Lacrymosa (Part 4)

 Untitled-1

Semilir angin yang bertiup dipuncak gedung itu.  meniup anak rambut yang dan menunjukan wajahnya dengan jelas. Jas hitam yang melekat tubuhnya pun itu berkibar  terkena angin. Pria itu duduk di tepi pembatas gedung dan membiarkan kakinya terjuntai menatap dasar gedung itu yang memperlihatkan mobil-mobil yang melaju di jalan.

Pria itu menatap kosong langit seolah menunggu sesuatu, wajahnya yang sayudengan perlahan matanya terpejam seakan terbawa suasana yang ada di situ. Dan dengan perlahan pula, dia kembali membuka matanya.

“perburuan dimulai. . .” ujar pria itu dengan tangan mengangkat segelas anggur yang berkilau di tengah cahaya lampu yang menghiasi Seoul

****

Jin-ah membuka matanya perlahan dan langsung merasakan sakit yang teramat sangat disekujur tubuhnya. Dia bahkan tak bisa bergerak dan masih pada posisinya, dan sepertinya dia sama sekali tak bergerak sejak tidur tadi malam. Badannya benar-benar terasa sangat sakit seakan lumpuh dan tak bisa melakukan apapun, bahkan tangannya. Yang dia lakukan sekarang adalah menunggu dengan pasrah, entah itu dia akan bisa merasakan tubuhnya lagi dan bisa bergerak, atau pria itu yang menemukannya dengan kondisi kaku.

Tak lama kemudian terdengar seseorang yang membuka pintu kamar Jin-ah. Terlihat Jong-in  dengan sweater cream yang memperlihatkan relung lehernya dan celana traine abu-abu yang ia kenakan.

Pria tu membawa nakas yang berisi sarapan, satu gelas air putih, yogurt, dan satu botol aneh yang berdiri disamping botol yogurt. Posisinya saat ini benar-benar bodoh, terlungkup dengan kemeja putih milik pria itu yang sedikit terangkat menapilkan pingang dan perutnya, serta selimut yang tergeletak dibawah karna dia buang tadi malam.Ditambah rambutnya yang berantakan, membuatnya terlihat sangat kacau.

Jika di pikir-pikir, pria itu selalu datang di waktu yang salah, selalu saja datang pada saat Jin-ah tidak ingin ada orang lain tahu tentangnya. Pria itu benar-benar dengan mudah mengusik hidupnya sekarang. Dan anehnya, dia pun merasa sangat membutuhkan pria itu tetap disampingnya. Hal gila yang bahkan tak pernah sekali pun terlintas dikepalanya selama ini. Dan yogurt susu? Sejak kapan pria itu tahu tentang sarapannya. Apa hanya kebetulan atau memang pria itu sudah tahu.

“ sakit?” pertanyaan pria itu seakan dia membaca pikirannya saat ini. dan membuat gadis itu hanya mendengus. Pria itu duduk di pinggir ranjang dan menaruh nakas itu diatas meja.

“sangat, aku bahkan tak bisa bergerak.” Ujar Jin-ah. Pria itu hanya menghela nafas dan tanpa Jin-ah sadari, pria itu sudah menyusupkan tangannya diantara ketiaknya dan mengangkatnya, lalu mendudukannya membuat gadis itu bersandar pada pungung ranjang.

“ efek kematian, yah. . . setidaknya kau tak mati sekarang.” Ujar pria itu sambil menyentuhkan telapak tangannya kearah kening Jin-ah lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu.

“kematian?”

“kau telah lolos dari maut kemarin. Dan sekarang yang mereka tahu, kau sudah mati. Kau fikir orang yang kau temui kemarin itu orang biasa?”  Tangan pria itu masih tetap berada di wajah Jin-ah perlahan menyentuh telinga Jin-ah saat menyisipkan rambut kebelakang telinganya dan membuat Jin-ah bergidik geli.

“dia mirip denganmu.”

“bukan aku.” Ujar pria itu sambil meletakan nakas itu diatas pangukan Jin-ah.

“aku tahu.” Dengus Jin-ah. Satu kalimat singkat yang selalu terlontar tanpa basa-basi merupakan nilai lebih dari pria itu di mata Jin-ah. Dia sangat menyukai cara bicara seperti itu. Dan entah mengapa, pungung pria itu menjadi totonan menarik dimata Jin-ah. Tengkuknya, lehernya, bahu dan pungungnya itu bisa dibilang sangat mengoda untuk disentuh.

Tak lama kemudian, tubuhnya mulai bisa digerakan, walaupun masih terasa kaku. Jong-in tetap duduk disampingnya  dan yang baru dia sadari, pria itu masih tetap menatap dirinya, seakan wajahnya itu totonan yang sangat menarik. Dan bodohnya lagi, mereka saling menatap satu sama lain tanpa menyadari hal itu.

“Mwoya?! Apa kau tak ada kerjaan lain? Pergi sana!”

“Pergi? Aku akan pergi setelah kau selesai makan, atau aku akan menjejalkannya dengan mulutku” ucapan itu terdengar sangat kasar dan sangat menyakin kan. Jin-ah tahu bahwa pria dihadapannya ini tidak pernah main-mian dengan perkataannya. Setidaknya dia cukup paham dengan sifat pria didepannya ini.

“gila” umpat Jin-ah.

Gadis itu tak habis fikir, bagaimana pria itu bahkan tanpa rasa malu, dan dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi mengatakan hal yang bahkan ditelinga Jin-ah terdengar konyol, namun juga cukup membuat dirinya kelimpungan. Dan kali ini dia benar-benar kesal. Gadis itu benar-benar tak bisa menganngkat sendok yang tergeletak dia samping mangkuk itu, seolah dia orang lumpuh yang tak bisa apapun. Didepan pria itu? apa yang akan dia lakukan sekarang, menyuapinya? Menjijikan.

