Lacrymosa Part 5

Untitled-1

“Gyu-ri!” jerit Jin-ah yang langsung meringsek masuk kedalam rumah.

“Eomma Andwae!” Jerit Gyu-ri yang seketika itu pula sebuah peluru meluncur kearahnya. Beruntung Jong-in muncul dan menarik Jin-ah dengan cepat dan dapat menghindari timah panas itu.

Disisi lain terlihat aliran darah yang dibalik pintu yang menimpa mereka dengan mobil Jong-in yang ada diatasnya. Pria itu sengaja menabrakan mobilnya kearah pintu itu.

“ meleset ya?” ujar pria yang sekarang berdiri disamping Gyu-ri yang terikat di kursi. Rambut gadis itu ditarik-tarik seenaknya yang membuat Jin-ah menggigit bibir bagian bawahnya hingga dia bisa merasakan anyir didalam mulutnya sedangkan Jong-in masih mencekal Jin-ah. terlihat kilat marah dari mata pria itu yang membuatnya sangat mengerikan.

“ Kau!” seru Jong-in sambil mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya, sedangkan tangannya satunya masih mencegah Jin-ah untuk berlari kearah Gyu-ri.

“ kenapa kau tidak bunuh dia?! Ayo lakukan!!” Jerit Jin-ah yang masih ditahan oleh Jong-in terlihat raut frustasi.

“ Eomma . . .”

“membunuhkupun tidak ada gunanya.” Ujar pria itu sambil mengangkat pistol yang ada ditangannya dan mengarahkan tepat dikepalanya sendiri. Detik berikutnya terdengar suara tembakan pistol yang membuat Gyu-ri kaget. Terlihat percikan darah dari kepalanya tapi pria itu masih saja bisa tersenyum.

“aku abadi. Tuanku yang memberiku keabadian, dan tahukah kau Lee Jin-ah~sii?” ujar pria itu sambil beralih menatap Jin-ah, gadis itu tidak kalah menatap dengan sengit seolah dia kan menghambur kearah pria itu dan mematahkan lehernya detik itu juga.

Pria itu mengelus rambut Gyu-ri yang membuat anak itu terlihat ketakutan dan didetik berikutnya, pria itu tanpa ampun menarik rambut Gyu-ri yang membuat gadis kecil itu menjerit dan hampir saja Jin-ah berlari kearah pria itu jika Jong-in tidak mencekal tangan Jin-ah. Gadis itu masih berusaha melepaskan diri dari cekalan Jong-in tapi gagal.

“ aku disini mengirimkan kado pernikahan untukmu. Kau tidak tahu betapa sedihnya tuanku karna kau memilih orang yang salah?” ujar pria.

“ Anjing sialan! Lepaskan ANAKKKU!!” Jerit Jin-ah yang masih berusaha berlari kearah pria itu.

“ ini? kudengar dia bukan manusia, hei nak, kau ini apa?” tanya pria itu sambil menarik rambut Gyu-ri yang membuat gadis itu meringis kesakitan. Seketika itu pula terdengar suara tembakan berulang kali kearah lengan pria itu dan entah bagaimana dengan mudahnya tangan itu terlepas dari tubuhnya hingga menyisakan darah yang terus mengalir dari balik lengannya.

“ menyentuh putriku lagi ku hancurkan tubuhmu.” Ujar Jong-in dengan mulut terkatup dan terdengar sangat tajam, pria itu benar-benar terlihat sangat marah.

“ Appa. .”

“ aku tak peduli, jika itu terjadi. Kau akan . . .” tak butuh pria itu menyelasaikan ucapannya Jong-in sudah membabi buta dengan pistol hingga kepala pria itu hancur dan terpuruk dilantai dengan tubuhnya yang benar-benar hancur.

Baru saja Jin-ah berlari kearah Gyu-ri, berganti orang lain yang berdiri disamping gadis kecil diikuti dengan terjun bebasnya Eun-ji dari lantai dua yang beruntung saja Jong-in berada tepat dibawah gadis itu terjatuh hingga dia bisa menangkap tubuh gadis itu. gadis itu terlihat seperti mayat, terlebih seluruh tubuhnya yang dingin dan membiru. Gadis itu bahkan tak mengenakan sehelai bajupun. Yang membuat Jong-in dengan cepat melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Eun-ji sedangkan Jin-ah hanya berdiri membeku menatap orang yang wajahnya sangat amat tidak asing yang berdiri dengan senyum miring yang membuatnya membeku ditempat. Itu wajah Jong-in.

