Blue Spacia

Nine-_Nine_Times_Time_Travel-0030 copy

 

March 25, 2037
Hidden room’s Daechi-do
6:30 AM

Di saat matahari mulai menampakan diri dan bunga mulai bermekaran. Dan disaat burung-burung saling bercengkrama terbang kesana kemari. Serta aroma kayu yang menyebar diseluruh ruangan yang menyentuh panca indra memberikan ketenangan musim semi. Pria paruh baya itu hanya diam tertunduk, hanyut dalam ketenangannya sendiri. Sudah terlampau lelah hingga dia tak tahu dimana dia terlelap. Kertas berserakan, penuh dengan coretan  simetris yang sangat memusingkan. Alat-alat aneh pun ikut serta membaur bersama dengan kertas-kertas itu. Dan diantara mereka itu, terlihat sebuah kristal biru safir yang berkilau di terpa cahaya pagi, walaupun terlihat seperti batu biasa yang tak beraturan, tapi batu itu terlihat sangat menawan.

Disudut lain ruangan itu, terlihat seorang gadisyang berdiri mengenakan gaun putih satin selutut dengan rambutcokelat yang dibiarkan terurai membelai bahu, leher serta wajahnya. Terlihat pula sebuah gelang yang di kaitkan dengan beberapa helai kabel yang dipasangkan di kepalanya.

Gadis itu terlihat sangat tenang, bahkan terlihat hampir tersenyum dengan matanya yang masih mengatup rapat itu. Tubuhnya melayang begitu saja didalam tabung yang berisi cairan dan gelembung yang bergerak disekitarnya. Wajahnya terlihat sangat bahagia seakan dia sedang bermimpi indah.

Tiba-tiba terdengar alarm berdering yang membuat pria itu terlonjak kaget dan langsung berdiri dengan tangan yang memegang pensil menulis sesuatu ditelapak tangannnya dengan keadaan setengah sadar dan kacamata yang tak terpasang dengan benar serta gumaman yang terus keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya, perlahan pria itu menemukan kesadarannya  dan mendapati dirinya sendiri yang terlihat sangat lusuh terpantul pada kaca tabung didepannya.

Wajahnya tiba-tiba menegang, namun bukan tegang karna takut, melainkan karna bahagia, kebahagiaan yang meluap-luap dari dalam dirinya. Dengan sedikit gemetaran, dia mengambil kristal yang tergeletak diatas meja dan berjalan mendekat kearah tabung. Entah berapa kali dia menghela nafas hingga dirinya sekarang berdiri didepan tabung yang didalamnya masih terdapat gadis itu.

Perlahan tapi pasti, pria itu memasukan kristal itu kedalam kotak yang ada disamping tabung. Dan saat kotak itu ditutup kristal itupun seketika masuk kedalam cairan yang menimbulkan deru mesin yang mengerikan, serta cahaya yang sangat menyilaukan memenuhi ruangan itu. Dengan perlahan, cahaya itu meredup dari tabung itu namun masih tersisa di tubuh gadis itu. Sedangakan cairan yang tadinya memenuhi tabung itu, perlahan menghilang seperti menguap entah kemana. Namun, gadis itu masih tetap dengan posisinya. Berdiri melayang dengan mata yang masih terpejam.

Dengan ragu-ragu, pria itu membuka tabung itu dengan hati-hati dan detik itu pula gadis itu terjatuh.

“ Jin-ah. . .” suara pria itu  terdengar sangat lirih memanggil nama gadis itu, dan tanpa pria itu sadari, air matanya sudah bergulir di pipinya.

Kelopak mata gadis itu perlahan mulai bergerak, sedikit menerjap membiasakan diri dengan cahaya matahari yang menusuk retinanya. Kening gadis itu berkerut saat melihat pria paruh baya yang ada disampingnya, menahan berat tubuhnya.

“ nu. . guya?” ujar gadis itu yang terdengar serak merasakan tenggorokannya yang sangat sakit. Dan detik itu pula, pria itu memeluk gadis itu erat dan menangis dibahu gadis itu.

“Ahjusshi, waeyo?” walaupun masih merasakan sakit pada kerongkongannya, namun gadis itu tetap memaksakan untuk mengatakan sesuatu dan membuat pelukan pria itu makin erat.

“ Ini aku Jin-ah, Jin hwa, kakakmu. Kau hidup. Kau kembali Jin-ah. . . terimakasih tuhan.”

“Jin hwa Oppa? Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sangat tua.?”

“ Neomu bogoshipeo. . . Jeongmal jeongmal bogoshipeoyo. . .”

 

83 years later

December 27, 2119

Crypt, Kai’s Home Daechi-do
16:32 PM

 

Jong-in sekarang hanya berdiri disebuah pintu kayu yang terlihat sangat rapuh setelah menelusuri labirin ini selama 2 hari.Didalam labirin ini terasa sangat pengap dan sangat dingin. Dengan ragu, pria itu memegang knop pintu itu dan mendorongnya, dan detik itu pula, pintu itu langsung terlepas dari engselnya dan menghamburkan debu-debu yang tadinya melekat dipintu itu.

Namja itu hanya mendengus dan mengarahkan lampu senternya kedalam ruangan. Yang dia lihat sekarang hanyalah kertas yang berserakan dan berlubang karna rayap. Sedikit bangga pada dirinya sendirinya karna bisa melihat rayap. Sekarang ini, sangat jarang untuk menemukan makhluk ini. Makhluk ini hanya ada didaerah hutan yang masih bisa di bilang manusiawi sebagai tempat bumi.

Pria itu bangkit sambil mengusap lututnya yang penuh dengan debu dengan menghamburkan pandangan kesegalah arah.  Dahinya mengerut saat melihat pantulan cahaya biru dari lampu senternya. Dia berjalan kearah sebuah meja dan duduk di ujung meja itu dan mengambil benda yang berkilau itu. Sebuah kristal biru safir yang tertutupi oleh debu yang cukup tebal.

“ inikah harta itu? Konyol. Lalu apa maksudnya dengan ‘cahaya tidak diperlukan saat ini’?” dengus pria itu sambil menerawang benda itu dengan senter yang ada dikepalanya.

Tiba-tiba senter yang ada di kepalanya itu mulai meredup dan mati dan membuat Jong-in hanya bisa mendengus kesal.Baru saja dia memasukan tangannya kedalam saku untuk mengambil senter cadangandan langsung terperangah saat sebuah hologram muncul didepannya menampilkan seorang pria tua yang duduk di sebuah kursi. Usianya mungkin sekitar 59 tahun.

“kau bisa menebak pertanyaan sederhana itu. tak perlu orang yang pandai untuk mengetahui arti kalimat itu bukan? “ujar pria itu dengan senyuman yang tersungging diwajahnya.

“aku bahkan memikirkannya sampai sakit kepala. Sial, jadi aku termasuk orang bodoh?” dengus Jong-in sambil melipat kedua tangannya. Mungkin pria itu benar, tidak harus bagi manusia untuk berfikiran rumit, cukup berfikiran sederhana.

“kau menemukan sesuatu?”

“yah. . . sebuah kristal biru.” Jawab Jong-in walaupun dia sendiri tahu bahwa pria tua itu tak akan dapat mendengarnya sama sekali

“ jika kau belum menemukan sesuatu, mungkin kau bisa melihat kesamping kananku. Sebuah tabung besar.” Ujar pria itu.

Jong-in akhirnya bisa melihat dengan jelas karna lampu-lampu seluruhnya menyala. Terlihat sebuah tabung kaca berdebu tebal yang ada disudut ruangan. Membuat keningnya berkerut penasaran dengan isi tabung itu, dia berjalan kearah tabung itu, dan mengeluarkan sebuah bola kecil dan menjatuhnya. Seketika itu pula, bola itu berubah menjadi asap dan membersihkan tabung itu.

Pria itu terlonjak kaget hingga dirinya terjatuh saat melihat seorang gadis yang masih utuh dengan gaun putih satin yang mulai kusam berada didalam tabung itu. gadis itu seakan tertidur dengan tubuhnya yang melayang didalam tabung.

“ kau bisa melihatnya? Dia adikku, umurnya 20 tahun. Dia sudah mati, tenggelam saat menyelamatkan ku dulu.”Pria itu kembali berbicara setelahbeberapa menit terdiam gelisah dikursi yang dia duduki. Jong-in langsung mengarahkan tatapan tajam kerah pria paruh baya itu. walaupun sebenarnya percuma, pria itu hanya sebuah hologram yang berbicara.

“Aku sudah tahu, ahjusshi! Dan kau benar-benar . .”

“ mungkin kau berfikir aku sudah gila. Aku memang gila. Aku pernah menghidupkannya saat umurku 43 tahun, dan dan kembali menidurkannya karna dia diincar waktu itu. kumohon kau jaga dia.”Potong pria itu yang membuat Jong-in hanya diam dan mendengarkan pria itu. sedikit kaget saat mendengar kata ‘ menghidupkannya’ bahkan dizaman serba modern ini, belum ada yang bisa menghidupkan orang mati. Jadi dia bisa menghidupkan orang mati?

Terlihat pria paruh baya itu menghela nafas seolah sedang meyakinkan dirinya untuk mengatakan sesuatu.

kau lihat sebuah kristal diatas meja? Ambil itu dan letakan pada kotak yang ada disamping tabung. Tapi itu jika kau mau menjaga gadis itu untukku, jika tidak, kau bisa balik kanan dan anggap tak pernah tahu tentang itu.”

“ dia wanita yang kucintai. Tak kuizinkan kau menyakitinya. Walaupun aku tak bisa berbuat banyak, tapi kumohon jangan manfaatkan dia, aku sudah terlalu banyak menyakitinya.waktumu 15 menit dari sekarang, atau kau tak akan pernah bisa mengeluarkan gadis itu. tabung itu akan meledak.” Pria itu bahkan masih bisa tersenyum dengan tangan yang gemetaran.

“ Kau benar-benar. . .”

Jong-in terlihat geram dan sangat marah. Bagaimana bisa orang itu melakukan itu pada seorang gadis yang ia cintai? Apa mencintai segila itu? sekarang Jong-in sedang bergulat dengan dirinya sendiri. Menyelamat kan gadis itu dan bisa menguburnya atau meninggalkan gadis itu dan membiarkannya meledak bersama tempat itu.

“waktumu tinggal 5 menit”

“Sial!” umpat Jong-in yang langsung memasukan kristal itu kedalam kotak yang ada disamping tabung itu.

Pria tua itu tersenyum tipis dan hologram itu mulai menghilang perlahan.

“kutitipkan Jin-ah padamu, kumohon padamu untuk menjaganya baik-baik. Hati-hati dengan pemerintahan, terutama Jepang. Terima kasih, semoga tuhan memberkatimu.”

Tiba-tiba cahaya yang sangat menyilaukan memancar dari dalam tabung.

 

Jong-in’s Home Daechi-do
09:23 AM

 

Perlahan mata gadis itu bergerak membuat Jong-in mendekat dan memeperhatikan gadis itulebih dekat. Jong-in bisa merasakan suhu tubuh gadis itu yang masih dibilang dingin. Ajaib memang. Jantung gadis itu berdetak setelah cahaya itu meredup dan tanpa sadar membuat jantungnya ikut berdetak mengila saat gadis itu berada dipelukannya sendiri.

Gadis itu menerjap-menerjap membiasakan diri dengan cahaya  yang ada diruangan itu dan membuat gadis itu medesah karna masih belum menyesuaikan diri. Tanpa sadar tangan Jong-in bergerak menghalangi cahaya menusuk retina gadis itu dan membuat gadis itu perlahan bisa melihat dengan jelas.

“kau bangun juga. kyung. . .” panggil pria itu kearah pintu yang membuat gadis itu bingung, perlahan Jong-in membangunkan gadis itu dan memasangkan bantal untuk sandaran punggung gadis itu.

Tak lama kemudian, seorang gadis dengan wajah datar tanpa ekspresi datang dengan nampan yang ada ditangannya. Dan sebuah gelas diatasnya yang terlihat aneh. Namja itu mengambil gelasitu dan menyodorkannya pada gadis yang terduduk yang masih menatap Jong-in bingung.

“minumlah, tenggorokanmu kurasa sangat sakit sekarang.” Ujar Jong-in dengan raut wajah yang bisa dikatakan sangat tidak ramah

Gadis itu dengan gerakan ragu, menerima gelas yang ada ditangan Jong-in. Tangannya terasa kaku untuk mencengkram gelas itu dan perlahan menelan cairan yang ada didalam gelas itu. bahkan diatak bisa merasakan apa yang barusan ia minum.

“tidak pahit?”

“ ani. . “ ujar gadis itu walaupun masih merasakan sakit yang menjalar dilehernya.

“ perlahan saja, kau harus banyak bicara dan bergerak.” Ujar Jong-in tanpa menatap gadis itu dan menyuruh gadis yang tadi membawa minuman itu keluar.

“Neo, Nuguya?”

“ bisa aku dulu yang bertanya? Siapa kau?” tanya pria itu yang terlihat sangat tidak suka. Pria itu terlihat sangat marah dalam hal lain yang yang berkaitan dengannya yang membuat Jin-ah tanpa sadar mencengkram kuat selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.

“ Lee Jin-ah, ini dimana? Lalu kemana Jin hwa oppa? Kau temannya?” tanya gadis itu yang sangat kebingungan menunnggu jawaban.

“ini rumahku dan Jin hwa adalah kakek buyutku, dia sudah meninggal 30 tahun yang lalu.” Ujar Jong-in yang membuat gadis itu tersentak. Dia menggeleng dan menghamburkan keseluruh penjuru ruangan.

“itu tidak mungkin, kakak. . . .”

“dia menyimpanmu didalam tabung dan berkata padaku bahwa kau mati saat umurmu 20 tahun. Dan entah bagaimana bisa kau hidup lagi dan dia menyuruhku menjagamu. Ini adalah Seoul tahun  2119.”

“kau gila? Jangan bercanda!” seru Jin-ah. Gadis itu sangat amat syok, mengingat bahwa dia hidup lebih dari 1 abad lamanya. Sedangkan Jong-in makin terlihat marahmendengar teriakan Jin-ah.

“harusnya aku yang bertanya, apa kakakmu itu gila? Dia tak menguburmu malah melakukan penelitian untuk menghidupkanmu. Menyiksa ragamu didalam sebuah cairan, dia manusia?! aku bahkan sangat tak menyukai kenyataan bahwa dia kakek buyutku.” Ujar pria itu yang juga terlihat tak terima akan hal yang sednag menimpanya sekarang ini.

“Aku juga sangat membencinya!!!” jerit gadis itu yang hanya bisa menunduk menahan dirinya sendiri. Tanpa sadar Jong-in sudah merasa bersalah dan mengutuk dirinya habis-habisan karna ucapan yang terlontar dari mulutnya.

“aku merasa aku hanya tidur. Dan saat aku bangun, dia sudah menua. Kau bisa bayangkan perasaanku seperti apa! Kakakku dia gila, menyalahi takdir tuhan! Sudah kubilang jangan pernah gunakan Spacia. . .”

“Spacia?” potong Jong-in yang membuat gadis itu mengusap wajahnya kasar menyingkirkan  bulir air mata yang tadinya muncul. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.

“dia sebuah sebuah batu bintang kehidupan. Dulu kakakku menemukan dua batu bintang diantara tumpukan batu saat seseorang menggali untuk membuat sumur. Batu itu dijadikan liontin kalung. Dan satu lagi disimpan kakak, karna yang satu itu terlalu besar untuk dijadikan liontin.” Jelas gadis itu seolah sedang menerawang ke masa itu.

“kristal berwarna biru safir?” ujar Jong-in tanpa sadar yang membuat Jin-ah mengerutkan kening mendengarnya.

“kau melihatnya?”

“hm. . . aku menggunakan itu untuk menghidupkanmu. Dan yang ada dilehermu.” Ujar Jong-in sambil mengendikan dagu kearah kalung yang melingkar dileher gadis itu. gadis itu mengikuti arah pandangan pria itu lalu mengangguk dan menyentuh benda itu.

Cukup lama mereka terdiam, karna gadis itu hanya menunduk sambil memlintir liontin yang tergantung di lehernya seolah sedang memikirkan pertanyaan selanjutnya.

“Apa alasanmu menghidupkanku?” ujar gadis itu yang hampir terdengar seperti gumaman.

“aku tak suka seorang mati diledakkan didepan mataku, terlebih seorang gadis.”

“sekarang kau bisa membunuhku. Spacia sangat diburu saat aku dihidupkan, tak perlu kasihan jika kau menginginkan benda itu,. karna akan terlalu menyakitkan jika kau tiba-tiba menusukku dari belakang setelah aku mengenalmu.” Ujar gadis itu yang terdengar seperti permohonan dan kepasrahan.

“tidak, aku bukan manusia yang menjual manusia. Jadi hiduplah disini, setidaknya aku sudah berjanji pada kakakmu untuk menjaga mu. Menjilat ludah sendiri itu menjijikan.” Jong-in bangkit sambil mengusap ujung kepala gadis itu. lalu barjalan menuju sebuah pintu.

“ah. . . nama ku Kim Jong-in, senang bisa bertemu denganmu. Sepertinya tenggorokanmu sudah membaik hingga kau bisa berteriak seperti itu. Istirahatlah” Ujar pria itu sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.

Jin-ah terdiam diatas ranjang dengan pandangan kosong, apa yang akan dia lakukan sekarang, menatap tangannya yang bahkan masih terlihat seperti dulu, tak menua sama sekali. Harusnya dia sudah menjadi abu sekarang. Merasakan jantungnya yang berdetak seolah dia sedang berfikir bahwa dia benar-benar hidup.

Pria  itu, wajahnya, sangat berbeda dengan Jin hwa. Dan entah mengapa, dia merasa pria itu benar-benar akan melindunginya tapi juga akan menghancurkannya tanpa sisa. Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu kamar dan seorang gadis yang tadi muncul dari balik pintu. Gadis itu tersenyum sambil membawakan satu nampan penuh makanan.

“anda sudah merasa baikkan nona?” ujar gadis itu dan kali ini dengan senyuman yang tersungging diwajahnya.

“N. .ne, mianhae aku mengganggu kalian berdua.”

Gadis itu tiba- tiba diselimuti rasa tidak nyaman. Bagaimana tidak, gadis yang ada dihadapannya itu begitu cantik. Dan mungkin gadis itu adalah kekasih atau bahan istri Jong-in. Sedangkan gadis itu hanya terkekeh geli seakan mengetahui apa maksud dari ucapan Jin-ah.

“Harusnya saya yang bilang seperti itu. saya hanya pelayan disini nona. Dan anda adalah tamu pertama yang dibawa tuan selain klien-klien nya.” Ujar gadis itu sambil menaruh nampan itu diatas meja.

“A. .ku”

“saya robot nona. Robot pelayan.” Potong gadis itu yang membuat Jin-ah kebingungan dan menatap gadis itu penuh tanya.

“ hah? Kau yakin?”

Gadis itu lebih terlihat kebingungan atas pertanyaan Jin-ah. Bahkan robot-robot seperti dirinya sudah meledak dipasaran pada tahun 2060-an tapi gadis didepannya ini masih terlihat kaget. Seakan itu adalah barang langka.

Robot itu kemudian menyingkarkan rambutnya dari punggungnya. Dan menekan sesuatu dibagian tertentu dan membuat kulit gadis itu terbuka  memperlihatkan sebuah kabel yang langsung menjulur dan menancapkan diri sendiri pada stopkontak.

“ aku robot nona. Sistem blok sevent hefest kode :067 pasword Lee Eun-kyung.”

Jin-ah hanya mengangguk menelan semua pertanyaan yang mungkin terdengar  konyol bagi robot didepannya ini. dia bisa menanyakannya nanti.

“silahkan dimakan nona.” Tawar robot perempuan itu. Jin-ah hanya menggeleng sambil tersenyum.

“aku belum lapar, bisa kau ajak aku keluar?”

“baiklah. Tapi anda harus memakai mantel, salju turun lebat hari ini. suhu tubuh anda juga masih terasa sangat dingin. Kurasa mantel tuan tak masalah.” Ujar gadis itu setelah membuka lemari pakaian yang ada disana dan memberikan salah satu mantel berwarna cokelat tua pada Jin-ah.

Tercium bau pria itu di mantel itu. Jin-ah sendiri baru menyadari bahwa dirinya sekarang mengenakan piyama.

“Eun-kyung~sii, berapa lama aku tidur?” tanya gadis itu sedikit was-was.

“kemarin tuan membawa anda yang basah kuyup, kurasa 27 jam anda tertidur. Anda bisa berdiri?”

Jin-ah hanya bisa memasang senyum pahit saat pertanyaan itu terlontar dari mulut si robot. Kakinya sekarang terasa kelu seperti tak ada kaki disana.

***

Jong-in menghentikan laju mobilnya tepat didepan rumah dan disambut sebuah robot pria dengan setelan jas hitam, tangannya yang membawa tas kertas yang berisi baju, mantel, sepatu dan semua yang dibutuhkan gadis itu. pria baru itu melangkahkan kaki saat matanya terpaku pada gadis itu. gadis yang sedang berjalan perlahan ditengah gundukan salju. Bahkan dari kejauhan dia bisa melihat senyuman gadis itu.

Dia hampir tesedak nafasnya sendiri saat tubuh gadis itu limbung dan hampir terjatuh jika tidak ada Eun-kyung yang berdiri disampingnya.

“ berapa lama mereka disana?” tanya Jong-in pada robot pria itu.

“ sejak anda pergi, nona muda sepertinya sangat menyukai salju. Walaupun sudah berulang kali jatuh.”

“suruh Eun-kyung membawanya masuk” perintah pria itu sambil berjalan masuk kedalam rumah.

Robot pria setelan jas itu seolah sedang mengirimkan sinyal yang membuat Eun-kyung menoleh lalu mengangguk, dia menuntun Jin-ah agar mau ikut bersamanya masuk.

“mau kemana?” tanya Jin-ah saat Eun-kyung menuntunnya masuk.

“ terlalu dingin nona, Baekhyun mendapat perintah dari tuan untuk membawa anda  masuk”

“ siapa Baekhyun?” tanya Jin-ah, gadis robot itu hanya mengendikan dagunya kearah pria yang sedang berdiri mengawasi mereka berdua, Jin-ah hanya mengangguk memahami. Sedikit berargumen mengapa para robot diciptakan dengan paras yang begitu menawan.

“ kami robot yang seperti manusia nona, jadi hati-hati dengan pria itu. dia paling menyebalkan dan terlalu genit.”

“ hei, apa robot diprogram untuk jatuh cinta dan cemburu juga ya?” tanya Jin-ah yang sepertinya tepat sasaran. Wajah gadis itu seketika memerah padam.

“ jangan sampai dia melihatnya.” Gumam gadis itu sambil berjalan cepat dengan sedikit mengangkat tubuh Jin-ah agar bisa mengimbangi dirinya.

Gadis itu terus menyeret Jin-ah hingga berada diruang tengah, entah mengapa perutnya merasa lapar saat mencium bau harum yang menusuk indra penciumannya.

“ sepertinya tuan ada diruang makan.” Ujar Eun-kyung yang akhirnya menurunkan tubuh Jin-ah dan berjalan dibelakang gadis itu.

