chanyeol tidak berhasil melakukanya Chanyeol akan jatuh ke lubang kegelapan yang sama sekali tidak Chanyeol inginkan.

 

“Aku…aku tidak bisa Yang Mulia”

 

“Aku kira kekuatan cinta bisa mengalahkan rasa takutmu Park Chanyeol. Baiklah jika kau tidak mau. Aku akan mengutus orang lain untuk melakukanya”orang tua yang berjubah putih itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Wajah Chanyeol tampak begitu kebingungan dia berkeringat dingin dengan tangan dan tubuh yang gemetar.

 

“Tunggu!!”cegah Chanyeol saat para tetuah berada di luar. semuanya berhenti dan melihat Chanyeol berjalan menuju pemimpin tertua yang Chanyeol panggil Yang Mulia.

 

“Aku akan melakukanya”keputusan Chanyeol membuat bibir orang berambut putih itu tersenyum. Tanganya menepuk pundak Chanyeol kemudian pergi meninggalakanya.

 

#####

 

Seoul,1 November 2013

Kim Shin Yeong murid SMU yang sangat pintar dalam pelajaran olahraga tapi sangat rendah jika dia harus belajar Bahasa Inggris. Bahasa yang menurutnya itu adalah bahasa planet. Dia lebih suka bergaul dengan buku, komik dan juga majalah di banding dengan teman sekolahnya. Dia lebih memilih untuk berpacaran dengan laptopnya dari pada dengan seorang pria. Itulah Kim Shin Yeong, dia tidak terlalu terkenal di kalangan teman sekolahnya. Beberapa pria sudah mencoba mendekati gadis cantik dengan rambut panjang yang indah itu tapi dengan mudah Shin Yeong menolak pria-pria tampan itu.

 

Hari ini adalah pelajaran Olahraga bolla volly di di sekolah Shin Yeong. Dia terlihat begitu siap menghadapi lawanya yang cukup tangguh bagi Shin Yeong. Suara peluit tanda di mulainya permainan berbunyi. Shin Yeong terus berusaha mencetak point dalam setiap permainanya. Dua Puluh menit berlalu Shin Yeong tampak kelelahan wajahnya terlihat pucat dan keringatnya terus bercucuran keluar dari tubuhnya.

 

“Shin Yeong awas!!!!”kata itulah yang Shin Yeong dengar kali ini. Saat dia menoleh kedpan sebuah bola menghantam kepalanya hingga Shin Yeong pingsan di tempat.

 

“Shin Yeong. Apa kau sudah tau sebelumnya tentang hal ini?”Tanya seorang doketr yang bertag nama Lee di dada kirinya. Shin Yeong mengangguk menyetujui apa yang Dokter itu tanyakan pada Shin Yeong. Terlihat jelas wajah Dr.Lee itu khawatir, Dr.Lee menghela napas berat sambil bersandar di kursinya.

 

“Untuk kali ini apa hasilnya dokter? Apa 1 tahun lagi aku akan mati?”Tanya Shin Yeong dengan mudahnya wajahnya tampak datar seulas senyum juga terlihat di wajah cantik Shin Yeong.

 

“Bahkan tidak sampai 1 tahun. Tapi 1 bulan”jawab Dr.Lee dengan wajah yang terlihat menyesal. Tapi Shin Yeong harus mendegar kenyataan pahit ini. Shin Yeong tersenyum pada Dr.Lee dia menyandang tas yang dia bawa kemudian tersenyum seakan tidak ada yang akan terjadi padanya.

 

“Terimakasih Dokter. Aku pamit pulang dulu. Sampai Jumpa”Shin Yeong menundukan kepalanya kemudian pergi meninggalkan ruangan yang hanya beberapa petak saja. Shin Yeong berjalan keluar rumah sakit dengan seragam langkap langkahnya begitu berat. Shin Yeong terlihat begitu rapuh kali ini. Dia berpegangan di dinding dengan mata yang siap menumpahkan cairan bening yang dari tadi tertahan di dalam.

 

“1 bulan? Waktuku 1 bulan lagi? Dan aku belum mempersiapkanya. Aku belum mempersiapkan apapun sebelum aku mati”gumam Shin Yeong lirih. Tubuhnya terasa lelah dia bersandar di dinding sambil memejamkan matanya. Dari jauh Chanyeol hanya memperhatikan Shin Yeong tanpa bisa melakukan apapun untuknya sekarang.

 

Shin Yeong berjalan lunglai di jalanan dia kemudian berhenti di depan sebuah rumah yang besar. Di depan gerbang Shin Yeong menatap rumah itu dengan wajah yang sangat resah. Tapi setelah menatapnya puas Shin Yeong tersenyum. Dia mengepalkan kedua tanganya sambil berkata

 

“Shin Yeong semangat!!! Fighting!!!” Shin Yeong kemudian melempar tasnya ke dalam rumah yang gerbangnya cukup tinggi untuk di lompati seorang wanita. Setelah melihat tasnya ada di dalam Shin Yeong membuat ancang-ancang untuk memanjat gerbang tersebut.

 

“Apa yang kau lakukan?”suara itu membuat Shin Yeong terkejut, dia melihat kebawah seorang pemuda bernama Chanyeol sudah menatap Shin Yeong sambil bersandar di dinding. Shin Yeong segera turun dan merapikan bajunya.

 

“Siapa kau?”Tanya Shin Yeong heran

 

“Aku? Malaikat yang akan menjemputmu”jawab Chanyeol datar. Mendengar kata malaikat Shin Yeong memperhatikan Chanyeol dari ujung kaki hingga ujung kepala. Malaikat? Modern sekali memakai sepatu, jas dan juga wah wah malaikat yang tampan.

 

“Biasanya malaikat akan berpakaian seperti orang jaman dulu , kemudian punya sayap, membawa tongkat dan juga ada sesuatu di kepalanya. Tapi apa kau ini malaikat modern?”Tanya Shin Yeong penuh selidik.

 

“Terserah apa pendapatmu”jawaban Chanyeol begitu ketus dan dingin

 

“Huh?? Tidak ada malaikat yang sesombong dirimu”Shin Yeong mengejek Chanyeol yang bicara dingin padanya. Kemudian Shin Yeong kembali melakukan aktivitasnya yaitu memanjat gerbang yang cukup tinggi. Chanyeol melihat Shin Yeong berusaha keras untuk memanjatnya tapi tiba-tiba Chanyeol menuju gembok gerbang yang tidak di kunci dengan mudah Chanyeol membuka gerbang itu hingga Shin Yeong berteriak marah pada Chanyeol.

 

“Yak!!! Apa yang kau lakukan?”Tanya Shin Yeong masih bertengger di atas

 

“Membuka gerbang”jawab Chanyeol singkat

 

“Siapa yang menyuruhmu membukanya huh? Malaikat bodoh!!!”

 

“Yang bodoh kau atau aku? Bukankah ini rumahmu sendiri? Untuk apa memanjat gerbang?”Shin Yeong diam seketika mendengar kalimat yang Chanyeol ucapakan padanya. Tanpa di persilahkan Chanyeol masuk begitu saja ke dalam rumah Shin Yeong. Sedangkan Shin Yeong berusaha untuk turun.