“memegang sendok saja kau tak bisa.”

“ lalu?”

“kau fikir aku mau menyuapimu? Tidak terimakasih. Minum itu, setidaknya itu bisa membuatmu lebih baik.”

Pria itu bahkan tak mau repot-repot menunjukan apa yang dia maksud untuk diminum, tatapannya masih tetap fokus pada wajah Jin-ah dan membuat gadis itu benar-benar kesal. Jin-ah hanya memandangi botol itu dan berusaha menebak-nebak apa yang ada diisi botol itu.

Tidak. Jong-in bukan orang gila yang sengaja memasukan sesuatu kedalam minuman itu, dan jika memang dia berniat macam-macam dengan dirinya, keadaanya sekarang cukup untuk menjatuhkannya dan dia pasti dengan mudah melakukan apapun yang dia mau.

“obat tidur? Racun? Atau menurut mu itu obat yang akan membuatmu bisa tidur denganku? Sayang sekali, aku lebih baik memaksamu dari pada melakukan hal itu.” pria itu bahkan mengatakannya dengan wajah setenang air, datar, tanpa ekspresi, membuat pria itu sulit ditebak.

“aku jadi penasaran, apa kau ini benar-benar tak bisa membaca pikiranku?” ujar gadis itu sambil menelengkan kepalanya. Tiba-tiba pria itu malah memajukan wajahnya hingga berjarak beberapa senti dari wajahnya dan benar-benar membuat jantungnya berhenti berdetak dengan nafas yang tercekat di lehernya.

“itu yang ada di otakmu? Jadi kau mau melakukannya?”

“mati saja kau keneraka.” Umpat Jin-ah sambil menyambar botol itu walaupun sama sekali tidak membuka tutup botol itu dan masih mencengkramnya erat-erat. Menarik nafas saja masih sangat sakit untuk dia lakukan.

“ Minum saja, aku tak akan meniduri mu hanya karna kau mabuk, atau bahkan pingsan.”Ujar pria itu yang akhirnya menyingkirkan tatapannya dari wajah Jin-ah kearah ponselnya yang bergetar disaku celananya.

Gadis itu dengan cepat langsung menenggak isi didalam botol itu. Dan aneh, dia bahkan merasa tubuhnya kembali normal didetik berikutnya. Dia hanya mengerutkan kening sambil menatap bingung Jong-in yang masih sibuk dengan ponselnya. Gadis itu terlihat tergoda dengan aroma bubur yang menyentuh liang hidungnya.

Tanpa pikir panjang, gadis itu langsung menyantap bubur itu tanpa peduli pada Jong-in. Mereka terdiam, hidup didunianya masing-masing. Tak memperdulikan satu sama lain, walaupun sekarang Jin-ah masih tak habis fikir mengapa dia dengan mudah merasa nyaman terhadap seseorang, terlebih lagi dia itu pria. Pikirannya menyerukan seperti itu disela makannya dan tetap tak ada jawaban yang membuatnya makin mengangkat mangkuknya dan menutupi wajahnya dengan mangkuk itu.

Setelah menyelesaikan makannya, gadis itu mendongak dan mendesah lega bahkan hampir bersendawa. Dia lalu menaruh nakas itu di meja dan bersiap turun dari ranjang sebelum akhirnya menemukan Jong-in yang menatapnya dengan senyum yang sekarang tersungging diwajahnya, tangan kanannya menyangga kepalanya dan jelas membuat Jin-ah kelimpungan.

“ M ..mwoya? Apa kau dari tadi. . .”

“yah melihat napsu makanmu seperti babi dari awal sampai akhir” pria itu bahkan memiringkan kepala dengan senyum yang makin melebar.

“ sudah puas?”

“ belum. Bahkan tak ada seujung jaripun untuk merasa puas.”

Jin-ah hanya bisa menghela nafas  sambil mengretakan giginya. Dia menarik rambutnya kebelakang menyingkirkannya dari wajahnya sehingga menampilkan dahinya dan anak rambut yang kembali terjatuh, berusaha menemukan titik fokusnya. Dan sialnya, kali ini Jong-in lah yang kali ini hilang kendali, seperti manusia tak punya akal.

“ hei” panggil pria itu dengan suara yang terdengar sedikit serak membuat Jin-ah merasa bingung.

“Mwo!!” gadis itu sekarang terpaku didalam tatapan pria itu,  wajahnya kembali datar tanpa ekspresi yang membuatnya ketakutan tentang apa yang sedang dipikirkan pria itu. Cukup lama mereka saling menatap dan membuat dadanya sesak.

“ bolehkah aku menciummu?” pertanyaan itu meluncur dari pria itu dan membuat jantung Jin-ah berdetak hebat dengan kecepatan yang mengerikan. Bahkan nafasnya ikut tersengkal detik itu juga, seakan tak ada lagi persediaan oksigen disekitarnya.

“lalu jika kukatakan ‘tidak’ padamu, apa kau akan berhenti?” ujar Jin-ah akhirnya dengan susah payah, dan pada akhirnya dia menyesalinya karna suaranya terdengar seperti orang yang sedang memohon. Dan membuatnya mengutuk dirinya sendiri.

“Bagus Jika kau tahu.” Dengan senyum miring yang terlihat sekilas itu, Jong-in menarik tengkuk Jin-ah dengan perlahan menyentuh bibir gadis itu.