Jong-in yang mendapati Jin-ah berdiri didekat jangkauan pria dengan wajah dirinya yang membuatnya langsung mengacungkan pistol kearah pria itu.

“ mundur Jin-ah!!!” Seru Jong-in.

“ lama tak bertemu, Jin-ah~ya” ujar pria itusambil berjalan dan meraih tangan Jin-ah, dan anehnya dengan mudahnya gadis itu menuruti saja kemauan pria itu. Dan dengan satu tarikan tangan pria itu barhasil meraih bibir Jin-ah dan melumatnya tepat dihadapan Jong-in yang membuat pria itu seketika meluncurkan timah panas kerah lengan pria itu namun anehnya pria itu tidak terlukasama sekali, seolah tidak pernah ada peluru yang mearah padanya. Beberapa detik setelahnya Jong-in, merasa kesakitan bersamaan dengan lenganya sudah berkucuran darah. Entah peluru dari mana yang tepat mengenai lengan kirinya. Dan membuat Jin-ah mengelinjang ketakutan, dia sama sekali tidak bisa bergerak sesuka hatinya, seolah dia sekarang adalah sebuah boneka. Pria itu menghentikan kegiatannya dan menatap malas kearah Jong-in yang tersungkur menahan sakit yang mendera lengannya.

“ kau ini bodoh ya? Kau mengacungkan pistol kearah tubuhmu sendiri,kau ini benar-benar aneh” ujar pria itu terlihat sangat santai lalu kembali menarik Jin-ah kedalam pelukannya dan sedikit tarikan pada kain yang melekat di tubuh Jin-ah sobek hingga memperlihatkan relung leher gadis itu dan sebagian dari dadanya.

“ hentikan?!” seru Jong-in sambil berlari kearah Jin-ah dan Gyu-ri namun langsung tersungkur kembali seolah tertindih sebuah batu yang sangat besar hingga membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak.

“ apa yang ingin kau berikan padaku jika aku menyerahkan gadis ini padamu?” tanya pria itu dan tanpa peduli teriakan Jong-in, pria itu menghisap leher Jin-ah hingga meninggalkan jejak basah berwarna keunguan. Gadis itu berusaha memerintahkan tubuhnya sendiri bergerak tapi tidak bisa

“hentikan! Kau dengar sialan?!” Seru Jong-in yang masih berusaha bangkit tapi sama sekali tidak membuatnya bergerak malah yang ada membuatnya seperti ditambah beban berat ditubuhnya. Sedangkan Gyu-ri hanya bisa terdiam membeku, anak itu sama sekali tidak bergeming dengan tatapan kosong seolah nyawanya sudah lenyap dari tubuhnya.

“ Gyu-ri, kau dengar Appa?? Gyu-ri!” seru Jong-in saat menyadari keadaaan Gyu-ri. Anak itu, jika anak terjadi sesuatu dengannya dia berani bersumpah untuk menghancurkan dirinya sendiri berkeping-keping.

“ haruskah kita pindah tempat? Ini hari pernikahanmu bukan?kita lanjutkan diranjang?” ujar pria itu entah bagaimna bisa menyebutnya, karna dia memang perwujudan Jong-in hanya saja pakaian mereka berbeda dan bola mata pria itu yang berwarna hijau kebiruan, yang menentramkan seolah mengajak semua orang ikut bersamanya, keneraka.

“Sialan Kau! Dia tidak ada hubunganya Anjing sialan! Lepaskan dia!” Seru Jong-in yang lebih terdengar seperti permohonan. Priaitu akhirnya mengalihkan perhatiannya dari Jin-ah dan beralih pada Jong-in yang sekarat dilantai. Pria itu berjalan mendekat kearah Jong-in dan berdiri tepat dihadapan pria itu.

“ sangat ada hubungannya, asal kau tahu saja, sebenarnya dia sudah menjadi milikku sejak dulu. dan entah bagaimana bisa kau merebutnya dariku. Tahu kah kau kau membuatku murka? Kau sangat tidak sopan.”

“ perset. .”

“ bukankah kau yang tidak sopan? Hades.” Potong seseorang yang entah sejak kapan berdiri dibelakang pria yang dia panggil Hades. Terlihat juga Ren dan Luhan yang berdiri dihadapan Gyu-ri dan sekali kedipan mata anak itu sudah terlepas dari tali-tali yang menjeratnya.