 

“Wahhh….besar sekali rumahmu. Kau tinggal dengan siapa?”Tanya Chanyeol sambil duduk di sofa dan menghidudapkan TV

 

“Huh. Sungguh menyebalkan! Yak!! Kau bangun dan pergi!!”usir Shin Yeong

 

“Duduklah dulu. Apa kau tidak lelah setelah memanjat gerbang?”

 

“Apa urusanmu? Cepat pergi”

 

“Aku mulai sekarang akan tinggal bersamamu. Menemani detik-detik kematianmu”

 

“Benarkah??? hebat”gumam Shin Yeong. Tapi dengan gumaman positif itu munculah pemikiran negative Shin Yeong. Dia mengambil bantal yang ada di sofa dan di lemparkan kearah Chanyeol yang asyik duduk sambil melihat TV. Tapi, betapa terkejutnya Shin Yeong saat bantal itu menembus tubuh Chanyeol.

 

“Sudah aku bilang, aku ini malaikatmu. Kenapa kau tidak percaya?”protes Chanyeol. Shin Yeong masih terpaku dengan apa yang dia lihat barusan. Perlahan Shin Yeong berjalan kearah Chanyeol dan mendekatinya. Shin Yeong menatap tubuh Chanyeol tak mengerti.

 

“Apa aku tidak bisa menyentuhmu?”Tanya Shin Yeong bingung

 

“Tergantung. Jika ada keperluan saja aku bisa menyentuhmu begitu juga kebalikanya”

 

“Apa keperluan? Kurang ajar!!!”sekali lagi Shin Yeong melempar bantal yang ada di sekatnya tapi sekali lagi bantal itu menembus tubuh Chanyeol.

 

“Walaupun kau melempar peluru juga tidak aka bisa”

 

“Tapi, kalimatmu barusan sungguh melecehkan aku”

 

“Apanya yang di lecehkan?”

 

“Kau bilang, kau bisa menyentuhku jika kau ada perlu denganku. Bagaimana saat aku tidur? Jangan-jangan kau…..”Shin Yeong menaruh kedua tanganya di dada sambil menatap Chanyeol yang melihat Shin Yeong dengan tatapan heran.

 

“Dasar bodoh!! Memangnya apa yang akan aku lakukan padamu? Aiishhh!!! Itu tidak mungkin. Kita ini berbeda dunia. Aku tidak akan bisa melakukan ‘itu’ padamu. Kau ini manusia pikirlah dengan otakmu”gerutu Chanyeol yang sebal mendengar pernyataan Shin Yeong yang di luar logika manusia.

 

“Benar juga. Tapi apa aku tidak bisa menyentuhmu?”Shin Yeong mengarahkan jarinya pada pundak Chanyeol yang lebih tinggi dari pundaknya. Dan tangan Shin Yeong menembus pundak Chanyeol. Bahkan Shin Yeong tidak merasakan apa-apa saat dia menyentuh Chanyeol dengan jarinya.”Benar, Kau seperti arwah transaparan”lanjut Shin Yeong

 

“Jangan samakan aku denganya. Aku masih punya wajah tampan. Sedangkan hantu yang transparankan tidak punya wajah setampan aku”puji Chanyeol pada dirinya sendiri. Mendengar hal itu Shin Yeong tertawa lepas. Dia memegangi perutnya sambil terus meluapkan tawa yang jarang sekali dia perlihatkan pada siapapun.

 

“Kau masih bisa tertawa?”Tanya Chanyeol melihat Shin Yeong. Shin Yeong segera menghentikan tawanya sambil membalas pandangan Chanyeol yang mengarah padanya.

 

“Tentu saja”

 

“Kau tau waktumu tinggal 1 bulan lagi?”

 

“Aku tau”

 

“Dan…”

 

“Dan aku tidak ingin meratapi apa yang akan terjadi padaku. Kematian? Bukankah semua orang akan mengalaminya. Kau jugakan?”Tanya balik Shin Yeong. Chanyeol yang semula menatap Shin Yeong mengalihkan pandanganya kearah lain. Wajah Chanyeol tampak begitu putus asa untuk bisa menemui mereka. Mereka orang-orang yang Chanyeol cintai.

 

####

 

Seoul, 2 November 2013

Shin Yeong berhenti di depan sekolahnya, dia menatap gedung tinggi yang menjulang keatas dengan bangunan yang kokoh walaupun sudah bertahun-tahun yang lalu di tinggali orang yang berbeda. Chanyeol berjalan menghampiri Shin yang dan berdiri di sampingnya.

 

“Kau tidak masuk?”Tanya Chanyeol yang ikut memandangi gedung tua di hadapanya

 

“Astaga!”ujar Shin Yeong kaget”Sedang apa kau disini?”Tanya Shin Yeong heran

 

“Mengikutimu”jawab Chanyeol singkat kemudian masuk ke dalam gedung sekolah yang membuatnya tertarik itu. Shin Yeong yang masih heran dengan kata’Mengiutimu’itu masih termenung di depan gedung sekolah hingga suara bel berbunyi Shin Yeong tersadar dan segera berlari masuk kedalam.

 

“Tunggu!! Untuk apa kau mengikutiku kesekolah?”Tanya Shin Yeong berjalan sejajar dengan Chanyeol.

 

“Aku ini Malaikatmu”

 

“Aku tau. Dan berulang kali kau mengatakan hal itu. Tapi kenapa harus mengikuti kesekolah juga?”lanjut Shin Yeong heran. Chanyeol berhenti dan menarik napas. Kemudian menatap Shin Yeong hingga Shin Yeong harus memundurkan tubuhnya kebelakang.

 

“Kau tidak mengerti kata malaikat ya? Jika yang namanya Malaikat itu kemanapun manusia yang di pilih pergi Malaikat itu akan ikut. Kau mengerti?”tegas Chanyeol

 

“Apa ke kamar mandi kau juga harus ikut?”

 

“Tentu”

 

“Apa?”

 

“Maksudku tentu tidak. kau ini bodoh atau apa? Sudahlah. Lihat semua mata tertuju padamu. Mereka pikir kau gila!”Chanyeol menunjuk teman-teman Shin Yeong yang menatap Shin Yeong dengan tatapan bingung, heran dan takut. Karena sejak masuk dan berbicara dengan Chanyeol Shin Yeong tidak memperhatikan yang ada di sekitarnya. Shin Yeong tersenyum paksa sambil melambaikan tanganya, kemudian Shin Yeong lari menuju ke dalam kelasnya.

 

“Bodoh!!”gerutu Chanyeol

 

Pelajaran jam pertama akhirnya di mulai. Guru Matematika Shin Yeong masuk ke dalam kelas membawa beberapa buku di tanganya. Kacamatanya yang tebal membuat semua murid yang melihat akan bertanya kenapa setebal itu? Itu urusanku. Pasti itu yang akan menjadi jawaban Guru perempuan bernama Shim Ha Neul itu berumur 35 tahun, sudah menikah tapi belum punya anak. Berusaha membuat tapi selalu gagal.

