What is Love ? #1 scene

Untitled-2

Jin-ah~ya kau dirumah?” tanya pria yang berada diseberang ponselnya dan membuat gadis itu berhenti melanjutkan kegiatannya.

“ kau ada masalah?” tanya Jin-ah, pria itu terdiam untuk beberapa saat.

Ani, aku ingin ke Namsan tower. Kau mau mengantarku?”

“ kau tahu kakiku bukan?”

Jebal. . .” rengek pria itu yang membuat Jin-ah hanya bisa menghela nafas bingung dengan kelakukan pria yang sedang bicara dengannya. Dan dia yakin pria itu akan menangis jika dia tidak mengiyakannya.

“ baiklah, kau dimana? “

Didepan rumahmu.”

“Hee???” seru Jin-ah sambil bergegas keluar dari kamarnya dan membuka pintu apartemennya.

Terlihat pria dengan pakaian cukup sederhana, jeans hitam, t-shirt putih dan masker yang menutupi wajahnya serta topi. Akan terlihat aneh jika pria dihadapanya mengenakan kacamata hitam dimalam hari.

“ yak! Tao~sii. . .”

“ bisakan? Kumohon. . .”

***

Jin-ah sedikit bersyukur karna malam ini sangat sepi, walaupun jam masih menujukan pukul 7 malam. Akan sangat menyulitkan menyembuyikan Tao jika ramai, terang saja karna pria ini seorang idola yang sangat digandrungi saat ini bersama grupnya.

Bukan hal tabu bukan jika seorang idola memiliki kekasih kan? Mereka juga manusia. Itu mungkin kata-kata yang mudah diucapkan tapi sulit dilakukan jika orang itu adalah idolamu. Benar, Lee Jin-ah, gadis biasa yang masih duduk di bangku SMA dan menyandang status ‘kekasih’ dari salah satu anggota Boyband ternama EXO, Kai. Status yang pria itu berikan tanpa kopensasi sama sekali. Membutnya hanya bisa mengendikan bahu membiarkannya.

Hanya saja hal itu juga perlahan-lahan mempengaruhinya, cemburu tanpa memikirkan posisi, kesal karna kegiatannya, dan bertengkar tanpa alasan yang jelas. Semuanya terlalu sering hingga membuatnya kadang merasa lelah. Bukan hanya itu saja, ancaman yang bisa kapan saja datang kadang juga menghantuinya ditambah para member lain yang kurang ajar dan seenak perutnya

Dan malam ini, pria ini, Tao, tiba-tiba mengajaknya keluar. Sebenarnya mudah saja baginya untuk menolaknya hanya saja wajah pria itu yang sepertinya memang sedang butuh orang lain selain membernya untuk menemaninya yang membuat Jin-ah terpaksa mengiyakan permintaan pria itu.

Terlihat Tao hanya terdiam sambil memandangi cahaya lampu yang terlihat seperti lilin kecil berterbaran. Sejak tadi hanya terdiam tanpa mengatakan apapun yang membuat Jin-ah yakin ada yang tidak beres.

Jin-ah dengan inisiatifnya sendiri meraih tangan Tao dan menggegamnya. Hanya mereka berdua didalam kereta gantung ini, yang membuat Jin-ah yakin tidak ada yang kan melihatnya jadi setidaknya, dia bisa leluasa menyentuh pria itu. Tao hanya menoleh kearah Jin-ah bingung. Terang saja karna sebenarnya Jin-ah dan Tao sama sekali tidak pernah akur.

“ kau merindukannya bukan? Kris oppa.” Ujar Jin-ah yang membuat pria itu memalingkan kepalanya kearah kaca. Sedangkan Jin-ah memilih untuk menunggu jawaban darinya. Pria itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Jin-ah.

Menyakitkan memang, orang yang selama ini dekat dan selalu bersama memutuskan untuk pergi tanpa sepengetahuan siapapun. Awalnya memang tidak ada yang mempercayainya bahkan Jin-ah sendiri tidak mempercayainya, tapi saat pria ini berlari kearahnya dan menangis, membuatnya yakin akan hal itu.

Seolah berhubungan dengan keadaannya sekarang. Gadis itu divonis tidak bisa berlari akibat tempurung lututnya yang hancur setelah terinjak fans saat menonton showcase. Sudah lebih dari dua bulan berlalu tapi seolah semuanya tidak menemukan jalan dan tidak ada kepastian seperti berada dilubang hitam.