Entah bagaimana pria itu tiba-tiba muncul dengan meninggalkan aroma gurih yang sedikit mengganggu Jin-ah. pria itu berdiri dihadapan Jin-ah dengan tangan yang terbenam disaku celananya sambil mengisyaratkan Eun-kyung untuk pergi. sedikit mengumpat dengan perbedaan tinggi badannya dengan pria itu yang membuatnya frustasi karna posisi itu mudah sekali untuk mengintimidasi. Gadis itu perlahan membalik tubuhnya dan berjalan didepan pria yang masih berdiri mematung dengan wajahnya yang sekeras batu.Jin-ah masih berusaha berjalan dengan kakinya, walaupun dia sendiri ingin berlari.Mungkin. Karna dia merasa berjalan terlalu lama. Dan jika dia melangkah dengan menambah kecepatannya, tubuhnya akan limbung dan tersungkur mencium tanah.Terlebih keberadaannya saat ini, sedikit membuat Jin-ahbingung. Apa yang harus dia lakukan, siapa dia, dan untuk apa dia disini. Seolah tak ada yang bisa menjawab semua itu. Dan lagi, dia memang tak pernah merasakan hidup didunia lain, yang dia tahu hanya dia yang tertidur. Tidur yang sangat lama hingga tubuhnya kurus kering dan kulitnya yang menjadi putih pucat seperti saat ini.

“ masih sulit?” ujar Jong-in yang sudah berjalan sejajar dengan Jin-ah. membuat gadis itu medesah kesal karna menyadarinya.

“ hm. . .” gumam Jin-ah. pria itu menghela nafas berat dan entah apa yang dipikirkan pria itu hingga mengulurkan tangannya kearah Jin-ah yang membuat gadis itu kebingungan.

“ pengang tanganku,  aku tak suka melihatmu jatuh.” Ujar pria itu sambil mengoyangkan tangannya, memberi isyarat gadis itu agar berpengangan padanya. Gadis itu perlahan mengulurkan tangannya dan mencengkram tangan pria itu.

Tangannya bahkan tak sampai mencengkram seluruh bagian tangan pria itu. tangannya terlalu kecil, namun tangan pria itu besar dan hangat. Bahkan rasa hangat itu menjalar saat jari jemari pria itu menggegam tangannya.

“ ada yang ingin ku tanyakan. Sangat banyak, kuharap kau mau mendengarkannya dan menjawabnya.” Ujar pria itu sambil mengimbangi langkah kaki Jin-ah yang sangat pelan.

“ akupun begitu, tak mungkin aku bertanya pada Eun-kyung, atau aku akan dianggap aneh olehnya” ujar Jin-ah sambil mengangguk setuju dengan perkataan pria itu.

“ Kyung~a, kau bisa siapkan kamar untuk Jin-ah.” perintah pria itu saat Eun-kyung hampir menghilang dari pandangan. Gadis itu hanya membungkuk memberi hormat. Lalu berjalan pergi.

“siapa yang mau memulai, kurasa sambil berjalan tak masalah karna aku berjalan saja sangat lambat.” Ujar Jin-ah yang masih menatap kearah bawah kearah kakinya.

Entah setan apa yang merasuki pria itu hingga tangannya bergerak melingkar dibahu gadis itu lalu mengangkat tubuh gadis itu. Dia sendiri baru menyadarinya saat matanya bertemu dangan wajah kebingungan Jin-ah yang menuntut penjelasan.

“ kakiku pegal mengimbangimu. Kurasa ini bisa lebih cepat” ujar pria itu yang berjalan menaiki tangga.

Jong-in sendiri terheran-heran dengan sikapnya kali ini. seumur hidupnya, baru kali ini dia menyentuh gadis sebanyak ini. walaupun dia tipe orang yang ramah, namun sentuhan terhadap orang lain hanya sebatas berjabat tangan tak pernah lebih. Bahkan untuk nunnanya sendiri. Dan rasa ketertarikanlah yang paling mendominasi, dia ingin tahu semua yang berkaitan dengan gadis itu. semua tanpaterkecuali dan itu sudah dalam mode penyusunan pertanyaan yang akan dia lontarkan setelah ini.

“ aku mulai” ujar gadis itu yang membuat Jong-in menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu.

“ceritakan semua tentang yang ada dijaman ini, aku tak mau terlihat seperti orang bodoh yang terkagum-kagum oleh hal yang menurut kalian sudah sangat biasa.” Ujar Jin-ah sambil memainkan jarinya. Kebiasaan yang jika gadis itu gugup dantidak diketahui oleh pria itu.

“ dunia dengan penduduk heterogen, teknologi sekarang membuat orang malas bergerak. Hewan seperti lalat, nyamuk, rayap hampir jarang ditemukan. Hanya daerah tertentu yang belum dijaga kesterilisasinya. Dirumah ini masih bisa dijumpai hewan itu, mamoth dikembangbiakan saat ini. teknologi. . .”

“tunggu, Mamoth kau bilang?  Binatang itu sudah punah.” Sela Jin-ah.

“ rekayasa genetika, DNA mereka digabungkan. Yah. . . hewan yang dulunya sudah punah sekarang dihidupkan kembali dengan menggunakan hewan yang berevolusi dari  binatang punah itu. kurasa pertanyaan itu bisa kau simpan dulu, aku akan mengajakmu keluar jika kau benar-benar sudah pulih. Mungkin besok.”

“ Eun-kyung. Robot seperti apa dia?”

“ robot manusia produksi Korea, semua yang terprogram seperti manusia. dikembangkan mengunakan DNA manusia. meledak dipasaran pada tahun 2020-an,yang sekarang semua orang dimuka bumi sudah memilikinya. “

“ Jepang tertinggal tenyata” gumam gadis itu sambil menganggukan kepalanya dan bibir yang mengerucut dan membuat Jong-in tanpa sadar tersenyum karna melihat tingkah gadis itu.

“ Jepang sekarang bergabung dengan Korea dan melawan negara sekutu.” ujarnya. Sambil menatap keatas, sedikit mengumpat karna dia tak menggunakan lift tadi. Tangganya masih lumayan panjang untuk dinaiki.

Terlihat wajah sedih yang terpahat dari siluet wajah gadis itu. Entah apa memang dia yang buta atau memang baru memikirkanya, wajah gadis itu benar-benar seperti boneka hidup. Bisa dibilang aura boneka yang dingin dan menyenangkan ada di diri gadis itu. terlihat ramah namun dia tahu gadis ini keras kepala.

“ jadi dinegaraku sendiri aku terancam” gumam gadis itu lagi, dan kali ini membuat Jong-in mengerutkan keningnya dan detik berikutnya dia bisa menebak apa yang dimaksud gadis itu. Spacia. Apakah  Jepang yang memburu batu bintang itu?

Gadis itu sepertinya menyadari bahwa arah tatapan Jong-in yang terpaku diwajahnya. Gadis itu hanya menelengkan kepalanya dan sedikit mengangkat sebelah alisnya.

“ aku penasaran tentang yang kau katakan. Spacia” ujar Jong-in menghentikan langkah kakinya dan  menurunkan gadis itu disalah satu anak tangga.

“sangat panjang.”

“ aku akan mendengarkan.” Ujar Pria itu yang entah tiba-tiba duduk di salah satu anak tangga. Kaki kanannya terjulur dan kaki kirinya sebagai tumpuan kepala pria itu dengan pungung yang menyentuh terali tangga.

Jin-ah hanya mendengus kesal lalu ikut duduk dengan menekuk kakinya dan memeluk kedua kakinya itu. sedikit menarik nafas dalam-dalam lalu menhembuskanya secara kasar. Jong-in yang melihatnya seolah baru pertama kali melihatnya dan sangat terpesona.

“ aku tak tahu detailnya. Waktu itu aku disembunyikan oleh kakak. Spacia, bintang legenda yang memiliki kekuatan dan energi yang sangat mengerikan, dan bisa menghidupkan ku sebagai contohnya. Entahlah, yang jelas Spacia sangat dilindungi oleh kakak.”

“ ada satu mitos yang sangat kakak yakini waktu itu, kehancuran bumi akibat Spacia. Seperti kutukan yang membuat pemilik Spacia menjadi gila akan sesuatu yang besar dan bisa menghancurkan jagad raya. Ada satu batu bintang yang sangat mengerikan. Aku tak tahu itu bintang apa dan siapa yang menemukannya. Kakak bilang batu bintang itu akan mengancurkan Spacia, lebih tepatnya memakan energi spacia dan membuat kehancuran bumi. Hal ada dibuku kakak, dua batu biru dan merah yang menghancurkan alam semesta.”

“itu mungkin?” tanya Jong-in yang masih tetap pada posisinya. Jin-ah yang melihatnya menganggap pria itu aneh.

“aku tak tahu. Kau pernah menonton Astro boy?” tanya Jin-ah, dengan senyuman yang mengembang diwajahnya. Sedangkan Jong-in hanya bisa mengerutkan keningnya.

Jin-ah bisa menebak bahwa pria itu kemungkinan tidak tahu. Jin-ah hanya berdecak lidah dan menggelengkan  kepala.

“ penggambaran Spacia dan bintang merah itu seperti itu. Hanya akibatnya lebih mengerikan. Kau yakin tak tahu?” tanya Jin-ah yang masih berharap pria itu tahu setidaknya mengetahui  hal itu

“ film? Tahun berapa itu?”

“ sudah lumaya lama tahun 2000 mungkin.” Ujar Jin-ah tak yakin. Jong-in hanya menghela nafas sambil menjulurkan kedua kakinya dan melipat kedua tangannya didepan dada.

“itu satu abad yang lalu.”

“ah benar. . . aku baru ingat tentang itu.” ujar Jin-ah sedikit kecewa. Padahal mungkin pria itu mau mengajaknya untuk menonton kartun itu. mungkin dia bisa bertanya apa bumi yang sekarang seperti yang digambarkan pada film itu.

“ yah. . . mungkin sedikit terlambat, selamat natal.” Ujar pria itu Jin-ah terlihat sulit mencerna kata-kata yang Jong-in ucapkan.

“ natal?”

“ hari ini tanggal 28 Desember  2119. Sangat jarang orang yang mempercayai tuhan di abad ini. dan hampir melupakan arti natal yah. . . itu juga ada pada diriku. Agama hanya sebagai lambang saja”

“aku tua sekali. . . “ dengus gadis itu sambil menyentakan kakinya pada lantai anak tangga itu.

“ kau masih utuh tak terlihat tua, aku sedikit malah ragu kau bisa tua tidak” ujar Jong-in yang lebih terdengar seperti hinaan yang membuat Jin-ah tanpa sadar geram.

“kakak pernah mengatakan padaku. Aku ini normal, bisa tua, mati dengan normal, dan terutama aku bisa hamil” sungut gadis itu yang terlihat sangat tidak terima dengan ucapan Jong-in.

Namun berbeda dengan Jong-in. Pria itu sekarang malah terlihat kebingungan, gadis itu sedang apa berteriak bahwa dia bisa hamil? Dia pikir Jong-in akan menghamilinya?

“apa perlu berteriak kau bisa hamil? Itu lebih terdengar seperti kau minta dihamili” ujar Jong-in dan langsung membuat gadis itu panik dan menatap Jong-in dengan ketakutan.

“bu, bukan itu maksudku! Dari dulu aku hanya suka anak kecil. Jadi. . .” Jin-ah terlihat kebingungan dengan kalimat yang ingin ia keluarkan untuk pembelaan.

Sedang pria itu merangkak dan berjongkok tepat didepan gadis itu lalu menelengkan kepalanya agar dapat melihat wajah gadis itu. Jin-ah terlihat kaget saat Jong-in sudah berada didepannya.

“jadi?” terlihat ekspresi jahil dari wajah pria itu. entah mengapa dia sangat menyukai pergantian ekpresi dari wajah gadis itu, dan membuatnya seolah mainan yang sangat menarik di abad ini.

“ sudahlah! Kau tak akan pernah bisa mengerti. Lupakan!” seru gadis itu dan dengan percaya dirinya menendang Jong-in hingga terjengkang kebelakang tanpa peduli akibat yang mungkin bisa terjadi. Sedangkan Jong-in yang sedikit syok dengan sifat gadis didepannya yang pada akhirnya hanya bisa tersenyum .

“kurasa aku tak perlu mencari. Kau sudah terlihat menarik dimataku.” Gumam pria itu dengan senyuman yang tersungging diwajahnya. Sedangkan Jin-Ah mulai was-was karna ucapan pria Jong-in.

“Ya. Ya. Ya. Kau mau menjualku?”

“untuk apa?”

“lalu apa maksudmu dengan ‘mencari’?” tanya gadis itu. namun pria itu hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.

“kita buat sesuatu yang membuat orang lain tak memandangmu aneh.” Tidak terjawab, pria itu tak menjawab pertanyaan Jin-ah dan mengalihkan dengan hal lain. Jin-ah mencium ketidak wajaran disini, apa sebenarnya rencana pria itu?

“apa?”

“ pura-pura lah kau hilang ingatan total. Tak tahu nama benda yang kau sentuh, kalaupun ada, bilang saja kalau aku yang mengajarimu. Kurasa itu tak akan membuatmu terlihat bodoh. Tak akan ada yang mengira kau lahir ditahun 1990-an. Untuk yang lainnya mungkin bisa ku atur” ujar pria sambil menyandarkan tubuhnya di terali besi.

Jin-ah hanya mengangguk menyetujui usulan pria itu. Lebih terdengar masuk akal jika dia memang hilang ingatan, dan terlihat bodoh pun masih dianggap wajar. Gadis itu menatap pria itu dengan sedikit menilai dan begitu pula Jong-inyang menatap Jin-ah ingin tahu apa yang dipikirkan gadis itu.

“baiklah, lalu beri tahu aku tujuanmu sebenarnya.” Ujar Jin-ah akhirnya, terlalu rumit jika dia memikirkannya sendiri. Menebak-nebakpun tak ada gunanya, karna itu bukan jawaban yang sebenarnya.  Sedangkan Jong-in hanya tersenyum menanggapi pertanyaan gadis itu.Memang gadis yang menarik, mencium dengan hati-hati dan terlihat seperti anjing pemburu yang kelaparan namun masih memilah-milah karna tak mau asal memakan sesuatu.

“menikah saja denganku.” Ujar Jong-in yang sontak membuat mulut gadis itu menganga lebar. Seolah telinganya baru saja di lewati oleh kreta hingga tak bisa mendengar ucapan pria itu dengan jelas.

“Mwo?!”

“ aku pria lajang, normal. Kau ada didekatku. Kau bisa berpikir bukan? Pergipun kau tak bisa, karna hanya aku yang kau kenal disini.”

“kau tak sedang bercanda bukan? Pernikahan bukan permainan.”

“kita jalani saja” ujar pria itu sambil berdiri dan mengulurkan tangannya didepan gadis itu. Sedangkan Jin-ah masih tak bisa menerima ucapan pria itu yang bahkan belum 24 jam dia kenal. Mengajaknya menikah? Dia benar-benar gila.

“kau gila?!”

“ dari pada aku selalu disodorkan gadis telanjang setiap hari yang dikirim kerumah” ujar pria itu yang mulai terlihat malas karna Jin-ah tak menyambut tangannya, padahal di berulangkali mengoyangkannya agar gadis itu segera menyambutnya.

“ Mwo? Ka,kau bilang gadis telanjang?”

“ aku sudah berjanji menjagamu, apa yang lebih baik jika aku harus menjagamu? Bukankah menjadikan mu istri lebih baik? Dan jangan berpikir konyol untuk menyuruhku menghentikannya, aku sudah tak mau menghentikannya kali ini” ujar Pria itu yang benar-benar kehilangan kesabarannya dengan menarik paksa gadis itu berdiri disampingnya lalu kembali membopong tubuh gadis itu.

Sedangkan Jin-ah hanya bisa terperangah tanpa bisa berkata apapun, perasaannya mengatakan pria itu benar-benar serius dengan ucapannya. Dan itu membuat Jin-ah sedikit takut. Terikat sebuah pernikahan seperti paksaan yang ini, dan terjebak didunia yang sama sekali tak pernah dia ketahui dan tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Terlebih dia bergantung pada satu orang. Satu orang yang mengetahui dirinya dan apa yang harus diperbuat untuknya. Seolah mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun

“ film itu, Astro boy. Kita cari film itu, aku sedikit penasaran”

****

Jong-in menghela nafas keras saat membuka pintu kamar itu dan menemukan gadis itu, Jin-ah, yang tergeletak diatas ranjang dengan beberapa selang yang  menjalur ketubuhnnya. Menatap gadis itu dengan perasaan lelah, lega namun masih ada sedikit ketakutan.

Yah. . . pagi ini gadis itu sudah hampir mati jika Eun-kyung tak segera menemukan gadis itu. hasil yang keluar saat ini penggumpalan darah diotak dan bagian tubuh yang lainnya. Lambung gadis itu yang lebih telihat seperti katung kering dan transplantasi ginjal yang langsung gadis itu lakukan setibanya dirumah sakit, dan belum hal lain yang mungkin saja sedang diperdebatkan oleh para dokter disana.

Keberuntungan gadis itu karna dia ada di abad serba ada dan lengkap. Mengerikan jika orang yang baru saja dia deklarkan menjadi istri harus meregang nyawa hanya dengan hitungan menit.

Jong-in melangkahkan kakinya mendekat kearah ranjang gadis itu. gadis itu masih terlihat pucat dan kelelahan. Namun senyumnya malah mengembang diwajah gadis itu dan membuat Jong-in tanpa sadar merasa tidak rela gadis itu tersenyum. Jong-in berdiri tepat disamping ranjang Jin-ah dengan wajah datar.

“ mian. . .”

“kalau begitu berhenti tersenyum, tak ada hal yang lucu yang membuatmu bahagia.” Ujar pria itu sambil menarik kursi dan duduk disamping gadis itu.

“ apa kau marah?”

“Ne. . .”

“ apa kata dokter? Tadi benar-benar aku tak bisa bernafas sama sekali. “ tanya gadis itu semangat yang membuat Jong-in mengerutkan kening. Entah dia harus marah, berteriak atau kesal menanggapi kelakuan gadis dihadaannya ini.

“ kau ini bahagia sekali”

“ ini pertama kalinya aku sakit hingga dibawa kerumah sakit. Ternyata tak enak sama sekali”

“ berhenti membuat ku kesal.” dengus pria itu dan dibalas dengan kekehan kecil gadis itu.

Tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu kamar  dan membuat keduanya terfokus pada pergerakan pintu kamar itu. Jin-ah terlihat kebingungan saat seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamar.

Sedangkan Jong-in hanya menghela nafas kesal menatap  wanita paruh baya itu. Arah pandangan wanita itu tertuju pada Jin-ah, seolah sedang menilai dan merekam seluruh bagian tubuh  Jin-ah, dan membuat Jin-ah sedikit was-was.

“ kau datang Eomma. .” ujar Jong-in yang membuat Jin-ah kaget dan langsung salah tingkah. Beruntung ada alat bantu pernapasan yang menutupi sebagian wajah Jin-ah.

Wanita itu tetap diam tanpa menjawab pertanyaan anaknya laki-lakinya. Kakinya tetap melangkah kearah sisi ranjang yang lain lalu meraih tangan Jin-ah yang tergeletak lemas diatas ranjang, mengusapnya perlahan lalu tersenyum di detik berikutnya.

“ eomma. . .” panggil Jong-in yang kali ini didengar oleh wanita paruh baya itu.

“ kau membuat eomma takut, Eun-kyung memberi tahu eomma ketika sampai dirumahmu. Kukira kau yang masuk rumah sakit.” Ujar wanita itu yang masih menggegam tangan gadis itu. Jin-ah sama sekali tak bisa berkata apapun. Terlalu bingung dan syok.

“ kita bicara diluar saja. . .” ujar Jong-in namun tangan Jin-ah mencekal pergelangan tangan pria itu.

“ ani, kau bisa bicara disini.”

“ lalu kau keluar begitu? Tidak, kau tetap disini dan istirahatlah. Hm?” ujar pria itu sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening gadis itu lalu mengusap kening gadis itu. Ibu Jong-in terlihat syok saat melihat perlakuan anaknya terhadap gadis ini.

“aku tak lama. kajja eomma. . .” ujar pria itu sambil menariklengan wanita paruh baya itu. senyum wanita itu masih melekat seolah dia sudah selesai dan menemukan apa yang dia inginkan selama ini.

Jong-in menutup pintu kamar itu  lalu menyandarkan tubuhnnya di pintu kamar. Sedangkan wajahnya ibunya berbinar-binar bahagia.

“kenapa kau tak memberi tahu eomma jika kau sudah punya pasangan, hm? Siapa namanya? Astaga tuhan, aku bahagia sekali.”

“eomma yakin tak menanyakan latar belakang gadis itu?” ujar Jong-in yang hanya dibalas dengan senyuman tidak jelas dari ibunya. Pria itu menghela nafas berat lalu menatap mata ibunya yang terlihat sangat bahagia.

“ dia hidup sendirian, dua hari lalu aku menemukannya hampir mati membeku didanau. Dia hilang ingatan, dan tadi pagi dia pingsan. Penggumpalan darah pada otak dan bagian yang lainnya yang rusak akibat tenggelam, mungkin. Namanya Jin-ah, Lee Jin-ah. Aku yang memberinya nama. Dia sedang sakit eomma, kau membuatnya kebingungan tadi. “jelas Jong-in namun sepertinya sia-sia saja, wanita itu terlalu bahagia.

“ kau menyukai gadis itu kan?” wanita paruh baya itu bahkan masih memasang senyuman diwajahnya. Membuat Jong-in sedikit memahami, bagaimana tersiksanya ibunya karna menginginkan dia menikah.

Jong-in menghela nafas untuk kedua kalinya lalu tersenyum membuat ibunya terlihat sangat tidak percaya tentang apa yang sedang putranya lakukan. Sebagai ibu, dia tahu selama ini putranya tak pernah tersenyum setulus ini, dan baru kali ini dia melihatnya.

“ne. Aku berencana membawanya ketempat eomma setelah dia sembuh.Tapi eomma . .” ujar Jong-in sambil menarik tubuh ibunya dan memeluk wanita itu sebentar lalu melepaskannya kembali. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan tangannya didepan wajahnya

“ semuanya tak masalah bagi eomma.” Potong wanita itu. Jong-in hanya bisa tersenyum melihat bagaimana kekanakannya ibunya.

“bantu dia kalau begitu, aku tak suka ada orang yang mencemoohnya. Dia benar-benar tak tahu apa-apa, dan jika dia bertanya, jawab saja.” Ujar Jong-in yang lagi-lagi membuat ibunya terperangah. Wanita itu hanya tersenyum sambil menepuk lengan putranya.

“arra. . . arraseo, masuk lah dia pasti ketakutan. Yang dia kenal hanya kau saat ini. setelah sembuh, bawa kerumah eomma, kau tak boleh tinggal dengannya.”

“wah. . .Daebak, eomma lupa ini jaman apa?”

“ setidaknya eomma tak mau calon menantuku dirusak oleh mu.  Masuklah”

Jong-in mengangguk lalu masuk kedalam ruangan, sedangkan ibunya hanya tersenyumsepanjang koridor, bahkan wanita itu terlihat hampir berteriak histeris saking gembiranya. Jong-in menutup pintu kamar itu dan hanya bisa tersenyum. Ibunya begitu bahagia hingga membuatnya ingin tertawa melihatnya.