 

“Selamat pagi anak-anak. Buka buku kalian halaman 107 Ibu akan melanjutkan pelajaran yang kemarin”ujarnya sambil meraih spidol yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Di papan tulis Guru Shim, menulis beberapa soal. Murid-murid tampak memperhatikanya dengan seksama. Begitu juga Chanyeol yang duduk di depan Shin Yeong. Karena teman Shin Yeong absen jadi tempat duduknya kosong.

 

“Ini adalah soal yang ibu terangkan kemarin. Jadi siapa yang bisa menjawab maju ke depan”

 

Hampir semua orang mengacungkan tangan termasuk Chanyeol, dengan semangat dia mengacungkan tanganya tinggi-tinggi di depan Shin Yeong.

 

“Aku Seosaengnim!!! Aku!!!”teriak Chanyeol semangat

 

“Bodoh!!”Shin Yeong berseru dari belakang, membuat Chanyeol menurunkan tanganya dan berbalik kearah Shin Yeong

 

“Apa kau bilang?”Tanya Chanyeol geram

 

“Bodoh!!”ulang Shin Yeong sedikit keras

 

“Kurang ajar!! Kenapa kau bilang aku bodoh huh??”

 

“Bagaimana tidak. Kau mengacungkan tanganmu agar kau di tunjuk untuk mengerjakan soal di depan. Memangnya Shim Seosaengnim dan teman-teman bisa melihatmu apa? Itu apa namanya jika bukan BODOH!!!”Teriak Shin Yeong kencang. Tanpa sadar saat ini Shin Yeong di dalam kelasnya. Semua murid dan guru Shin Yeong mengarahkan pandangan mereka kearah gadis yang saat ini terlihat malu dengan wajah yang tersembur merah.

 

“Yak!! Kim Shin Yeong siapa yang kau katakan bodoh??”Tanya Shim Seosaengnim pada Shin Yeong.

 

“Bu…bukan ibu yang aku bilang bodoh!!”

 

“Lalu siapa?”

 

“Itu…itu….”Shin Yeong melihat Chanyeol yang pura-pura tidak tau. Chanyeol berbalik badan dan bersandar tidur di dinding. Bibirnya tersenyum dan matana tertutup. Dia tau apa yang akan terjadi selanjutnya pada gadis cantik itu.

 

Dan prediksi Chanyeol benar. Chanyeol melihat Shin Yeong sedang menagkat kursi dan meja dari lantai bawah kelantai paling atas. Itu hukuman Shin Yeong karena membuat gadunh kelas pagi ini.

 

“Ini gara-gara Malaikat bodoh itu. Awas saja dia!!”

 

“Kau mau apakan aku?”

 

“Membunuhmu”

 

“Bunuh saja jika kau bisa”

 

Shin Yeong menaruh meja yang dia bawa kemudian mengambil serpihan kayu yang ada di bawa kakinya. Shin Yeong dengan sekuat tenaga mencoba untuk melemparnya kearah Chanyeol. Tapi sama seperti yang Shin Yeong lakukan waktu berada di rumah. Dengan mudah benda itu melewati Chanyeol begitu saja. Chanyeol hanya mengembangkan senyumnya remeh. Sedangkan Shin Yeong yang masih belum puas mencoba mengambil benda apapun yang ada di sekitarnya untuk di lempar kearah Chanyeol. Tapi tiba-tiba darah keluar dari hidung Shin Yeong. Shin Yeong tau saat darahnya sudah menetes kebawah. Tangan Shin Yeong mencoba mengusap darah segar yang keluar dari hidungnya tapi darah itu terus mengucur deras. Chanyeol yang mengetahuinya mendekati Shin Yeong yang  sudah terduduk lemas.

 

“Ada apa? Kau merasa sakit?”

 

“Ambilkan obat dan sapu tangan di tasku”ujar Shin Yeong lirih

 

“Obat? Iya iya aku tau. Tunggu sebentar”Chanyeol berlari turun mengambil apa yang Shin Yeong katakan. Chanyeol menuju kelas Shin Yeong dan mengambil obat serta sapu tangan Shin Yeong. Baru saja Chanyeol sampai Shin Yeong langsung mengambil sapu tanganya dan menyumbat darah yang keluar dari hidungnya. Merasa darah itu berhenti Shin Yeong melepas sapu tangan dari hidungnya. Wajah Chanyeol tampak begitu khawatir melihat Shin Yeong dia terlihat lega saat tau darah dari hidung Shin Yeong akhirnya berhenti.

 

“Mana obatku?”

 

“Ini”Chanyeol memberikan obat itu pada Shin Yeong. Shin Yeong pun menerimanya saat itu juga mereka bertatapan ada angin yang berhembus kearah mereka. Hangat. Itu yang Shin Yeong rasakan. Ada aliran yang membuat tangan Shin Yeong hangat walaupun mereka tidak bersentuhan langsung tapi Shin Yeong merasakan kehangatan tangan Chanyeol.

 

“Minumlah”Chanyeol melepas tanganya dan segera berdiri”Lebih baik kau pulang”saran Chanyeol

 

“Kau mencemaskan aku?”

 

“Tidak”

 

“Untuk apa kau mencemaskan aku? Bukan kah kau yang akan membawaku pergi  dari dunia ini? Aku akan mati 1 bulan lagi ingat itu. Jadi, jangan mengkhawatirkan aku”Shin Yeong berdiri kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk menaruh meja dan kursi di atap. Chanyeol yang mendengar pernyataan Shin Yeong menhela napas berat. Apa yang Shin Yeong katakan memang benar. Tapi, apa setega itu? Apa Chanyeol setega itu? Jika tidak melakukanya Chanyeol akan kembali seperti dulu.

 

####

 

Malam yang begitu dingin. Rintik hujan membuat suasana rumah yang begitu besar terlihat sangat menakutkan. Yah, menakutkan ada orang yang sudah mati yang mengitari Shin Yeong tentu saja menakutkan. Shin Yeong terlihat sibuk dengan laptopnya. Dia sudah lama di depan layar datar yang tampak tenang saat Shin Yeong menatapnya. Sedangkan Chanyeol memutuskan untuk meengistirahtakan dirinya di sebuah sofa cream di dekat Shin Yeong.

 

“Kau tidur?”Tanya Shin Yeong sambil focus mengetik sesuatu di web yang dia buka

 

“Tidak. Ada apa?”Tanya Chanyeol membuka matanya

 

“Saat kau mati. Apa yang kau lakukan? Maksudku sebelum kau mati?”

 

“Tidak ada”

 

“Tidak ada? Maksudmu?”Shin Yeong menoleh kearah Chanyeol sejenak kemudian focus kemabli kelayar laptopnya.

 

“Aku tidak melakukan apapun. Karena aku tidak tau saat itu aku akan mati”jelas singkat Chanyeol. Shin Yeong menghentikan  jarinya yang dari tadi memencet huruf yang ada di keyboard. Kemudian melihat kearah Chanyeol yang membangunkan dirinya. Chanyeol lebih memilih untuk duduk sambil bercerita.