“ kudengar kau melakukan operasi lagi minggu lalu, kenapa kau tidak memberitahuku.”

“ tidak ada yang kuberitahu, kalian sedang punya tambahan masalah dengan ulah Baekhyun oppa bukan? Toh hanya melepas gips dan meletakan sesuatu di tempurung lututku kudengar dari dokter bahwa aku tidak boleh berlari entah sampai kapan.”

“mian. . .” gumam pria itu sambil menunduk dan mencengkram tangan Jin-ah erat.

“ jadi kau sedang mengajak ku kencan malam ini, eoh?” tanya Jin-ah yang berusaha merubah suasana yang ada. Pria itu menoleh dengan senyum tipis diwajahnya.

“ ayo kencan”

***

“ beruntung tokonya masih buka. . . yak! “ seru Jin-ah kesal saat pria itu hanya diam seolah tidak menikmatinya. Pria itu langsung terpuruk lesu saat tahu gembok yang dulu dipasang bersama waktu dulu sudah hilang entah kemana.

Jin-ah hanya bisa menghela nafas dan berjongkok didepan pria itu, bahkan dia merasa sedang menjalankan naskah drama dan dia yang berperan sebagai pria disini.

“ gembok itu dibobol hari itu juga saat kalian memasangnya. Kau tahu sendiri sebagian fans kalian yang lumayan tidak waras itu bertindak. Banyak masalah yang mereka buat jadi bisa kau maklumi?” ujar Jin-ah sambil menyodorkan gembok kearah pria itu.

“ kita lakukan ulang. Eoh?” sambil terus mengoyangkan gembok itu dihadapan Tao berharap pria itu mengambilnya. Pria itu mengdongak dan hanya tersenyum sambil meraih gembok dan spidol yang Jin-ah sodorkan.

“ aku merasa menjadi pria disini.” Gumam Jin-ah sambil membuka gembok itu dari bungkusnya.

“ kau sedang menyemangatiku. Bukan menjadi pria.”

“ kita sedang kencan dan hanya ada aku dan kau, lalu kau yang merengek seperti perempuan, dan aku bersikap gantleman ala pria. Bukan kah itu terbalik?” dengus Jin-ah dengan bibir mengerucutkan bibirnya.

“ ahahahahaha “

“ tidak lucu.” Dengus gadis itu sambil menulis sesuatu di gemboknya, sedangkan Tao hanya tersenyum sambil mengacak-acak pucuk kepala Jin-ah lalu memulai hal yang sama seperti yang Jin-ah lakukan.

“Kau sudah selesai?”

“ hm. Kajja” ujar pria itu yang langsung menggegam tangan Jin-ah dan menarik gadis itu bangkit dan berjalan kearah pohon gembok yang ada disana. Pria itu terlihat antusias mencari tempat yang tersembunyi, bahkan sampai melompat-lompat, menelusup dan menungging mencari tempat yang aman dan membuat Jin-ah hanya bisa mendesah.

“ kali ini tidak ada yang tahu itu milikmu, orang lain pasti berfikir itu milik fans. . .”

“ aku tidak peduli.” Gumamnya sambil menungging tepat menelusup dibagian bawah pohon, sedangkan Jin-ah hanya berdecak lidah melihat tingkah pria di hadapannya ini. Padahal pria itu lebih tua empat tahun darinya tapi kekanakannya melebihi Chihoon, adiknya, yang baru berumur 14 tahun.

“astaga kekanakan.”

“ done!” seru pria itu sambil menujukkan kunci dari gemboknya dan bersiap melemparnya jauh-jauh sebelum akhirnya di cekal oleh Jin-ah.

“ bisakan kau berdoa dulu sebelum melemparnya?” dengus Jin-ah yang mulai menggemam tangannya sambil menutup mata dan berdoa. Tao yang melihatnya lalu mengikutinya.

“ tuhan kabulkan keinginanku ini. “ Seru Jin-ah sambil melemparnya kuat-kuat yang membuat Tao menatapnya bingung, sedangkan Jin-ah mulai mengisyaratkan pada Tao untuk melemparnya.

“ Nado!!” seru pria itu.

Keduanya hanya saling tersenyum menujukan deretan gigi mereka masing masing sebelum akhirnya Tao menarik Jin-ah dan memeluk gadis itu. Jin-ah sedikit syok dengan perlakuan Tao padanya, tak lama kemudian terdengar isakan yang cukup membuat Jin-ah yakin pria itu sedang mengeluarkannya setuntas mungkin.