“Waeguraeyo?” tanya Jin-ah saat melihat Jong-in tersenyum seperti orang gila.

Pria itu melangakah kearah samping ranjang gadis itu lalu menarik salah satu kursi dan duduk diatasnya. Kepalanya bertumpu pada tangannya yang bersandar di lengan kursi, menatap gadis itu dengan senyum yang bahkan sejak tadi tidak lepas dari wajahnya.

“ Waegurae. . .” ujar gadis itu yang terlihat sangat tak sabaran. Pria itu tetap pada posisinya menatap tiap perubahan raut wajah gadis itu. walaupun wajah gadis itu masih tertutup oleh alat bantu pernapasan.

“ kau tebak saja” ujar Jong-in. Dan membuat wajah gadis itu terlihat sangat kesal.

“Kau tipe orang yang tidak mau mendengarkan orang lain kurasa. Jadi sangat mungkin kau tak mendengarkan ucapan ibumu. Dia sudah menyiapkan pertunangan untukmu? Beliau ingin aku pergi?” tanya Jin-ah yang berusaha untuk duduk namun tak bisa dan akhirnya menyerah.

“hm.” Gumam pria itu sambil mengangguk dan terlihat mata gadis itu membelakak kaget dan mulai terlihat raut wajah ketakutannya.

“Aish. . . bagaimana aku hidup di jaman ini sendirian. Bisa kau membantuku? Aku akan berusaha agar eommamu menganggapku sebagai pembantu mungkin? aish. . .” gadis itu bahkan berulang kali mendengus dan bergumam tidak jelas seolah sedang membaca mantra agar dia lepas dari dunia ini. Jong-in hanya bisa tersenyum melihat wajah gadis itu.

“bukankah sudah ku bilang kau akan menjadi istriku?” ujar Jong-in yang membuat Jin-ah sontak menoleh bingung. Gadis itu benar-benar menuntut kejelasan disini.

“ kau akan ditunangkan bodoh!” umpat Jin-ah. yang membuatnya ingin sekali bergerak menarik pria itu dan membenturkan kepala pria itu ke tembok.

“itu benar.” Ujar pria itu santai dan membuat Jin-ah makin gusar dan gelisah sendiri.

“ lalu kenapa kau masih bisa bilang bahwa kau akan menjadi kan ku istri, huh?! Kau sendiri  yang ber kata ‘iya’ bahwa kau akan bertunangkan barusan, dan ibumu ingin aku pergi menjauh darimu. Kenapa kau masih bisa bicara seperti itu. jangan katakan kau sedang menentang perintah ibumu. Yak! Aku tau cinta tak bisa dipaksakan, tapi kau juga tak mencintaiku, akupun sama sekali tak mencintaimu. Aku hanya merasa berterimakasih karna kau sudah berbaik hati padaku. Tapi setidaknya jangan tentang ibumu. Dia ibu yang baik bodoh, tangannya bahkan terasa hangat. Aku akan pergi, hanya aku meminta bantuanmu agar aku bisa hidup disini. Kau tahu aku benar-benar buta akan dunia ini bukan? Jadi kumohon hanya sebentar, bantu aku. Aku akan melunasinya berapapun itu hingga aku mati jadi kumohon, jangan bantah perintah ibumu.” Ujar gadis itu yang secepat kereta expres dan dengan hanya satu tarikan nafas.Bahkan Jong-in terlihat terkagum melihat gadis itu bisa berbicara secepat itu tanpa kehabisan nafas.

Jong-in hanya bisa tertawa saat gadis itu berhenti mengoceh. Gadis itu benar-benar sangat ketakutan tapi masih memikirkan orang lain, dan paling membuatnya tertawa adalah betapa bodohnya gadis yang terbaring didepannya. Bicara begitu panjang padahal tak ada yang penting dari ucapannya. Sedangkan Jin-ah terlihat sangat kebingungan dan kesal, pria itu benar-benar membuatnya ketakutan dan kebingungan dalam satu waktu.

“sudah selesai?” ujar Jong-in sambil menegakan tubuhnya dan menyadarkan tubuhnya di punggung kursi lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“ yak!” seru Jin-ah yang hanya dibalas dengan kekehan kecil yang bisa saja meledak seperti tadi.

“ aku memang akan bertunangan, dan orang yang ditunangkan denganku adalah kau. Selesai. Aku menuruti kemauan ibuku.”

“tapi bagaimana bisa, ibumu. . .”

“ jangan bicara panjang lebar lagi. Kau bertanya ‘apakah ibuku sudah menyiapkan pertunangan untukku? Apakah ibuku ingin kau pergi?’ jelas aku menjawab iya. Karna semua yang tanyakan benar.”

“ aku tak paham.” Ujar Jin-ah yang masih saja menuntut pejelasan yang membuat Jong-in berdecak lidah karna gadis itu terlalu lama mencerna kata-katanya.

“ apakah eomma menyiapkan pertunangan untukku? Ya, dia sedang mempersiapkan pertunangan ku, lebih tepatnya pernikahan kita. Kau tak tahu betapa senangnya dia.” Jelas Jong-in yang terdengar malas .

“lalu ibumu ingin aku pergi bukan?”

“ pergi dari rumahku. Itu maksudmu bukan? Ya, dia memang ingin kau tidak satu rumah denganku, eomma ingin kau tinggal bersamanya.” Ujar Jong-in yang membuat Jin-ah merasakan malu yang mendarah daging hingga dia ingin sekali mencekik lehernya sendiri.

“ ka,kau yakin?” tanya Jin-ah ragu.

“ hm bisa jadi.”

Jin-ah hanya diam dan seperti mendumel pada dirinya sendiri, apa yang akan pria ini lakukan seolah membuatnya merasa pasrah. Diambang didunia lain yang tak dia kenal sama sekali, dan orang yang sekarang menatapnya dengan senyuman menawarkan dirinya dengan suka rela untuk membantunya.

“ nah jadi kapan kita mencari cincin?”

Sehun’s Laboratory
19:34 PM

“Luhan hyung! ada reaksi dari Spacia. . “ seru seseorang yang berada dilaboratorium itu yang terus menatap tajam kearah monitor kaca yang ada didepannya seolah takut hal itu akan menghilang  lenyap.

“ aku benar-benar ingin ku bunuh hah?! Kau mengatakan itu berulang kali dari kemarin. Lalu apa sekarang hah? “ dengus pria itu degan cangkir yang berisi cokelat hangat yang ada ditangannya

“aku tidak berbohong! Rumah sakit Seoul. Ada disana” seru pria itu yang membuat rekannya dengan malas berjalan kearah pria yang terlihat seperti seorang maniak yang gila.

“Bintang itu sudah menghilang satu abad yang lalu, jadi jangan. . .” pria itu mengerutkan keningnya saat melihat sebuah tulisan yang tertera diantara kedipan lampu-lampu kecil

“Astaga” ujar pria itu tak percaya dan berkali-kali mengusap matanya berkali-kali seolah benar-benar tak percaya tentang apa yang diliatnya.

“ kubilang apa, ini keberuntungan kita. Tuhan pasti sedang memberkati kita.”ujar pria itu yang dengan sombongnya menyetakan tubuhnya dikursi dengan tangan yang terlipat.

Namun pria yang satunya masih memperhatikan itu dan mengutak atik layar itu hingga muncul gamabar tiga dimensi dari sebuah gedung dengan arsitektur megah. Matanya masih terpaku pada kedipan lampu berwarna biru muda.

“ tapi kenapa rumah sakit?” ujar pria bernama Luhanitu setelah memperhatikan seluruhnya.

“ Molla. Aku juga sedang berpikir tentang itu. lagi pula itu ada disalah satu ruangan dirumah sakit itu, kau lihat”

“ lalu apa?”

“ mudah bukan? Beritahu Kkamjong dan pria itu akan bertindak. Tujuan kita akan menjadi kenyataan.”

“ benar. . .” ujar Luhan seolah mendapat sebuah pencerahan dan langsung  meraih sebuah benda tipis dan trasnparan yang menyala dan menekan tombol yang ada dibenda itu. pria itu dengan senyum yang sumringah menempelkan benda itu di telingannya dengan jari yang mengetuk-ketuk ujung meja sambil menunggu .

“Ah. . Kkamjong~a. Aku menemukan hal luar biasa, sangat luar biasa. Kau mau tahu apa yang. . .”

spacia bukan? Aku sudah tahu itu, dan biarkan akau yang mengurusnya. Sekarang ini yang harus kita lakukan menunggunya lengah dan waktu terbaik. Jadi jangan bergerak dan melakukan hal yang tak perlu. Dan hyung, terimakasih karna kau mau berusaha mencarinya.” Ujar pria diseberang sana lalu menutup sambungan setelah menyelesaikan ucapannya dan itu membuat pria itu hanya bisa menganga lebar tanpa bisa berkata apapun.

“Waeyo?”

“dia sudah tahu. Dan ada yang dia sembunyikan, aku yakin itu” ujar pria itu yang masih menatap lembaran kaca tipis yang ada ditangannya, pria itu terlihat sangat was-was dan bersiap melakukan yang terburuk jika yang dia perkirakan itu benar. Sedangkan pria yang satunya hanya bisa menepuk bahu pria itu dan sedikit meremasnya.

“Dia akan menggunakan semua cara untuk mendapatkannya. Dia sudah punya rencana. Karna Gyu-ri. . .”

“aku tahu!” potong pria itu sambil menunduk dan mencengkram benda ditanganya dengan kuat.

“ itu pasti”

****

Golden Rose Hospital
09.21 AM

“ eomma pergi dulu kalau begitu. Jangan terlalu malam, kita makan malam bersama nanti.” Ujar wanita paruh baya itu pada Jong-in dan Jin-ah yang ada didalam mobil.

Bukan mobil biasa, Jin-ah baru menyadari bahwa mobil yang ada di dunia ini bergerak melayang dari tanah. Yang membuat Jin-ah lebih kagum lagi, mesin itu sama sekali tidak mengunakan bahan bakar. Satu-satunya bahan bakar hanyalah air. Tidak ada gas beracun yang dulu sempat membuat bumi hampir mati karenanya. Jalur yang ada untuk kedaraan juga sangat ditata dengan baik.

Pria itu hanya menghela nafas kesal sedangkan Jin-ah membalasnya dengan senyuman. Wanita paruh baya itu bahkan tak pernah berhenti berbicara dan membuat Jin-ah bingung. Sepanjang perjalanan, wanita itu terus memberi tahu benda-benda dan apa saja yang dia lihat. Dan sebagian besar memang tidak Jin-ah ketahui.

Dan dengan alasan mencari cincin, pria itu memaksa ibunya untuk pulang dan membiarkan mereka berjalan-jalan berdua yang tentu saja langsung di iyakan oleh wanita itu walaupun dengan seribu ratus pesan dan ancaman yang membuat Jong-in ingin sekali melesat meninggalkan tempat itu.

Sepanjang perjalan, Jin-ah hanya diam dan menikmati apa yang dia lihat. Dulu bumi seperti  tumpukan gedung tanpa pepohonan sedikitpun. Namun sekarang yang ia lihat, semuanya penuh dengan pepohonan. Mungkin bukan waktu yang tepat karna sekarang musim dingin yang membuat pepohonan itu tidak terlihat hijau karna tertutupi salju. Tapi membayangkan musim semi saja sudah membuatnya merasa akan sangat betah dengan kota ini. Manusia jaman sekarang sepertinya lebih peduli dengan kelangsungan bumi dibandingkan manusia 80 tahun yang lalu.

“ eomma sangat menyukaimu.” Ujar Jong-in membuka percakapan dengan menatap gadis itu. Jin-ah menoleh dan mendapati senyum dia wajah pria itu.

“dia baik” ujar Jin-ah sambil mengayunkan kakinya. Dan menyadarkan tubuhnya dipunggung jok tak tertinggal senyum yang mengembang diwajahnya

“ tentu, tentu dia baik kepada calon menantunya” ujar Jong-in yang lebih terdengar ‘kau bukan apa-apa dimata ibuku jika kau bukan calon istriku’

Entah dia apa yang harus dia lakukan pada pria disampingnya. Berterima kasih atau marah pada pria ini. Yang bisa dia lakukan saat ini pasrah dan berusaha menerima kenyataan. Yah kenyataan bahwa dia harus terjebak dijaman yang tidak dia kenal, terjebak dengan satu orang yang belum dia kenal dengan baik, dan terjebak pernikahan pada pria itu pula setelah perkenalannya dengan pria itu. mungkin dia terselamatkan karna terjebak dirumah sakit selama 2 minggu, walaupun tidak cukup. Tapi setidaknya dia bisa mempelajari sifat pria itu selama 2 minggu terakhir atau jika dia tidak masuk rumah sakit mungkin dia sudah menjadi isrti pria itu, mengingat sifat ibunya yang benar-benar mengebu-gebu padahal usia putranya baru berumur 24 tahun.

Sesaat terasa canggung dengan keheningan yang ada, dan membuat Jin-ah menelan ludah dengan susah payah dan memikirkan topik apa yang harus dibahas kali ini.

“ kita kemana?”

“ hanya jalan-jalan. . . kau mau kekebun binatang bukan? Cih, aku seperti menuruti anak kecil” ujar Jong-in yang membuat gadis itu membuang wajahnya keluar jendela dengan umpatan segala macam di dalam mulutnya yang dia gunakan untuk berkumur.

“jangan meledekku” dengus Jin-ah.

“ kau juga makan dengan  mengerikan, padahal kau wanita.” Kali ini ucapan Jong-in membuat Jin-ah sontak menoleh kearah Jong-in yang masih tetap menatap kearah depan. Gadis itu benar-benar ingin mencekik pria itu andai pria itu bukan orang yang sangat penting baginya saat ini.

“ itu karna aku lapar.” Ujarnya dengan mulut terkatup. Jong-in yang mendengarnya hanya tersenyum miring.

“ lalu memuntahkan semuanya”

“ itu aku tak tahu”

“ dan aktingmu sangat bagus, kau benar-benar bekerja dengan baik”

“aku bukan pegawaimu!”

Benar-benar percakapan menyenangkan bagi Jong-in. Gadis itu berbicara layaknya manusia. Jawab sesuai pancingan, dan itu kembali menjadi nilai lebih bagi Jong-in.Terlebih, gadis itu tidak segan menunjukan ekspresi rasa tidak sukanya walaupun masih dia tahan untuk mengeluarkannya dalam bentuk lisan. Entah butuh berapa kata dan pancingan lagi agar gadis itu benar-benar marah. Sekarang ini sulit menemukan manusia jenis ini.

Perempuan saat ini bak tuan putri ada dalam sangkar. Menjaga ucapan, tingkah laku bahkan menjaga ekspresi mereka dan hal itu dimata Jong-in sangat tidak wajar. Perempuan sekarang bertindak seperti robot yang diprogram untuk jenis –jenis tertentu dan hanya satu ekspresi tertentu. Bahkan menurutnya, robotlah yang lebih manusiawi di banding manusia.

“ jadi bisa kita mulai?” ujar Jong-in sambil menatap Jin-ah yang terlihat masih sangat kesal.

“apa?”

“ kencan denganku, waktu pacaran kita hanya 3 hari setelah itu pernikahan diselengarakan, tanpa acara pertuangan. Hebat bukan, ibuku itu” kekeh Jong-in dan terang saja membuat gadis itu membelakak tak percaya dengan ucapan Jong-in. Seolah,  dialah robot yang disetting untuk menikahi sebuah robot keras kepala itu dan tidak bisa menolak. Terlebih 3 hari itu adalah hari yang sangat singkat.

“ ti . .tiga..”

“nah  mungkin sekarang kau harus melihat orang-orang jaman sekarang. Mau berbelanja?” tawar Jong-in sambil memutar stir mobilnya kearah sebuah gadung dengan pintu yang sangat lebar dan para penjaga di pintu masuk. Dugaan Jin-ah mereka robot. Jong-in menjalankan mobilnya menyusuri lorong basement mobil dan memarkirnya di salah satu sisi yang kosong.

“ belanja apa?” tanya Jin-ah, pria itu hanya bergerak melepaskan sabuk pengamannya lalu menoleh kearah Jin-ah lalu menyandarkan punggungnya di punggung jok mobil.

“ apa yang kau inginkan tinggal kau beli. Tak usah takut aku bangkrut, itu tak seberapa dengan uang yang kutumpuk.” Pria itu menyadarkan kepalanya pada jendela mobil sehingga bisa melihat wajah Jin-ah dengan jelas dan lagi-lagi pria itu terkagum dengan apa yang sedang dia lihat. Gadis itu bahkan sepertinya tidak menyadari maksud tatapan Jong-in.

“ kita makan dulu? Aku lapar” ujar Jin-ah dengan senyum yang langsung mengembang di wajahnya. Dengan cepat Jong-in menegakkan badannya dan memposisikan dirinya agar bisa berhadapan dengan gadis itu.

“ kau baru saja makan tadi.” Kerut didahi Jong-in bahkan makin bertambah saat gadis itu malah makin tersenyum lebar menampilkan deretan giginya.

“ dan seperti yang kau katakan, aku memuntahkan semuanya”

Sepertinya gadis itu pandai merubah ekspresi wajahnya. Dia bunglon? Satu hal yang pasti. Gadis itu tersenyum tanda ada sesuatu yang sedang dia rencanakan. Jong-in hanya bisa menghelanafas, mengingat gadis itu memang benar-benar memuntahkan semua yang dia makan.

“ tsk. Baiklah kau mau apa?” tanya Jong-in dan seketika itu pula Jong-in langsung menyentakkan tubuhnya kebelakang saat wajah gadis itu tiba-tiba sudah ada di dekatnya dengan senyum yang masih tersungging diwajahnya.

“ menurutku, es cream?”

****

“mereka menakjubkan!” seru Jin-ah yang membuatnya langsung menjadi pusat perhatian saat ini. sedangkan Jong-in malah tak peduli  dengan tingkah gadis itu karna dia memang sangat menikmati perubahan wajah gadis itu.

“kau yang menakjubkan. . .” ujar Jong-in yang masih santai mengegam tangan gadis itu. gadis yang sejak tadi menariknya kesana kemari yang bodohnya dia malah merasa sangat bahagia.

“ demi tuhan, mereka benar-benar nyata aku. . .”

“ sudahlah, kau dianggap aneh nanti” potong Jong-in sambil menyadarkan tubuhnya di kaca besar yang membatasi antara kijang putih itu dengan pengunjung dan menatap sekeliling tempat itu sedangkan Jin-ah masih tetap menatap kagum kijang putih itu.

“ kau terganggu?”ujar gadis itu tanpa menoleh kearah Jong-in sama sekali.

“ tidak, aku malah menikmatinya. Tapi sepertinya kau yang akan terganggu. Kajja” pria itu menarik Jin-ah. Dan dengan senang hati gadis itu menuruti tarikan tangan pria itu. Ayunan tangan yang ada disamping tubuh mereka dan wajah antusias Jin-ah ,cukup mampu membuat Jong-in tersenyum geli melihatnya.

“ kau tidak lelah ya?” tanya Jong-in

“hm. . . ini menyenangkan.” Gadis itu sepertinya benar-benar sangat bahagia.

“ jujur saja ini pertama kali aku kesini” ucapan pria itu sontak membuat Jin-ah menoleh dan menatap Jong-in dengan raut wajah mengejek. Sedangkan pria itu malah menghentikan langkah kakinya dan balik menatap gadis itu.

“ bicara bohong seperti itu tak akan membuatku tersentuh.” Ujar Jin-ah sambil berdecak pinggang walaupun tangan kanannya masih bertaut dengan tangan Jong-in. Sedangkan pria itu hanya menghaburkan pandangan keseluruh sudut jangakauan matanya dengan helaan nafas geli.

“ terserah pendapatmu saja”

“Kim Jong-in ~sii?”  ujar seseorang yang menghentikan ucapan Jin-ah yang sudah ada dikerongkongan.

Jong-in menoleh dan mendapati seorang gadis dengan tubuh tinggi, cantik, manis dengan rambut ikalnya yang terurai bebas dan lagi cara berjalan yang anggun dan pakaian yang sangatlah menawan yang mungkin bisa membuat gadis-gadis merasa iri. Terang saja hal itu membuat Jin-ah langsung merasa terintimidasi. Gadis itu berusaha melepasakan tangannya dari cengkraman Jong-in.

Dan sepertinya Jong-in memang sudah terfokus pada gadis itu dan membuatnya berhasil terlepas dari genggaman Jong-in lalu berjalan menyingkir dari kedua orang yang sejak tadi sama sekali tidak melepaskan pandangannya. Ada tatapan berbeda yang ditujukan Jong-in pada gadis itu  dan Jin-ah sama sekali tidak bisa membaca apa maksud tatapan Jong-in.

“ lama tak bertemu, kau menjadi terlihat lebih tampan dan manusiawi.” Ujar gadis itu sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

Sedangkan Jin-ah sendiri memilih duduk dikursi panjang yang di salah satu sudut tempat itu dan menatap  kedua orang itu bergantian. Tidak salah lagi, gadis itu benar-benar memiliki hubungan cukup dalam dengan Jong-in  dan hal ini membuatnya seperti tong sampah yang di jadikan pelampiasan orang mabuk, terlebih dengan bodohnya dia malah dengan senang hati menerima muntahannya mungkin. Jin-ah sedikit berterimakasih karna dari tempat ini dia benar-benar tak bisa mendengar mereka.

“ kau benar, sudah lama tak bertemu dan kau masih sama seperti dulu. Tidak berubah sama sekali.” Ujar Jong-in dengan tangan yang sekarang terbenam disaku celananya.

Sesaat mereka terdiam saling menatap dan membuat Jin-ah semakin tidak nyaman dijangkauan pandang mereka. Entah apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya komunikasi batinlah yang mereka lakukan saat ini. tiba-tiba gadis itu menoleh kearah Jin-ah lalu tersenyum kearah Jin-ah dengan menelengkan kepalanya,sangat menyebalkan menurut Jin-ah.

“kau bahkan sudah mendapatkan pengantiku. Tak ku sangka kau akan secepat itu” ujar gadis itu yang masih menatap Jin-ah. Dengan perasaan sedikit jengkel, Jin-ah balik menatap gadis itu dan ikut menelengkan kepalanya. Dan jangan harap ada senyuman diwajahnya, karna dia memang tidak suka dipandang rendah.

“ bahkan lebih baik. Ku harap kau datang kepernikahan ku  3 hari lagi. Aku akan mengirim undangan kerumahmu nanti.” Ujar Jong-in yang sontak membuat gadis itu menoleh kasar dengan mata membelakak tak percaya dengan ucapan pria itu.

“penikahan?!” ujar gadis itu dengan nada tinggi.

Setidaknya dia cukup mengenal pria dihadapannya ini. dia pria yang tak mau terikat, dan tergila-gila dengan sesuatu yang tidak mungkin. Terlebih isu bahwa pria didepannya ini akan melakukan apapun agar mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara apapun sekalipun harus menghancurkan orang yang tak bersalah, membuatnya cukup yakin pria itu benar-benar sedang bergurau saat ini.

“ wae? Kau tak suka?”