 

“Boleh aku tau lebih jelas lagi?”Tanya Shin Yeong penasaran

 

“Aku mati saat aku menuju pesta pernikahanku. Aku mengalami kecelakaan”lanjut Chanyeol menjelaskan. Shin Yeong tampak sedih mendengar cerita Chanyeol dia diam dan memperhatikan apa yang akan Chanyeol katakan lagi padanya.

 

“Sebelum aku mengucap janji dan memberikan cincin padanya. Aku meninggalkanya”Chanyeol mengeluarkan cincin dari sakunya dan memperlihatkan cincin itu pada Shin Yeong”Ini cincin pernikahan kami. Aku tidak tau apa yang terjadi setelah itu padanya. Jadi, aku ingin minta tolong padamu Shin Yeong”Chanyeol menatap Shin Yeong berusha untuk memohon apa yang saat ini Chanyeol ingin lakukan.

 

“Aku? Aku bisa membantu apa?”Tanya Shin Yeong bingung

 

“Besok. Tolong berikan cincin ini padanya. Dan tolong bilang padanya bahwa aku mencintainya. Sebenarnya bukan hanya padanya tapi pada orang tuaku juga”jelas Chanyeol pada Shin Yeong.

 

“Begitu. Kehidupan kita berbalik ya? Kau meninggal tapi kedua orang tuamu masiha ada sedangkan aku tinggal sendirian di rumah sebesar ini tanpa orang tau. Tuhan memanggil mereka. Tapi, aku lega sebantar lagi aku akan bertemu mereka”Shin Yeong juga menceritakan apa yang ada di pikiranya sekarang. Chanyeol hanya tersenyum simpul pada Shin Yeong lalu Shin Yeong kembali menatap layar lebar yang ada di depanya.

 

#####

 

Seoul,3 November 2013

Shin Yeong duduk di dalam kelasnya dengan wajah yang tampak baik-baik saja. Sedangkan Chanyeol berdiri di samping Shin Yeong karena semua kursi sudah terisi penuh.

 

“Selamat pagi anak-anak”sapa seorang guru laki-laki yang saat ini membawa kamus tebal dan beberapa kertas di tanganya.

 

“Ah, ini pelajaran yang tidak aku sukai”keluh Shin Yeong malas

 

“Pintarlah sedikit dalam bahasa Inggris”saran Chanyeol

 

“Apa pedulimu? Memangnya di akhirat nanti aku akan di tanyai dengan bahasa Inggris”

 

“Yah maksudku kan bukan seperti itu. Dasar bodoh!”

 

“Baiklah anak-anak sekarang kita akan ulangan”ujar sang guru menyebarkan soal ulangan yang dia bawa.

 

“Ah, sial! Tau begitu tadi aku kabur”Shin lagi-lagi menggerutu tidak jelas

 

“Kalau orang bodoh tetap bodoh!!”ejek Chanyeol

 

“Sekali lagi kau bicara akan ku robek mulutmu!!”geram Shin Yeong dengan nada suara yang tinggi dank eras.

 

“Kim Shin Yeong, bicara dengan siapa kau?”Tanya guru yang bertubuh gendut dan berambut putih itu.

 

“Maaf pak,pada saya sendiri”jawab Shin Yeong aneh. Semua temanya tertawa mendengar Shin Yeong.

 

“Akhir-akhir ini dia memang seperti orang gila pak. Bicara sendiri”ejek salah satu teman Shin Yeong yang mengundang tawa sekali lagi di dalam kelas 12-1 itu. Shin Yeong hanya tersenyum palsu mendengar apa yang temanya itu simpulkan. Yah memang benar. Karena Shin Yeong punya boneka transparan tapi, memang lebih tampan dia dari pada orang yang selalu Shin Yeong bilang transparan.

 

Ulangan pun di mulai, semua murid tampak tenang megerjakan soal ulangan tersebut keculali Shin Yeong. Dia hanya bisa melihat dan membaca tulisan yang sama sekali dia tidak mengerti. Chanyeol yang tidak punya tempat duduk memutuskan duduk di lantai dan bersandar di meja Shin Yeong. Cukup lama Shin Yeong berpikir saat melihat Chanyeol menutup matanya dan mencoba tidur Shin Yeong tersenyum dan memanggil Chanyeol.

 

“Park Chanyeol heh Park Chanyeol”panggil Shin Yeong pelan

 

“Ada apa?”Tanya Chanyeol malas

 

“Berdirilah”perintah Shin Yeong

 

“Untuk apa?”

 

“Bukankah kau tidak terlihat? Jadi cepat lihat jawaban temanku nanti bilang padaku”

 

“Apa?”teriak Chanyeol kaget”Kau mau mencontek?”Tanya Chanyeol

 

“Bukan. Ini bukan mencontek. Lagi pula kau yang melihat bukan aku. Jadi aku tidak mencontekkan?”jawab Shin Yeong datar

 

“Tapi, itu sama saja bodoh!! Kau memanfaatkan aku untuk mencontek”

 

“Aku bilang aku tidak mencontek. Kau yang bodoh”

 

“Aku tidak mau”tolak Chanyeol

 

“Yak!! Park Chanyeol”

 

“Aku bilang aku tidak mau”

 

“Yakk!! Park Chanyeol!!!!”sekali lagi Shin Yeong berteriak di dalam kelas. Semua bingung melihat Shin Yeong memanggil nama yang tidak ada di dalam kelasnya.

 

“Siapa yang kau panggil?”Tanya guru Shin Yeong heran

 

“Bukan siapa-siapa pak. Maaf ”

 

“Sudah 2 kali kau gaduh di dalam kelas. Awas nilaimu buruk”

 

“Iya pak. Dengar jika kau tidak mau membantuku. Aku tidak akan membantumu. Apa lagi memberikan cincin itu pada calon istrimu”ancam Shin Yeong. Chanyeol tampak sebal. Dia berdiri dan melihat Shin Yeong dengan wajah yang sangat geram.

 

“aku harus lihat pada siapa?”Tanya Chanyeol

 

“Lihat pada semuanya jika jawabnya banyak yang sama berarti itu yang benar”

 

“Ahk!! menyebalkan”Chanyeol melihat semua jawaban dari semua teman sekelas Shin Yeong. Chanyeol menulis jawaban yang benar di atas secarik kertas yang dia bawa. Shin Yeong yang melihat Chanyeol berusaha keras untuk mendapatkan jawaban yang benar hanya tersenyum senang. Setelah mendapatkan semunya. Chanyeol menuju meja Shin Yeong dan meletakan kertas itu di depan Shin Yeong.

 

“Sudah aku tulis jawaban yang benar”

 

“Kau yakin ini semua benar?”

 

“Tentu saja”

 

“Seberapa yakin?”

 

“Dasar cerewet. Masih untung aku menurutimu!’teriak Chanyeol kemudian keluar dari kelas Shin Yeong dengan wajah yang marah.