Gadis itu hanya bisa mengusap punggung Tao dan membiarkannya menangis sepuasnya.

***

“ kakiku sakit, gendong.” Rengek Jin-ah sambil memegangi lengan Tao menahan nyeri dilututnya.

Mungkin karna terlalu lama berjalan hingga berefek pada jahitan dikakinya. Sedangkan Tao malah berdecak lidah, dia sendiri terlalu lelah, tapi gadis ini dengan seenaknya memintanya untuk mengendong gadis itu.

“ aku lelah, tidak bisakah kau jalan sendiri?” keluh Tao. Seperti memang tidak ada cara lain selain merengek pada pria yang satu ini.

Kakinya benar-benar sakit saat ini dia tidak bia memaksanya atau dia akan menerima yang lebih parah lagi. Tidak bisa berjalan. Demi tuhan untuk membayangkan saja membuat Jin-ah sakit kepala. Gadis itu terduduk di trotoar sambil terus memijat kakinya yang terasa sangat sakit.

“ kau yang memaksaku. Kakiku sakit Tao~ya, demi tuhan.” Rengek Jin-ah yang benar-benar menurukan gensinya ketitik terendah. Pria itu sepertinya baru peka dengan kondisi Jin-ah dan ikut berjongkok memperhatikan kaki Jin-ah yang mulai membengkak dilututnya. Pria itu mengigit bibir bagian bawahnya seolah merasakan sakit yang Jin-ah rasakan.

“ Gwanchana?” tanya pria itu yang membuat Jin-ah mengerucutkan bibirnya dan menatap pria itu tajam

“ gendong aku!”

“ arraseo arraseo.” Ujar pria itu sambil berjongkong membelakangi Jin-ah.

Gadis itu dengan menahan rasa sakit yang entah sejak kapan menjalar hingga pinggangnya mengulurkan tanganya kearah leher Tao dan mengalungkan lengannya, sedangkan Tao dengan hati-hati menautkan lengannya dikaki gadis itu. Terdengar rintihan Jin-ah yang membuat Tao hanya bisa mengigit bibir bagian bawahnya.

Dan dengan perlahan mengangkat tubuh gadis itu dan mulai berjalan menyusuri trotoar, sedikit bernafas lega karna jaraknya dari apartement tidak terlalu jauh.

“ jika Kai yang bersamaku, tidak perlu banyak permintaan dia langsung mengendongku tanpa protes.” Gumam Jin-ah tepat di telinga Tao yang membuat Tao tanpa sadar merasa bersalah. Gadis itu hanya diam sambil menyandarkan dagunya dibahu Tao.

Sedikit tergelitik dengan hembusan nafas gadis itu di lehernya.

“ kau sedang bertengkar dengannya ya? Apa lagi sekarang.”

“ Nature Republik. Cih . . Membuatku kesal saja.” Dengus Jin-ah yang membuat Pria itu tanpa sadar terkekeh geli mendengar kekesalan gadis itu.

Sedikit konyol bahwa gadis itu cemburu hanya karna Jong-in berdiri bersebelahan dengan seorang untuk iklan itu. Sedikit penasaran juga bagaimana reaksi Jin-ah waktu dulu Jong-in mencium gadis untuk syuting ‘Wolf’ yang bahkan di take beberapa kali yang membuat Jong-in mengumapt segala macam setelah syuting selesai.

“ astaga. . . Dia hanya berdiri disamping gadis itu. Skinship saja tidak dan kau cemburu?”

“ ne.” ujar gadis itu mantap tanpa menunggu atau bahkan membumbuinya dengan alasan.

“ kekanakan. Profesional sedikit bisa tidak?”

“ tidak bisa. Karna aku hanya orang biasa dan bukan seorang idola. aku tidak berkewajiban untuk profesional disini.” Ujar gadis itu langsung yang membuat Tao merasa takjub pada gadis yang ada digendongannya.

Hanya saja dia juga merasa sedikit kasihan pada Jong-in. bagaimana dia bisa menghadapi sikap keras kepala kekasihnya ini. Dan jika difikir-fikir akan sangat sulit bagi mereka berdua menyelesaikan masalah karna keduanya memang keras kepala dan sama kekanakannya.

“ bagus, putuslah dengannya dan pacaran denganku” pancing Tao yang membuat Jin-ah tersentak kaget.

“ demi tuhan. Aku tidak mau!” seru Jin-ah semangat yang hanya di balas kekehan geli Tao. Sebelum akhirnya keduanya terdiam beberapa saat hingga mereka mencapai Lift.

