What is Love #2 Scene >>Dating

Untitled-2

“ kau pikir aku ini apa? Shireo!” sungut Jin-ah sambil terus bejalan meninggalkan Gyu-ri yang terus menempel disampingnya. Mulutnya mungkin sudah sangat berbusa mengatakan hal yang sama berulang kali pada Jin-ah, tapi gadis itu benar-benar menetap pada pendiriannnya.

“ apa kau tidak kasihan padaku?”

“ tidak. Jadi hentikan ocehanmu dan duduk manis lalu makan saja makananmu. Telingaku sudah hampir meledak karna kau mengoceh sejak tadi pagi. Gyu~ya. . . bisakah kau memberikan waktu untukku agar bisa duduk tenang?” ujar Jin-ah yang sangat tidak bisa diganggu gugat. Gadis itu terus menyupal mulutnya dengan sedotan yang mengalirkan segelas Americano.

Sedangkan Gyu-ri tampak ditidak berpengaruh dengan gretakan Jin-ah. Gadis itu terus berusaha mencuri perhatian Jin-ah agar gadis itu benar-benar mau menuruti ucapannya.

“demi tuhan Jin-ah. . . kali ini saja, pergilah kencan dengan Park hoon. Aku sudah berjanji padanya, dia sudah membantuku Jin-ah. . . kumohon”

“ sudahlah jika dia tak mau, anggap saja kau sudah membayarnya. Benarkan Jin-ah?” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dan sudah mengalungkan lengannya dipundak Jin-ah yang membuat mood gadis itu turun drastis. Dan dengan cepat mengarahkan tatapan tajam pada pria itu dan memberikan isyarat agar pria itu segera menyingkirkan lengannya walaupun sama sekali tidak di gubris oleh pria itu yang membuatnya dengan kasar menyingkirkan lengan pria itu dari pundaknya.

“kau galak sekali. . .”

“ Park hoon~sii. Sudah ratusan kali aku katakan bukan? Aku sama sekali tidak tertarik padamu, jadi bisakah kau menyingkir dariku? Seleraku tidak serendah itu hingga harus memilihmu.” Ujar Jin-ah dengan entengnya dan sontak membuat Gyu-ri membeku ditempat mendengar pengakuan gadis itu dan tanpa perasaan takut sama sekali gadis itu mengatakannya tepat didepannya orangnya langsung.

Tatapan sinis pun tak kalah dengan keterkejutan Gyu-ri. ‘Selera’ dia bilang? Pria bernama Park hoon merupakan orang yang paling diincar disekolahnya. Dengan paras tampan, tinggi, pewaris tunggal rumah sakit milik ayahnya, orang supel dan ramah dan terlebih otaknya yang sangat encer membuat siapapun akan berusaha menempel pada pria itu, tapi gadis itu bilang pria itu berada jauh di bawah kriteriannya? Jadi seperti apa dan apa bagusnya seorang Lee Jin-ah yang nilai akademiknya saja tidak bisa menyetuh nilai akademik milik pria itu, kepopulerannya yang tidak bisa menyentuh pria itu, dan yang lebih parah lagi Jin-ah bukan satu-satunya gadis cantik disekolah ini, dia tergolong kelas rata-rata bawah untuk wajah. jadi apa yang membuatnya sampai berani menolak pria yang mengejarnya sejak kelas satu itu?

“ jadi seperti apa seleramu. Bisa kau tunjukan padaku?” ujar pria itu yang terlihat tidak terganggu sama sekali dengan ucapan Jin-ah barusan yang membuat Jin-ah hanya bisa medesah kesal. Gadis itu sudah mencoba banyak cara untuk menolak pria disampingnya ini dan hasilnya, zero. Pria itu tetap pada pendiriannya bahwa dia harus bertemu dengan kekasih Jin-ah dan berbicara secara langsung maka dia akan menyerah.