Sangat hati-hati dan perlahan walaupun hanya berlangsung beberapa menit. Pria itu sekarang seperti akan kehabisan waktu dan mulai terburu-buru. Dia memiringkan wajah, dan bibir pria itu mulai menekan bibirnya.menggigit bibir Jin-ah, dan membuatnya meringis dan dengan cepat menyelusupkan lidahnya masukbergerak menyentuh isi rongga mulut gadis itu dengan sesuka hati.

Jin-ah sedikit terengah saat lidah pria itu menemukan lidahnya dan membelitnya, tangan Jong-in bergerak menarik pinggang Jin-ah dan membuat tubuh mereka serapat mungkin dengan posisi yang bisa dibilang sangat sulit.Sedikit putus asa dan menarik kaki gadis itu agar melingkar dipinggangnya dan menarik punggung gadis itu hingga dada gadis itu membentur dadanya.

Dan entah mengapa, Jin-ah tak bisa menolak dan membiarkannya, jelas sangat konyol. Dia sekarang mengutuk dirinya yang sekarang sedang menjilat ludahnya sendiri. Tidak, mungkin memang kelemahan semua gadis ada pada seorang pria yang menarik perhatiannya dan membuat semuanya tumpul dan akan makin terjerumus jika memang tak memiliki iman. Oke mungkin hal itu tak terlalu diperhitungkan dalam hal ini.

Dan jika kali Jong-in mendorongnya hingga berbaring diatas ranjang, apa yang terjadi selanjutnya mungkin bisa ditebak. Pria itu terus mendesak seolah ingin mendapat yang lebih dari apa yang sedang di lancarkan saat ini dan pada akhirnya pertahanan Jin-ah runtuh. Gadis itu balik menciumnya dan ikut menarik tengkuk Jong-in dan mencengkram erat rambut pria itu. tak peduli bahwa mereka sudah benar-benar kehabisan oksigen dan membuat dada mereka terasa sangat sesak.

“ wah. . . tak sia-sia juga ya” ujar seseorang yang membuat mereka berdua terhenti dan detik berikutnya mereka saling melepaskan tautan bibir mereka.

Jong-in bahkan masih sempat mengusap saliva di ujung bibir Jin-ah dan memasang wajah datar, dingin, dan mungkin juga sedikit emosi yang tidak ia tunjukan. Untuk merasa marah, sepertinya sangat mungkin. Mengingat orang itu mengganggunya.

Terlihat Ren yang terduduk di sofa yang sengaja di taruh disudut ruangan itu  dengan tangan yang memegang sebuah bulu hitam yang cukup besar dan panjang. Pria itu mengenakan mantel hitam dengan sweater leher tinggi yang menutupi lehernya hingga ujung bawah dagunya. Jin-ah dengan perlahan menarik kakinya yang berada di samping pinggang Jong-in.

“yah, aku tak suka melewatkan apa yang dipertontonkan manusia.” ujar pria itu seolah memahami maksud dari tatapan Jong-in.  pria itu terus memainkan bulu yang ada ditangannya dan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Ruangan itu beberapa saat terasa sunyi dan menegang, bahkan wajah Ren mulai mengeras, namun masih dengan senyum yang terukir di bibirnya.

“ bukankah hari ini pagi yang cerah untuk menyaksikan darah?” pria itu kembali melanjutkan ucapannya. Dan terang saja, aura ruangan itu penuh dengan kemarahan dan ketenganan yang melebihi tadi.

Wajah Jong-in terlihat mengeras dan mulut yang mengatup rapat mengadu giginya hingga menimbulkan bunyi gemletuk. Jin-ah tak berminat mengatakan apapun kali ini, entah dia merasa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin dan jujur saja, membuatnya berfikir keras tentang apa tujuan orang itu hingga membunuh banyak orang.

“eodiga.”

“Gapyunggun, Gyeounggi-do.  Dua gadis sekaligus. Aku juga melihat sebuah tulisan membuatku tertarik.” Ujar Ren yang kali ini mefokuskan tatapannya kearah Jong-in dan Jin-ah.

“ mwoya?”

“ Vim Pattior, bahasanya ‘bertahan dibawah tekanan.’ Menarik bukan?”pria itu mengatakannya bahkan dengan senyum girang yang terpancar diwajahnya. Dan benar-benar membuat Jong-in kesal.

“ lalu, lingkaran sihir pemanggil iblis.” Gumam seseorang yang tiba-tiba muncul dan membuat semua mata tertuju pada pintu kamar dan memperlihatkan sebuah boneka beruang besar yang menutupi orang yang membawanya.

“Gyu-ri? Kemari. . .” ujar Jin-ah sambil menjulurkan kakinya menggantung diatas ranjang. Anak ituterlihat kesulitan dengan boneka yang ada ditangannya. Dan seingat Jin-ah, Gyu-ri tak pernah mempunyai boneka sebesar itu.

Dan kali ini tatapan Ren terlihat berbeda dari sebelumnya. Seolah dia sedang melihat sesuatu yang ada didalam tubuh Gyu-ri yang membuatnya tanpa ragu merubah tatapannya.Keningnya bahkan berkerut dengan mata yang membelakak seakan mengetahui sesuatu yang entah itu apa.

“Ren, Waeyo?” tanya Jin-ah yang sangat penasaran dengan tingkah Ren.

“ hei nak, bisa kau mendekat kemari?” ujar Ren tanpa memperdulikan pertanyaan Jin-ah. Anak itu berjalan kerah Ren lalu menaruh bonekanya di samping sofa yang Ren duduki dan berdiri tepat didepan Ren.