“ dia punya posisi yang sulit kau tahu?” ujar Tao sambil menunggu pintu lift terbuka. Sedangkan Jin-ah hanya terdiam menanggapi perkataan Tao. Dia hanya mengeratkan lengan disekeliling leher pria itu dan membenamkan wajahnya dibahu Tao. Pria itu bisa merasakan bajunya yang basah saat gadis itu menunduk menyembunyian wajahnya dibahunya.

“ ini juga sulit untukku.”

***

“kau yakin kakimu sudah tidak apa-apa? Setidaknya kau kerumah sakit.”

“kau ini cerewet sekali sih!! Pulang sana!” ujar Jin-ah sambil mendorong pria itu kearah pintu keluar. Pria itu masih bersi keras berdiri didepan pintu apartemennya dan menatap Jin-ah dengan raut wajah khawatir.

“ Gwaenchana Hyung, jika kondisi Nunna mulai parah aku yang akan membawanya kerumah sakit.” Ujar Chi hoon adik laki-laki Jin-ah yang tiba-tiba muncul dibelakang Jin-ah dengan senyum lebar ala Jin-ah.

“ lihat? Ada Chi hoon disampingku, cepat pulang! Kau masih ada schedule bukan? Sana pulang!” sungut Jin-ah yang membuat Tao hanya tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak rambut Jin-ah.

“ Annyeong Jinnie. . .” ujar pria itu sambil berjalan mundur dan terus melambaikan tangan yang membuat Jin-ah hanya bisa menghela nafas dan memilih masuk kedalam rumah sedangkan Chihoon masih tetap didepan pintu.

“ hati-hati Hyung! Eh? Jong-in hyung?!” ujar Chi hoon yang membuat Jin-ah sontak kembali berjalan kearah pintu dan melihat pria itu berdiri bersandar disudut yang berkebalikan dengan arah lift. Tao sendiri membeku didepan pintu lift walaupun pintu itu sudah terbuka sejak tadi.

“ Chihoon~a. . . bisa kau belikan Nunna cola di supermarket?” ujar Jin-ah panik

“ waeyo?”

“ kumohon ada yang perlu kubicarakan dengan Jong-in.” bisik Jin-ah pada adiknya itu dan hanya mendapat anggukan dari adiknya. Anak itu langsung berlari keluar kearah Tao yang masih membeku didepan pintu lift dan mendorong pria itu masuk kelift.

***

“ apa yang kau lakukan bersama Tao hyung?” tanya Jong-in sesaat setelah Jin-ah menutup pintu. Gadis itu seolah mengabaikannya dan sama sekali tidak menatap Jong-in dan membuat Jong-in sedikit kesal.

“ aku mengantarnya ke Namsan.” Jawab gadis itu sambil memasukan sepatu yang berserakan didepan pintu. Lalu berjalan keruang tengah berusaha tidak membuat Jong-in curiga dengan kakinya walaupun mungkin pria itu sudah mendengarnya dipintu tadi tapi Jin-ah yakin pria itu sedang mengedepankan amarahnya.

“ kenapa harus kau? Dia bisa mengajak member lain, dan lagi pula apa sesulit itu menolaknya? “

“ kau sudah makan?”

“ Jin-ah!” Seru Jong-in yang membuat Jin-ah tersentak kaget. Ini kali pertama pria itu berteriak seperti ini padanya walaupun sebelumnya juga dia pernah berteriak tapi tidak dengan yang sekarang.

Jin-ah langsung membalikkan tubuhnya dan menatap pria itu tajam berusaha tidak lepas kendali dan membalas berteriak padanya. Tangan gadis itu terkepal sempurna disini tubuhnya

“bisakah kau berhenti mengalihkan pembicaraan? Aku tak tahu kau marah karna apa dan kau sedang membuatku cemburu dengan bersama Tao lalu sekarang kau mengabaikanku?! Sebnarnya apa maumu Hah?!!”

“ Berteriak saja terus padaku sampai kau puas! Kau mau menghancurkan tulang lehernya? Kau mau mengamuk? Lakukan saja” jerit Jin-ah yang akhirnya lepas kendali.

“ berhenti menantang ku Jin-ah!”

“ Demi tuhan aku sudah lelah!! “ jerit gadis itu sambil menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik rambutnya yang tergerai bebas. Sebisa mungkin baginya unntuk tidak menangis. Dia harus menyelesaikannya malam ini juga jadi setidaknya jangan menangis. Hanya itu yang sekarang berusaha dia tahan.