 

Tepat pukul Dua siang Shin Yeong keluar dari kelas. Bel pun berbunyi tanda pelajaran berakhir. Shin Yeong keluar dengan riang gembira dia berjalan sambil melompat dan juga bernyanyi. Tapi tiba-tiba dia merasakan sakit di kepalanya. Shin Yeong terdiam sambil memegang tembok.

 

“Ahkk!!”keluh Shin Yeong yang merasa kesakitan. Tangan Shin Yeong perlahan merosot kebawah Chanyeol yang melihat Shin Yeong dari jauh mencoba untuk berlari dan membantunya tapi ternyata seorang pemuda menahan tangan Shin Yeong agar Shin Yeong tidak terjatuh.

 

“Kau tidak apa-apa?”Tanya pemuda itu pada Shin Yeong. Shin Yeong mencoba untuk menegapkan tubuhnya. Dia bersandar di dinding sambil memperjelas pengelihatanya.

 

“Aku tidak apa-apa”balas Shin Yeong lirih

 

“Tapi, wajahmu pucat Shin Yeong”

 

“Aku tidak apa-apa Baekhyun. Aku hanya sedikit pusing”

 

“Apa aku perlu mengantarmu pulang?”

 

“Tidak perlu”

 

“Tidak apa-apa. Tunggu disini. Aku akan siapakan mobil”Baekhyun berlari ke parkiran dan mencoba untuk menyiapkan mobil untuk mengantar Shin Yeong. Chanyeol berjalan pelan kearah Shin Yeong.

 

“Untung saja dia memaksamu. Jika tidak memangnya kau bisa pulang sendiri?”Tanya Chanyeol heran dengan penolakan Shin Yeong

 

“Kau belum tau siapa Byun Baekhyun”jawab Shin Yeong lirih

 

“Terserah kau saja”

 

“Dimana alamat Calon istrimu?”Tanya Shin Yeong

 

“Apa? Alamat?”

 

“Iya, kita akan kesana. Biar Baekhyun yang mengantar kita”

 

Baekhyun, Shin Yeong dan juga Chanyeol berada di dalam satu mobil. Walaupun Baekhyun tidak tau jika Chanyeol berada di kursi belakang.

 

“Kita ketoko bunga Han Tae Sun, kau tau alamatnya kan?”Tanya Shin Yeong

 

“Yah, aku tau. Untuk apa?”Tanya Baekhyun heran

 

“Aku ingin membeli bunga untuk di taruh di makam orang tuaku”

 

“Baiklah”tanpa banyak kata Baekhyun menuju toko bunga yang Shin Yeong maksudkan. Di depan toko bunga yang tampak ramai itu Baekhyun menghentiakan mobilnya. Baekhyun membuka jendela mobilny dan melihat kearah toko yang banyak pengunjungnya itu.

 

“Perlu aku ikut?”Tanya Baekhyun

 

“Tidak. Terimakasih kau sudah mengantarku”Shin Yeong membuka pintu mobil Baekhyun sebelum keluar Baekhyun memegang tangan Shin Yeong hingga membuat Shin Yeong terkejut. Kemudian Baekhyun memberikan sebuah surat kecil agar Shin Yeong membacanya.

 

“Tidak perlu di jawab sekarang. Jika kau mau datang. Aku akan sangat senang. Aku menunggumu”Baekhyun dan Shin Yeong saling tersenyum. Setelah Shin Yeong keluar Baekhyun pergi bersama mobilnya.

 

Shin Yeong berjalan mendekati toko yang saat ini Chanyeol pandang sangat lama. Chanyeol terus memandang toko itu dan mengingat kejadian yang membuatnya tidak akan lupa sampai sekarang.

 

“Apa kau tidak mau masuk?”Tanya Shin Yeong yang melihat Chanyeol terus memandangi toko tersebut. Chanyeol membuyarkan lamunanya dan berjalan mengikuti Shin Yeong masuk. Shin Yeong memasuki toko yang tidak terlalu luas itu tapi cukup untuk beberapa orang yang suka memilih bunga yang mereka sukai.

 

“Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?”Tanya seorang wanita berambut panjang yang terlihat sangat cantik walaupun dengan celemek dan sarung tangan yang berada di tubuhnya. Senyumnya seakan ingin memeluknya dan mengatakan cinta padanya. Chanyeol terus menatap wanita yang tingga beberapa meter darinya bahkan tangan Chanyeol mencoba meraih tangan wanita itu tapi sayang Chanyeol tidak bisa melakukanya. Shin Yeong yang melihat Chanyeol hanya bisa diam dan membiarkan moment itu berjalan beberapa menit.

 

“Maaf nona ada yang bisa saya bantu?”Tanya lagi sang pemilik toko pada Shin Yeong

 

“Emmhh,maaf anda Han Tae Sun?”Tanya Shin Yeong memastikan

 

“Benar. Anda siapa?”

 

“Saya Kim Shin Yeong”Shin Yeong mengarahkan tanganya pada Tae Sun. Tae Sun tersenyum dan menyambutnya hangat

 

“Ada perlu dengan saya?”

 

“Iya, saya ingin menyampaikan sesuatu tentang Park Chanyeol”mendengar nama itu Tae Sun terlihat kaget. Tae Sun mempersilahkan Shin Yeong masuk ke dalam ruanganya. Disitulah Shin Yeong dan Tae Sun bicara.

 

“Ada apa dengan Park Chanyeol?”Tanya Te Sun ingin tau. Shin Yeong mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menaruhnya di meja kaca yang ada di depan mereka. Cincin.

 

“Itu cincin anda”

 

“Maksud anda?”Tanya Tae Sun bingung

 

“Itu adalah cincin yang belum sempat Chanyeol berikan pada anda saat dia kecelakaan”mendengar penjelasan singkat Shin Yeong. Tae Sun tampak bingung, tanganya meraih sebuah cincin yang terlihat sangat indah dan cantik. Mata Tae Sun mulai berkaca saat Tae Sun memegang cincin itu di tanganya.

 

“Ada sebuah pesan juga darinya sebelum dia meninggal. Dia Park Chanyeol sangat mencintai anda sampai kapanpun dan dimanapun anda berada”Jelas Shin Yeong. Chanyeol yang berdiri di dekat Tae Sun hanya bisa memandang Tae Sun yang sudah mengeluarkan air matanya. Tae Sun menangis begitu keras sambil mencium cincin yang akan di berikan Chanyeol padanya saat hari pernikahan itu datang.”Dia ingin anda menyimpanya”lanjut Shin Yeong. Tae  Sun menaruh kembali cincin yang tadi dia cium dan tangisi.

 

“Aku tidak bisa”jawab Tae Sun membuat Chanyeol terkajut mendengarnya

 

“Kenapa?”

 

“Aku, sudah menikah 1 minggu yang lalu”Tae Sun menunjukan cincin yang dia pakai pada Shin Yeong. Shin Yeong melihat kearah Chanyeol yang terlihat begitu Shock dan kegat.

 

“Tapi, anda bisa menyimpanya saja tanpa memakainya”saran Shin Yeong

 

“Aku tidak bisa. Maafkan aku. Aku ingin semua tentang Chanyeol hilang dari hidupku. Dia adalah hal tersakit yang pernah aku temui. Dan sekarang aku ingin mencoba melupakanya”jelas Tae Sun. Chanyeol yang mendengar tersenyum miris. Tentu saja Cahnyeol bukan manusia sekarang dia sudah meninggal tidak mungkin Tae Sun terus mengingatnya.