“ oh. . . sang malaikat maut, apa kabarmu?” sapa pria itu namun detik berikutnya sebuah tongkat yang berujung runcing sudah berada didekat leher pria itu.

“ kau bisa membunuhku? aku tidak bisa musnah jika kau ingin tahu. lain dengan mu” ujar Hades.

“ sayang sekali, akupun tidak mudah untuk musnah.” Ujar pria itu sambil memberikan perintah pada Ren dan Luhan untuk membawa Gyu-ri dan Jin-ah menjauh.

“ cukup sampai disini saja, kau terlalu egois. Bukan disini tempatmu.”

“ oh ayolah. . .ketempat gelap itu lagi? Semua orang dineraka menyedihkan. Tempat itu membosankan.”

“ apa yang sebenarnya kau inginkan?” ujar prai itu yang sepertinya berusaha mengorek informasi dari mulut pria itu secara langsung.

“ baiklah kuberikan alasan kenapa aku memusnahkan kaum mortis. Pertama kaum itu mengesalkan, hanya karna anakku seperti lahir diantara kaum mortis, aku harus di buang layaknya sampah. Dan tidak sedikit berusaha membunuhku. kau tak tahu betapa kesalnya aku? Kedua, aku membenci mereka. Neraka terlalu penuh akibat ulah mereka, membunuh siapa saja yang mereka benci atau akibat kelakuan mereka. .”

“ Kau tak pentas mengeluh karna itu tugasmu, dan ayahmu hades yang sebenarnya yang harusnya kau salahkan karna meracuni tubuh gadis keturunan mortis.”

“ kau fikir aku peduli?” ujar pria itu yang entah bagaimana bisa dengan cepat sudah menusukkan sebuah pisau belati tepat dijantung Gyu-ri yang membuat anak itu langsung memuntahkan darah. Jin-ah yang melihatnya, gadis itu segera merebut tubuh Gyu-ri dan menutupi luka didada anak itu. tubuh gads itu berguncang hebat saat merebut Gyu-ri dari tangan Ren, sedang Ren hanya membeku karna syok dengan apa yang baru saja terjadi, semuanya terlalu cepat hingga membuatnya tak sempat melakukan apapun.

“ Gyu-ri. . igeo eomma. . ireona. GYU-RI!!!!!” jeritnya Jin-ah bersamaan dengan tagisnya yang pecah.

“ keparat kau. . .” gumam Jong-in yang masih tersungkur diatas lantai dan berusaha bangu, tangan pria itu terkepal hingga terlihat aliran darah dari telapak tangannya.

“ KEPARAT!!” Seru pria itu yang tiba-tiba sudah berada dibelakang pria itu dengan sebuah sabit bergagang panjang yang ada ditangannya dan didetik berikutnya terlihat percikan darah dari perut pria itu, luka menganga yang cukup membuat isi perutnya keluar. Pria itu tersungkur dengan mulut memuntahkan darah. Tapi anehnya dia masih bisa tersenyum dan untuk kedua kalinya Jong-in menyabetkan sabit yang ada ditangannya namun kali ini gagal. Pria itu mengeluarkan sepasang sayap berwarna abu-abu yang mengempaskan tubuhnya keatas menghindari ayunan sabit dari Jong-in.

“ tak ku sangka kau menjadi deus sempurna, dan sabit merit itu. akhirnya aku bisa melihatnya dengan kedua mataku sendiri. Kita akan bertemmu lagi.”

***

“Jong-in?” ujar wanita paruh baya itu sambil berdiri didepan Jong-in dengan mata sembab dan pipinya yang bengkak setelah menangis berjam-jam. sudah hampir delapan jam pria itu duduk di depan pintu ruangan Gyu-ri setelah menjalani operasi. Pria itu terlihat kacau dengan kemejanya yang berlumuran darah dan wajahnya yang pucat pasi. Terlihat juga dari balik lengannya terlihat darah yang terus mengalir dan keringat yang masih terus meluncur direlung leher pria itu.

Wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafas menatap Jong-in. sebuah pukulan keras saat mengetahui kedua putrinya dan cucunya harus mengalami kejadian semengerikan itu walaupun dia tidak bisa mempercayai semua yang sebenarnya telah terjadi. Tapi yang paling terluka bukan dia sebagai ibu dan nenek, melainkan pria dihadapannya ini.

“ Gyu-ri baik-baik saja, Jin-ah juga sudah mulai tenang. Setidaknya obati dulu luka mu itu, hm?” ujar wanita paruh baya itu sambil menggegam kuat tangan Jong-in berusaha memberikan kekuatan pada pria yang sekarang sudah menjadi menantunya.