“ konyol, apa rencanamu sebenarnya hah? Pasti ada sesuatu yang kau rencanakan dibalik ini. dulu juga kau mela. . “

“ bukan kah itu dulu? Lalu apa urusannya denganku? Aku sama sekali tak peduli dengan masa lalu, dan untuk mengingatnya saja membuatku malas.”

Ucapan Jong-in sontak membuat jantung gadis itu seperti tertusuk ribuan jarum yang menyakitkan. Wajahnya bahkan tak menyiratkan rasa bersalah sama sekali dan membuatnya makin sakit. Gadis itu membalik tubuhnya membelakangi Jong-in berusaha menahan air matanya agar tak tumpah sama sekali.

Cukup lama mereka terdiam dan mematung di tempat itu. Mata pria itu masih terpaku pada gadis yang sekarang berdiri membelakanginya. Terlihat gadis itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghentakannya hingga keluar dengan kasar, lalu menoleh kesamping tanpa membalik tubuhnya.

“sekali lagi, aku tak bisa memahami jalan pikirkanmu. Setidaknya kau masih berwujud manusia Jong-in, atau aku bisa menganggapmu binatang yang tak punya perasaan. Kau tidak selamanya seperti ini, suatu saat kau akan menyesal jika kau masih melanjutkannya. Ku harap aku yang terakhir, jangan sakiti gadis itu atau kau benar-benar akan kehilangan dia. Dan selamat atas pernikahan kalian, akan kutunggu undangan kalian.” Ujar gadis itu dan dengan cepat berjalan meninggalkan Jong-in yang masih berdiri mematung dengan memandangi punggung gadis itu yang makin menjauh darinya.

Menit berikutnya, pria itu baru menyadari  bahwa Jin-ah sudah tak ada dalam genggamannya. Dengan sedikit panik, pria itu menghamburkan pandangaan keseluruh jangkauan pandanganya dan tidak menemukan sosok Jin-ah sama sekali. Membuatnya tanpa sadar panik dan ketakutan setengah mati. Pria itu berlari kesetiap sudut, berharap menemukan gadis itu.

“kemana sebenarnya gadis itu, sial!” umpat pria itu yang makin frustasi dan masih terus berlari kesana kemari dan hingga nafasnya memburu. Pria itu hanya bisa membungkuk sambil memengangi lututnya dan masih berusaha mengedarkan padangannya keseluruh tempat.

Mata pria itu akhrinya terpaku pada gadis yang sedang menggendong seorang bayi dengan wajah cerah dan senyuman yang sangat menawan membuat Jong-in untuk sementara waktu membeku ditempat. Saat seorang wanita datang dan mengulurkan tanganya seperti meminta bayinya itulah membuat Jong-in tersadar dan langsung berjalan cepat kearah Jin-ah. Jin-ah masih mengobrol dengan wanita itu saat Jong-in menarik  gadis itu dan memeluknya dan membuat Jin-ah kebingungan begitu pula dengan wanita yang bahkan tak tahu apa-apa.

“ kau bodoh! Siapa yang menyuruhmu pergi seenaknya hah?! Kau mau aku mati gila!”ujar Jong-in yang makin mengeratkan pelukannya dan membuat Jin-ah kelimpungan karna malu.

“yak, Aku tak bisa bernapas.” Ujar Jin-ah dengan nada memohon, pria itu langsung menarik Jin-ah keluar dari pelukannya dan menatap gadis itu intens memastikan bahwa gadis itu benar-benar baik-baik saja.

“ aku bukan anak kecil” ujar Jin-ah yang sepertinya sedikit mempan terhadap pria itu walaupun tangannya masih mencengkram erat lengan Jin-ah.

“ te. . terima kasih atas bantuannya.” Ujar wanita itu yang akhirnya membuat Jin-ah tidak nyaman gadis itu hanya membungkuk memberi salam.

“ a . . Ne.” Ujar Jin-ah sambil membungkuk memberi salam, sedangkan Jong-in masih berdiri dengan wajah datar menatap wanita itu dan anaknya yang dia gendong dengan susah payah.

Kali ini Jin-ah manatapnya dengan raut wajah kesal. Gadis itu tak menyangka sama sekali bahwa sifat pria itu terhadap orang lain tidak ramah sama sekali. Tapi untuk sesaat Jin-ah berpikir bahwa pria itu sedikit berlebihan, memangnya dia akan mati jika tidak disampingnya?

Keduanya kali ini saling bertatapan, pria itu menatap Jin-ah dengan raut wajah menuntut dan membuat Jin-ah sedikit kesal. keringat pria itu masih terlihat mengucur dari relung lehernya, dan nafas yang masih terlihat memburu.

“ kau fikir ini jaman apa sehingga kau mau menolong orang? Dan siapa yang menyuruhmu berkeliaran seenakmu sendiri hah?!” nada bicaranya bahkan sangat menyebalkan.

“ kau sedang sibuk bukan? Mana mungkin aku merusak percakapan kalian dan aku benar-benar bosan menunggumu jadi aku memilih jalan-jalan. Lagi pula aku punya earcom, jadi aku bisa menghubungimu.” Mata Jong-in menunjukan kekagetannya. Benar, dia meninggalkan Jin-ah hanya karna gadis itu dan bahkan tak menyadari kepergian Jin-ah.

Untuk sesaat dia hanya bisa berdiam, ini bukan salah Jin-ah, melainkan salah dirinya sendiri yang mengabaikannya terlalu lama. Jika itu dia sendiri, mungkin dia sudah menarik oarang itu dan pergi bersamana tanpa peduli dia sedang berbicara dengan orang penting sekalipun. Karna dia benar-benar tidak suka di abaikan dan di nomor duakan.

“apa aku terlalu lama berbicara dengan Hun-yeon?” ucapan itu tanpa sadar melncur dari mulut Jong-in dengan nada serendah mungkin dan bisa saja tidak bisaterdengar. Terlihat raut bersalah dari wajahnya.

“apa itu namanya? Dia sangat cantik kau tahu?”

“jawab saja. . .” decak Jong-in karna gadis itu kembali membahas gadis itu dan membuatnya sedikit kesal.

“entahlah, seteleh menyingkir dari kalian langsung jalan-jalan. Hanya duduk sebentar di kursi lalu tertarik dengan rusa tadi dan . . .”

“sudahlah, kita pulang sekarang dan kau istrirahat.” Ujar Jong-in sambil mengegam tangan Jin-ah lalu menariknya dan berusaha agar gadis itu menyeimbangkan langkah kakinya sama seperti dirinya walaupun pada akhirnya dia menyerah dengan egonya sendiri dan mulai memperlambat langkahnya didetik berikutnya.

Pria itu menatap Jin-ah yang masih menatap semua yang ia lihat dengan ekspresi kagum dalam diam. Entah bagaimana bisa gadis ini membuatnya selalu mengalah walau hanya dalam bentuk percakapan pendek, gadis yang membuatnya ketakutan hanya karna gadis ini jalan-jalan sendiri, dan gadis yang tiba-tiba bisa merubah perasaannya menjadi lebih baik ketika moodnya benar-benar buruk.

Sebenarnya bukan seperti ini yang ingin dia lakukan pada gadis digenggamannya ini. Jadi kali ini, dia lah yang harus memilih. Menghancurkannya atau memilih egonya yang sama sekali tak pasti.

“Jong-in~sii, itu. . .”

“panggil aku Kai, dan kita akan menikah, jadi bisakah kau tidak berlaku formal padaku? Bahkan ini pertama kalinya kau memanggil namaku.” Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut pria itu dan membuat Jin-ah sesaat hanya bisa menatapnya kagum.Dia kesal?

“ Kai~a. . . itu menara apa? Jalan untuk berkeliling planet kah?” tanya Jin-ah menunjuk pada sebuah menara yang menjulang tinggi menembus awan. Sesaat Jong-in hanya terdiam menatap menara itu. tangannya terkepal dengan sempurna dengan raut kebencian yang dia tujukan pada menara itu.

“Itu menara setan yang ingin kuhancurkan”

****

Key’s corp.
17.23 PM

“tidak. Kita benar-benar harus menyerah dengan ini. aku tak mau mengotori Gyu-ri dengan nyawa seseorang. Walaupun hanya satu orang, kau pikir aku mau melakukannya? Tidak. Terimakasih.” Pria itu membanting tubuhnya di sofa lalu melipat menyilangkan kedua kakinya  dengan tangan yang memijat tengkuknya sendiri.

Kedua pria yang ada dihadapannya terlihat mengikuti egonya masing-masing, terlebih tatapan Luhan yang sangat-sangat tidak menyenangkan tertuju pada pria yang sama sekali tak gentar ditatap seperti itu.

“ aku tak peduli jika itu harus membunuhnya, lakukan saja apa yang kalian mau. Aku hanya memenuhi kebutuhan kalian.” Ujar Jong-in yang duduk dengan kepala yang mengadah kelangit-langit dengan mata yang terpejam. Pria itu langsung berdiri dan menarik kerah baju Jong-in dengan amarah memuncak. Dia benar-benar siap untuk menghantam tinjunya dihadapan pria itu.

“ kau! Sejak kapan kau menjadi iblis hah?! Gyu-ri, dia tak akan. . .”

“lepaskan tanganmu Sehun~a” ujar Jong-in memperingatkan, matanya masih terpejam seolah tak terjadi apapun. Sedangkan pria itu sama sekali tak mau bergerak . tiba-tiba tangan Luhan mencengkram tangan Sehun dan menatapnya tajam.

“kau boleh mundur, aku akan melakukannya sendiri. Rencana tetap rencana. Aku tak peduli jika aku harus membunuhnya”

“apa kalian tak bisa memikirkan perasaan Gyu-ri?!! Bagaimana jika dia tahu bahwa kalian  membunuh seseorang untuk dirinya! Kau tak memikirkan perasaannya?! Yang ada dia akan merasa bersalah seumur hidup dan menderita! Aku lebih memilih mencari cara lain. Jadi silahkan kalian keluar, dan jangan sentuh Gyu-ri. Dia tak boleh bangun saat ini.” tiba-tiba sebuah hantaman keras mengenai rahangnya dan terus bertubi-tubi menghantam hingga dia limbung dan terjatuh.

“kau mau Gyu-ri tersiksa dengan mimpinya! Lalu apa yang kau sebut degan mengorbankan dia untuk kepentingan seluruh manusia hah?! Bebannya lebih besar dan kau memilih membiarkannya terkekang dengan menara sialan itu hah?! Kau manusia bukan?!” seru Luhan.

“harusnya aku yang bertanya?! Kau manusia bukan hah?! Gyu yang menyodorkan dirinya sendiri untuk ini. Kau yang egois hyung! Mati saja kau dengan tujuan konyolmu! Aku akan mengembalikannya seperti dulu dengan caraku.” Ujar Sehun sambil membuang ludah yang ada dimulutnya yang sudah bercampur dengan darah.

Luhan bersiap melayangkan tinjunya saat Jong-in menendang meja kaca hingga terbalik dan pecah. Wajahnya datar tanpa emosi dengan kaki yang terjuntai dan lengan yang terlipat didepan dada. Semua yang ada di situ diam  tanpa bersuara sama sekali, Luhanpun perlahan menurunkan tinjunya dan menunduk lesu. Jong-in akhirnya bangkit tanpa berminat lagi menatap kedua pria itu.

“aku pergi. “ ujar Jong-in bangkit dan berjalan kearah pintu yang tertutup rapat. Pria itu berhenti cukup lama didepan pintu sebelum akhirnya membalikan tubuhnya lagi dan menatap kosong kedua pria itu

“jujur saja. Aku tak peduli dengan perdebatan kalian, lakukan apa yang kalian mau.” Ujar pria itu sebelum akhirnya dia keluar dan menutup pintu. Pria itu berjalan sedikit limbung menyusuri koridor sepi seperti orang mabuk, lalu berhenti di salah satu pintu.

Terlihat seperti tanpa tenaga, pria itu meletakan jari telunjuknya disebuah wadah yang langsung menganalisis data dari sidik jari pria itu. pria itu tidak langsung masuk kedalam pintu yang sudah terbuka lebar. Terdiam ragu untuk melangkah masuk namun, dia dengan perlahan melangkahkan kakinya masuk dan membuat pintu ruangan itu seketika menutup. Pria itu masih terus berjalan dan menemukan seorang gadis yang tergeletak diatas ranjang dengan kabel-kabel yang menjalar dari tubuhnya. Wajahnya masih sama, datar tanpa emosi menatap gadis itu. gadis yang  membisu dengan mata yang terpejam dengan rapatnya dan tubuhnya yang kurus kering.

“aku harus menepati janjiku pada Luhan bukan?  Kau seperti ini karnaku, jadi setidaknya biarkan aku menebusnya.” Ujar pria itu sambil menatap gadis yang benar-benar membisu. Pria itu menghela nafas dengan tangan yang terbenam disaku celananya.

“ mencintai seseorang itu semengerikan itukah? Yang kau katakan padaku sangat berbeda dengan kenyataan yang ku lihat. Gyu. . .”

***

Kai Mother’s House, Gangnam.
20:01 PM

Jin-ah hampir saja terjungkal dari kursi yang ia duduki saat melihat sosok bayangan Jong-in yang terpantul dikaca yang menghubungkan balkon kamarnya dengan kamarnya. Terkurung dimalam tahun baru dan terdiam menatap rintik hujan dari balik jendela. Bukan tanpa alasan gadis itu terkurung di rumah ini, mungkin bukan terkurung, namun diselamatkan oleh ibu Jong-in. Wanita paruh baya itu sangat menyayanginya hingga dia merasa bersalah telah membohongi wanita itu. Dan kali ini pria itu muncul didepannya setelah dia membiarkan Jin-ah tinggal dirumah ibunya, dia sama sekali tak pernah muncul dihadapan Jin-ah sejak Jin-ah tinggal dirumah ibunya ini bahkan untuk bertemu ibunya sendiri.

Pria itu berdiri bersandar pada pintu yang sudah terbuka entah sejak kapan dengan tangan yang terlipat didepan dada, tatapan datar  dan juga tajam. Tubuhnya tertutupi kemeja hitam dan celana jeans sebagai bawahannya. Terlihat anak rambutnya yang sedikit basah yang mungkin terkena guyuran hujan yang tidak terlalu deras itu.

Dia hanya diam berdiri disana.Cukup lama tanpa satu katapun yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan yang sengaja tidak dia sembunyikan atau mungkin tak mau repot untuk menyembunyikan tatapannyayang terarah pada Jin-ah. Gadis itu segelintir merasakan aura dingin dari pria itu yang membuat Jin-ah sedikit takut dan memilih diam, dia tahu pria itu sedang tidak baik-baik saja saat ini.

Entah berapa menit pria itu berdiri disana, cukup lama hingga membuat kaki Jin-ah tanpa sadar terasa kesemutan karna posisi duduknya dikursi yang tidak biasa dan sejak tadi tidak bergerak sama sekali. Beberapa detik kemudian, terlihat Jong-in menghela nafas lalu menyusupkan kedua tangannya di dalam saku celana dan berjalan mendekat kearah Jin-ah yang membuat Jin-ah menahan nafas tanpa sadar. Pria itu duduk di ranjang dan dengan mengunakan kakinya, dia menarik kursi yang Jin-ah duduki mendekat sedekat mungkin dan membuat kursi yang Jin-ah duduki sekarang terapit diantara kaki Jong-in.

Pria itu benar-benar sulit ditebak, sebenarnya apa isi kepala pria itu tidak ada seorang pun yang tahu, hanya saja Jin-ah bisa merasakan bahwa pria itu sedang bertarung tentang sesuatu diotaknya. Cukup lama Jong-in dan terdiam membuat Jin-ah benar-benar canggung, yang dia lakukan sejak tadi yaitu memeluk kedua kakinya erat-erat.

“kenapa kau diam?” ujar Jong-in membuka percakapan. Jin-ah masih diam dan menatap wajah pria itu barang kali ada celah sehingga dia bisa mengetahui apa yang pria itu pikirkan, namun nihil. Gadis itu bergerak menurunkan kakinya dan menaruh kedua tangannya di dalam saku hoodie yang ia pakai.

“kau sendiri dari tadi diam” ujar Jin-ah

“kau tak bertanya bagaimana keadaanku? Kenapa kau diam?”

“ kau juga tidak bertanya”

Entah apa yang salah dari ucpan Jin-ah, namun pria itu akhirnya tersenyum seolah seperti lilin yang tadinya keras meleleh terkena api. Dan hal itu membuat Jin-ah malah merasa was-was akan hal itu.

“kau memotong rambutmu?” tanya Jong-in sambil menyentuh helaian rambut yang di biarkan terurai menyentuh lehernya. Sedangkan Jin-ah hanya menjawab dengan anggukan tanpa berniat mengatakan apapun.

“ bagaimana harimu?”

“ seperti ini, karna eomma pergi. Kau tahu eomma pergi kemana? Dia tak mau  memberi tahuku.”ujar Jin-ah yang balik bertanya.

“ mungkin ke venus.Dia sedang berusaha pamer pada nunnaku.”

“em. . .” Jin-ah hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi. Menyadari tatapan Jong-in, gadis itu berbalik menatap pria itu lalu menyentuhkan tangannya kearah kening Jong-in. Pria itu bahkan tak bereaksi, hanya diam tanpa mengatakan apapun.

“ ada yang kau pikirkan? Kau terlihat sangat lelah” tanya Jin-ah sambil menyingkirkan tangannya dari kening Jong-in. Suhu pria itu terasa dingin, entah karna hujan atau apa yang jelas suhu tubuh pria itu dingin. Sedangkan Jong-in hanya mengagguk.

“hm. . ada”

“apa? Pernikahan?”

“ ani.”

“gadis itu?” kali ini pertanyaan Jin-ah memicu sesuatu yang membuat reaksi pria itu berbeda. Dia terlihat tidak suka.

“jangan membuatku kesal”sungut pria itu. sedangkan Jin-ah hanya bisa mengerucutkan bibirnya seolah dialah yang kesal.

“ aku selalu mendengar itu saat bertemu dengan mu. Apa tak ada kata-kata lain selain ‘ jangan membuatku kesal’? atau ‘ kau mau membuatku mati ketakutan’?”

“ jadi jika kau tidak tuli. Jangan membuatku kesal, setidaknya kau tahu aku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.”

“ berhubungan denganku?” tanya Jin-ah ragu dan dengan nada serendah mungkin, namun pria itu sama sekali tak mau menjawab dan memilih menjatuhkan kepalanya di pangkuan Jin-ah dengan tangan yang melingkar di pinggang Jin-ah, yang jelas saja membuatnya gugup.

“ kau sedang apa?”

“biarkan aku tidur sebentar”

“ punggungmu bisa sakit bodoh.”

“ senang mendengar itu.” ujar pria itu tanpa mengubah posisinya sama sekali. Seperkian menit kemudian pria itu sudah tertidur, terlihat dari nafasnya yang berhembus teratur dan jelas saja menggelitik paha Jin-ah yang sama sekali tak ditutupi oleh sehelai benang pun.

****

Jong-in menggeliat merasa sesuatu menyentuh kepalanya dengan gerakan perlahan dan teratur. Perlahan dia membuka matanya dan yang terlihat hanya cahaya samar diruangan itu dan gerakan teratur di kepalanya yang masih berlanjut. Tubuhnya sendiri masih merasakan nyaman, dan untuk beberapa menit dia tak mengingat posisi awalnya saat tidur. Kepalanya masih berada dipangkuan gadis itu tapi dengan posisi berbeda.

“kau memindahkanku?”

“dengan susah payah.” Ujar gadis itu yang masih terus mengusap kepala Jong-in dan tangan yang satunya terfokus pada sebuah buku.

“ aku tak menyuruhmu.”

“ sudah ku bilang punggungmu akan sakit jika kau tidur dengan posisi seperti itu. lagi pula, kakiku bisa kesemutan.” Dengus gadis itu sambil menjatuhkan buku yang ada ditangannya keatas kepala Jong-in.

“ jam berapa?” pria itu bahkan tak berminat untuk bangun dan memilih melingkarkan tangannya di pinggang Jin-ah yang membuat gadis itu seketika menahan nafas.

“ jam sebelas. Menunggu pergantian tahun.” Jawab Jin-ah dengan asal, yang membuat Jong-in hanya terkekeh tanpa membuka matanya sedikitpun.

“mau ku temani?”

“kau tidak pulang?”

“aku sudah pulang. Rumah ibuku rumahku juga bukan?” ujar Jong-in yang membuat Jin-ah seketika kesal.

“bangunlah, aku mau mengambil makanan.” Ujar Jin-ah sambil mendorong kepala Jong-in lalu bangkit dan berjalan kearah kotak yang berukuran satu kali satu meter yang tertanam di dinding. Menyebutkan salah satu jenis makanan yang membuat kotak itu berdenting tanda menerima perintah.

Autochef, dia mengenal benda ini. karna pada saat dia di bangunkan oleh Jin hwa waktu itu. benda ini sudah ada dan kakaknya memilikinya. Namun desain dan isinya sangat berbeda. Autochef  yang ia lihat  kali ini menggunakan tenaga udara dan air untuk membuat makanan. Hanya kedua bahan itu yang menghasilkan berbagai makanan dengan ukuran yang bisa di bilang kecil.

Jin-ah kembali berjalan kearah Jong-in yang masih terduduk di pinggir ranjang dengan tangan yang membawa nakas dan beberapa makanan.

“ini milikku?” tanya Jong-in yang membuat Jin-ah berjengit dan hanya bisa berjengit kaget lalu tersenyum polos seolah taka ada yang dia lakukan.

“ itu hanya buku.”

“ kau harus tahu kalau ini benda langka. Tidak ada lagi yang mau repot-repot membuat lembaran kertas ini dan menyapukan tulisannya disini. Tinggal mengunakan perintah secara lisan atau biarkan aubooks yang mencatat apa yang ingin kau catat.”

“Baiklah-baiklah, jadi tidak ada kertas dijaman ini?” gadis itu meletakan nakas itu diatas meja hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras karna dia sedikit membantingnya.

“ mau berdebat masalah itu?” tanya Jong-in yang membuat gadis itu mengacak-aca rambutnya sendiri dan berteriak sendiri sambil berjalan kearah balkon yang sengaja Jong-in buka.

“sial. Aku benar-benar tak tahu apapun.” Dengus gadis itu sambi menghempaskan tubuhnya pada ayunan yang ada di balkon itu dan membuat ayunan itu bergerak.

Sedangkan Jong-in hanya tersenyum lalu bangkit dan mengangkat nakas itu lau berjalan kearah balkon lalu meletakan nakas itu diatas meja yang ada di samping ayunan dan mengambil ayam goreng yang ada di nakas itu. Gadis itu sepertinya memprogram Pizza, ayam goreng dan cola dengan toping daging yang sangat banyak untuk makanannya.

“ kau sekesal itu?” tanya Jong-in sambil diduduk disamping Jin-ah. sedangkan gadis itu masih terlihat kesal dengan rambut yang super acak-acakan.

“aku menyukai buku, kenapa benda itu sudah tidak ada! Itu membuatku kesal” dengus Jin-ah.

“ buku yang ada sekarang ini bukan berbentuk seperti itu, yang seperti itu sudah dimuseumkan jika kau tahu.” Jelas Jong-in yang membuat Jin-ah makin mendengus kesal.

“ itu membuatku kesal.”

“ nanti ku belikan Aubooks jenis itu hampir sama seperti buku. Berhentilah mengeluh” ujar Jong-in yang membuat Jin-ah makin mendengus kesal.