 

“Terimakasih. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya”Tae Sun menyododrkan cincin Chanyeol pada Shin Yeong kemudian keluar dari ruangan yang membuatnya menangis lagi.

 

Shin Yeong dan Chanyeol berjalan tanpa mengeluarkan kalimat atau kata satupun dari mulut mereka. Shin Yeong tau bagaimana perasaan Chanyeol saat ini. Tapi, Shin Yeong tidak bisa melakukan apapun untuk Chanyeol dalam keadaan seperti ini.

 

“Bagaimana dengan cincinya?”Tanya Shin Yeong membuka pembicaraan

 

“Buang saja”jawab Chanyeol santai

 

“Apa?”

 

“Aku bilang buang. Apa susahnya hanya membuang cincin saja huh?”Chanyeol merebut cincin itu dari tangan Shin Yeong tanpa sadar Shin Yeong dan Chanyeol bersentuhan. Saat Chanyeol ingin membuangnya dia baru sadar baru saja menyentuh tangan Shin Yeong.

 

“Kita? Bisa bersentuhan?”Tanya Shin Yeong pada Chanyeol

 

“Itu bukan urusanmu”Chanyeol mencoba untuk membuanganya lagi tapi Shin Yeong menahanya agar tidak di buang.

 

“Jangan di buang. Untukku saja yah….”Shin Yeong merebut cincin itu dari tangan Chanyeol

 

“Terserah kau”Chanyeol berjalan mendahului Shin Yeong dan mereka kini menuju rumah Chanyeol yang letaknya tidak jauh dari tokok bunga milik Tae Sun. sebuah rumah yang sederhana dan terlihat tenang. Shin Yeong dan Chanyeol mencoba masuk ke dalam dan melihat apakah ada orang atau tidak.

 

“Permisi apa ada orang?”Teriak Shin Yeong

 

“Siapa kau?”suara itu muncul dari belakang Shin Yeong dia sempat terkejut dan melihat seorang laki-laki tua bertanya padanya.

 

“Dia ayahku”Chanyeol mencoba untuk memperkenalkan ayahnya”Dia mirip dengankukan?”lanjut Chanyeol bertanya

 

“Sama sekali tidak. lebih tampan ayahmu dan terlihat jelas lebih pintar ayahmu”balas Shin Yeong yang membuat Chanyeol harus menghela napas.

 

“Saya Kim Shin Yeong paman”ujar Shin Yeong sambil mengulurkan tanganya.

 

“Siapa yang datang?”dan kini suara itu muncul dari balik pintu kamar Chanyeol

 

“Ibu”panggil Chanyeol sambil tersenyum

 

“Aku juga tidak tau. Katanya namanya Kim Shin Yeong”jawab Ayah Chanyeol sambil melepas topinya dan duduk di sebuah kursi kayu yang ada di halaman rumah Chanyeol.

 

“Kau cantik sekali. Kau ada perlu apa datang kemari?”Tanya ibu Chanyeol mendekati Shin Yeong. Shin Yeong tersenyum malu lalu berbisik pada Chanyeol yang ada di sampingnya.

 

“Lihat, ibumu saja bilang aku cantik. berarti aku ini memang cantik”

 

“Ibu. Pengelihatanya tidak normal jadi wajar saja orang jelek sepertimu di bilang cantik”

 

“Yak! Park Chanyeol kau mau mati?”

 

“Aku sudah mati”

 

“Benar juga. Ah, maaf bibi aku mengganggu ya? Aku kemari ingin mengantarkan pesan untuk paman dan bibi dari….Chanyeol”Chanyeol nama yang di sebut Shin Yeong menyita mata kedua orang tua Chanyeol. Mereka terkajut dan saling berpandangan. Akhirnya sambil makan siang Shin Yeong menceritakan maksud kedatanganya.

 

“Apa yang Chanyeol katakan padamu?”Tanya ayah Chanyeol penasaran

 

“Dia bilang. Paman orang yang tampan lebih tampan darinya”Chanyeol yang berada di sebelah Shin Yeong tersenyum mendengarnya

 

“Benarkah. Anak itu”

 

“Kalau untuk bibi apa?”

 

“Bibi….emmmhh, wanita tercantik sedunia”

 

“Dia selalu bisa membuat orang tuanya tertawa”

 

“Chanyeol juga berkata. Dia sangat merindukan ayah dan ibunya. Dia sangat menyayangi dan mencintai ayah dan ibunya. Dia ingin memeluk ayah dan ibunya, dia ingin makan masakan ibunya dan bekerja bersama ayahanya”penjelasan Shin Yeong membuat Chanyeol tak mengerti. Chanyeol hanya bilang bahwa dia sangat mencintai kedua orang taunya. Tidak ada tambahan lain. Tapi air mata Shin Yeong mengatakan bahwa kalimat itu di tujukan pada orang tuanya.

 

“Jangan menangis”Ibu Chanyeol meraih tubuh Shin Yeong yang akhirnya menumpahkan air matanya yang sejak tadi tertahan di dalam.

 

#####

 

Chanyeol dan Shin Yeong berjalan menyusuri jalanan yang cukup panjang dan gelap. Shin Yeong lebih memilih menikmati cahaya lampu malam yang indah dengan jalan kaki dari pada harus menaiki kendara umum yang dari tadi melewatinya.

 

“Kenapa kita tidak naik bus saja?”Tanya Chanyeol pada Shin Yeong yang dari tadi menikmati perjalananya

 

“Tidak. Kau ini malaikat jalan sependek itu saja sudah mengeluh”protes Shin Yeong sebel

 

“taruh dimana otakmu huh? Sejak kapan 6KM itu pendek? Kau kira itu berubah jadi 6CM?”

 

“Kau itu cerewet sekali, Jika mau naik ya naik bus sana”

 

“Jika aku manusia dari tadi aku melakukanya. Bodoh!”Chanyeol mengejek Shin Yeong sebal dan meninggalkan Shin Yeong yang menatap Chanyeol dengan mata yang siap untuk memakanya.

 

“Kenapa aku di temani malaikat seperti dia? Huh ini menyebalkan!!”baru saja Shin Yeong melanhkah dia melihat sebuah darah yang menetes kebawah saat Shin Yeong menyentuh hidungnya Shin Yeong begitu terkejut. Tanganya gemetar dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sakit. Itu yang Shin Yeong rasakan kali ini. Jalanan yang Shin Yeong lihat tampak kabur perlahan mata Shin Yeong susah untuk di buka. Dan tubuh Shin Yeong mulai lemas. Shin Yeong akhirnya tidak bisa menahan sakit di kepalanya dia menutup mata dan membiarkan tubuhnya terjatuh kearah Chanyeol yang dari tadi sudah ada di belakang Shin Yeong.