“ Sehun hanya terbawa emosi tadi, hm?” ujar wanita itu lagi, tapi Jong-in masih terdiam dengan tatapan kosong. Benar, Sehun yang tahu mengetahui semuanya langsung melampiaskan kemarahannya pada Jong-in. kata-katanya bahkan bisa menyakiti semua orang yang ada disana dan pria itu lansung mendapat tamparan keras dari ayah Eun-ji dan berusaha membuatnya tenang.

“ Eommonim.” Ujar Jong-in yang akhirnya membuka mulutnya dan hal itu cukup membuat wanita paruh baya itu tersenyum lega.

“ hm? “ gumam wanita itu menunggu apa yang akan menantunya katakan padanya. Cukup lama pria itu terdiam tanpa niat apa pun.

“ mianhae.”

***

Jin-ah sedikit tersentak kaget saat mendengar suara pintu terbuka. Tingkat kewaspadaan gadis itu meningkat drastis setelah kejadian itu, bahkan tidak sembarang orang yang bisa masuk keruangan itu. Terlihat juga Gyu-ri yang masih terbaring tak sadarkan diri tergeletak di ranjang dengan berbagai alat yang melekat pada tubuhnya.

Ajaib memang, anak itu berhasil selamat dari maut walaupun jantung robek. Perlu waktu berjam-jam saat operasi. Padanhal itu cukup membuat Jin-ah ketakutan setengah mati. Gadis itu bahkan tidak mau bergeming dari sisi Gyu-ri selama dua hari.

“ kau sudah makan?” Tanya ibunya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.

“ hm. . . bagaimana keadaan Eun-ji?” Tanya Jin-ah yang masih terfokus pada ibunya yang membawakan kantong plastik berwarna putih. Wanita paruh baya itu membuka kulkas kecil yang ada disudut ruangan lalu memasukan beberapa makanan kedalam kulkas itu.

“ membaik walaupun masih terlalu lemah, teman suamimu bernama Lay memulihkan Eun-ji dengan cepat. Dia bilang sedikit merubah ingatan Eun-ji agar trumanya menghilang. Dia sehebat itu ya?” terang wanita itu sambil terus memasukan makanan kedalam kulkas, Jin-ah hanya mengangguk menyetujui perkataan ibunya.

“ Eomma, bagaimana keadaan Jong-in? tangannya tertembak waktu itu.” Tanya Jin-ah ragu, gadis itu mengayunkan kakinya tanda dia ragu dengan pertanyaannya. Wanita itu hanya menghela nafas mendengar pertanyaan dari Jin-ah. wanita itu menutup kulkas lalu bangkit menatap putrinya, dan hal itu cukup membuat Jin-ah ketakutan akan apa yang akan ibunya katakan.

“ tulang lengannya hancur. . .” ujar wanita itu yang langsung membuat Jin-ah membeku ditempat, seolah dia sudah dikutuk oleh tuhan menjadi batu dan dijatuhkan dari ujung tebing yang membuatnya hancur berkeping-keping. Tanpa sadar gadis itu sudah menitikan air mata, ketakutan mejalar diseluruh tubuhnya.

“ Eomma dia. . “

“ lihat, kau sangat khawatir pada suamimu” potong ibunya yang membuat Jin-ah menunduk membiarkannya mengutuk dirinya sendiri.

“ eomma berbohong.” Ujar wanita itu sambil berdiri mengusap rambut putrinya, yang jelas saja membuat gadis itu mendongak menatap ibunya kesal. wanita paruh baya itu hanya hanya tersenyum menanggapi kemarahan putrinya.

“ tapi tidak sepenuhnya eomma berbohong. Kau yakin tak mau memaafkannya?” tanya wanita itu sambil menarik satu kursi lain dan duduk diatasnya. Gadis itu masih terdiam merenungi apa yang ingin diakatakan pada ibunya.

“aku tidak menyalahkannya eomma. Jika dia tidak ada, mungkin aku, Eun-ji dan Gyu-ri sudah mati. Dia terluka karna melindungiku. Harusnya akulah yang disalahkan.” Ujar gadis itu sambil menundukan kembali kepalanya.

“ pria setan itu mengincarku eomma. Dia menginginkanku, aku harus bagaimana?”

***

“ Kai.” Ujar Baekhyun sambil berjalan kearah Jong-in yang duduk di atap rumahnya.