Gadis kecil itu terdiam beberapa saat didepan Ren. Mengamati lekuk wajah pria itu dengan wajah datar, walaupun sebenarnya Jin-ah tahu, anaknya sedang tertarik pada sesuatu yang ada pada Ren. Begitu pula Ren yang melakukan hal yang sama dengan Gyu-ri, tak peduli dengan siapa dan apa yang ada disekitarnya

“Ahjusshi, sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi dimana, aku pun tak tahu.” Ujar Gyu-ri menyentuhkan tangannya di dipunggung tangan Ren, dan sedikit mengusapnya.

Sedangkan pria itu masih terpaku, seolah memikirkan apa yang akan dia katakan selanjutnya. Dan dia tak mau repot-repot menyembuyikan eksprsi kagetnya. Pria itu lalu tersenyum dan mengusap rambut gadis kecil itu.

“ kau memang pernah bertemu denganku dikehidupanmu yang lain.” Ujar pria itu sambil mengusap kepala Gyu-ri. Bahkan terlihat sangat berhati-hati saat menyentuh kepala gadis kecil itu.

“eum. . .” gumam Gyu-ri sambil berbalik dan mengambil bonekanya dan berjalan kearah Jong-in.

“ kau kenal anak ini?”

“bukan itu yang harus dibahas sekarang bukan? Nah Gyuri, kau tahu  tentang lingkaran setan itu?” ujar Ren yang kembali fokus kearah Jong-in dengan senyum yang terlihat sedikit menghina atau entahlah, yang jelas hal itu juga membuat Jin-ah sedikit kesal.

“ya. . . aku sedikit tahu tentang itu. temanku yang sangat antisosial pernah mengatakan itu pada ku. Dan lingkaran yang ditunjukan di TV itu pun sama. Ada dua segitiga didalamnya.” Anank itu duduk dipangkuan Jong-in dengan tangan yang memeluk bonekanya erat. Menaruh dagunya di elngan boneka itu dan menatap kosong kearah lantai.

“ Itu  adalah tempat orang yang memanggil iblis. Dan iblis akan muncul di luar lingkaran. Bahkan darahpun tak  mengalir masuk kedalam lingkaran. Kunci nya solomon. Dilihat dari tulian yang melingkar di luar lingkaran. Sepertinya itu ritulan penyucian atau tumbal untuk seseorang. Hades. Kurasa itu,  dan tulisan Vim patior itu.seperti ancaman. Bahwa dia akan membunuh orang yang dan membuat seseorang itu tertekan hingga mati gila.”

Kalimat terakhir yang diucapan gadis kecil itu membuat ruangan itu senyap dan terasa pengap, seolah mereka yang akan jadi sasaran berikutnya, terlebih gadis itu berbicara sambil menunduk seolah sedang melihat kejadian itu sendiri. Anak itu mengangkat wajahnya dan menatap dengan pandangan sedikit kosong.

“ Mungkin itu yang ada diotakku.” Ujar gadis itu.

Terdengar suara tepuk tangan yang menggema diseluruh penjuru ruangan. Dan membuat Jong-in menelengkan kepalanya dan menatap Ren tajamm

“sangat rinci. Dan itu juga yang ada di pikiranku. Kau memang anak yang menarik. Jaga dia, karna aku tak bisa melakukan apapun tentang anak itu.” ujar Ren yang membuat Jin-ah dan Jong-in mengerutkan keningnya dan menatap pria itu tajam.

“apa maksudmu?” ujar Jong-in dengan nada rendah dan tatapan tajam, sedangkan Ren hanya tersenyum dengan tangan yang terangkat keatas.

“ melanggar perintah, maka aku tak akan bisa membantu selamanya. Dan jangan anggap aku baik padamu. Aku hanya sangat senang bermain disini.”

“kurasa cukup. Lagipula, bukankah hari ini sangat cerah? Jalan-jalan ide yang bagus.”lajut Pria itu sambil berdiri dan menyentak mantelnya.

“terima kasih saranmu.” Ucapan terima kasih itu bahkan sangat terdengar tidak setulus yang diucapankan.

Pria itu tersenyum dan berjalan keluar dari dalam kamar.

“sudah makan?”Tanya Jong-in dan anak itu hanya mengangguk dengan tangan yang masih mendekap erat bonekanya.

“ jadi bagaimana? “ tanya Jin-ah. Gadis itu mulai bisa menggerakan tubuhnya kembali, bahkan lebih baik dari hari biasanya. Tubuhnya terasa lebih ringan. Gadis itu memposisikan diri senyaman mungkin dan sebisa mungkin mengidari pria disampingnya ini.

“ ini bukan khasus FBI, kau tak bisa ikut. Lagi pula aku sudah memberikan surat keterangan bahwa kau telah mati. Kau keluar  dari FBI sekarang.” Ujar Jong-in enteng dan langsung membuat Jin-ah kaget dengan apa yang pria itu katakan.

“MWO?!” jerit gadis itu tak terima. Walaupun sebenarnya itu tak bisa mempengaruhi apapun. Pria itu sudah benar-benar mencampuri hidupnya, dan ini sedikit kelewatan. Dia bukan suaminya yang, oh persetan. Jadi selama ini Jin-ah sudah merasa nyaman dengan adanya pria ini disampingnya? Dan membuatnya tidak terlalu ingin mencekik pria itu hingga lehernya patah? Sebenarnya ini apa?

“ Sehun juga sudah keluar, walaupun tidak mudah.” Ujar Jong-in yang terlihat tak berminat dengan kemarah Jin-ah, pria itu mengusap kepala Gyu-ri dan menyandarkan kepalanya di pucuk kepala gadis kecil itu.

“Apa hak mu?”

“ FBI sudah dikendalikan itu yang ku lihat, itu benar bukan, Gyu?”