“ ini menyebalkan jika kau tahu.”

“ aku tahu. . .”

Mereka berdua sekarang terdiam tanpa satu katapun yang meluncur dari mulut mereka. Jin-ah memilih menghabiskan pizza yang sekarang ada dipangkuannya. Tidak ada topik yang bisa dibahas lagi kali ini. bersama pria itu saja membuatnya merasa tertekan sekaligus nyaman.

“Ah~ya. . .”ujar Jong-in tiba-tiba yang membuat gadis itu berjengit kaget mendengar panggilan itu.

“ hm?”  gumam Jin-ah mencoba menyamarkan seraknya suaranya. Pria itu seolah memberikan jeda agar Jin-ah mau memikirkan apa yang akan dia katakan kali ini.

“ apa aku, mencintaimu?”

“ itu hatimu, bukan hatiku. Mana mungkin aku tahu. Wae?” jawab Jin-ah berusaha sesantai mungkin. Apa pria itu benar-benar bodoh? Bagaimana bisa dia menanyakan itu padanya?

“ Mian. . .” Jong-in menarik tengkuk Jin-ah dengan perlahan menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya.

Sangat hati-hati dan perlahan walaupun hanya berlangsung beberapa menit. Lidah pria itu menyentuh permukaan bibirnya, membuatnya tanpa sadar memberi celah pada bibirnya sehingga lidah pria itu bisa menelusup masuk. Dia tidak tahu bahwa rasanya akan seperti ini. Seperti ada api yang membakar di sekeliling mereka. Seolah mereka tidak bisa berhenti dan tidak bisa memerintahkan diri untuk berhenti. Ciuman itu terasa kasar dan menuntut, tapi bibir pria itu anehnya terasa lembut dan hati-hati. Jin-ah sedikit terengah saat lidah pria itu menemukan lidahnya dan membelitnya, tangan Jong-in bergerak menarik pinggang Jin-ah dan membuat tubuh mereka serapat mungkin.

Jin-ah sama sekali tak bisa berpikir jernih dan memilih membiarkan pria itu melakukannya, walaupun sebenarnya jantungnya berdentum secara gila-gilaan. Pria itu hanya memberikan jeda sebentar yang mengijinkan Jin-ah untuk menarik napas dan kembali menyerangnya bertubi-tubi seolah pria itu benar-benar belum merasakan puas sama sekali. Sebelum akhirnya paru-parunya mendesak untuk memperoleh oksigen yang sudah dia habiskan secara maksimal.

Keduanya saling menatap dengan napas memburu satu sama lain.

“Mian, karna aku memang benar-benar menginginkanmu.”

 

San Maria

Jin-ah bergerak dengan gelisah dibangku yang ia duduki. Bahkan tangannya tak berhenti meremas ujung gaun yang kali ini melilit tubuhnya, dan pada akhirnya dia mengangkat kedua kakinya dan mulai mengigiti kuku jarinya, matanya bergerak panik sekaligus bingung. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dan membuatnya tersentak kaget dan menatap pintu itu dengan raut wajah bodoh.

Pria itu hanya bisa menghela nafas saat menyadari keadaan Jin-ah yang seperti anak anjing yang ketakutan.  Pria itu berjalan kearah Jin-ah yang benar-benar terlihat ketakutan.

“kenapa kau ada disini?” tanya gadis itu saat Jong-in berdiri tepat didepannya. Pria itu hanya diam tanpa mengatakan apapun, masih tetap , menatap Jin-ah yang terlipat diatas kursi dengan balutan gaun putih yang dia pilihkan. Cukup lama Jong-in berdiri memandangi Jin-ah sebelum akhirnya dia berlutut dihadapan gadis itu dengan ekspresi yang selalu dia tunjukan.

“kau takut?”

“kenapa kau tak menjawabku?” tanya Jin-ah balik bertanya. Pria itu memang selalu membalik pertanyaan dan dia lontarkan atau malah balik bertanya seolah tak mendengar apapun.

“ lalu kau sendiri apa menjawab pertanyaanku?”

Jin-ah hanya bisa menghela nafas, ini bukan saat nya berdebat dengan pria dihadapannya ini, untuk sifat keras kepala, pria itu sepertinya memiliki sifat yang melebih Jin-ah dan membuat gadis itu harus mengalah karna memang dialah yang selalu kalah. Dia meletakan dagunya diatas lutut dan menatap Jong-in dengan mata sayunya.

Melihat pria itu dengan kemeja putih dengan balutan jas hitam pekat yang menekan dada hingga memperlihatkan bentuk bidang dari dada pria itu serta tatanan rambut yang berbeda dari biasanya membuat Jin-ah tanpa sadar terhipnotis oleh itu.

“ aku takut dan panik. Aku tak memiliki keluarga disini, bagaimana bisa . . .”

“kau tak takut terikat denganku?” potong Jong-in yang membuat Jin-ah sesaat menahan napas mendengar pertanyaan Jong-in.

“a. .aku takut” ujar Jin-ah ragu sambil menyembunyikan wajahnya dibalik lutut. Perlahan Jong-in menarik kaki Jin-ah turun dari atas kursi lalu mengangkat wajah Jin-ah yang tertunduk.

“aku tak bisa menghentikannya. Jadi, jangan maafkan aku.” Ucapan itu bahkan lebih terdengar. ‘ kau sudah masuk keperangkapku dan tak akan keluar untuk selamanya’ terlebih dia mengatakan itu dengan senyum yang tersungging diwajahnya membuat kata-kata itu seperti kalimat ambigu.

“ lalu kenapa kau disini?” dengus Jin-ah sembil menatap pria yang sedang berlutut didepannya. Sedangkan pria itu masih tersenyum sama seperti tadi.

“ aku takut kau kabur.” Ujarnya enteng.

“ konyol” umpat Jin-ah yang membuat pria itu terkekeh sedikit, lalu bangkit dan tanpa disangka, pria itu mencium kening Jin-ah yang membuat gadis itu membeku ditempat. Terlebih wajah pria itu yang tiba-tiba berubah menjadi dia yang sering Jin-ah lihat, dingin dan kaku. Tanpa mengatakan apapun pria itu berjalan menjauh dari Jin-ah sebelum akhirnya berhenti diambang pintu.

“ Jika kau terluka. Jangan maafkan aku, kau harus lakukan itu padaku. Ah~ya”

****

“ Kajja?” ujar seseorang yang mengulurkan tangannya. Pria dengan setelan jas, celana hitam yang disetrika hingga licin serta sepatu yang mengkilap.

Lee Hyukjae. Jin-ah mengenalnya sekitar satu minggu yang lalu saat dia masih dirumah sakit. Pria itu yang akan mengantarnya kealtar, dan menjadi keluarganya satu-satunya. Benar, pria itu mengangkat Jin-ah sebagai adiknya. Dan benar-benar resmi menjadi kakaknya.

“Wae? Apa kau tak mau?” tanya Hyukjae karna gadis itu hanya terdiam sambil memandangi uluran tangannya. Gadis itu mendongak menatap Hyukjae dengan raut panik.

“Oppa. . . ini sedikit membuatku takut.”

“ aku kan ada disampingmu. Apalagi yang kau khawatirkan? Hm?” ujar Hyukjae dengan senyum yang mengembang diwajahnya. Tapi sepertinya memang tidak mempan terhadap gadis itu. yang membuat Hyukjae hanya biasa menghela napas dan menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya.

“ walaupun kau bukan adikku yang selama ini aku cari, tapi aku tetap akan menjagamu. Apapun yang terjadi. Bahkan jika perlu nyawaku menjadi taruhannya.”

“aku tak butuh kau mati. . .” dengus Jin-ah yang membuat Hyukjae menarik Jin-ah lepas dari pelukannya dan menatap gadis itu lekat-lekat.

“dengar, jika Jong-in bertindak brengsek. Aku tak akan segan-segan membunuhnya, jadi beritahu aku arra?” ujar pria itu. sedangkan Jin-ah hanya mencibir, dan entah keberanian dari mana, dia menjetikan jarinya tepat dihidung Hyukjae yang membuat pria itu memiris kesakitan.

“mengerikan sekali.” Ejek Jin-ah.

“ wah. . . kakak adik yang romantis. Aku jadi iri. Igeo, buket bungamu.” Ujar seseorang yang berlari sambil membawa sebuket bunga yang langsung diserahkan kepada Jin-ah. Bunga berwarna putih dengan putik hitam ditengahnya.

“ jangan berlari, kau tahu kau sedang hamil bukan? Jangan membuatku ketakutan dan harus mengurungmu dirumah.” Protes Hyukjae sambil membolak balik tubuh istrinya, mencari sesuatu yang mungkin saja sudah tidak utuh.

“lakukan saja. Maka kau menjadi suami sekaligus ayah yang tak bertanggung jawab.” Ujar Ji-yoo enteng yang membuat pria itu merengut seperti anak kecil.

“ Ji-yoo~a…”

“acara sudah mau mulai. Cepat masuk” ujar Ji-yoo pada Jin-ah sambil merapihkan gaun yang Jin-ah pakai. Benar, gaun ini adalah gaun buatannya.

“kau juga, jangan merengut.”

“kajja?” ujar Hyukjae yang untuk kedua kalinya mengulurkan tangannya dan kali dengan perlahan disambut oleh Jin-ah. pintu grejapun perlahan terbuka bersiap menerima seseorang yang masuk kedalamnya.

***

Kai’s Monsion, Earl Phantomhive. Venus
23:54 PM

Jin-ah berjalan cepat mendahului Jong-in yang berjalan kearah dapur. Pria itu hanya melengos pergi seolah tak melihat Jin-ah sama sekali dan mengambil botol yang ada didalam lemari pendingin lalu menenggaknya hingga tuntas.

“wae?” tanya Jong-in akhirnya karna Jin-ah sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Tapi gadis itu maih saja terdiam menatap Jong-in tajam yang membuat pria itumelempar btol yang ia pegang kearah tong sampah lalu berjalan kearah Jin-ah sambil mengusap ujung kepala gadis itu. pria itu berjalan menaiki tangga dan masuk kedalam kamr diikuti Jin-ah. keduanya sama sekali tak mengatakan apapun.

Terlihat Jong-in yang mengambil beberapa pakaian dari dalam almari  yang membuat Jin-ah mengerutkan kening kebingungan.

“tidurlah sudah malam.” Ujar Jong-in sambil kembali berjalan kearah pintu.

“ kau mau kemana?” tanya Jin-ah. gadis itu masih berdiri didepan pintu.

“ tidurlah, aku masih ada. . .”

“ kau menghindariku? Wae?” potong Jin-ah akhirnya.

Terang saja gadis itu lepas kendali, menyadari sikap aneh Jong-in yang sudah 2 hari ini sama sekali tak pernah mau berbicara dengannya. Lebih tepatnya, setelah pernikahan mereka dan acara bulan madu yang membuatnya terdampat diplanet lain. Dan harus menerima kenyataan bahwa pria itu seolah jijik terhadapanya dan membuatnya tanpa sadar sakit hati tentang hal itu.

“ apa maksudmu?” ujar Jng-in sambil meletakan tas kerjanya dengan kasar. Sepertinya pria itu juga tersulut emosi.

“kalau begitu. Kenapa kau selalu pulang tengah malam, bangun sangat pagi lalu pergi.”

“aku ada . . “

“pekerjaan? Awalnya aku juga berpikir seperti itu. tapi kali ini sudah jelas semuanya karna aku. Kau menghindariku. Wae? Bisa kau beri aku alasan? Kau terlalu rumit untukku aku tak paham jalan pikiranmu Kai. Kau tak pernah berbicara denganku sama sekali padahal kau tahu aku tak punya siapa-siapa di dunia ini terlebih kau membawaku keluar planet yang membuatku tak bisa apa-apa. Bisa kita kembali kebumi? Setidaknya disana ada eomma yang. . .”  ucapan jin-ah tercekat saat jong-in tiba-tiba menghambur kearah Jin-ah dan membenturkan tubuh gadis itu kearah pintu dan tanpa aba-aba pria itu sudah melumat bibir Jin-ah dengan kasar.

Jin-ah berusaha lepas dari cengkraman tangan Jong-in tapi sangat sulit hingga membuatnya mengalihkan wajahnya membuat bibirnya terlepas dari bibir Jong-in.

“Wae?” tanya Jin-ah yang masih berusaha menarik nafas dengan benar. Seolah belum puas Jong-in menarik wajah Jin-ah kasar dengan tatap matanya yang membuat siapapun ketakutan,

“Diam.”

 

Kai’s Monsion, Earl Phantomhive. Venus
06:54 AM

Jin-ah menggeliat saat merasakan sinar matahari yang menyorot melalui celah tirai yang masih tertutup. Mengusap kedua matanya, dan menerjapnya beberapa kali. Dia baru saja akan bangun saat merasakan sesuatu yang berat berada diatas perutnya.

Hampir tersedak nafasnya sendiri saat mendapati Jong-in yang masih tertidur disampingnya dengan tangan yang melingkar di perutnya. Wajahnya bahkan langsung bersemu merah mendapati dirinya sendiri yang sangat berantakan tanpa sehelai benangpun yang dia pakai, mengingat apa yang terjadi tadi malam. Hanya sebuah selimut yang sudah sangat kusut yang menutupi tubuhnya.

Dengan perlahan, Jin-ah menyingkarkan tangan Jong-in dari pinggangnya dan bergerak selembut mungkin agar pria itu tidak terbangun. Karna fatal bagi Jin-ah jika pria itu bangun pada saat dirinya sama sekali tidak mengenakan sehelai benangpun untuk menutupi tubuhnya. Gadis itu berhasil lepas dari Jong-in dan beranjak dari kasur lalu sedikit berlari kearah kamar mandi yang langsung terbuka karna sensor di pintu itu yang langsung membuka pintu itu dan menimbulkan bunyi denting yang cukup keras.

Pertama kalinya dia menginjakan kaki di planet yang dulunya tidak bisa disinggahi manusia tanpa alat bantu. Venus. Lebih tepatnya di sebuah kota yang bernama Earl Phantomhive. Hampir sama seperti di bumi, hanya saja sedikit berbeda, karna hanya ada satu kota disini yang luasnya mungkin seluas pulau Kalimantan. Mungkin untuk mentransfer  oksigen di planet ini tidak lah mudah.

Hari ini adalah hari terakhir dia diplanet ini setelah hampir 4 hari tinggal di kota ini. Dan untuk pertama kalinya, Jong-in menyentuhnya. Pria itu benar-benar menghindari Jin-ah selama 3 hari, bahkan hanya untuk mengeluarkan suaranya saja tidak hingga pada akhirnya Jin-ah bertanya dan langsung berujung kejadian semalam yang Jin-ah sendiri sudah tak bisa mengingatnya.

Jin-ah keluar dari kamar mandi dan mendapati Jong-in yang masih tertidur. Seingat Jin-ah selama 4 hari ini, dia sama sekali tidak pernah melihat Jong-in bangun lebih dulu. gadis itu baru saja meletakkan handuk yang dia pakai saat terdengar bel rumah berbunyi. Gadis itu bergegas berlari keluar dari kamar dan membukakan pintu.

Tanpa melihat monitor lebih dulu sebelum membuka pintu yang membuatnya terkejut saat melihat siapa yang muncul didepan matanya.

“Annyeong. .” sapa pria itu dengan senyum yang mengembang diwajahnya yang membuat Jin-ah mengerutkan kening karna dia tidak mengenal pria dihadapannya.

“A..annyeong, sebentar aku panggilkan. . .” ujar Jin-ah sedikit panik saat pria itu tiba-tiba memotong ucapannya dengan kalimat yang sebenarnya cukup dipahami Jin-ah.

“tidak, aku sedang ingin bicara denganmu. Bisa?” ujar pria itu terus terang yang membuat Jin-ah bingung dan tak bisa memahami situasi ini. pria dihadapannya ini, dia bahkan tak pernah bertemu dengannya. Mungkin. karna dia yakin pernah melihatnya tapi dimana di sediri tidak bisa mengingatnya.

“eum, itu. . .”

“ aku teman Jong-in. Ah mian, Oh Sehun imnida” ujar pria itu sambil membungkuk memberi salam.

“ Lee Jin-ah imnida”

“ lebih baik kita bicara diluar, secangkir teh mungkin? Aku melihat cafe di dekat sini.”

“ Anu. . .”

“ hanya ingin mengobrol, kajja?”

***

At cafe
06:56 AM

Jin-ah berdiam diri dengan tangan yang mengusap bibir cangkir yang berisi cairan berwarna cokelat kemerahan yang mengepul. Pria itu bahkan tak bergeming dari buku menu yang ada ditangannya, wajahnya masih tertutupi buku menu yang di pegang.

“ tolong corn soup satu, kau mau?” tawar pria itu yang langsung di jawab dengan gelengan kapala yang berlebihan.

“ani” ujar Jin-ah.

Pria itu menghela nafas seolah mengumpulkan sesuatu agar bisa mengatakan pada gadis dihadapannya ini.

“ Mian aku memaksamu ikut.” Ujar Sehun.

“ne. Gwaenchana “ ujar Jin-ah sambil mengangkat cangkir tehnya dan meminumnya. Sedangkan pria itu terlihat bingung sendiri.

“eum… aku mulai dari mana ya. Bolehkah aku langsung bertanya?”

“ne?” ujar Jin-ah sambil meletakan cangkir yang ada ditangannya keatas atas meja. Pria itu terlihat ragu mengatakannya.

“ Spacia. Ada didalam tubuhmu, ani. mengalir didalam tubuhmu. Apa kau tahu itu?”

***

Jong-in masuk kedalam kafe dengan buru-buru dan menemukan Jin-ah yang terduduk di sudut kafe sambil menatap kearah kaca yang memperlihatkan hiruk-pikuk kota ini. pria itu berjalan mendekat dengan perlahan sekaligus membuat nafasnya normal kembali akibat berlari dari rumah. Entah dia sendiri tidak tahu mengapa dia sebegitu khawatir dengan sesuatu yang berkaitan dengan gadis itu. merasa tidak aman jika gadis itu tidak ada pada jarak pandangnya.

“ cepat sekali, kau sudah mandi?” ujar gadis itu saat menyadari keberadaan Jong-in. Pria itu menghempaskan tubuhnya dia kursi yang berada di depan gadis itu. Bahkan kali ini dia merasa sedikit kesal karna perhatian gadis itu kembali kearah luar kafe.

“kenapa tidak minum teh dirumah saja.” Ujar Jong-in berusaha untuk menarik perhatian gadis itu, tapi sepertinya gagal, karna gadis itu sama sekali tidak menoleh dan merespon ucapan Jong-in

“ aku hanya ingin mencoba di tempat lain. Lagi pula aku suka suasana kafe” ujar gadis itu tanpa menatap Jong-in sedikitpun. Arah tatapannya masih tetap sama.

“kau sudah mandi?” tanya gadis itu yang akhirnya menglihkan pandangannya dan sekarang menatap Jong-in seperti biasa. Senyuman yang seperti biasa.

“ hm. .” gumam pria itu memberikan jawaban. Gadis itu hanya tersenyum dan kembali menatap kearah luar.

“ apa kau mau membicarakan yang tadi malam?” ujar pria itu sedikit ragu. Jin-ah hanya terdiam membeku menatap kearah luar. Cukup lama hingga akhirnya Jin-ah membalik wajahnya dan menatap Jong-in dengan senyum yang berkembang.

“ Aniya. Aku tak mau membahasnya lagi. Kurasa kau punya alasan. Maaf .” Ujar Jin-ah sambil mengangkat cangkir yang ada di atas meja dan menyerap isi cangkir itu.

“ Kai~a. . .” panggil Jin-ah setelah beberapa detik terdiam. Wajah gadis itu masih dengan senyum yang membuat Jong-in sedikit mencium ketidak wajaran disini. Gadis itu terlihat sedikit ragu mengatakan apa yang ada dibenaknya yang membuat Jong-in berfikir keras tentang apa yang akan katakan gadis dihadapannya ini.

“ mau kah kau . . . mengendongku berkeliling tempat ini sebelum kita pulang?”

***

“ ada apa denganmu hm?” tanya Jong-in sambil terus berjalan menelusuri jalan setapak yang memang masih di sediakan.

Seolah kembali pada tahun 2000-an, tempat ini didesain sedemikian rupa kembali ke jaman itu. masih dengan rumah-rumah yang berjejer rapi dan pepohonan yang mungkin saja dibawa dari bumi menghiasi tepi jalan.

Jin-ah mengayunkan kakinya yang berada diantara  lengan  Jong-in yang melingkar di kakinya. Sedangkan tangannya melingkar di leher pria itu dan menyandarkan kepalanya di bahu Jong-in.

“ aku selalu seperti ini. Aku yang biasa bukan aku.” Ujar gadis itu dengan polosnya yang membuat Jong-in hanya bisa menghela nafas.

“ kau tak pernah meminta ku melakukan sesuatu. Itu yang ku maksud. Bukan tingkahmu yang ini” ujar Jong-in

“ lalu aku salah meminta pada suamiku sendiri?”

“ ‘Suamiku’? terdengar bagus. .” kekeh pria itu sambil terus berjalan sedangkan Jin-ah sama sekali tidak mengeluarkan protes sama sekali.

Pria itu melangkah memasuki taman kota yang sangat sejuk dengan rindangnya pepohonan. Ditengah-tengahnya, terlihat danau buatan dengan air yang sangat jernih. Beberapa hewan seperti angsa dan tupai berkeliaran kesana kemari tanpa merasa terganggu. Benar-benar kehidupan yang sulit dibayangkan oleh Jin-ah.

“ Kai~a. . .” ujar gadis itu setelah beberapa menit mengunci mulutnya.

“hm?”

“ apa pekerjaanmu sebenarnya?” ujar gadis itu yang sontak membuat Jong-in menghentikan langkah kakinya tepat dibawah pohon yang cukup besar dan cukup untuk berteduh.

“ kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?” tanya Jong-in sambil menoleh kearah Jin-ah yang masih menggelantung di atas punggungnya.

“ kurasa sebagai pengaman bahwa aku memang istrimu. Aku bahkan tak cukup tahu tentangmu.” ujargadis itu sambil menepuk bahu Jong-in memberi isyarat untuk menurunkannya. Dan dengan senyum polosnya, dia duduk diatas rumput dan membiarkan kakinya terjulur melewati bayangan pohon dan terkena matahari langsung.

Sedangkan Jong-in berbaring disamping Jin-ah dengan tengan sebagai alas kepalanya. Sedikit menyeringit saat cahaya matahari yang menembus dedauan menyorot kearah matanya.

“ pekerjaanku? Hanya duduk memberikan modal dan menjalankan perusahaan.” Ujar pria itu santai.

“ perusahaan besar?”

“ ani. . . hanya sebuah perusahaan yang bekerja untuk konstruksi diluar planet. Seperti tempat ini, hampir 85% dikerjakan oleh perusahaanku. Dari arsitektur, suplay oksigen, dan lainnya.” Jong-in terlihat malas membicarakan hal itu. namun sebaliknya, Jin-ah sangat tertarik tentang hal itu. mengingat dia sama sekali tidak mengenal pria disampingnya ini dengan baik, terlebih status istri yang dia sandang membuatnya sedikit ketakutan.

“ tugasmu dikantor?”