Pria itu seolah sedang menikmati cahaya bulan purnama. pria itu mengenakan semacam jubah hitam yang Baekhyun yakin itu juga jubah iblis, terlihat juga sabit merit yang tergeletak di samping Jong-in yang memberikan aura mengerikan tersendiri. Sabit itu merupakan kebanggaan para mortis, hanya Mortis sempurna yang bisa mengeluarkan sabit itu, Sabit legenda paradewa kematian. Sabit yang memiliki dua ujung dengan ujung satunya yang bercabang tiga dengan sebuah rantai dewa yang melingkar di gagang sabit itu. tapi lain halnya dengan pemiliknya, Jong-in lebih terlihat seperti mayat hidup yang sama sekali tak mempunyai semangat. Seolah dia bersiap untuk tertelan oleh senjatanya sendiri.

“ kenapa kau menjaga Jin-ah disini? Lebih efektif jika kau disampingnya bukan?” ujar Baekhyun sambil duduk disamping pria itu yang lebih memilih diam dengan tatapan kosong.

“ Gyu-ri sudah sadar?” tanya pria itu yang akhirnya membuka mulutnya. Baekhyun hanya tersenyum sambil menggeleng.

“ tapi setidaknya dia baik-baik saja.” Tambah pria itu sambil menepuk punggung Jong-in dan mengusapnya setelah itu.

“ Jin-ah menyalahkan dirinya sendiri sama sepertimu, dan dimataku bukan kalian yang salah, hanya pria titisan Hades itulah yang harus menanggungnya, kulihat dia juga terluka parah terkena Merit. Dia menyuruhku untuk memintamu menemunya, dia terlalu takut meninggalkan Gyu-ri.” Ujar Baekhyun yang membuat Jong-in menoleh kearah Baekhyun dengan alis yang terangkat sebelahmenandakan dia kebingungan dengan maksud uacapan Baekhyun barusan. Jin-ah? menyuruhnya datang?

“ lebih baik bicara bukan?” tambah pria itu lagi yang kali membuat Jong-in mengambil kesimpulan bahwa pria itu sedang membodohinya. Jong-in mengangkat sabit meritnya dan meletakannya dipundaknya dan seketika itu pula sabit itu lenyap bersama jubahnya, yang tersisi hanya kemeja hitam pas dengan badan dengan celana hitamnya.

Pria itu tampak sedang menimbang-nimbang ucapan Baekhyun. Jujur saja, sangat sulit baginya untuk memerintahkan tubuhnya sendiri agar tidak berjalan menuju ruangan dimana gadis itu berada dan cukup sulit baginya untuk memaafkan dirinya sendiri. Memikirkan gdis itu saja membuatnya sesak. Terlalu merindukannya.

“ah aku sudah membersihkan rumahmu, untuk pintu sedikit sulit. Kau yang menghancurkannya dan untuk mobilmu, kau bisa membelinya sendiri dengan uangmu, apa kau perlu kubelikan, sementara. . .”

“aku pinjam mobilmu.” Ujar Jong-in memotong ucapan Baekhyun sebelum melompat dari atap dan berjalan gontai menuju mobil hitam yang terparkir dan depan rumahnya.

“ aku akan menjaga rumah dengan baik, bersenang-senanglah.”

***

“ kau belum tidur?” tanya Sehun saat melihat Eun-ji yang masih terduduk atas ranjangnya dengan buku yang sedang ia baca, gadis itu hanya menggeleng lalu tersenyum sambil menepuk sebelah kasurnya menyuruh Sehun mendekat kearahnya.

“ Gyu-ri Eotthe?” tanya Eun-ji pada Sehun yang sudah mengempaskan tubuhnya disamping Eun-ji dan memilih meletakkan kepalanya dipangkuan Eun-ji, secara reflek gadis itu langsung mengusap kepala pria itu secara teratur.

“ masih belum sadar, hanya saja kondisinya mulai membaik” ujar pria itu sambil berusaha menutup matanya. Hari ini cukup melelahkan, dia sendiri tidak terlalu paham tentang apa yang di perintahkan Baekhyun padanya, namun satu kalimat yang membuatnya bergerak dengan sendirinya.

Sedangkan Eun-ji sepertinya tidak mengingat semua yang terjadi padanya. Yang dia ingat hanya saat dia dijatuhkan dari lantai dua dan Jong-in yang menangkapnya. Itu lebih baik dari pada gadis itu mengingat semuanya. Akan sangat mengerikan jika gadis itu sampai menyalahan dirinya sendiri.