“ eum. Itu benar, khasus ini sudah beruntun dan tak pernah tersentuh dan hanya sesumbar mengatakan sedang diselidiki barang bukti yang mereka kumpulkan tak pernah diteliti. Wajah para polisi hanya terlihat malas dan sangat santai seolah hanya kucing mati yang akan dikubur. Aku membobol tentang itu pagi ini. benar-benar  tak ada tindakan untuk menangani khasus ini, bahkan polisi sekalipun. Pihak keluarga bahkan tidak menyampaikan gugatan untuk pembunuhan yang terjadi pada anggota keluarga mereka. Wajah mereka terlihat sedih namun juga lega. Entahlah.” Ujar Gyu-ri yang membuat Jin-ah akhirnya menyerah dan hanya bisa menghela nafas saat mendengar penjelasan dari putrinya itu.

“ mau berapa lama kalian mengobrol? Masih ada yang harus kita lakukan, susun rencana untuk menangani ini. “ ujar Baekhyun  yang tiba-tiba muncul dengan tangan terlipat didepan dada dan badan yang bersandar di pintu kamar yang terbuka lebar. Gyu-ri langsung melompat dari pangkuan Jong-in dan berlari kecil kearah Baekhyun

“ Ahjusshi, kajja” ujar Gyu-ri sambil menarik tangan Baekhyun dan langsung pria itu pahami. Dia mengangkat tubuh Gyu-ri lalu berjalan pergi meninggalkan kamar dengan senyuman aneh yang ada diwajahnya barusan

“apa-apaan pria itu?!” sungut Jin-ah. Yang sekarang tersisa hanya Jong-in dan dirinya sendiri. Kembali hanya berdua yang membuat semuanya canggung, sedangkan Jong-in hanya diam tanpa suara dan dengan mata yang masih terkunci diwajah gadis itu.

Jin-ah berusaha mengendalikan diri dan tidak lagi bertindak bodoh seperti tadi.

“berikan tanganmu” ujar Jong-in malas sambil mengalihkan wajahnya. Jin-ah hanyabisa mengerutkan keningnya dan mencerna apa yang akan dilakukan pria itu padanya.

“ untuk apa?” tanya Jin-ah yang hanya dibalas dengan dengusan kesal Jong-in. Sedangkan tangan pria itu terlihatsedang berusaha meraih sesuatu dari sakunya dan dengan cepat pula pria itu menarik tangan Jin-ah lalu menyusupkan sesuatu di jari Jin-ah.

Terlihat sebuah cincin dengan emas putih dan tatahan satu berlian berwarna biru safir yang sangat kecil pada ukiran yang ada di dicincin itu. Jong-in membolak-balok tangan Jin-ah tanpa minat walaupun sebenarnya dia sangat berterimakasih pada dirinya sendiri dan tersenyum dalam hati.

“jangan kau lepas. Kubunuh jika kau berani melepasnya.”ujar pria itu sambil bangkit dan mengunci kedua tangannya di dalam saku celanannya dan berjalan meninggalkan Jin-ah yang sedang terpaku dengan benda yang sekarang melingkar di jarinya.

“ dan Ah~ya. . .” ujar Jong-in yang menghentikan langkah kakinya tepat didepan pintu. Dan membuat Jin-ah mendongak dan merasakan sesuatu akan meledak dari dirinya. Jantungnya bahkan berdentum gila-gilaan karna menebak-nebak apa yang akan di katakan pria itu.

“ kau milikku sekarang. Jadi berhati-hatilah, karna aku bukan orang baik.” Ujar pria itu lalu berjalan keluar dari kamar.

****

“Ah shit! “ seru salah satu pria dengan melempar semua kertas yang ada ditangannya.Yang membuat Jin-ah, Baekhyun dan Kris menoleh kearah pria yang sekarang menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa dengan wajah yang sangat frustasi.

Kertas yang penuh dengan gambar yang bisa dibilang, alat untuk membuat seseorang muntah. Tumpukan mayat yang dibiarkan begitu saja, darah yang ada dimana-mana dan bagian tubuh dari mayat-mayat itu yang berserakan, cukup mengaduk isi perut dan memaksanya keluar.

Jin-ah bahkan berulang kali menutup mulutnya dan berusaha tak memuntahkan isi perutnya sama yang Eun-ji lakukan setengah jam yang lalu. Gadis itu bahkan sampai menangis saat lembaran foto itu keluarkan.

“ sebenarnya percuma, aku sudah memandangi foto-foto itu beribu-ribu kali dan nihil. Hanya ingin memastikan barangkali mataku rusak.” Ujar Jong-in yang memilih duduk dengan tangan terjalin didepan dada. Pria itu menarik Gyu-ri yang terlihat sangat tertarik dengan foto-foto itu dan  membuat anak itu kaget dan terlihat sangat kesal.

“ Abeoji, lepaskan” gumam anak itu yang terlihat tak terima dan sedikit berontak.

“ biarkan saja, nantinya dia akan menyerah jika dia benar-benar mual dengan foto-foto itu” ujar Baekhyun yang masih terfokus pada tumpukan foto yang bolak-balik dia lihat. Sedangkan Jin-ah menatap Jong-in dan memberikan isyarat supaya pria itu menuruti apa kata Baekhyun

Jong-in akhirnya melepaskan gadis kecil itu. Hanya sebentar anak itu ikut menyentuh foto-foto itu dan menatap lekat-lekat salah satu foto,anak itu lalu berlari meninggalkan ruangan itu tanpa mengatakan apapun.

“ Gyu! Gwaenchana?” seru Jin-ah yang berdiri berusaha mengejar Gyu-ri, namun tangannya tercekat tangan Baekhyun yang menghalanginya

“ biarkan saja, kau tahu anakmu itu punya harga diri yang mengerikan. Dia tak papa, anak itukan kuat” ujar Baekhyun sambil menatap Jin-ah dan menarik lengan gadis itu agar mau kembali duduk. Gadis itu hanya menghentakan kakinya lalu duduk dengan meipat kedua kakinya.