“ kubilang aku hanya duduk.” Dengus Jong-in yang mulai kesal, gadis itu benar-benar mengerikan jika dia ingin mengetahui suatu hal. Walaupun itu merupakan salah satu sisi menarik dari gadis itu.

“ kau pemiliknya?”

“hm. Bisa dibilang seperti itu.”

Cukup lama Jin-ah berdiam tidak mengajukan pertanyaannya lagi. Dia mnghamburkan pandangannya kepenjuru sudut taman itu, seolah mencari pertanyaan yang ingin dia ajukan yang mambuat Jong-in tersenyum dalam hati.

“ bagaimana memasukan oksigen disini?”tanya Jin-ah lagi.

“ kau melihat kota ini dikelilingi oleh pohon yang cukup rindang bukan?” ujar Jong-in yang lebih terdengar seperti gumaman. Pria itu menggeser tubuhnya sendiri dan meletakan kepalanya dia atas pangkuan Jin-ah.

Tidak seperti biasanya, gadis itu bahkan tidak terlihat panik atau gugup karna tingkahnya. Cukup membuatnya kecewa karna tidak sesuai yang dia harapkan.

“itu hutan.” Gumam Jin-ah yang sepertinya tidak suka dengan ‘pohon yang cukup rindang’.

“ transfer udara yang hampir 50% mengandung CO2 dan sisanya natrium dan oksigen dengan kadar yang bisa dibilang sedikit. Pohon membutuhkan karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Dengan pengaturan transfer CO2 sesuai kebutuhan satu pohon.” Ujar Jong-in yang mulai menjelasakan dan jelas langsung disambut antusias Jin-ah.

“ bagaimana kalau pohon disini tidak berkerja semestinya? Jelas bisa membunuh manusia yang ada disini bukan? Dan butuh cukup banyak oksigen untuk bisa menetralkan daerah ini bukan?” pertanyaan beruntun gadis itu muncul. Entah kenapa gadis ini selalu tak sabaran tentang sesuatu, bahkan dia memarahi kakinya sendiri yang sangat sulit untuk berjalan.

“ kau fikir kami tidak melakukan percobaan? Satu pohon disini diawasi oleh satu droid yang tahu tentang kebiasaan, pola hidup, dan aktivitas pohon itu sendiri. Bahkan masa karantina planet ini 10 tahun, itu sebelum aku lahir.” Dengus Jong-in.

“ lalu bagaimana. . .”

“penelitian kakakmu. Dia profesor yang paling jenius. Aku mengaguminya sebelum aku menemukanmu” ujar Jong-in memotong ucapan Jin-ah.

Jin-ah hanya terdiam mendengar ucapan Jong-in. Memang benar, kakaknya adalah orang yang mengilai sesuatu yang tidak nyata dan sulit diwujudkan. Gadis itu masih ingat tentang mimpi kakaknya yang ingin mendirikan sebuah kastil besar yang melayang diudara, membuat mesin waktu dan berbagai hal lainnnya yang mustahil dilakukan.

“ aku sejak tadi penasaran. Kau sangat tertarik tentang ini, apa kau sama dengan kakakmu?” tanya Jong-in yang hanya di bals dengan senyum polos meilik gadis itu.

“tidak. Aku ini bodoh, hanya rasa ingin tahuku yang tinggi.” Ujar gadis itu tanpa ragudan senyum yang masih mengembang diwajahnya

Cukup lama Jin-ah terdiam. Hingga dia mengingat tentang tower yang ada dibumi.

“ lalu tower itu? kenapa kau sangat ingin menghancurkannya?” tanya Jin-ah yang kali ini membuat raut wajah pria itu berubah. Pria itu menaruh lengannya diatas wajahnyadan menutupi sebagian wajahnya. Tangannya menggegam erat hingga tanganya berwarna putih.

“ sudah pernah kukatakan, itu adalah tower setan. Terusik sedikit, bumi akan kiamat”

 

Kai’s Home, Daechi-do
22:25 PM

 

Jong-in meringsek masuk kedalam kamar dan langsung menarik dasinya hingga terlepas dan melemparnya bersama jas yang ia pakai barusan.  Membuka beberapa kancing kemejanya dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang kamar. Hanya berlangsung beberapa menit saat dirinya menyadari bahwa Jin-ah tidak ada disampingnya, atau setidaknya menyapanya. Hal yang berlangsung hampir 2  bulan lamanya. Cukup lama hingga menjadi kebiasaan.

Pria itu baru saja berangsut bangun saat Jin-ah muncul dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi dengan keringat yang membanjiri dahi dan relung lehernya.

“Gwaenchana?” tanya Jong-in yang langsung melompat dari ranjang dan menyentuhkan tangannya pada dahi gadis itu.

“kapan kau pulang?” tanya gadis itu. suaranya bahkan terdengar sangat lemah.

“ wajahmu pucat”

“sudah makan?” tanya Jin-ah lagi yang membuat Jong-in kesal dan mencengkram kedua bahu Jin-ah.

“ jangan mengalihkan pembicaraan.” Dengus Jong-in yang terlihat kesal dan menggiring Jin-ah kearah ranjang dan mendudukannya. Tangan gadis itu terasa sangat dingin, bahkan seperti akan membeku. Pria itu dengan cepat menarik selimut yang ada diatas ranjang.

“ aku hanya sedikit mengalami masalah pencernaan.” Ujar gadis itu sambil mengambil air minum yang ada diatas meja lalu menantaskan isinya.

“kupanggilkan dokter”

“ ani, gwaenchana. Kau sudah makan?” tanya Jin-ah sambil mencekal tangan Jong-in agar tidak bergerak pergi. pria itu berdiri mematung sambil menatap Jin-ah, tanpa sepatah katapun meluncur dari mulutnya.

“Kai?” panggil Jin-ah, pria ituhanya menghela nafas dengan kerut didahinya.

“ istirahatlah. Aku juga sudah lelah” printah pria itu sambil mengangat kaki Jin-ah agar naik keatas ranjang, sedangkan dia sendiri berbaring disamping Jin-ah dengan mencengkram tubuh Jin-ah kuat-kuat.

“setidaknya kau. . . “

“aku sudah makan. Oke? Tidur. Kau fikir ini jam berapa?” potong Jong-in yang terlihat sangat kesal. gadis itu hanya terdiam meringkuh didalam pelukan Jong-in.

Pria itu merasakan sesuatu yang mencabik organ dalamnya kali ini. melihat Jin-ah yang bahkan hampir menggigil kedinginan. Terlalu menyakitkan bahkan hanya untuk menarik nafas saja sudah membuatnya kesakitan.

“ harusnya kau istirahat dikantor. Ini bahkan hampir pagi kau tahu?” gumam Jin-ah. Suara giginya yang saling beradu itu bahkan terdengar sangat keras.

“ jangan mendebat denganku” ujar Jong-in dengan mulut yang terkatup. Dia benar-benar hampir menangis karna merasakan sesuatu yang sangat menyakitkan.

“ kau pulang larut apa sudah menemukan cara menghancurkan tower itu?” tanya Jin-ah membuka kembali percakapan. Tangan gadis itu menyusup kearah dada pria itu mecari sesuatu yang hangat.

“ hampir.” Ujar Jong-in singkat dan membuat gadis itu mengangguk menerima ucapan itu. dengan perlahan dia memejamkan matanya yang sudah cukup berat untuk terbuka.

“Ah~ya. . .”

“hm?” gumam Jin-ah saat tiba-tiba Jong-in memanggil namanya.

“membunuh satu nyawa untuk menyelamatkan seluruh makhluk dimuka bumi, bagaimana menurutmu?” cukup lama Jin-ah diam berpikir apa yang harusnya di jawab.

“ kau mau membunuh seseorang?” tanya Jin-ah

“mungkin”

“kau mau menjadi pembunuh?.”

“Ah~ya. .” desah Jong-in karna Jin-ah tiba menjawabnya malah mendebat tentang hal itu. tidak cukup tenaga dia berdebatkali ini, melihat kondisi gdais diahadapannya ini saja sudah membuatnya merasakan sakit yang menghabiskan energinya.

“ jika orang yang harus mati itu aku. Aku sangat bersedia. Setidaknya orang yang rela sisa hidupnya di potong untuk menyelamatkan banyak orang, itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Orang yang berperang rela mati untuk negaranya bukan?” ujar Jin-ah namun tak ada drespon dari Jong-in. Pria itu merasakan seseuatu yang besar tiba-tiba menimpanya hingga hancur, benar-benar hancur hingga tak dapat kembali kebentuk semula

“hanya saja yang ditinggalkan. Manusia yang ditinggalkan oleh orang itu pasti sangat menyesal. Aku tak bisa membayangkan rasa sakitnya”

“tidur.”

 

Sehun’s Laboratory
02:32 AM

 

“ Hun~a… ireona. Kau bisa masuk angin tidur disini. “ suara itu terdengar sangat lembut sarta sentuhan yang lembut. Sedangkan Sehun masih tetap tak bergeming sama sekali, tak terganggu sama sekali dengan suara yang berusaha membangunkannya.

“Oh Sehun~sii.” Ujar gadis itu lagi kali ini dengan suara yang lebih keras. Namun pria itu hanya menggeliat tanpa meresponnya sama sekali. Gadis itu hanya menghela nafas dan memilih menyerah dengan uasahanya.

Pria dihadapannya ini, pria yang sangat ia cintai ini. entah bagaimana bisa menjadi segila ini hanya karna seorang gadis. Gadis yang sudah pria itu anggap sebagai adiknya walaupun tak ada hubungan darah atau apapun.

Statusnya sebagai kekasih selalu kalah dengan rasa sayang pria itu terhadap gadis yang sekarang berbaring tak berdaya, tertidur, terperangkap didunia portal. Dia selalu merasa iri tentang hal itu. tidak ada yang lebih baik dari apapun jika hanya ada dirinya yang ada di dalam pikiran pria dihadapannya. Setidaknya dia masih bisa berfikir positif tentang hal ini. bukan untuk saat ini, pasti akan terjadi dan terkabul dimasa depan.

Gadis itu akhirnya hanya bisa menghela nafas sambil tersenyum. Mengusap kepala Sehun lalu bangkit dan berjalan menuju lemari mengambil sebuah selimut dan menutupi tubuh Sehun dengan itu. Gadis itu hanya tersenyum lalu memutar kursi yang baru dia duduki kearah berkas yang masih menyala.

“kenapa kau melakukan hal ini sendirian? Kau bahkan tak tahu dunia portal itu apa . .“ dengus gadis itu. sambil terus membuka berkasnya hingga akhirnya matanya terperangkap pada sebuah batu berwarna biru safir berukuran kecil. Walaupun itu hanya sebuah gambar tiga dimensi,tapi dia yakin pria ini memilikinya.

Gadis itu menenliti setiap jengkal ruangan itu berdoa bahwa dia menemukan benda itu. sesuai dengan apa yang ditulis Sehun disitu, batu itu memiliki kekuatan yang sangat besar. Kekuatan itu lah yang dia cari-cari selama ini. karna untuk waktu yang lama, dia diam-diam juga ikut meneliti tentang hal ini.

Gadis itu memeriksa tubuh Sehun dan berusaha selembut mungkin agar tidak membangunkan pria itu. Matanya terpaku pada sebuah jalinan talin yang melingkar di leher pria itu. kalung? Dengan perlahan gadis itu menariknya dan langsung tersentak kaget saat melihat batu itu yang digunakan sebagai leontin.

***

06:23 AM

Sehun menyeringit saat cahaya matahari menusuk retinanya. Merasakan hembusan udara hangat yang menyentuh lehernya. Pria itu berbalik dan menyadari bahwa sekarang dia tertidur diatas sofa.

Pria itu tersentak kaget saat menyadari seorang gadis yang tertidur disampingnya.tidur dengan kepala bersandar pada sofa dan tubuhnya yang terduduk diatas lantai. Pria itu dengan reflek terduduk dan menatap gadis itu. Dia hanya bisa menghela nafas saat melihat wajah gadis itu yang tertidur dengan pulasnya. Dengan perlahan, dia turun dari sofa lalu mengangkat tubuh gadis itu kekamarnya.

Merasa bersalah karna membiarkan gadisnya seperti ini. hal ini bukanlah hal yang ingin dia lakukan pada gadis ini. setidaknya, setelah ini dia akan melamarnya dengan baik. Dengan perlahan menyentuhkan tangannya di pipi gadis itu merasakan tekstur kulit gadis itu dan suhu tubuh gadis itu.

“ harusnya kau pulang dan langsung tidur. Bukan malah merusuhiku. Kau ini keras kepala atau apa?” gumam Sehun sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi kening gadis itu lalu memberikan kecupan singkat dibibir gadis itu.

Pria itu bangkit, keluar dari kamarnya dan membiarkan gadis itu tertidur. Pria itu brjalan kearah Autochef yang tertanam di dinding dapurnya. Dengan segelas susu ditangannya dan roti bakar, dia berjalan menuju lorong yang cukup panjang dan berhenti diujung lorong tepat sebuah pintu dengan pengaman super ketat.

Pria itu masuk kedalam ruangan itu dan berdiri termenung tanpa geakan sedikitpun, matanya tertuju pada gadis yang sekarang terbaring dengan tenangnya bersama berbagai macam peralatan. Dengan menghela nafas berat, pria itu melangkah masuk meletakan gelas susu yang ia bawa diatas meja. Dengan perlahan menyentuhkan tanganya dilengan gadis itu, memeriksa denyut nadi dan nafas gadis itu. setelah dirasa cukup, pria itu duduk disamping gadis itu sambil tanpa bosan menatap gadis itu.

“Hunnie oppa!!” seru gadis itu sambil berlari kearah Sehun yang terang saja membuat pria itu menatapnya dengan tatapan malas, dan saat gadis itu sudah hampir memeluknya,pria itu menghindar dan mengakibatkan gadis itu terperosok pada tumpukan daun yang berjatuhan.

“Appo. . .Oppa Waeyo?! Wae!”rengek gadis itu sambil menujukan wajah tak berdosanya, sedangkan Sehun hanya menatapnya tanpa minat dengan tangan yang terlipat didepan dada.

“nama ku bukan Hunnie, kau fikir siapa yang kau panggil?seenaknya saja memberinama”dengus Sehun yang masih tak merasa bersalah. Gadis itu bangkit membersihkan dedaunan yang menempel di hampir sekujur tubuhnya.

“hhihihi. . .aku suka wajahmu itu.”

Sehun hanya menghela nafas saat memori itu tiba-tiba terputar kembali dan merobek luka yang berusaha dia sembuhkan.

“ kau bahkan tak pernah memanggil namaku, berlari kearahku, memelukku, dan tersenyum padaku. Kapan kau bangun?” Gumam Sehun yang terdengar serak.

“ aku berjanji kau akan bangun tanpa penyesalan, tidak boleh ada yang mati. Benar bukan Gyu?”

 

Key’s Corp.
09:54 AM

Jong-in baru membuka pintu ruang kantornya dan langsung mendapat Luhan yang berdiri tepat didepan kaca yang menapilkan kota Seoul dengan tangan yang terbenam didalam sakunya.

“Wae?” ujar Jong-in sambil berjalan kearah gantungan Jas dan menaruh mantelnya disana lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kantornya. Dan langsung menyalakan kompuetrnya dengan perintah suara yang langsung menampilkan benda-benad aneh yang ada digambar. Seperti sebuah persiapan untuk menghancurkan sesuatu.

“ Sehun menemuiku kemarin.” Ujar Luhan yang masih berdiri didepan kaca besar itu tanpa bergeming sedikitpun.

“ lalu?” ujar Jong-in yang terlihat malas mendengarkan ucapan Luhan dan memilih membuka berkas-berkas yang harus dia tanda tangani.

“ kau yakin akan melakukan hal itu?”

“ apa yang kau maksud.”

“tak usah mengelak” ujar Luhan sengit, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Jong-in.

“ sudah selesai, kau bisa bersama dengan Gyu-ri lagi kali ini. Beri aku waktu 3 minggu untuk menyempurnakannya.” Ujar Jong-in malas dengan fokus yang masih tertuju pada file-file yang ada dihadapannya.

“ pemilik spacia itu. istrimu?” tanya Luhan yang membuat tangan Jong-in terhenti sejenak, pria itu terdiam untuk beberapa saat. Tanpa sadar matanya terpaku sesaat pada sebuah foto hologram yang ada diatas mejanya yang menampilkan gadis itu mengenakan gaun putih dengan wajahnya yang ketakutan yang membuatnya tanpa sadar tercekik nafasnya sendiri.

“hm.” Gumam Jong-in sambil menandatangani berkas-berkas secara acak. Pertanyaan Luhan barusan membuatnya cukup kacau saat ini. terlebih matanya yang tak dapat berpaling dari gambar gadis itu yang membuatnya ingin sekali berteriak dan menghancurkan semuanya.

Sedangkan Luhan sekarang berjalan tepat kehadapan Jong-in dan menatap pria itu. dia bisa melirik seklias hologram dengan gambar seoarang gadis yang duduk diatas kursi dengan gaun putih disana. Gadis yang terlihat  ketakutan yang membuatnya tahu bahwa gadis itulah yang sedang dia biacarakan.

“ wae?” tanya Luhan lagi.

“ apa maksudmu?”

“ kenapa kau melakukan hal itu sejauh ini?” jelas Luhan. Jong-in masih berusaha menyibukan diri dengan berkas-berkas yang sebenarnya sudah beberapa detik yang lalu bukan mejadi titk fokusnya. Tapi gadis itu, gadis yang sekarang menjadi istrinya. Entah mengapa dia sama sekali tidak menyukai Luhan berbicara tentang Jin-ah.

Baginya, itu hal tabu yang tidak boleh dibicarakan oleh Luhan. Alasan sederhana, gadis itu miliknya dan secara tidak sengaja, pria itu akan merebutnya dan menghancurkannya tepat dihadapannya jadi tidak menutup kemungkinan rasa kasihan pria itu akan membuatnya hancur.

“kau yang mengajakku melakukan hal sejauh ini. Gyu-ri, bukankah dia sangat berharga untukmu? Kau mau mudur hanya karna mengetahui dia istriku? Keputusan ada ditanganmu.kuharap kau tidak berhenti hanya karna hal ini.” ujar Jong-in yang masih berusaha fokus dengan berkas-berkasnya, walaupun hasilnya nihil.

“kau mencintainya bukan? Gadis itu.” ucapan itu sontak membuat Jong-in membeku. Pria itu menutup seluruh berkasnya dan langsung berdiri membelakangi Luhan dan memilih menatap keluar kaca besar itu.

Pertanyaan yang sangat bagus. Yang membuatnya untuk sesaat berpikir untuk mengatakan hal lain, tapi untuk seterusnya, dia tak bisa membohongi hatinya sendiri.

“ benar. Untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang dan harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Ujar Jong-in yang menatap lurus kota Seoul yang terlihat sangat sibuk, sedangkan Luhan menatap Jong-in tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.

“tak perlu merasa bersalah, aku pantas menerimanya. Pikirkan saja Gyu-ri.”

“ Aku harus pergi sekarang, kau boleh disini selama yang kau mau.” Lanjut pria itu yang langsung berjalan keluar dari ruangannya dan saat pintu tertutup rapat,pria itu sudah tak bisa menahan berat tubuhnya dan hanya terduduk lesu. Menahan saat yang mencabik dirinya  begitu dalam.

***

Zenith Restaurant, Myeongdeong, South Korea

08.45 AM

 

Sehun melangkah memasuki kafe dan menemukan Jin-ah yang duduk disudut kafe dengan tangan yang mengusap bibir cangkir yang ada diatas meja.

“ kau sudah lama menunggu?” ujar Sehun sambil duduk dan membuat Jin-ah sedikit tersentak kaget dan hanya tersenyum menyambut pria itu.

“ Ani. Apa aku menggangumu?”

“ tidak sama sekali. Apa kau sakit?” tanya Sehun sambil memperhatikan Jin-ah dengan seksama. Gadis itu hanya menggeleng dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

“ spacia yang ku berikan, apa itu sangat berguna?” tanya Jin-ah dengan sedikit ragu. Sehun menangkap sesuatu yang aneh diwajah Jin-ah, gadis itu pucat bahkan bibirnya hampir membiru, tapi pria itu hanya terdiam.

“Hm, Gomaweo, itu sangat berguna” ujar Sehun sambil menyentak Blazernya memaksanya untuk rapi seketika. Untuk kedua  kalinya dia bertemu dengan Jin-ah dihadapannya dan kali ini gadis itu yang mengajaknya untuk bertemu.

“ kau gunakan untuk apa? Kau tidak menggunakannya untuk hal buruk bukan? Maksudku. . “ ujar Jin-ah ragu yang membuat Sehun langsung berdiri tanpa sadar dan meraih tangan Jin-ah dan tersentak saat merasakan suhu tubuh Jin-ah. ini bahkan terasa seperti menyentuh balok es.

Pria itu bergegas membuka sebuah kotak kecil dari sakunya dan mengluarkan sebuah manik kecil yang langsung ia usapkan pada punggung tangan Jin-ah dan membuat benda kecil itu menghilang. Sehun cukup panik tentang kondisi Jin-ah.

“apa itu yang membuatmu seperti ini?” tanya pria itu yang kembali mengambil manik kecil itu dan mengusapkan kembali kepunggung tangan Jin-ah, suhu tubuh gadis itu masih dingin dan membuatnya harus memberikan penghangat dua kali.

“entahlah, hanya saja aku bisa merasakan hal yang salah tentang itu.” gumam Jin-ah yang masih tak mengerti dengan apa yang sedang Sehun lakukan dengan tangannya. Pria itu tiba-tiba mendongak menatap Jin-ah dengan wajah panik yang membuat gadis itu kebingungan.

“ bisa kau ikut denganku? Aku harus memeriksa kondisimu.”

***

Eun-kyung dan Baekhyun berjalan beriringan memasuki taman yang ada dipusat kota. Keduanya hanya terdiam tanpa mengatakan hal sepatah katapun. Hingga akhirnya Baekhyun berhenti dibawah pohon tepat disamping sebuah kursi besi tertanam disana. Pria itu menghempaskan tubuhnya di kursi itu.

“waeyo?” tanya Eun-kyung sambil menoleh kerah belakang.

“ dingin.”

Eun-kyung hanya menghela nafas dan berbalik arah berjalan kearah Baekhyun lalu duduk di samping pria itu. sedikit merasakan canggung karna untuk pertama kalinya dia hanya berdua dengan pria ini tanpa urusan perkerjaan.

“ kita bukan manusia. tapi menyebalkan kita bisa merasakan dingin.” Sungut Baekhyun yang sejak tadi mengeluh ini itu. pria itu membungkus tubuhnya dengan sweater dan mantel tebal. Eun-kyung hanya menghela nafas lalu mengeluarkan sesuatu dari lengannya dan menempelkan manik kecil itu di punggung tangan pria itu.

“ mengeluh saja kerja mu” dengus Eun-kyung sambil menyentuh benda kecil itu hingga masuk kedalam kulit Baekhyun dan membuat pria itu hanya tersenyum. Senyum yang sangat menyebalkan.  Tangan Eun-kyung menyentuh kulit Baekhyun dengan ragu untuk memastikan pria itu tidak kedinginan lagi, lalu menghempaskan tangan Baekhyun begitu saja.