Dan hal itulah yang mustahil bagi Jin-ah. Bagaimana mungkin dia memperkenalkan kekasihnya? Menunjukan wajah kekasihnya pada Park Hoon saja dia tidak berani. Sangat jelas apa yang akan terjadi jika pria itu tahu bahwa kekasihnya seorang idola. Terlebih Kai adalah visual member di EXO, jadi siapapun orangnya pasti mengenalnya.

Hal ini yang sering kali mematahkan semangat Jin-ah. Dia sama sekali tidak bisa memamerkan kekasihnya didepan teman-temannya dan menyingkirkan pria yang duduk disampingnya ini dengan mudah.

“ apa aku perlu menujukannya padamu? Kau bahkan bukan Eomma dan appa ku jadi apa hakmu?” ujar Jin-ah tajam yang membuat Gyu-ri dengan reflek menginjak kaki Jin-ah tapi gadis iu dengan cepat menghindar dan balik menginjak kaki gadis itu walaupun hanya sebentar.

“ kalau begitu aku akan terus seperti ini. Sampai ada yang bisa menandingiku untuk mendapatkanmu akau akan terus menempel padamu, bagaimana? Kau setuju?”

“ sudah ku bilang aku sudah punya pacar! Demi tuhan kau keras kepala sekali.”

“ tunjukan padaku” putus pria itu yang membuat Jin-ah mengacak-acak rambutnya gusar lalu menatap pria itu dengan tajam. Sialnya pria itu tidak berpengaruh, malah terlihat bahagia-bahagia saja. Apa dia ini Gu Jun Pyo? Jin-ah bahkan tidak mendekati Geum Jan di, dia bukan anak golongan kebawah yang bekerja di restoran bubur, dia hanya seorang pencandu game dan dunia maya. Jadi apa yang membuat pria itu tertarik padanya?!

“ kau pikir siapa kau hingga aku harus menujukan kekasihku padamu? Apa kau sebegitu tidak lakunya hingga hanya aku yang kau kejar? Kau bisa kutuntut kau tahu.” Sungut Jin-ah tajam yang hanya di ikuti gerakan kepala pria itu dan senyuman seolah sedang mendengarkan lagu musim panas yang menyenangkan.

“ kalian memang serasi ya…” celetuk Gyu-ri yang sejak tadi diabaikan dan sontak mendapat pukulan keras dikepalanya dari Jin-ah yang membuatnya hanya bisa memiris kesakitan sambil memenggangi kepalanya. Sebenarnya akhir-akhir ini Jin-ah terlalu terkenal karna hal ini. Pria disampingnya ini yang membuat hidupnya terusik sangat dalam. Tiba-tiba Park hoon mengalungkan lengannya dipundak Jin-ah dan menempelkan pipinya kepipi Jin-ah yang membuat sebagian murid disana berteriak histeris.

“benar bukan? Kami terlihat serasi?”

“ singkirkan tanganmu bajingan tengik” seru seseorang yang membuat Jin-ah membeku ketakutan. Demi tuhan dia tidak ingin ini terjadi. Apa pria itu bodoh hingga berteriak seperti itu?

Terlihat Pria yang berdiri dengan dikerubungi gadis-gadis yang tadinya berteriak kearahnya, pria itu sama sekali tidak peduli dengan imagenya yang tiba-tiba hancur hanya karna teriakannya barusan. Jin-ah sendiri yakin bahwa pria itu akan berjalan kearahnya. Dan terang saja menit berikutnya tubuhnya sudah terseret disamping tubuh pria itu. Jin-ah hanya menghela nafas. Kerja kerasnya untuk hidup tenang disekolah sepertinya akan hancur. Dia benar-benar ingin mencekik Park Hoon yang berdiri membeku terlihat marah dengan kepalan tangannya yang berada disamping kiri kanannya.

“ Hoon~a kau bisa kena masalah” ujar Jin-ah lirih yang membuat Park hoon mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang dikatakan Jin-ah. Matanya akhirnya tertuju pada nametag pria yang dengan leluasanya menyentuh Jin-ah dihadapannya. ‘Lee Chi hoon’.

“ Mian Park Shi hoon Sonbaenim, dengan ucapanku barusan. Tapi bisakah kau tidak menyentuh kekasihku?”