“ kau ini bukan ayahnya, Byun Baek hyun~sii” ujar Jin-ah kesal.

Sedangakan pria itu hanya mengendikan bahunya dengan senyum menyebalkan yang dia perlihatkan.  Pria itu menoleh kearah Jin-ah dan kali ini dengan senyum yang lebih lebar yang membuat Jin-ah was-was tentang itu. Pria itu bahkan sedikit melirik kearah cincin yang melingkar di jari manis Jin-ah.

“Jinnie ambilkan minum” ujar pria itu yang langsung mendapat tendangan dari Jin-ah tepat di paha pria itu.

“ aku bukan budakmu bodoh!”

“Abeoji, igeo” ujar Gyu-ri tiba-tiba yang muncul dengan tangan yang memegang sebuah kuas hitam dengan ukiran berwarna emas pada tubuh kuas itu.

Jong-in menyipitkan matanya dan menatap benda itu tajam. Terlihat tubuh Gyu-ri yang berantakan  dan kotor oleh noda tanah. Jong-in bangkit dan berjalan kearah Gyu-ri yang berdiri sambil mengacungkan kuas itu. sedangkan Jin-ah masih terfokus menendangi kaki Baekhyun.

“Aku melihatnya di foto, tadinya kufikir itu hanya batang kayu biasa, tapi setelah kulihat baik-baik, ada bercak emas yang membuat ku penasaran” ujar Gyu-ri. Mendengar itu, Jin-ah dan Baekhyun langsung menoleh kearah Gyu-ri yang sedang memegang kuas itu. pria lalu langsung mengacak- acak tumpukan foto yang ada dimeja.

“eodi, eodi? Kau melihatnya dimana?” tanya Baekhyun penasaran di ikuti Chanyeol, Sehun dan Kris yang ikut mengaduk-aduk foto yang ada dimeja.

“ gambar kaki dewi Athena.” Ujar Gyu-ri yang berjalan dengan santai kearah foto yang tersisihkan di ujung meja. Anak itu mengambilnya lalu menyodorkannya kearah Baekhyun dan langsung dikerubungi oleh Chanyeol, Sehun, Kris dan Jin-ah.

“tunggu dulu, bisa ku pegang kuas itu?”  tanya Jin-ah yang kali ini menatap Jong-in yang membeku ditempat dengan tangan yang terlihat memerah dan gemetaran seolah benda itu akan hancur ditangannya detik itu juga.

Jin-ah yang melihatnya tanpa sadar menahan nafas merasakan sakit yang sama dengan pria itu. tapi mungkin, pria itu lebih parah. Jin-ah bangkit dan meninggalkan mereka yang sedang berusaa menatap foto itu sedangkan Gyu-ri duduk diam disamping Baekhyun sambil menatap Jong-in yang yang sama sekali tak bergerak.

Dengan perlahan Jin-ah menyentuh lengan pria itu dan sedikit meremasnya lalu mengambil kaus itu dari tangan Jong-in. Pria itu benar-benar seperti batu, tubuhya mengeras seolah dirinya itu patung.

“ tidak bisa kah kau tenang? Ini hanya sebuah kuas dan kau semarah ini? ini belum apa-apa, kau tak harus menghancurkan kuas ini. Bukan kuas yang harus kau hancurkan, tapi pemilik kuas ini. Jadi bisa kah kau . . .”

“Arra. . .” potong Jong-in dingin lalu berjalan menaiki tangga. Wajahnya kali ini terlihat hampir manangis terlebih tangannya yang gemetaran. Tapi sepertinya, empat orang itu masih serius mencari apa yang dilihat Gyu-ri hingga tak menyadari keadaan Jong-in sama sekali.

Jin-ah menghela nafas dan sekarang terfokus pada kuas ditangannya. Aura kuas itu bahkan tak tertandingkan, hitam pekat seolah kuas itu lah pembunuh.Perlahan Jin-ah menutup matanya dan  mencengkram erat kuas itu. Dahinya mengerut seiring dengan getaran tangannya yang makin kuat mencengkram kuas itu.

Yang ia lihat adalah gedung besar yang terselimuti kabut ditengah  danau. Itu bukan gedung biasa, seperti gedung perusahaan pencakar langit biasa, namun tak ada jalan lain selain melalui sebuah jembatan yang juga seolah tertelan kabut. Menyusur cepat memasuki gedung itu dan berakhir pada sesosok pria yang terduduk di tepi gedung dengan sebuah gelas wine dan kanvas kosong disisi lainnya. Saat Jin-ah berusaha melihat lebih dalam, lehernya seolah tercekik dengan rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya. Lehernya bahkan membiru seakan memang ada yang mencekiknya saat ini. Gyu-ri yang melihatnya langsung bangkit dan berdiri tepat disampaing Jin-ah, menatap Jin-ah yang mulai berkeringat dengan nafas yang tersengkal.

“Eomma, gwaenchana?” tanya Gyu-ri. Yang membuat Jin-ah sontak membuka matanya dan langsung terduduk dengan nafas yang memburu. Gyu-ri kali ini bisa melihat bekas tangan yang membiru dileher Jin-ah dan menatapnya bingung.

“ Gyu . . ambilkan Eomma minum?” perintah Jin-ah yang langsung dikerjakan anak itu. gadis kecil itu segera berlari kearah dapur dan bahka hampir terjatuh saking paniknya. Melihat Gyu-ri yang berlari dengan wajah panik, Baekhyun membalikan tubuhnya dan menemukan Jin-ah yang benar-benar terlihat sangat pucat dengan leher yang membiru.