“Apa hanya kau yang boleh mengeluh sedangkan aku tidak? Apa hanya kau yang boleh berteriak padaku? Apa hanya kau yang boleh pergi bersama perempuan, berpesta dengan gadis lain, berciuman dengan gadis lain, sedangkan aku tidak? Pernah kau melihat posisiku?!”

“ itu hanya pekerjaan Jin-ah. Berhentilah bertingkah kekanakan . .”

“ aku memang kekanakan lalu kau tidak bisa berfikir posisiku sama sepertimu?” potong Jin-ah sambil mengangkat wajahnya dan menatap pria itu. Dia sudah terlalu lelah dan tanpa sadar air matanya sudah mendesak keluar yang membuat Jong-in membeku ditempat.

“ Apa aku harus terkekang dirumah? Kau melarangku bersosialisasi? Aku bisa egois Jong-in~a. Dimana kau saat aku menjalani operasi? Dimana kau saat aku terluka?!! Kau bahkan tidak tahu aku tidak bisa berlari lagi bukan? Aku cacat Jong-in~a dan kau menyuruhku menonton iklanmu?! Kau ingat saat kau menyuruhku datang untuk melihat syuting video klipmu? Seolah kau sedang pamer padaku bisa mencium gadis lain didepan mataku, kau tahu sakitnya aku? Di ulang tahunku kau berjalan diatas catwalk dengan semangatnya mengandeng gadis lain padahal Luhan Oppa, Sehun oppa, Kris Oppa mereka hanya biasa saja.kau berpesta dan pamer dengan fotomu dengan gadis dengan pakaian minimyang hampir memamerkan payudaranya. Kau mau mengatakan itu pekerjaan?! Lalu baru saja, Tao yang menemuiku karna ingin ke Namsan dan menangis disana, kau cemburu? Siapa yang lebih mengerikan?!” Jerit gadis itu.

Jin-ah hanya bisa menangis sekarang, menghempaskan tubuhnya dilantai dan hanya terduduk dilantai. Terlalu sakit menahan kakinya, dan terlalu sesak mengatakan semuanya itu. Dia tahu ucapannya bisa berdampak mengerikan bagi pria itu, dia tahu dia terlalu egois, hanya saja, terlalu menyakitkan jika hanya dia yang menjadi gadis baik dan berpura-pura mengerti keadaannya.

Dia juga terlalu lelah. Dia hanya gadis yang masih berumur 17 tahun, akan sangat sulit baginya mengendalikannya dan menahannya lebih lama atau dia benar-benar akan tertekan dan memutuskannya secara sepihak.

Sedangkan Jong-in hanya membeku menatap Jin-ah yang terpuruk dilantai dengan tangisnya yang pecah. Matanya terpaku pada kaki gadis itu yang terjulur dilantai, terlihat bengkak di lutut gadis itu yang membuat Jong-in tanpa sadar tercekik melihatnya. Sedikit memberanikan diri untuk mendekat kearah Jin-ah.

Pria itu berjongkok dihadapan gadis itu menarik tubuh itu kepelukannya walaupun Jin-ah terus mendorong Jong-in untuk menjauh. Inilah pertama kalinya gadis itu menangis sekeras ini dihadapannya yang benar-benar membuatnya ingin melompat dari lantai teratas.

“mian. . . mianhae jeongmal. . . aku tidak tahu.” Ujar Jong-in sambil menarik gadis itu kepelukannya dan membiarkan gadis itu menangis disana. Sedangkan Jin-ah masih terus memukuli Jong-in dengan kepalan tangannya.

“ Baboya! Neo jinjja Baboya!”

***

Chi hoon baru keluar dari kamarnya dengan masih setengah mengantuk, sinar matahari bahkan sudah memaksanya untuk bangun. Anak itu berjalan kearah kamar Jin-ah dengan sempoyongan, sepertinya tanpa sadar dia menenggak bir milik Tao tadi malam yang tidak sengaja tergeletak begitu saja dan membuatnya merasa denyutan mengerikan di kepalanya. Baru akan membuka knop pintu kamar kakaknya, anak itu langsung membelakak kaget saat tiba-tiba sesuatu sudah mulai memenuhi mulutnya dan membuatnya harus berlari kearah kamar mandi dan memuntahkannya.