“ lalu Jin-ah?”

“ dia masih bersikeras terus menemani Gyu-ri sampai sadar.” Ujar Sehun yang mulai malas meladeni Eun-ji. Gadis itu memang belum diizinkan keluar dari ruangan itu. Bukan tanpa alasan, Lay salah satu dari 13 orang yang termasuk teman Jong-in menyuruh Sehun agar dapat menahan istrinya di ruangan itu. Setidaknya sampai memori itu benar-benar terhapus. Beruntung kaki Eun-ji yang retak bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk menahannya di ruangan itu.

“ Jong-in? dia bagaimana?”

“ Eun-ji~a. . .” desah Sehun yang terdengar kesal dengan semua pertanyaan yang Eun-ji ajukan padanya

“ kenapa kau harus mengkhawatirkan mereka? Kau sendiri perlu dikhawatirkan bisakah kau sembuh dulu baru kau mengajukan pertanyaan itu?” lanjut Sehun. Dia sudah terlalu lelah sedangkan istrinya sama sekali tidak menanyakan keadaannya dan malah mengkhawatirkan orang lain selain dirinya. Yang cukup membuatnya kalang kabut karna kesal.

“ kenapa kau marah? Dengar, Jika Jong-in tidak ada, aku sudah berada didalam peti dengan kepala hancur. Jin-ah dan Gyu-ri juga, jelas aku. . “

“bukan itu maksudku, sudahlah. .” potong Sehun yang menit berikutnya hanya bisa menyerah karna dia sendiri tidak bisa memamahami perasaannya sendiri. Sedangkan eun-ji hanya tersenyum sambil melajutakn kegiatannya.

“ seperti itu saja kau cemburu.”

***

Jong-in membuka pintu kamar rumah sakit yang cukup redup, terang saja karna ini sudah jam 3 pagi. Terlihat Gyu-ri yang terbaring diranjangannya dan Jin-ah yang tertidur dengan posisi terduduk. Jong-in yang tadinya hanya ingin melihat keadaan mereka akhirnya masuk kedalam.

Pria itu hanya terdiam menatap Jin-ah yang terlihat sangat lelah tertidur disamping ranjang sedangkan tangannya masih menggegam tangan gyu-ri. Pria itu tahu betapa takutya Jin-ah dengan kondisi Gyu-ri saat ini dan itu membuatnya makin takut menemui gadis dihadapannya ini.

Baru saja ia ingin menyentuh kepala Jin-ah tiba-tiba gadis itu terbangun dan langsung menatap Jong-in dengan raut wajah kesal. dan membuat Jong-in hanya bisa membeku seolah kakinya tertanam didalam tanah dan membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak.

“ kau tak tahu berapa lama aku menunggumu ya? Dasar bodoh!” umpat Jin-ah yang membuat tubuh pria itu seolah disiram oleh air es yang membuatnya membeku. Terlalu kaget juga terlalu takut pada gadis itu.

Pria itu hanya bisa berdiam diri tanpa mengatakan sesuatu. Matanya terpaku pada wajah Jin-ah yang juga sedang menatapnya, seolah da sedang merekam baik-baik wajah gadis itu. tidak lain halnya dengan Jin-ah, gadis terlalu merindukan pria dihadapannya ini. pria yang terlihat sangat berantakan dengan lingkaran hitam dibawah matanya serta raut wajah lelah yang sama sekali tidak bisa disembunyikan.

“ tidur lah ini sudah terlalu larut.” Ujar Jong-in tiba-tiba yang membuat Jin-ah tersentak dan mengerutkan keningnya. Gadis itu hanya diam memandangi Jong-in yang berjalan kearah pintu.

“ dan kau akan pergi? menyalahkan dirimu sendiri begitu?” ujar Jin-ah saat Jong- in sudah menyentuh knop pintu dan membuat pria itu membeku tanpa menarik pintu itu.

“ bisakah kau tidak membahas itu lagi?” gumam pria itu serak tanpa berbalik menatap Jin-ah.

“ kenyataan yang ada bahwa aku harus melurus kan hal ini. kau fikir jika Gyu-ri sadar dan menanyakan dimana kau, kau fikir aku bisa menghadapinya?” ujar Jin-ah yang sedikit meninggikannada bicaranya.Jong-in terlihat seperti kehabisan kata-kata. Pria itu berfikir keras untuk membalas ucapan Jin-ah, terlalu banyak hal yang bergelatungan diotaknya hingga membuatnya diam terlalu lama. Sednagkan Jin-ah terlihat sedang menekan Jong-in sedalam-dalamnya, gadis itu terlihat menuntut sesuatu dari Jong-in.