“ eh?”

Jin-ah hanya bisa melongo parah saat kata-kata itu meluncur dari mulut adiknya itu. Jangan salah paham walaupun umurnya baru 14 tahun, tapi dia disudah menyusul Jin-ah tepat sebagai juniornya di kelas 2. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tinggi badan anak itu sudah cukup menenggelamkan posisi Jin-ah sebagai kakak.

Hampir semua orang yang ada dikantin terfokus pada Jin-ah dan Chi hoon menghakimi Park hoon yang terlihat syok dengan kata-kata Chihoon. Dan jika dipikir pikir, Chi hoon melebihi apapun yang ada pada Park hoon. Bisa dikatakan dia seorang jenius yang bermulut tajam. Orang tua Jin-ah dan Chi hoon juga bukan orang mlarat. Kedua orang tuanya bahkan seperti orang gila yang mengelilingi dunia meninggalkan kedua anaknya di Korea.

“hah. . . bermain dengan sebutan sonbae dan honbae sangat menyebalkan. Bagaimana jika aku pindah kekelas 3 dan tidak ada lagi penghormatan pada senior? Kau pikir berapa lama aku membiarkan tingkahmu? Dan kau Jin-ah!”

“ ne?” jawab Jin-ah reflek karna seruan Chihoon yang tiba-tiba. Terlihat ekspresi puas diwajah Chi hoon dan dengan percaya dirinya yang tinggi anak itu mendekatkan wajahnya didepan wajah Jin-ah persis yang membuat Jin-ah tanpa sadar kelimpungan. Ajaran Kai. Dia yakin Chi hoon tahu kelemahannya ini dari Kai. Jin-ah akan linglung jika ada seseorang yang tiba-tiba memanggil namanya dan tiba-tiba mendekatkan wajahnya didepan Jin-ah. Double strike!

“ ayo kencan.” Ujar Chi hoon dengan seringai dibibirnya yang membuat Jin-ah butuh waktu beberapa menit untuk mencerna perkataan Chi hoon. Sedangkan yang terlihat disisi matanya, Gyu-ri yang meleleh seperti es cream. Detik berikutnya dia menemukan fokusnya dan membelakak tak percaya dengan ucapan adiknya ini.

“ mwo?!”

***

Jin-ah akhirnya bisa bernapas bebas setelah keluar dari gedung sekolah, telinganya kembali berdengung hebat saat pertanyaan konyol yang terlontar padanya, medesak untuk dijawab. Dan terang saja kelasnya menjadi riuh dan penuh dengan pertanyaan ‘ jadi seleramu itu popcorn muda?’ ‘ wah Lee Jin-ah, apa yang kau berikan padanya hingga dia berani sekali pada seniornya’’kau pernah tidur dengannya?’. Pertanyaan terakhir itu sempat didengan Chi hoon yang tiba-tiba muncul dikelas Jin-ah yang membuat ruang kelas itu sunyi senyap. Walaupun detik berikutnya anak itu menghilang setelah mengedarkan tatapan tajam keseluruh ruang kelas Jin-ah.

Dan baru saja pelajaran usai anak itu kembali muncul dikelasnya dan tanpa pikir panjang langsung berjongkok dihadapan Jin-ah dan menyuruhnya naik keatas punggungnya karna memang kondisi kaki Jin-ah yang belum sembuh benar. Park hoon bahkan terlihat sangat kesal melihat perlakukan Chihoon pada Jin-ah. Bisa dibilang Cihoon sangat gantleman sebagai seorang pria.

“ kau ini membuatku syok kau tahu?”

“ aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi. Akan lebih efektif jika itu kulakukan. Kau terlihat bodoh nunna“ kekeh Chi hoon yang terlihat sangat puas mengerjai Jin-ah sedangkan Jin-ah sepertinya masih linglung. Nyawanya tidak ada ditubuhnya sekarang.

“ he?”

“ dengar nunna. Kau tahu aku selalu dikerubungi gadis-gadis bukan? Dan itu sangat menggangu, kurasa kau merasakan hal yang sama karna Park Hoon itu.”