“aish. . . aku hanya minum satu kaleng.” Gumam anak itu sambil mengusap perutnya, sedikit mendengus melihat penampilannya yang terlihat acak-acakan terpantul didepan kaca dan membuatnya mengambil ikat rambut milik kakaknya yang tergeletak begitu saja disamping sikat gigi dan mengikat rambut yang menutupi wajahnya lalu menyapukan wajahnya dengan air dingin dan seketika membuatnya sepenuhnya bangun.

Beruntung saja bahwa hari hari libur jika tidak, akan sangat kacau jika dia berangkat kesekolah dengan keadaan seperti ini.

“ nunna bangun. Aku lapar. . .” ujar Chihoon sambil mengetuk pintu kamar kakaknya setelah itu berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum.

“Nunna!!!” seru anak itu yang sepertinya masih tidak mendapat respon hingga membuatnya memilih kembali kearah kamar Jin-ah.

Belum sempat anak itu membuka pintu terdengar suara bel rumah yang membuatnya kebingungan. Bahkan jam masih menujukan pukul 8 pagi. Siapa yang datang pagi-pagi? Chi hoon langsung membelakak kaget saat melihat sepatu yang dia yakinin milik Jong-in tergeletak di depan pintu dan membuat anak itu langsung berlari kembali kearah kamar Jin-ah tanpa membuka pintu lebih dulu.

Dan benar saja, pria itu, Kim jong-in, masih tertidur lelap dengan Jin-ah yang tidur disampingnya.tidak. lebih tepatnya di pelukannya.

“Yak! Apa yang kalian lakukan!!” Seru Chi hoon yang membuat Jong-in tersentak kaget dan langsung terbangun sedangkan Jin-ah sepertinya sama sekali tidak terganggu dengan teriakan Chi hoon.

“ apa yang kalian lakukan hah?! Kalian sudah gila?!!” seru Chi hoon yang membuat Jong-in langsung melompat membekap Chi hoon dan menariknya keluar.

“demi tuhan aku tidak melakukan apapun. Kenapa kau berteriak seperti itu hah?!”

“ lalu apa yang kau lakukan dikamar nunna semalaman? Demi tuhan hyung. Kau apakan nunna ku?!

“ Jin-ah?” ujar seseorang yang membuat perhatian kedua orang itu tertuju pada pintu masuk dan membuat keduanya menganga tidak percaya, terlebih Suho dan Luhan yang berdiri didepan pintu, keduanya benar-benar syok melihat gadis dihadapannya. Rambut berantakan dengan sebuat kaos kebesaran yang sedikit miring memperlihatkan bahunya dan dengan keadaan setengah sadar berdiri dengan sedikit mengendus-endus dan seolah mengambil uang di sakunya dan menyodorkannya pada luhan asal.

“Ayam.” Ujar gadis itu dengan polosnya merebut tas kertas yang Luhan bawa dan langsung berjalan kearah meja tengah dan langsung menyantapnya dengan setengah sadar.

Keempat orang itu hanya bisa menganga kaget dengan kelakuan Jin-ah yang sepertinya kelaparan.

“ kurasa lebih baik kau benar-benar menidurinya hyung.” Celetuk Chi hoon yang membuat ketiganya menatap Chi hoon kaget sedang kan Chi hoon hanya tersenyum aneh.

“ dari pada dia tidak punya suami. Kurasa tidak ada pria yang mau menikah dengannya.”

-tbc

>>> AKHIRNYA KESAMPAIAN!! sebenernya ini FF udah beberapa jenis yang aku buat sesuai jadwal mereka. Tapi kenyataannya selalu gagal karna tiba-tiba masalah datang bertubi-tubi dari MV bocor, penundaan comback, khasus kris, sampe yang terakhir khasus Baekyeon yang maksa semuanya aku rekap ulang. Dan sebenernya masalah jin-ah, dari kakinya sampe unek-unek Jin-ah itu semuanya asli yang saya rasakan –“. Curhat lebih tepatnya.

Yoss!!! Akhirnya punya genre berbeda dari yang laen. Daily EXO in ‘what is love’, yes?

2 thoughts on “What is Love ? #1 scene

  1. kereeennnn…. aku suka ide ceritanya…
    tp aku agak takut kalo kaijinnya harus putus.. ah jangan sampe ya wkwkwk…

    ditunggu scene selanjutnya…
    ff2 yg lainnya juga😉

  2. ahahahahahaha
    selalu da moment romatis and selalu ada moment komedi nya ,
    bener2 menarik eooni ,
    ditunggu loh eooni ff yg laen OK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s