 

“Kau takutkan? Kau takut menghadapi kematianmu?”gumam Chnayeol saat tubuh Shin Yeong berada di dekapanya. Chanyeol menggendong Shin Yeong dan membawanya pulang.

 

#####

 

Hari berjalan dengan cepat waktu yang menunjukan angka yang sama tapi memperlihatkan kehidupan yang berbeda. Saat ini Shin Yeong hanya bisa melihat ke jendela kamarnya tanpa bisa beraktivitas seperti biasa.

 

“Apa kau takut?”Tanya Chanyeol menghampiri Shin Yeong

 

“Tidak”jawab Shin Yeong singkat

 

“Sebelum kau pergi adakah yang ingin kau lakukan?”lanjut Chanyeol bertanya

 

“Emmm, aku ingin. Berdansa dengan seseorang. Tapi tidak denganmu”

 

“Pemikiran bodoh. Apa kau tidak pernah jatuh cinta?”

 

“Pernah”

 

“Kalau pacaran?”

 

“Tidak pernah, Aku tidak mau punya pacar. Karena semua itu percuma saja aku akan mati”

 

“Pendek sekali pikiranmu. Ah bukankah kau di undang untuk bertemu Baekhyun nanti malam?”

 

“Aku tidak akan datang”

 

“Bukankah keinginanmu adalah berdansa dengan seseorang?”

 

“Byun Baekhyun. Dia suka bicara hal konyol seperti itu”Shin Yeong kembali menatap jalanan yang begitu panjang di hadapanya. Matanya tampak sayu dan wajahnya mulai terlihat pucat. Hari ini adalah hari ke 29 dimana 24 jam lagi Chanyeol akan membawa Shin Yeong untuk pergi. Pergi jauh dimana sebuah tempat akan membuat Shin Yeong tenang.

 

“Ah, Aku ingin jalan-jalan. Ayo temani aku”ajak Shin Yeong pada Chanyeol yang saat itu duduk manis melihat Shin Yeong yang terus menatap jalanan. Chanyeol menghela napas dan membiarkan Shin Yeong berjalan lebih dulu darinya.

 

Stapak jalan yang ramai. Terlihat anak-anak kecil berlarian di taman. Beberapa orang tua bercengkrama dan juga pasangan muda-mudi saling bergendengan tangan. Semua ini tidak akan bisa Shin Yeong lihat lagi. Semua ini tidak akan terjadi di kehidupan Shin Yeong lagi. Kim Shin Yeong mereka hanya akan mengingat namanya nama yang akan terukir di batu nisan putih dengan bunga yang menumpuk di atas tanah tempatnya bersembunyi. Shin Yeong menghentikan langkahnya di antara orang-orang yang berjalan beriringan dengan.

 

“Kenapa berhenti?”Tanya Chanyeol

 

“Maukah kau mengabulkan permohonanku?”Tanya Shin Yeong melihat kearah Chanyeol yang berdiri di sampingnya.

 

“Apa?”Tanya Chanyeol penasaran

 

“Jadilah kekasihku satu hari ini saja sebelum aku pergi”jujur Shin Yeong yang menatap Chanyeol penuh harap

 

“Apa maumu?”selidik Chanyeol heran

 

“Aku mau bergandengan tangan dengan seseorang. Tidur di bawah pohon yang rindang di bahu seseorang, dan malam harinya aku ingin berdansa dengan seseorang. Aku pernah merasakan cinta tapi aku tidak pernah merasakan di cintai. Cinta yang tulus tanpa memandang aku kaya, aku cantik, aku sehat ataupun aku akan mati Jadi aku….”Shin Yeong tiba-tiba di tarik Chanyeol ke dalam dekapan hangatnya. Chanyeol menarik tangan Shin Yeong dan memeluknya. Begitu hangat dan tenang. Shin Yeong tersenyum dan membalas pelukan Chanyeol tanpa Shin Yeong minta.

 

“Kita kencan?”ajak Chanyeol menyerahkan tangan kananya agar Shin Yeong gandeng

 

“Tentu”Shin Yeong menyambutnya dengan begitu ramah. Mereka saling berpegangan tangan dan berjalan menyusuri kota Seoul yang begitu padat dan ramai.Bukan hanya itu Shin Yeong dan Chanyeol juga menuju sebuah taman yang terlihat sepi disana Shin Yeong dan Chanyeol duduk bersama sambil menghirup udara segar yang berada di sekitar mereka.

 

“Hari ini aku senang”ujar Shin Yeong

 

“Benarkah?”

 

“Iya”Chanyeol melihat kearah Shin Yeong yang menatap langit biru dengan awan putih yang saling berkejaran. Chanyeol menggeser duduknya di samping Shin Yeong. Kemudian Chanyeol merangkul Shin Yeong hingga Shin Yeong menyandarakan kepalanya di bahu Chanyeol.

 

“Tidurlah”

 

“Tidak”

 

“Kenapa?”

 

“Karena saat aku tidur semua akan berubah”

 

“Tidak akan. Tidurlah aku akan menjagamu”

 

“Sekarang kau terlihat lembut padaku. Tapi waktu pertama kali kau…..”Chanyeol sekali lagi membuat Shin Yeong memotong kalimatnya semula Shin Yeong mendapatkan pelukan hangat Chanyeol dan kali ini Shin Yeong mendapatkan ciuman lembut Chanyeol yang dia tempatkan di bibir pucat Shin Yeong. Cukup lama Chanyeol melakukanya hingga Shin Yeong yang semula melebarkan matanya kaget perlahan menutup matanya dan menikmati apa yang dia dapatkan saat ini.

 

Pukul Delapan tepat Shin Yeong berada di depan kaca dengan pakaian yang terlihat anggun dan sangat cantik. Shin Yeong perlahan menyisir rambut panjangnya yang kini banyak berkurang. Setiap hari rambut Shin Yeong rontok begitu banyak. Shin Yeong lagi-lagi harus membuangnya ke dalam tong sampah yang dia sediakan di dalam kamarnya. Chanyeol yang melihat hal itu hanya bisa tertegun sedih. Matanya terlihat begitu merah hingga Chanyeol memutuskan untuk pergi dari dalam kamar Shin Yeong.

 

Chanyeol turun ke ruang tamu yang sudah tertata rapid an indah. Meja kecil dengan Dua kursi yang begitu cantik menghiasi ruang tamu rumah Shin Yeong. Chanyeol berjalan mendekati meja itu kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di depanya.

 

“Ini sungguh di luar dugaanku. Apa aku harus melihat semua ini? Aku tidak bisa”gumam Chanyeol yang merasa kasihan pada Shin Yeong saat ini. Chanyeol melonggarkan dasinya dan membiarkan kacing bajunya terbuka.

 

“Maaf menunggumu lama”suara Shin Yeong membuat Chanyeol kegat. Dia melihat kearah Shin Yeong yang turun kebawah menemui Chanyeol dengan riasan yang begitu cantik dan wig yang cocok untuk Shin Yeong membuat Chanyeol hanya bisa membuka mulutnya tak sadar.

 

“Kenapa kau melihatku seperti itu?”

 

“Kau”

 

“Aku sangat cantik?”