“Waegeurae??” tanya Baekhyun yang menghambur kearah Jin-ah  setelah menyerah menemukan benda berbentuk kuas itu dalam foto.

“ aku tak bisa melihat wajahnya.Oppa. Seventh Heaven .corp, hanya itu yang kulihat dan lagi, Darah” ujar Jin-ah yang terlihat sangat kelelahan, Baekhyun benar-benar tak memahami apa yang Jin-ah katakan dan membuatnya mengguncang tubuh Jin-ah.

“apa makusdmu? Ada apa dengan SH .corp?” tanya Baekhyun yang berusaha mendapatkan sesuatu dari gadis itu.

Terlihat dari kejauhan, dengan langkah kecilnya. Gyu-ri membawa segelas air berusaha ada apa yang ada didalam gelas itu tidak tumpah.

“igeo Eomma”

Gadis itu menyodorkan gelas itu kearah Jin-ah  dengan kening berkerut. Anak itu langsung berbaik dan menatap ayahnya yang sedang menatap Jin-ah.

“Appa, periksa pendiri perusahan Seventh Heaven. Kurasa semua itu ada hubungannya dengan semua ini. dan mungkin dalang semuanya ada didalam perusahaan itu.” ujar anak itu yang terlihat sangat tidak tenang walaupun ekspresinya masih utuh tak berubah.

“ apa maksudmu?” tanya Baekhyun yang masih kebingungan.

“ Pemilik kuas itu salah satu orang yang ada diperusahan itu Ahjusshi! Kau bodoh sekali!” jerit gadis itu sambil menghentakan kakinya lalu menendang Baekhyun dan berjalan kearah Sehun dan mengalungkan lengannya dileher Sehun.

“appa. . .” gumam gadis itu sambil menyandarkan kepalanya dibahu Sehun. Pria itu berdiri dengan tatapan yang masih terfokus pada Jin-ah. sepertinya gadis kecil itu benar-benar ketakutan, bahkan tak berani menatap Jin-ah yang benar-benar pucat.

“ aku, Eun-ji dan Gyu akan pulang, lebih baik kau istirahat disini. Aku akan bicara dengan eomma nanti.” Ujar Sehun yang memegangi punggung dan mengusap tengkuk Gyu-ri. Jin-ah hanya mengangguk mengiyakan, sedangkan Baekhyun langsung berlari kearah komputernya diikuti Kris dan Chanyeol.

“ jangan beri tahu Jong-in tentang ini. Akan  sangat menyulitkan karna emosi pria itu benar-benar tidak baik. Kita akan memberi tahunya nanti.” Ujar Baekhyun. Pria itu membalikkan tubuhnya dan menatap  Jin-ah dengan wajah memohon.

“ ini demi kebaikkannya.”

***

“agashi. . .” ujar seseorang yang tiba-tiba memasuki ruangan. Lalu membungkuk memberi salam.

Dan lagi-lagi, pria itu terduduk ditepi pembatas gedung dan kali ini, bukan wine. Melainkan sebuah gelas dengan cairan merah yang mengental yang ada didalamnya. Pria itu hanya melirikkan matanya sendiri dan kebali ter fokus pada sebuah gambar.

“ternyata dia belum mati.” Ujar pria itu yang masih mengoyangkan gelas yang ada ditangannya sedangkan wanita itu hanya berdiri diam dan mendengarkan dengan  tenang.

Pria itu kembali tersenyum menatap cairan yang mulai menggumpal keseluruhan di gelasnya.

“ baik hati sekali, malaikat itu.”

“ yang harus kita lakukan sekarang, memperketat keamanan dan memperluas semua saham yang ada agar memikat . . .”

“yah. . . terserah kau saja.”

“ah. . . Lim~sii, bisa kah aku mendapatkan sebuah wine dan. . .” pria itu memperpanjang kalimat itu sambil mengangkat gelas yang ada ditangannya dan menuangkan isi gelas itu tepat di atas kanvas dengan siluet wajah gadis kecil dan membuat gambar itu tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah gumpalan darah yang membeku.

“ anak ini? aku ingin jantungnya. . .”

***

“sialan!.”

“ sudah selesai. . . acaranya sudah selesai jadi berhentilah mengumpat.” Dengus Eun-ji yang mulai sibuk dengan hiasan dirambut Jin-ah lalu beralih kewajah Jin-ah yang benar-benar terlihat seperti badut. wajah gadis itu benar-benar berantakan karena make up yang ia rusak sendiri.

Bukan tanpa alasan dia mengumpat seperti itu. pria itu, Kim Jong-in. Entah apa yang ada di otaknya dan apa saja yang dia susun bagaimana dia melakukannya dan hingga dia benar-benar berhasil menyeretnya ke altar. Pagi yang membuatnya syok hingga ingin mati seketika saat ibu Eun-ji berada disampingnya, menariknya bangun, menyuruhnya mandi, dan memakai baju pengantin. Lebih bodohnya, dia melakukannya tanpa protes sedikitpun seolah dia sedang di hipnotis dan saat sadar, tangannya sudah digenggam oleh ayah Eun-ji.

Dan wajah pria itu bahkan sedatar tembok. Tanpa ekspresi sama sekali dengan balutan jas hitam dengan sepatu yang mengkilap dan menarik sedikit perhatiannya adalah punggung pria itu saat membelakanginya tadi, punggung pria itu seolah menarik Jin-ah untuk mendekat dan menyentuhnya. Pernikahan singkat dengan 20 orang tamu yang mengisi tidak lebih dari setengah dari gereja besar itu. gereja dengan gaya klasik di hiasi mawar putih dan susunan bunga anemone merah yang ada di samping kanan kiri altar, pintu masuk, dan buket bunga yang di pegang Jin-ah membuat jantungnya hampir berhenti.