“dia . . “

“ baik. Pikirkan saja bahwa Gyu-ri akan membencimu, lalu apa yang akan dilakukan anak sekecil itu? dia akan balas membunuhmu begitu? Bukankah itu lebih baik jika dia benar-benar membunuhmu? Dia hanya anak kecil, Jong-in ” potong Jin-ah yang menatap tajam Jong-in yang kini menatapnya dengan kesakitan yang terpancar dari wajahnya.

“ Jin-ah”

“ apa?! Ini bahkan belum dimulai, tapi kau mau menyerah?” tanya Jin-ah. pria itu hanya diam meremas rambutnya menahan sakit yang berdenyut dikepalanya, sedangkan Jin-ah berjalan mendekat kearah pria itu dan berdiri didepannya.Gadisituterdiam menatap Jong-in, hanya diam. Tak berniat mengatakan apapun, dia tahu bahwa Jong-in sangat terluka saat ini.

Jin-ah sedikit menyesali ucapannya barusan, entah bagaimana bisa skenario yang ia buat matang-matang sejak Baekhyun pergi untuk menyampaikan pesannya pada Jong-in hancur berantakan. Bukan seperti ini yang ingin dia katakan, sangat cukup baginya pria itu menyelamatkan putrinya, merelakan tubuhnya sendiri tercabik oleh timah panas. Dia hanya ingin berbicara baik-baik dengan pria di hadapanya ini, hanya itu.tanpa sadar Jin-ah sudah menarik tangan Jong-in yang sedang meremas rambutnya sendiri dan membiarkan pria itu menatapnya, itu cukup membuatnya menghapus kerinduannya walaupun belum sepenuhnya

“dia tak akan menyalahkanmu. Jadi bisakah kau berhenti menyalahkan dirimu sendiri? Bisakah kau duduk disini menemaniku menjaga Gyu-ri?”ujar Jin-ah sambil menarik tubuh Jong-in kedalam pelukannya sambil mengusap punggung pria itu. Dan dengan perlahan pria itu menarik Jin-ah lebih dalam, membenamkan wajahnya di relung leher gadis itu dan mulai mencengkram pinggang gadis itu. . Dia terlalu merindukan pria ini dan entah sejak kapan dia takut terpisah terlalu jauh darinya, sangat merindukannya hingga membuatnya sesak.

“ ini mengerikan, aku hampir melupakan suaramu.” ujar pria itu serak yang membuat Jin-ah hanya mengangguk mengiyakan apa yang dimaksud Jong-in.

“ nado”

***

“ igeo” ujar Jin-ah sambil meyodorkan secangkir teh yang masih mengepul kearah Jong-in. Gadis itu bahkan tanpa ragu duduk diantara kaki Jong-in. Dan menyandarkan tubuhnya pada ranjang Gyu-ri, meletakan cangkir teh yang ia genggam di atas ranjang. Sedang Jong-in, memilih bersandar pada punggung kursi sambil memperhatikan setiap jengkal tubuh Gyu-ri. Tidak ada hal lain yang bisa ia liat saat ini, hanya hal yang sama, kulit yang sama, dan posisi yang sama mengingatkannya pada kakaknya yang masih sempat ia lihat. Dialah kekuatannya untuk hidup.

“berapa malam kau duduk disini?” celetuk Jong-in membuka pertanyaan, Jin-ah menolah kearah Jong-in menatap Jong-in sekilas dan kembali memalingkan kepalanya dengan cibiran yang sangat terlihat di bibirnya.

“sejak pertama kali Gyu-ri masuk rumah sakit.”

“ Sehun?”

“ sedang menahan Eun-ji. Kenapa? Kau merasa bersalah? Kalau begitu biarkan aku tidur.” Dengus Jin-ah sambil meletakan kepalanya diatas ranjang. Terdengar decakan lidah Jong-in dan tanpa aba-aba, pria itu sudah menarik agar tidur bersandar dipunggunya yang terang saja membuat wajah gadis itu seperti kepiting rebus.

Aneh memang, masalah terselesaikan begitu saja, melewatkan kecaggungan begitu saja, dan dengan tidak tahu malu melakukan apa yang dianggap tabu sebelumnya seperti sudah terbiasa.

“ silahkan saja.” Ujar Jong-in setelahnya yang membuat Jin-ah mendengus kesal. Gadis itu hanya diam sambil mengesap yang sejak tadi ia penggang.