 

“Yah, aku egitu cantik dan sangat cantik”

 

“Kau mau berdansa denganku?”Shin Yeong mengulurkan tanganya pada Chanyeol. Chanyeol tersenyum aneh tanganya terdiam tanpa membalas ajakan Shin Yeong”Aku mohon”lanjut Shin Yeong memohon pada Chanyeol. Chanyeol mengulurkan tanganya. Shin Yeong memegang kedua tangan Chanyeol. Tangan kanan Chanyeol menyatu dengan kiri Shin Yeong sedangkan tangan kiri Chnayeol berada di pinggang Shin Yeong.

 

“Terimakasih”lirih Shin Yeong yang mendekati telinga Chanyeol

 

“Untuk apa?”Tanya Chanyeol heran

 

“Untuk menjadi Malaikatku. Kau adalah laki-laki pertama yang menciumku”ungkap Shin Yeong sambil tersenyum pada Chanyeol yang menatapnya iba.

 

“Begitu?”

 

“Jangan menatapku seperti itu bodoh!!”

 

“Lalu aku harus bagaimana?”

 

“Kau cukup memelukku dan berdansa denganku”Chanyeol menarik pinggang Shin Yeong hingga membuat tubuh mereka berbenturan. Mereka akhirnya berdansa dengan lagu yang Chanyeol putar dari sebuah DVD player.

 

“Boleh aku mengatakan sesuatu padamu?”Tanya Shin Yeong yang menyandarkan kepalanya di dada Chanyeol. Shin Yeong melirik jam dinding yang ada di rumahnya. Pukul 11.34

 

“Apa?”

 

“Aku takut. Aku sangat takut. Bagaimana saat aku mati. Apakah ada yang menangis untukku? Apa ada yang mengunjungi makamku? Dan ataukah ada yang akan mengingatku? Saat aku mati juga bagaimana aku akan bernapas? Bagaimana aku akan melakukan aktivitas disana? Aku sendirian ataukah aku akan banyak teman. Aku takut. Aku takut”jelas Shin Yeong sambil mengelurakan air matanya. Chanyeol memilih untuk menutup mulutnya dia hanya mengeratkan pelukanya pada Shin Yeong yang saat ini menangis di dadanya.

 

“Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja”hibur Chanyeol

 

Pagi datang dengan suara burung berkicauan. Shin Yeong tampak begitu lelap menutup matanya dengan gaun indah yang menyelubungi tubuhnya. Gaun yang malam itu membuatnya tampil Cantik di depan seorang malaikat yang selalu menemaninya.

 

“Kau siap?”Tanya Chanyeol

 

“Aku siap”jawab Shin Yeong masih membuka matanya. Perlahan sesuatu masuk ke dalam tubuh Shin Yeong membuat reaksi Shin Yeong terkejut. Napas Shin Yeong terhanti dan tiba-tiba roh Shin Yeong keluar dari tubuhnya. Roh Shin Yeong turun dari turun dari tempat tidur samba melihat tubuhnya terbaring kaku di atas tempat tidur. Baru sajaRoh Shin Yeong keluar sebuah pintu bercahaya datang. Pintu itu terbuka untuk Shin Yeong.

 

“Masuklah ke dalam pintu itu”perintah Chanyeol

 

“Kau?”

 

“Kita. Tidak akan bertemu lagi”Shin Yeong tampak kaget mendengar kalimat singkat Chanyeol. Shin Yeong perlahan mendekati Chanyeol dan menyentuh pipinya.

 

“Terimakasih. Malaikatku”ucap Shin Yeong kemudian berjinjit dan mencium lembut bibir Chanyeol. Shin Yeong menjauh dari Chanyeol dan berjalan masuk ke dalam pintu yang mengeluarkan cahaya sangat terang. Perlahan Shin Yeong menghilang dari hadapan Chanyeol hingga pintu itupun kini pergi meninggalkan kamar Shin Yeong. Chanyeol menghela napas laga. Tiba-tiba suara gemuruh datang dari luar beberapa keluarga Shin Yeong datang dan menemukan Shin Yeong tergeletak tidak bernyawa di atas tempat tidur.

 

“Kalian terlambat. Keluarga adalah hal paling penting di dunia. Setelah itu adalah teman. Jadi bagaimanapu keluarga dan teman kalian. Kalian harus tetap menyayangi mereka sebelum mereka pergi untuk selamanya”Chanyeol hilang dari kamar Shin Yeong dan membiarkan keluarga Shin Yeong menangis penuh penyesalan.

 

FLASH BACK

 

“Itulah Byun Baekhyun, dia hanya mempermainkan wanita. Dia akan mengajak wanita itu untuk kencan bersamanya tapi dia tidak akan datang menemuinya”jelas Shin Yeong pada salah satu teman sekolahnya. Teman Shin Yeong terlihat sedih dan sangat marah mendengar penjelasan Shin Yeong. Kemudian Shin Yeong keluar sekolahnya dengan wajah yang riang gembira. Dia berjalan di sepanjang jalan di Seoul sambil memakan es Cream di tanganya. Saat itu Shin Yeong bertemu seorang nenek tua yang duduk sambil memegang gelang tali berwarna merah.

 

“Nenek, kau menjual gelang itu?”Tanya Shin Yeong menghampiri nenek itu

 

“Iya nak. Kau mau membelinya. Ini adalah gelang yang akan mempertemukanmu dengan jodohmu nak”

 

“Benarkah? Kalau begitu aku beli ya nek”Shin Yeong memberikan semua uang yang ada di dalam saku baju seragamnya.”ini semua untuk nenek. Terimakasih nenek”Shin Yeong berjalan sambil melihati gelang merah yang begitu sederhana itu tapi tiba-tiba seseorang menabrak Shin Yeong hingga gelangnya terjatuh.

 

“Maaf aku tidak sengaja”ujar pemuda tampan dan tinggi yang saat ini mengambil gelang Shin Yeong yang terjatuh.

 

“Tidak apa-apa”balas Shin Yeong sambil mengambil gelang yang pemuda iitu berikan padanya. Saat itu Shin Yeong menatap kagum pada laki-laki berjas hitam dengan mawar merah di saku jasnya. Baju yang begitu resmi. Pikir Shin Yeong sedangkan di dada kirinya Shin Yeong membaca sebuah nama PARK CHANYEOL.

 

END

 

Pesan : kematian memanglah sangat menakutkan. Kita tidak tau kapan kita akan mati dan kapan kita akan pergi. Kita hanya tau lakukan hal yang terbaik sebelum kita pergi dari dunia yang memberi kita kepuasan sementara. Jangan jadi awan sat kau di atas kau tidak ingin turun kebawah jadilah pesawat, saat kalian di atas kalian akan sadar dan melihat kebawah. Semua ini hanya fiktif belaka jika ada kesamaan atau kata dan kalimat yang tidak berkenan sebagai Author saya minta maaf. Terimakasih untuk yang bersedia membaca tolong beri komentar kalian terimakasih J

Ini Special Ulang tahun Chanyeol

ChanyeolVirusDay J happy Birthday Park Chanyeol J

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s