“ aneh saja, kenapa manusia menciptakan duplikat mereka sendiri dan berusaha membuatnya senyata dan semirip mungkin.” ujar Baekhyun yang membuat Eun-kyung berdecak kesal dan langsung berbalik menatap pria itu.

“ menjadi pengawal dan supir kau cukup banyak bicara ya?”

“ program yang membuatku banyak bicara.” Elak pria itu dengan senyum yang luar biasa menyebalkan. Eun-kyung hanya mendelik memperingatkan pria itu. Bersama Baekhyun cukup membuatnya kelimpungan, walaupun dia masih bisa mengendalikan diri.

Gadis itu mengangkat kepalanya mengarah pada langit yang lumayan cerah walaupun masih ada awan hitam disela-selanya.

“ Jin-ah agashi.” Gumam Eun-kyung.

“ kenapa dengannya?”

“dia terlalu baik untuk ukuran manusia.” terang Eun-kyung sambil menatap rumput yang tertiup angin yang  cukup membuat siapapun menggigil kedinginan

“ apa maksudmu?” tanya Baekhyun yang masih tidak memahami arah pembicaraan Eun-kyung

“ dia tak menganggap kita robot. Dia . . .”

“ Ah . . .aku tahu tentang itu. orang yang ramah, mudah tertawa, riang, aku menyukai seluruhnya yang ada padanya.” Ujar Baekhyun yang membuat Eun-kyung terdiam seketikatak bisa mengatakan apapun. Gadis itu hanya diam sambil meremas tangannya sendiri merasakan sesuatu yang menyakitkan tapi dia tak bisa mengeluarkannya.

Cukup lama mereka terdiam hingga suara tawa kecil Baekhyun membuyarkan semuanya dan tentu saja membuat Eun-kyung kebingungan

“ robot tidak bisa menangis Kyung. . .” kekeh pria itu sambil mengusap pucuk kepala Eun-kyung. Sedangkan gadis itu langsung membuang mukanya kearah lain berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Aku tahu” dengus gadis itu.

“ kau mau menjadi pacarku?” pertanyaan itu sontak membuat Eun-kyung membatu, sama sekali tak bergerak seolah tubuhnya sudah terpatri ditempat. Dengan ragu dia menoleh menatap Baekhyun dan menemukan wajah pria itu yang masih sama, senyum yang sama tetap menyebalkan.

“ne?” ujar Eun-kyung meminta penjelasan tentang maksud pria itu. apa pria itu benar-benar sedang mempermainkannya?

“kau menyukaiku kan? Nona yang mengatakannya padaku. Nona bilang wajahmu sampai memerah saat nona tahu kau menyukai. .”

“ Huaaaa. Cukup!” seru Eun-kyung memotong ucapan Baekhyun sambil berdiri menutup telinganya. Gadis itu mengumpat didalam hati, bagaimana nonanya mengatakan hal sememalukan itu.

“ kau menolakku? Aish. . . memalukan sekali.” Ujar Baekhyun sambil bangkit lalu berjongkok tepat didepan Eun-kyung.  Gadis itu masih menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan membuat Baekhyun hanya terkekeh geli melihatnya.

“ kau yakin tak mau menjadi pacarku? Aku menyukaimu loh. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada khasus robot menikah jadi aku tidak bisa mengajakmu menikah. setidaknya jika kau jadi pacarku kita bisa berciuman. Kau mau mencobanya?” Ujar Pria itu dengan nada meledek dan membuat Eun-kyung menghempaskan kedua tangannya yang langsung menemukan wajah pria itu dengan senyuman menawannya yang terang saja membuat pusat tubuh gadis itu berkerja berlebihan.

“ Saranghae Eun-kyung~a”

***

Eun-ji mendengus kesal sambil menggigiti jarinya dan menatap Sehun yang terlihat panik dan raut itu pada seorang gadis yang sama sekali tak pernah dia temui sama sekali. Dan dengan mudahnya pria itu membawa gadis itu kedalam laboratnya. Oke, mungkin ini berlebihan, tapi cukup menyakitkan bagi Eun-ji karna perhatian pria itu selalu teralih oleh hal lain dan kali ini gadis lain yang menjadi pusat perhatiannya.

“lukanya akan sembuh setelah 24 jam. Mian, aku tak bermaksud membuatmu menjadi bahan percobaan.” Ujar Sehun sambil menyerahkan mantel pada Jin-ah.

“ Gwaenchana. Kuharap gadis itu cepat bangun, jadi jangan sia-siakan benda itu.” ujar Jin-ah yang langsung mendapat anggukan semangat pria itu.

“ kau yakin tak perlu ku antar?” tanya Sehun yang sontak membuat Eun-ji langsung menoleh kearah Sehun. Gadis itu sepertinya akan meledak jika Sehun tetap tidak menyadari kemarahan Eun-ji.

“Ani, Baekhyun akan menjemputku” ujar Jin-ah sambil membungkuk memberi salam lalu berjalan meninggalkan pintu depan laborat itu.

“ kumohon hati-hati.” Seru Sehun yang membuat Eun-ji langsung mengijak kaki Sehun sekuat tenaga lalu berbalik masuk kedalam.

“ yak! Kau ini kenapa hah?” Seru Sehun, tapi gadis itu tetap berjalan cepat mengabaikan Sehun yang membuat pria itu berlari mendahului Eun-ji dan menarik lengan gadis itu.

“lepaskan!”

“ kau ini marah karna apa? Hm?” tanya Sehun berusaha agar tidak ikut tersulut emosi.

“ gunakan saja otakmu itu!”

“ kau cemburu?”pertannyaan itu seketika  membuat langah Eun-ji terhenti dan langsung membalik tubuhnya dengan kasar menatap pria yang terlihat butuh sekali penjelasn.

“Jelas! Kau pikir wanita mana yang tidak marah saat kekasihnya sendiri membawa gadis lain tepat dihadapannya, memperhatikan setiap jengkal dari gadis itu seolah takut ada sesuatu yang hilang. Gyu-ri sudah cukup menyita perhatianmu apa kau tidak menarik perhatianmu hingga kau membawa gadis lain? Gadis yang sedang hamil? Jangan katakan yang ada didalam perutnya adalah anakmu! ”

“Jin-ah hamil?” tanya pria itu yang membuat Eun-ji makin geram bahkan hampir menangis.gadis itu mengepalkan tangannya dan berusaha tidak menangis dihadapan pria itu.

Dia tidak ingin mendengar kemungkinan terburuk bahwa bayi yang ada diperut gadis itu adalah anak Sehun yang membuatnya harus merelakan pria itu pergi. sekauat tenaga dia berusaha membalas pertanyaan Sehun.

“Ne. Wae?! Kau mau meninggalkanku karna dia hamil? Lalu selama ini kau anggap. . .”

“ dia hamil toh bukan urusanku, itu urusan Kai” kekeh Sehun sambil berjongkok membiarkan Eun-ji yang terlihat sangat kacau dari sudut yang berbeda. Pria itu selalu seperti itu. berjongkok atau paling tidak membuat dirinya lebih pendek dari Eun-ji seolah membiarkan gadis itu mengintimidasinya dengan leluasa.

“ jangan mengalihkan pembicaraan!” jerit Eun-ji yang tnapa sadar sudah menangis dan membuat Sehun hanya tersenyum melihatnya. Dia bahkan tak mau berinisatif untuk menenangkan gadis itu. atau lebih tepatnya, dai mempermainkan gadis itu.

“ tenangkan dirimu dan pahami kata-kataku barusan” ujar Sehun geli sambil menarik-narik ujung jas putih yang Eun-ji pakai. Sedangkan gadis itu terlihat sedang berpikir dan membelakak syok menatap Sehun dengan aliran air mata yang masih ada dipipinya yang membuat Sehun terkekeh geli.

“ di. . dia. .”

“ hm. Dia adalah istri Kai, bukan urusan ku jika dia hamil.” Ujar Sehun yang lebih terdengar seperti ledekan yang membuat siapapun mungkin akan berteriak saking kesalnya.

“ kalau begitu kau harus memberitahu Jong-in bahwa istrinya hamil bukan. Dasar bodoh!” seru Eun-ji sambil menendang Sehun hingga terjungkal. Sedangkan dirinya sendiri berusaha menutupi wajahnya karna malu.

“Astaga tuhan.”seru Sehun yang membuat Eun-ji mengangkat wajahnya dari balik lengannya.

“W.wae?”

“ Jin-ah, gadis itu tidak boleh hamil.”

***

“ kau mau?” ujar seseorang yang membuat Jin-ah tersentak dan mendapati Jong-in yang berdiri dibelakanganya sambil menyodorkan secangkir teh pada Jin-ah yang membuat gadis itu kebingungan.

Pasalnya pria itu sama sekali tak pernah melakukan hal ini sebelumnya, terlebih hampir 2 minggu pria itu menghilang dan sekarang muncul tiba-tiba dihadapannya seperti hantu yang membuat orang ketakutan saat melihatnya.

“ kau pulang?” tanya Jin-ah sambil menerima cangkir itu. gadis itu kembali bersandar pada balkon dikamarnya menikmati hujan yang entah mengapa menimbulkan kecemasan tersendiri untuknya.

“ apa kali ini kau melarangku pulang?”

“ ani. . . hanya saja kau menghilang selama 2 minggu dan . .”

“ aku takmenghilang, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”potong Jong-in sambil melingkarkan lengannya dipinggang Jin-ah dan meletakkan kepalanya diatas bahu Jin-ah yang membuat gadis itu hanya menghela nafas pelan dan memilih untuk mengesap teh yang ada didalam cangkir.

“kemari.” Ujar Jong-in sambil membuat Jin-ah berbalik lalu menarik tengkuk gadis itu. sedikit berlama pada jarak yang sangat dekat itu. Bukan merasa gugup atau apa, kali ada perasaan lain tentang hal buruk yang membuat Jin-ah memalingkan wajahnya. Tapi dengan cepat Jong-in menahannya dan langsung mengesap bibir gadis itu sama sekali tidak mengizinkan Jin-ah untuk menarik nafas.

Tiba-tiba Jong-in mengeratkan tangannya dipinggang Jin-ah yang membuat gadis itu memiris kesakitan.

“Kai~a. . . sa” miris Jin-ah.

“sebentar lagi kau tak bisa merasakannya.” Ujar Jong-in yang masih terus melanjutkannya. Yang membuat Jin-ah ketakutan setengah mati.

“ mwo?” Ujar Jin-ah yang melepaskan tautan bibir mereka dan hanya dibalas dengan senyuman yang membuat Jin-ah ketakutan seketika.

Tiba-tiba tangannya kaku tak bisa merasakan apapun dan membuat cangkir yang ada diatangannya meluncur jatuh. Jong-in dengan mudahnya menjatuhkan Jin-ah yang saat itu masih ada didalam rangkulanannya dan sama sekali tak peduli. Pria itu menatap keluar balkon dengan masih mengesap isi cangkir itu.

“A..apa yang te.rjadi sek.karang” ujar Jin-ah tersengkal-sengkal, wajahnya bahkan memerah karna tak bisa bernafas dengan baik sedangkan Jong-in masih tetap berdiri seolah tak melihat apa yang sebenarnya terjadi.

“ kau tak bisa merasakan tubuhmu. Semacam lumpuh walaupuntidak membunuhmu, tapi cukup untuk melumpuhkanmu, tapi hebat juga kau masih bisa bicara.” Ujar Jong-in dengan santainya mengesap isi cangkirnya.

“Wae?” tanya Jin-ah. tanpa sadar gadis itu sudah meneteskan air mata, sakit yang kali ini dia rasakan melebihi apa yang dia rasakan dulu.

“ ah. . . kau baru saja meminumnya. Teh tadi. .”

“Spacia?” potong Jin-ah dengan susah payah. Sedangkan Jong-in hanya terdiam sejenakpria itu tiba-tiba menjatuhkan cangkir yang ia penggang dari lantai 2. Pria itu berbalik dan menatap Jin-ah yang terbaring dilantai dengan wajah datar. Bahkan pria itu tak peduli dengan luka yang ada di lengan Jin-ah yang masih mengeluarkan darah akibat terkena pecahan cangkir yang Jin-ah jatuhkan.

“ benar. Aku memerlukan itu sekarang” ujar pria itu sambil menyandarkan tubuhnya di pagar balkon dengan tangan yang terlipat didepan dada.

“ K. . kau, wae?”

“untuk menyelamatkan hidup seseorang dan hidup seluruh umat manusia. tak peduli aku harus membunuhmu demi hal ini. tapi setidaknya, aku bisa menyelamatkan seluruh isi bumi.”

 

***

Sehun menekan bel rumah Jong-in berkali-kali. Namun tak ada jawaban sama sekali yang membuat pria itu mengebrak pintu rumah itu hingga menimbulkan suara nyaring dari alarm didalam rumah.

“Jin-ah! kau didalam?! Yak ! Lee Jin-ah~sii!!” seru Sehun yang masih mengedor pinttu rumah itu.

“Sehun~a. Eun-kyung. . .” Ujar Eun-ji yang memang mengikuti Sehun dan langsung mengelilingi rumah itu.

“Wae?”

“ Ppalli!” seru Eun-ji yang membuat pria itu langsung berlari mengikuti Eun-ji. Pria itu tersentak saat mendapati Eun-kyung yang berdiri disamping rumah seperti patung. Terlihat sangat jelas di lengannya terdapat bekas cakaran yang cukup dalam hingga merusak  jaringan kulitnya.

“dia dalam mode tidak aktif.”

“ Sial! Terlambat. “ umpat Sehun yang mencari sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan benda kecil dan meletakan tepat dirahangnya.

“ mulai sistem, keluar dar modus siaga” ujar Sehun dengan suara Jong-in yang keluar dari mulutnya. Robot itu langsung bergerak dan detik berikutnya langsung tersungkur jatuh

“ Eun-kyung apa yang terjadi?” tanya Sehun sambil mengguncang tubuh robot itu.

“ Nona Jin-ah. tuan, dia membunuhnya”

“Mwo?!”

***

Key’s Corp.

13:12 PM

Jin-ah baru saja membuka matanya dan langsung merasakan sakit disekujur tubuhnya, terutama lengannya yang sekarang diperban. Gadis itu berusaha bangun dari ranjang yang ia tiduri. Gadis itu terpaku saat melihat seorang gadis yang terbaring di ranjang yang bersebelahan dengannya. Gadis itu terlihat sangat kurus kering dan tak bergerak sama sekali. Terlebih kabel-kabel dan alat-alat aneh yang melekat pada tubuh gadis itu.

Tanpa sadar Jin-ah sudah melangkahkan kakinya dan berjalan mendekat kearah gadis itu.

***

Jin-ah berjalan melewati lorong dan berusaha secepat mungkin agar dia bisa keluar dari tempat ini sambil mendorong gadis yang ia letakan di troli tempat makan. entah dia sendiri tidak tahu apa yang Jong-in rencanakan sebenarnya, tapi melihat ada beberapa orang penduduk Jepang yang sudah berkali-kali keluar masuk keruangan tempat dia di kurung membuatnya yakin ada yang tidak beres.

Dan dia juga tidak atahu ahrus mempercayai siapa disini yang ada sekarang dia harus pergi dari sini. Baru saja akan berbelok dari salah satu lorong. Terlihat orang-orang Jepang yang baru saja keluar dari sebuah ruangan yang membuat gadis itu mengurungkan niatnya.

“ada tanda kehidupan. Ada tanda kehidupan” suara itu membuat bulu kudu Jin-ah meremang yang membuat gadis itu bergegas membalik tubuhnya dan mendapati sebuah robot yang yang berukuran  hampir menyamai dirinya. Dan dengan cepat gadis itu menyusup kebelakang punggung robot itu dan menemukan sebuah kotak yang tanpa pikir panjang membukanya dan menarik semua kabel yang ada disana dan membuat robot itu linglung.

Mungkin keberuntungan atau kesialan yang memihaknya, gadis itu menemukan beberapa kode untuk beberapa ruangan yang ada di koridor dan juga berpapasan langsung dengan gadis yang ada di laboratorium Sehun. gadis itu berdiri dihadapannya dengan nafas memburu. Jin-ah siap dengan resiko apapun walaupun mungkin akan melukai gadis itu.

“ kumohon ikut denganku.” Ujar Eun-ji dengan nafas memburu. Gadis itu sepertinyna memang sedang mencari Jin-ah yang membuat Jin-ah langsung mengambil sebuah pisau dari bawah troli makanan itu lalu mengacungkannya pada Eun-ji yang membuat gadis itu ketakutan.

“wae?” tanya Jin-ah sambil terus mendorong trolinya.

“ Demi tuhan, kumohon percaya padaku. Ini juga demi anak yang ada diperutmu. Sehun berusaha semampunya untuk mencegah semuanya. Astaga! Gyu-ri? Bagaimana bisa dia ada disini? Harusnya. . .”

“kau bilang ‘anak’?” potong Jin-ah meminta penjelasan dari ucapan Eun-ji barusan

“ ne. Didalam perutmu ada bayi. Dia sama sekali tak bersalah, dan jika spacia dicabut dari tubuhmu anak itu bisa mati jadi kumohon percaya padaku. “ ujar Eun-ji yang membuat Jin-ah menjatuhkan pisau yang ada diatangannya dan menunduk menatap kosong kearah perutnya yang datar.

“kita tak punya banyak waktu kumohon.” Pinta Eun-ji sambil menggegam tangan Jin-ah yang membuat gadis itu mendongak menatap Eun-ji. Gadis itu mengangguk dan membuat Eun-ji tersenyum dan langsung ikut mendorong troli makanan dan membawa Gyu-ri yang ada diatasnya.

“eodiga?!” tanya Jin-ah mengikuti Eun-ji yang mendorong troli dengan sangat cepat.

“Jepang dibalik semua ini. dia yang membuat Gyu-ri terjebak didunia portal dan tanpa Jong-in dan Luhan ketahui, semuanya berpusat pada gedung ini. keinginan Jepang hanya ada 2 mendapatkan Spacia dan  melenyapkan Korea. hanya itu.” ujar Eun-ji yang terlihat kesal.

“ aku akan membantu.”

***

Sehun’s Laboratory
16:34 PM

“Jin-ah~sii bisakah kau membantuku?” ujar Eun-ji yang masih sibuk dengan komputernya yang mengoperasikan mesin yang berkutat didalam ruangan terpisah  membuat sesuatu. Keringat gadis itu bahakan terus mengucur deras, sedangkan Jin-ah sepertinya tak mendengar ucapan gadis itu. Dia masih berusaha mengangkat tubuh Gyu-ri lalu dibaringkan di atas ranjang.

Setelah itu dia mengambil sebuah pisau buah dan piring yang tergeletak diatas meja kecil. Gadis itu membersihkan kedua benda itu dengan baju yang ia kenakan berusaha sebersih mungkin. setelah dirasanya cukup dia meletakan benda itu disamping kepala Gyu-ri.

“Jin-ah~sii” panggil Eun-ji untuk kedua kalinya karna tak ada sahutan dari Jin-ah sama sekali. Entah apa yang dipikirkan Jin-ah hingga menyayat pergelangan tangannya sendiri dan menampung darah yang mengucur keluar dari lengannya ke piring yang sudah ia siapkan.

“ Kim Jin-ah~sii!” seru Eun-ji yang terlihat sangat kesal sambil memutar kursinya. Gadis itu bahkan hampir tersedak napasnya sendiri saat melihat darah yang mengucur dari lengan Jin-ah dan membuat gadis itu bangkit dan langsung merebut pisau dari tangan Jin-ah lalu menampar gadis itu secara bersamaan.

“APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!” seru Eun-ji, tapi Jin-ah hanya tersenyum yang tanpa sadar membuat Eun-ji ketakutan.

“ Gwaenchana. Kau punya alat pereaksi? Aku membutuhkannya.”

“sebenarnya apa yang fikirkan.”  Sungut Eun-ji sambil berlari kesalah satu kotak p3k dan mengambil alkohol dan langsung menyiramkannya ke pergelangan tangan Jin-ah yang membuat gadis itu meringis kesakitan.

“ membangunkan gadis ini.” gumam Jin-ah sambil menahan sakit yang berdenyut mengerikan dipergelangan tangannya.

“kau gila?! Bumi akan tertelan kedalam dunia portal jika kau melakukannya. Gyu-ri tak boleh bangun.” Seru Eun-ji sambil menyentak tangan Jin-ah yang lagi-lagi membuat Jin-ah memiris kesakitan. Dan membuat Eun-ji tanpa sadar menyesali perbuatannya dan dengan perlahan menarik lengan Jin-ah kembali.

“oleh karna itu kau harus menghancurkan tower itu setelah aku berhasil menyadarkan gadis ini.” ujar Jin-ah lagi yang terlihat semangat yang membuat Eun-ji kebingungan. Bagaimana tidak, gadis itu sama sekali tidak menujukan raut ketakutan karna nyawanya terancam padahal nyawanya terancam bukan hanya nyawanya bahkan juga bayi yang ada didalam perutnya.

Entah kekuatan darimana gadis itu bisa bertindak sedemikian tenangnya. Hal yang membuat Eun-ji kagum dan menyesal sekaligus. Dia bahkan mengutuk pria yang mencampakannya gadis nya sendiri yang bahkan sedang mengandung anaknya.

“itu tetap tidak akan berhasil. Pasti ada yang tertelan kedunia portal dan hancur bersamanya.” Ujar Eun-ji sambil membersihkan darah yang masih terus munguru deras.

“lalu kau tidak berpikir bahwa gadis ini juga akan ikut hancur jika menara itu hancur sebelum dia bangun? Setidaknya tidak ada yang mati. Jika pun mati itu harusnya aku.” Ujar Jin-ah sambil mengalihkan pandangannya kearah Gyu-ri yanng masih tetap diam tak bergerak sama sekali.

“bagaimana aku tak memikirkannya? Astaga tuhan. .”

“ ada orang yang bisa kau percaya? Kumohon perintahkan seseorang untuk mengungsikan orang-orang yang ada disekitar menara. Kau juga harus memikirkan kecepatan radiasi dari menara itu. “ujar Jin-ah sambil menimbang-nimbang darah yang ada didalam priang yang dan mengangguk sendiri.

“kau. . . bagaimana. . .”

“ entahlah itu mengalir begitu saja. Mungkin suatu firasat.” Potong Jin-ah sambil tersenyum sambil menepuk bahu Eun-ji yang membuat gadis itu merasa ingin menangis tapi dia berusaha agar tidak menjatuhkan air matanya dihadapan Jin-ah.

“ lalu mau kau apakan darah itu?!” ujar Eun-ji mengalihakn perhatian Jin-ah

“kau tahu Eve dan Adam?”

“ manusia pertama, manusia murni. Wae?”

“ aku memiliki darah murni Eve hingga aku bisa dihidupkan oleh spacia.” Ujar Jin-ah yang terdengar seperti lelucon yang sama sekali tidak lucu. Gadis itu benar-benar terlihat tenang yang membuat Eun-ji yakin gadis dihadapannya tidak normal atau mungkin bukan manusia.

“Mwo?!”

“ aku pernah sekali menghidupkan anjing yang waktu itu tertabrak mobil dan mobil itu juga menabrakku. Tanpa senngaja darahku masuk kedalam mulut anjing itudan membuatnya bernapas lagi” ujar Jin-ah yang membuat Eun-ji hanya bisa menelan lidah sedangkan Jin-ah berbalik menatap Eun-ji lalu tersenyum riang.