“ Kai. . .” panggil Jin-ah yang sangat jarang gadis itu lakukan cukup membuat Jong-in kaget setengah mati.

“ hm?” gumam Jong-n sambil mengangkat cangkir tehnya berusaha meredam suara seraknya.

“ hades itu, aku sedang memikirkannya.” Ujar Jin-ah yang seketika itu pula membuat Jong-in urung meminum tehnya dan memilih meletakan cangkir teh itu

“ kau merusak mood ku” dengus Jong-in sambil melipat kedua tanganya didepan dada dan menatap Jin-ah kesal. Jin-ah yang melihatnya langsung berbalik dan duduk diatas ranjang agar bisa melihat pria itu dengan jelas. Jin-ah sedikit menyesal menganggap pria itu akan sangat menurut setelah kejadian ini, pria itu masih saja songong. Dengan wajah angkuhnya yang menyebalkan.

“ dengarkan aku dulu. aku seperti mengenalnya, awalnya memang tidak yakin tapi aku benar-benar mengingat suara itu. “ ujar Jin-ah yang terdengar seperti rengekan ditelinga Jong-in yang membuat pria itu hanya menghela nafas sambil menutup wajahnya dan menggeleng pelan.

“Seventh Heaven.corp, kudengar perusahaan itu mengendalikan Seoul dari balik layar bukan? Bahkan undang-undang yang ada dinegara ini menguntung kan perusahan itu sepenuhnya. Chanyeol oppa yang mengatakannya padaku.”

“ apa hubungannya dengan Seventh Heaven?”

“ salahmu sendiri tidak bisa menekan emosimu sendiri. Aku melacaknya menuggunakan kuas yang ditemukan Gyu-ri waktu itu. Hanya itu yang kudapat. Waktu itu leherku seolah dicekik seseorang, Gyu-ri bahkan ketakutan melihatnya. Myung soo oppa bilang, banyak yang tidak tercantum dan diketahui tentang perusahan itu, dari siapa pemilik sah perusahan itu, siapa pendirinya, siapa pemilik saham terbesar dan mereka bergerak dia bidang apa itupun tidak jelas. Lalu Luhan dan Jung myun Oppa mengatakan padaku, Gyu-ri punya sesuatu yang tersegel. Anak ini bukan anak biasa, mungkin bisa menjadi senjata. Tapi aku tak mengizinkan Gyu-ri. . .”

“ sekali bicara kau tidak mau berhenti ya?” potong Jong-in yang membuat ucapan Jin-ah tercekat dileher dan langsung membuat gadis it menekuk wajahnya habis-habisan. Gadis itu langsung turun dari ranjang dan berjalan kearah sofa lalu berbaring diatasnya dengan memunggungi Jong-in yang membuat Jong-in hanya bisa terkekeh geli.

“ jalja”

TBC-

Mianhae!! Tugas sekolah nupuk dan akhirnya terbengkalai deh ni FF, saya kan manusia biasa, hidupnya bukan Cuma buat FF😀. mohon kritikan bukan komentar ‘bagus thor lajut ya. . .’ bukan gak suka cuma akunya ngerasa ga ada masukan dari kalian. Crewet ya? Biarin😛

Next. . . penasaran siapa hades?

6 thoughts on “Lacrymosa Part 5

  1. huhhhhhhhft
    berbulan2 nunggu nya , but akhir nya di lanjutin ,
    mistery bener nihhh cerita , kai-jin nya makin so sweet , sehun nya jg sm eunji nya
    gyu ri kyak nya punya kekuatan dy kyak nya bukan ank biasa ?
    next ya eooni ,

  2. awal2nya aku agak bingung…. tapi kebelakang2nya aku mulai ngerti….
    ah Kai-Jin makin so sweet…

    aku tunggu next partnya ya… penasaran bgt sma cerita selanjutnya

  3. okey~ reader baru di ff ini? aku suka banget sama jalan cerita nya, meski kadang kadang suka bingung sendiri soal nya agak sedikit belibet (?) atau mungin aku yang gak teliti , next nya di tunggu banget ya thor??

  4. emmm
    penulisnxa di perjelas lagi, soalxa agk kcepetan alurxa..

    oh ya Thor untu carctr Hadesxa ku ska,
    jd pnsrn siapa HADES..
    apa dya orng yg di kenal Jinah tw mlh orng terdkatxa..??

    next chat jngn lma” ya thor…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s