Anemone merah, bahasa bunganya ‘aku mencintaimu’. Walaupun tidak secara langsung, tapi setidaknnya pria itu memang berusaha menunjukannya. Dan kembali dia terhipnotis  oleh hal itu dan tanpa ragu membuatnya mengucapkan sumpah setia di depan pastor. Umpatan yang di keluarkan sejak tadi ditujukan untuknya sendiri.

“ berhentilah mengomel. istriku.” Ujar Jong-in yang tiba-tiba muncul dengan bersandar di pintu kamar itu menatap Jin-ah yang sangat berantakan. Gadis itu menatap Jong-in tajam seolah dia benar-benar akan membunuh pria itu sekarang juga. Eun-ji yang merasa akan terjadi perang sebentar lagi memilih mengendap-endap keluar dari kamar Jin-ah.

“sebenarnya apa yang kau lakukan hah?!” sungut Jin-ah. pria itu hanya mengendikan bahu dengan tangan yang masih terkunci didalam sakunya.

Pria itu terus berjalan mendekat kearah Jin-ah dan berhenti tepat didepan gadis itu. gadis yang terlihat sangat kacau seperti orang gila dengan tatapan mengerikan seolah dia benar-benar siap mencabik leher pria itu. dia memiringkan kepalanya menatap Jin-ah seperti biasa datar namun intens.

“menikahimu.” Ujar pria itu datar dan seketika membuat gigi Jin-ah gemeletuk saling mengantam satu sama lain dan dengan menarik nafas dalam –dalam.

“BAGAIMANA BISA AKU MAU MENIKAHIMU! ITU YANG KU MAKSUD!”seru gadis itu yang akahirnya bisa mengeluarkan apa yang ada dalam mulut dan benaknya. Sedangkan Jong-in hanya diam dan berlutut didepan Jin-ah, dan tatapannya yang bahkan tak lepas dari wajah Jin-ah.

“mana aku tahu, kau maju dengan suka rela. Dan aku sama sekali tidak memaksamu bukan? Aku sangat menepati janji ku, benar?”

“ bagaimana bisa kau sebut itu bukan suatu pemaksaan” kalimat itu menujukan betapa frustasinya Jin-ah. Pria itu benar, dan Jin-ah tak bisa melayangkan protesnya sama sekali. Sedangkan Jong-in hanya bisa tersenyum menatap wajah Jin-ah yang terlihat sangat khawatir, terlebih rambutnya yang berantakan membuatnya benar-benar terlihat sangat frustasi.

“ salahmu sendiri yang tak mau menolaknya.” Kekeh Jong-in yang membuat gadis itu hanya bisa mengumpat didalam mulutnya tanpa berani  mengeluarkannya.

“ Jangan macam-macamdenganku, Kim Jong-in. “ ujar gadis itu dengan mulut terkatup dan nada yang cukup tajam untuk seorang gadis. Pria itu menghela nafas lalu berdiri sambil mengangkat kedua tangannya.

“ baiklah. . . macam-macampun kau tak bisa menuntutku.”

“YAK!” seru Jin-ah dan membuat Jong-in tanpa sadar mengulurkan tangannya kearah rambut gadis itu danmulai mengacak-acaknya.

Tiba-tiba terlihat wajah Sehun dan ibu Eun-ji yang ketakutan dan membuat perasaan Jin-ah tiba-tiba tidak enak.

“kalian.Kalian melihat Gyu-ri?” tanya Sehun sambil menyapu pandangan keseluruh ruangan dan hasilnya nihil

“ tidak, wae?” Jin-ah segera berdiri terlihat sedang berusaha menemukan sesuatu didalam otaknya. Sedangkan Jong-in merasakan ada sesuatu yang mengerikan yang akan terjadi. Pria itu tetap memandangi ekspresi Jin-ah dengan tangan yang terkepal erat.

“ dimana dia, bisa kau cari?” wajah Sehun terlihat sangat cemas dengan menetap Jin-ah penuh harap. Anak itu, bukan anak yang kan pergi seenaknya tanpa pamit. Terlebih lagi umurnya baru 7 tahun dan kali ini ponselnya sama sekali tidak aktif dan membuatnya benar-benar khawatir.

Tiba-tiba Jin-ah menoleh kearah Jong-in dan mencengkram erat lengan pria itu. Nafas gadis itu tersengkal kesakitan dan membuat Jong-in langsung berlari menarik Jin-ah, menyambar kunci mobil dan keluar dari kamar .

“yak! Kalian ada apa?!” seru Sehun yang ikut berlari mengejar Jong-in dan Jin-ah. gadis itu terlihat sangat panik hingga kali ini dia lah yang berlari menarik Jong-in.

Sebelum masuk kedalam mobil dia masih sempat merobek gaun pengantin Jin-ah hingga tersisa samapi lutut dan menorong gadis itu masuk kedalam mobil. Tangannya bahkan gemertarn saat berusaha menekan tombol untuk menyalakan mesin.

“Eodiga.” Ujar Jong-in yang sudah melaju meninggalkan teras rumah Jin-ah dan melaju secepat  kilat.

“ rumahmu.” Ujar Jin-ah tepat di persimpangan jalan dan membuat Jong-in membanting stirnya menikuk dengan tajam sehingga menimbulkan bunyi yang mengerikan.

“Shit!”

“jangan keluar dari sana Gyu. .  Jebal. . .”

 

-TBC-

 

8 thoughts on “Lacrymosa (Part 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s