“ jadi tidak ada salahnya kita mencobanya. Mohon bantuanmu Lee Eun-ji~sii.”

***

Key’s Corp.
19:54 PM

 

Sehun berlari menyusuri koridor dengan terburu-buru. Laborat, itu bahkan sekarang penuh sesak dengan robot-robot ilmuan yang Jong-in perintahkan. Instruksi suara bahkan tidak bekerja. Sehun seketika mengepalkan tangannya saat melihat beberapa orang dari pihak Jepang keluar dari salah satu ruangan dan dengan cepat pria itu menerobos pintu itu.

“ ah. . kau yang membawa Jin-ah dan Gyu-ri bukan? Dimana mereka.” ujar Jong-in saat melihat Sehun yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Sehun langsung menghambur kearah Jong-in menarik kerah pria itu dan mengantam wajahnya hingga dia tersungkur sungkur.

“ mwoya!” Seru Jong-in yang tak terima dan langsung bangkit balas menghantam wajah Sehun hingga terdengar bunyi yang mengerikan. Sehun sedikit limbung namun masih bisa menendang perut Jong-in hingga pria itu kembali tersungkur.

“ apa kau bilang? Anjing sialan! Mati saja kau dineraka!” Seru Sehun sambil menendang begian perut Jong-in tidak hanya sampai disitu, dia bahkan tak segan untuk menginjak telapak tangan pria itu. Jong-in tidak tinggal diam begitu saja, dia menarik kaki Sehun hingga pria itu terjatuh tepat membentur ujung meja yang membuat kepalanya berdarah.

Jong-in seketika membeku ditempat menyaksikan apa yang baru saja dia perbuat. Sedangkan Sehun hanya memiris kesakitan sambil memegangi kepalanya yang mengucurkan darah.

“ Wae?! Kau tak membunuhku?!” seru Sehun. Jong-in masih berdiri membeku tanpa mengatkan apapun.

“ kau! Kau anjing jenis apa yang membunuh anak dan istrinya sendiri hah!”

***

Eun-ji dan Jin-ah saling menatap dengan wajah tegang satu sama lain. Bahkan tangan Jin-ah terlihat gemetar memegang jarum suntik yang ada ditangannya.

“ kau yakin sudah mengefakuasi orang-orang?” tanya Jin-ah yang terlihat ragu. Sedangkan Eun-ji tersenyum dibalik peluhnya yang mengucur dari keningnya

“aku sudah menghidupkan peringatan darurat disana dan lebih baik kita cepat. Kau terlihat tidak ketakutan tadi, tapi sekarang kau malah ketekutan” ejek Eun-ji. Jin-ah hanya tersenyum pahit mendengar ejekan Eun-ji. Cukup memalukan baginya jika terlihat ketakutan.

“siapa pun akan ketakutan.” Elak Jin-ah. tak selang beberapa detik suasana kemabali tengang.

“kau siap?” tanya Jin-ah dan dibalas angggukan kepala Eun-ji yang bersiap dengan tombol yang ada dihadapannya yang bersiap meluncurkan misil yang disebut dragoon  oleh Eun-ji.Jin-ah menghela nafas dengan kasar dan dengan perlahan meraba urat nadi Gyu-ri dan dengan takut-takut dia menyuntikan jarum itu kedalam lengan gadis itu hingga tuntas. Keduanya terdiam menunggu reaksi apa yang akan terjadi sedangkan tangan Eun-ji mulai gemetaran. Tidak lama kemudian terdengar peringatan radiasi menara dari komputer Eun-ji yang membuat Jin-ah berbalik kearah Eun-ji.

“Sekarang!!” seru Jin-ah pada Eun-ji yang membuat gadisitu mengangguk dan langsung menghatam tombol yang sejak tadi dia biarkan tidak tersentuh.

Terlihat Jin-ah yang menggegam tangan Gyu-ri memastikan gadis itu masih bernapas karna gadis itu belum membuka matanya sama sekali. Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras hingga membuat seluruh ruangan berguncang mengerikan seolah akan rubuh detik itu juga.
“Jin-ah~ya kita berhasil!!!” seru Eun-ji sambil melompat kearah Jin-ah dan memeluk gadis itu.

“belum, Gyu-ri masih belum bangun.” Ujar Jin-ah dengan wajah yang terlihat panik. Tangannya masih menggegam erat tangan Gyu-ri.

“Wae?”

“Molla..” ujar Jin-ah yang makin ketakutan karna Gyu-ri sama sekali tidak membuka matanya. Eun-ji bergegas berlari menkeluar ruangan lalu mengambil beberapa perlengkapan yang dimata Jin-ah seperti sebuah mainan.

Gadis itu mengambil benda berbentuk seperti cakram hanya saja lebih tebal dan tumpul dengan tobol ditengahnya yang mengeluarkan cahaya infamerah yang langsung terhubung dan langsung mendeteksi keadaan Gyu-ri

“ seluruh sistem tubuhnya normal. Lalu kenapa dia tidak bangun” ujar Eun-ji yang terlihat bingung

“Gyu-ri~sii. Ireona jebal” gumam Jin-ah yang masih menggengam tangan gadis itu sambil menutup matanya karna terlalu ketakutan

“ ireona. . .:” gumam Jin-ah lagi.

“Yak! Dia bangun.Dia membuka matanya.” Seru Eun-ji sambil menguncang tubuh Jin-ah yang membuat Jin-ah langsung mengangkat kepalanya dan menemukan manik mata yang menatapnya kebingungan.

“ Gyu-ri. . . Gwaenchana? Kau mengenalku?” tanya Eun-ji.

“Eonnie, apa yang terjadi?”

“Syukurlah. . . semuanya sudah selesai” ujar Jin-ah terlihat sangat lega dengan menghela nafas panjang sedangkan Eun-ji langsung menarik Jin-ah dan memeluk gadis itu erat-erat.

“ Gomaweo. Jeongmal gomaweo” ujar Eun-ji. Terdengar isakan gadis itu yang membuat Jin-ah kebingungan.

“ Hei. . . kenapa kau malah menangis.”

“mian. . “

“Eonnie.” Panggil Gyu-ri yang terlihat kebingungan

“ huaa. . . kau belum mengenakan baju aku lupa.” Seru Eun-ji yang membuat jin-ah terkekeh geli melihat kelakuan Eun-ji.

***

“ apa ini benar-benar sudah selesai?” tanya Eun-ji sambil mendorong kursi roda yang Gyu-ri duduki. Sedangkan Jin-ah hanya mengangkat bahunya sambil sedikit mengacak-acak rambutnya.

“ entahlah. . . kuharap semuanya sudah selesai.” Ujar Jin-ah yang terlihat sangat lelah. Eun-ji menghentikan langkah kakinya dan memeriksa lengan Jin-ah. karna dia benar-benar ketakutan saat menggunakan Spacia, mungkin saja ada efek samping seperti waktu itu.

“ lalu, bagaimana dengan hubunganmu dan Kai. A. Aku bukan mau me” ujar Eun-ji yang terlihat kebingungan karna dengan sendirinya mengajukan pertanyaan itu. Jin-ah hanya tersenyum pahit mendengar pertanyaan itu. gadis itu terdiam dan kembali menunduk menatap perutnya yang datar sambil mengusapnya.

“aku juga belum tau tantang itu.” gumam Jin-ah yang terdengar bergetar.

“ Eonnie. Sehun oppa Eodia?” tanya Gyu-ri yang membuat perhatian Eun-ji teralih kearah Gyu-ri.

“ molla. Ak. .” ucapan Eun-ji tercekat saat tiba-tiba Sehun muncul dan memeluk Eun-ji dari belakang dan menendang Jin-ah hingga terjatuh secara bersamaan pula terdengar suara tembakan yang terarah pada Jin-ah.

“ Lari Jin-ah!” seru Sehun memerintahkan gadis itu berlari. Dengan susah payah Jin-ah berdiri berusaha berlari. Terlihat banyak sekali orang-orang asing yang memegang pistol dan langsung saling baku tembak antara mereka dan Sehun. terlihat juga Luhan yang entah sejak kapan berada di hadapan Jin-ah dan pria itu membantu Jin-ah berdiri.

Jin-ah masih berusaha berlari sekuat tenaga sambil menahan sakit yang amat sangat mengerikan dibagian perutnya yang sepertinya akibat dari dia yang jatuh barusan. Tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan langsung menyeretnya berlari. Jin-ah yang mengetahui siapa yang menariknya langsung menghempaskan tangannya dari cengkraman Jong-in yang membuat keduanya berhenti berlari.

Jin-ah sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya dan memilih menatap pria yang berdiri dihadapannya. Pria yang dulu sangat ia percaya dan juga menghancurkannya seketika. Pria itu berdiri dengan wajah yang datar benar-benar tidak ada emosi diwajah pria itu yang membuat Jin-ah tidak bisa menebak apa yang akan pria itu lakukan.

“kumohon padamu. . .” ujar Jin-ah dengan suara yang gemetaran sambil berjalan mundur. Gadis itu benar-benar ketakutan hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat karna ketakutan.

“ biarkan anak ini lahir. Aku janji aku akan menyerahkan spacia, aku memohon padamu” ujar Jin-ah yang tanpa sadar sudah menitikan air mata. Sedangkan Jong-in hanya diam menatap Jin-ah kosong yang membuat Jin-ah makin ketakutan.

Tiba-tiba raut wajah pria itu berubah menjadi ketakutan sambil menarik lengan Jin-ahdan memeluk gadis itu dari belakang dan seketika itu pula terdengar suara letusan tembakan dan bau anyir yang langsung menusuk indra penciuman Jin-ah yang membuat gadis itu menahan napasnya.

Jong-in sama sekali tak mengatakan apapun dan terus menyeret Jin-ah berlari keluar dari gedung itu. Jin-ah bisa melihat darah yang mengalir dari balik lengan jasnya dan melumuri gengaman tangan Jong-in ditangan Jin-ah. entah karna terlalu fokus pada lengan Jong-in dan menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah kaki Jong-in dia yang membuatnya sama sekali tidak sadar ada lubang air yang terbuka dan membuat gadis itu terperosok masuk dan hampir saja terjun langsung kedasar lubang itu jika Jong-in tidak dengan sigap memegangi tangan Jin-ah.

Terlihat nafas pria itu yang memburu dan darah yang makin banyak mengalir dari lengannya.

“ pegang tanganku.” Ujar Jong-in akhirnya. Jin-ah tida habis fikir dengan jalan pikiran pria diahapannya ini.

“wae?”

“ Pengang saja tanganku!!” Bentak Jong-in sambil berusaha menahan Jin-ah agar tidak meluncur jatuh kedalam selokan. Dengan ragu Jin-ah berpegangan pada lengan Jong-in yang membuat pria itu mengigit bibir bagian bawahnya menahan sakit lengannya.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang tepat mengenai bahu Jong-in yang membuat darah memuncrat kewajah Jin-ah yang membuat gadis itu ketakutan setengah mati dan hampir saja melepaskan tangannya jika Jong-in tidak mencengkram kuat tangan Jin-ah.

“kumohon jangan lepaskan tanganmu. . . ini perintah kau mengerti? Apapun yang terjadi jangan lepaskan tanganku.” ujar Jong-in dan dengan perlahan Jong-in menutupi lubang itu dengan tubuhnya.

Tubuh pria itu tak henti-hentinya di tendang dan ditembaki hingga salah satu dari orang Jepang itu mengarahkan pistolnya kearah kepala Jong-in. Luhan yang baru saja menghabisi semua orang yang ada didalam dan berhasil keluar melihat itu semua langsung menghabisi seluruh orang yang mengerumuni Jong-in yang terbaring ditengah jalan dengan tembakan yang tepat sasaran pada jantung dan kepala mereka, kecuali satu yang mencengkram kuat kepala Jong-in sambil mengangkatnya hingga Jin-ah bisa melihat apa yang sedang terjadi. Pria jepang itu mengarakan pistolnya tepat dikepala Jong-in memberikan ancaman pada Sehun yang membuat Jin-ah tanpa sadar menangis.

“Hentikan!!” seru Jin-ah dan disaat bersamaan terdengar suara tembakan yang membuat Jong-in terjatuh dan menutupi lubang lagi. Gadis itu begitu ketakutan saat Jong-in tidak lagi mencengkram tangannya gadis itu berusaha meraih bibir lubang itu.

“ Kai~a.  . . kau dengar aku? Yak! Kim Jong-in!” seru Jin-ah dan tiba-tiba seseorang menyeret tubuh Jong-in dan langsung mengulurkan tangannya kearah Jin-ah.

“ kau tak papa?” tanya Sehun sambil mengulurkan kedua tangannya dan mengangkat Jin-ah keluar dari lubang selokan. Dan saat gadis itu keluar, yang terlihat hanya Jong-in yang tergeletak di tepi lubang dengan tangan yang masuk kedalam lubang. Tangis Jin-ah sama sekali tak bisa terbendung, dan dengan perlahan dia merangkak mendekat kearah Jong-in dan menyentuh tubuh Jong-in.

“ Kai~a. . . ireona.” Ujar Jin-ah sambil mengangkat kepala Jong-in dan menaruhnya dipangkuannya.

“ jangan membuatku takut, Bangun Kai . . .” ujar Jin-ah sambil menguncang tubuh Jong-in berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pria diahapannya ini masih hidup.

“ Jin-ah. . .” panggil Sehun yang membuat Jin-ah berbalik menatap Sehun dan Luhan yang menunduk lesu.

“sedang apa kalian? Kenapa kalian diam saja? Yak! Oh Sehun ! lakukan sesuatu!” jerit Jin-ah yang membuat pria itu hanya diam menundukkan kepalanya.

“ Mian. . .” gumam Sehun yang membuat Jin-ah tak percaya dengan apa yang dia dengar.

“Wae?” tanya Jin-ah. gadis itu masih terus mengguncang tubuh Jong-in.

“ Kai. . bangun. Kumohon bangun. . . BANGUN BODOH!!!” Jerit Jin-ah . gadis itu menangis sejadi-jadinyadan mencengkram kuat kepala Jong-in yang penuh darah. Yang membuat Eun-ji juga ikut menangis melihatnya.

“ kenapa kau berteriak. . .”ujar seseorang yang membuat Jin-ah mengangkt wajahnya dan menemukan Jong-in tersenyum menatap Jin-ah

“ dasar bodoh! Kau membuatku takut” seru Jin-ah yang sama sekali tak melepaskan pelukannya sama sekali.

“ Mian. . .”

 

One years later

Kai’s Home, Daechi-do
22:25 PM

 

“jangan lupa popok untuk Jong jin. . . eum, terserah kau. .”

Gadis itu berbicara pada communicator yang ia pengang dengan tangan yang sedang menyuapkan sereal kemulutnya. Wanita di seberang telphone itu berbicara terus yang membuat Jin-ah hanya bisa diam mendengarkan.

“ Jong-jin sedang tidur, oh Kyung~a.  Bisa kau carikan mainan untuk Jong jin juga? Dia mulai mengigit apapun yang dia pegang . . . kau ini,  jelas aku menyayangi Jong jin, dia kan anakku. Eum. Arra. ..”

Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi yang membuat Jin-ah bergegas lari kelantai dua menuju kamarnya. Terlihat seorang bayi laki-laki yang menangis tergeletak diatas ranjang besar dengan keringat yang mengucur dari pelipis anak itu.

“ Jong jin~a. .igeo eomma. . .”ujar Jin-ah sambil menggendong tubuh bayi yang masih menangis sesegukan. Sedangkan Jin-ah menepuk-nepuk punggung anaknya dan berusaha membuatnya tenang.

“ mungkin dia lapar, aku harus belanja.”  Ujar Eun kyung yang ada diseberang telphone itu. sepertinya gadis itu memahami posisi Jin-ah saat ini.

“hm. .. baiklah”

Terdengar suara sambungan telphone yang terputus. Wanita itu meletakan benda tipis bening yang sepertinya terbuat dari selembar kaca itu diatas meja, lalu menidurkan bayi yang ada digendongannya. Wanita itu menyentuhkan jarinya pipi anak itu dan seketika anak itu terdiam dan mengikuti arah gerak jari Jin-ah dan membuat wanita itu tersenyum melihatnya.

“ lapar ya?“ ujar Jin-ah, anak itu mencengkram kerah baju Jin-ah dan menarik-nariknya.  Gumaman juga tak tertinggal keluar dari mulutnya.

“Arra, igeo. Dasar tak sabaran” ujar Jin-ah yang membiarkan bayinya mengisi perutnya. Tangan Jong jin bergerak meraih ujung kerah Jin-ah dan mencengkramnya erat, mata anak itu terus mengawasi Jin-ah dan menatapnya.

Sedangkan Jin-ah hanya tersenyum sambil mengusap kepala anaknya. Seperti kemarin saja semuanya terlalui, menjerit ketakutan saat melihat Jong-in terkapar penuh darah dan kembali menjerit saat melahirkan putranya ini. semuanya terasa baru kemarin dia melaluinya dan meninggalkan bekas ketakutan yang dalam.

Terlihat mata Jong jin yang mulai mengantuk dengan cengkraman tangannya yang mengendur dan gerakan  mulutnya yang mulai melambat  dan membuatnya terlihat lucu.Jin-ah masih mengusap kepala anak itu dan menghapus keringat Jong jin perlahan, tak jarang gumaman aneh seperti bayi kebanyakan keluar dari mulut mungilnya. Walaupun baru dua bulan, anak ini benar-benar mengejutkan. Dia sudah terlalu sering mengatakan ‘Pabo’ pada ayahnya dan ‘eomma’ jika dia lapar. Walapun lebih terdengar gumaman bayi, tapi jelas anak itu sudah menujukan perkembangan yang pesat.

Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka yang membuat anak itu kaget dan langsung berbalik menatap kearah pintu dengan wajah datar dan membuat Jin-ah mendengus kesal. Jong jin kembali berbalik kearah Jin-ah dan meneruskan kegiatannya semula.

“ kau ini, Jong jin sudah mau tidur bodoh, bisakah kau pelan-pelan membuka pintu?” sungut Jin-ah tak terima. Sedangkan Jong-in hanya mengendikan bahu lalu menarik jas dan dasinya hingga yang tersisa kemeja putih yang melekat di tubuh pria itudan celana panjang berwarna hitam pekat.

Pria itu menghempaskan tubuhnya disisi ranjang dan membuat seluruh ranjang bergerak. Jin-ah yang kesal seketika pula mendang kaki Jong-in.

“kau tak lihat Jong jin sedang minum hah?! Kalau dia tersedak bagaimana ?!” sungut Jin-ah.

“hei, appa pulang dan kau hanya melihat sekilas hm?” ujar Jong-in sembil memainkan pipi Jong jin. Anak itu bahkan tak peduli dengan gangguan ayahnya.

“ kau ini. . .” sungut Jin-ah sambil menyingkirkan tangan Jong-in dari wajah Jong-jin dan mengusap pipi anak itu. matanya terlihat polos denganpipi yang hampir menutupi sebagian wajahnya.

“bagaimana hari mu?” tanya Jong-in sambil mengusap keringat yang membasahi kening Jin-ah.

“ seperti biasa, mengurus anakmu ini. kau sendiri?”

“ yah membosankan. . .” dengus pria sambil menarik tengkuk Jin-ah dan berusaha meraih bibir gadis itu. Dan saatitu juga  Jong jin melepaskan mulutnya dan dengan munggunakan tangannya meraih bibir Jong-in dan menariknya.

“yak, yak, yak Jong jin~a.. .” ujar Jong-in berusaha melepaskan tangan Jong-jin yang mencengkram mulut Jong-in kuat-kuat

“ dia marah. . .” kekeh Jin-ah. melihat anak laki-lakinya yang sama sekali tak pernah menijinkan ayahnya sendiri menyentuh Jin-ah seenaknya.

Gumaman anak itu seperti orang yang sedang marah, bahkan kakinya menendang-nendang perut Jong-in dan cukup menyakitkan. Jong-in langsung mengangkat tubuh Jong jin tinggi-tinggi dan mengantung diatas mengunakan tangannya.

“ kau marah? Wae? Wae? Kau kan sudah bersama eomma seharian.” Ujar Jong-in yang hanya dibalas tawa anak itu dengan jari yang terkulum dimulutnya. Jong-in meletakan Jong jin diperutnya dan membiarkan anak itu bergerak semaunya. Wajah anak itu terlihat sangat bahagia saat tangan dan kakinya bisa memukuli tubuh Jong-in.

“ aish. .  lihat anakmu ini, astaga. . .” dengus Jong-in saat melihat kelakuan Jong-jin. Anak itu dengan semangatnya memukuli dada Jong-in dengan senyum lebarnya.

“ dia anakmu juga.” Dengus Jin-ah yang membuat Jong-in menoleh kearah Jin-ah lalu kemabli menata Jong-ji yang masih melakukan kegiatannya.

“ah benar juga. . .” ujar Jong-in lirih yang membuat perhatian Jin-ah tertuju pada Jong-in.

“ anak ini yang membuatku ketakutan setengah mati. Dia benar-benar anakku” ujar jong-in sambil mengusap kepala Jong-jin dan membuat anak itu berhenti dan menatap ayahnya dengan wajah kebingungan

“ dan kau yang membuatku ingin sekali membunuhmu.” Dengus Jin-ah sambil mengangkat Jong-jin dari perut Jong-in lalu meletakan anak itu diantara tubuhnya dan tubuh Jong-in. Sedangkan Jong-in memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Jin-ah dengan benar.

“ benarkah?” tanya Jongin

“ Tentu saja. . .”

“ jadi cara apa yang akan kau lakukan untuk membunuhku?” tanya Jong-in yang terdengar seperti ejekan yang membuat Jin-ah mendengus kesal.

“ seperti ini mungkin. . .” ujar Jin-ah sambil menarik kerah baju prai itu dan mencium seklias bibir pria itu lalu melakukan hal yang sama berulang kali dengan tempo lebih cepat yang membuat pria itu membeku saking terkejutnya. Sedangkan Jin-ah hanya mencibir sambil menjentikan jarinya didahi pria itu. dan membuat Jong-in seperti sadar kemabli dan hanya tersenyum seperti orang gila. Sedangkan Jong-jin terlihat kebingungan dengan apa yang sedang dilakukan oleh orangtuanya.

“ Bodoh. Kalau itu aku sudah tahu.”

 

—END—

8 thoughts on “Blue Spacia

    • gak terinspirasi dari mana-mana… muncul dong gitu.
      xlo spacia itu yang bintang yang qh suka.🙂 bintang paling terang🙂 maka
      nya disebut bintang kehidupan.🙂

  1. sumpah gak bohong ini keren (y)
    aku suka banget ceritanya… so sweet :’) akhirnya juga so sweet bgt.. kaijinnya punya anak ih lucu ><
    smpet nangis juga tuh pas baca yg kainya mau ngebunuh jinah😦
    ah pokoknya kereeennn (y)

    lacrymosanya ditunggu part selanjutnya ya😉

    • huaa mian.. Lacrymosa untuk sementara belum bisa kegarap. masih banyak tugas. dari vocalgroup, drama, film, sampe pagelaran *curcol

      tapi qh usahain kogh..🙂
      ditunggu yaah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s