Jin-ah hanya mengangguk diboncengan sambil terus mengayukan kakinya. Sebenarnya seperti ini rutinitas Jin-ah sejak kakinya mengalami masalah. Hanya saja setelah jarak dari sekolah cukup dekat, Jin-ah turun dan memilih berjalan kaki dengan susah payah tentunya. Dan untuk pertama kalinya dia dan Chi hoon menujukannya didepan umum. Dan langsung mendapat tatapan sinis dari juniornya yang sepertinya sangat menyukai Chi hoon.

“ kedua karna kau tidak menyukai pria itu.”

“ setuju” ujar Jin-ah sambil negiyakan ucapan adiknya itu.

“ ketiga, karna kau milik Jong-in hyung, jadi apapun itu tidak ada yang boleh menyentuhmu.”

“YAK! Bagaimana bisa kau tiba-tiba menghubungkannya dengan Kai?!” seru Jin-ah sambil melayangkan pukulan tepat dikepala anak itu.

“ berhenti memukulku! Tentu saja! Karna Jong-in hyung satu-satunya orang yang aku anggap sebagai kakak ipar.” Sungut Chi hoon tak mau kalah yang membuat Jin-ah hanya bisa menghela napas dan memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut mengerikan.

“ astaga tuhan . . . otakmu itu dicuci oleh Kai ya?”

“ ani. . . aku hanya terlalu menyukai Kai hyung. Itu saja.”

“ yak!! Kau penyuka sesama jenis?!! Sejak kapan!” seru Jin-ah yang mengundang perhatian orang-orang yang lewat.

“ NUNNA!!”

“ oh, Arraseo.”

“ Yak!!!”

“ jajangmyon.” Ujar Jin-ah tiba-tiba sambil menujukan tangannya pada anak kecil yang sedang duduk didepan rumahnya dengan semangkuk jajangmyon ditangannya.

Chi hoon tahu nunna nya sangat tidak waras jika mellihat makanan. Entah perutnya jenis perut apa hingga makan begitu banyak tanpa merasa kekenyangan. Kakaknya ini bahkan sangat jarang masuk kekamar mandi melebihi 6 menit. Kesimpulannya, ia jarang buang air. Jadi kemana makanan yang nunnanya telan? Itu pertanyaan yang selalu Chi hoon tanyakan dan respon kakaknya hanya tersenyum seperti orang gila.

“ baiklah, Jajang!!” seru Chi hoon sambil mendorong pedal sepedanya lebih kuat dan membuat sepedanya melaju lebih cepat.

***

Bel pintu rumah terus berbunyi memekakan telinga yang membuat Chi hoon berteriak gusar. Dia mengupat segala macam saat kelaur dengan membanting pintu kamarnya. Dan benar saja, terlihat Jin-ah yang tergeletak di lantai, tidur dengan pulasnya dengan Headphone yang masih terpasang dikepalanya. Chi hoon sedikit kaget saat melihat bekas air mata yang ada diwajah kakaknya dan mata sembabnya.

Dia tidak terlalu khawatir sebenarnya, karna Jin-ah memang gampang menangis. Hanya saja selalu ada alasan kenapa dia menangis. Chi hoon kembali masuk kekamar untuk mengambil selimut untuk menutupi tubuh kakaknya itu mengabaikan bel rumah yang terus berbunyi memekakan telinga. Dia memang seenaknya sendiri jika dirumah, terlebih dalam berpakaian.

“Arraseo arraseo! Hentikan menekan bel rumah.” Dengus Chihoon sambil membuka pintu rumah.

Anak itu hanya bisa membeku melihat siapa yang sedang berdiri dihadapannya. Suaranya tercekat di tenggorokannya. Dia benar-benar kaget tanpa bisa mengontrol ekspresinya sama sekali.

“ w..wae? kenapa kau di. .sini? dan. . .” terlihat Gyu-ri yang kebingungan dengan apa yang dia lihat sekarang. Pria ini, Lee Chi hoon. Muncul didepannya, dari dalam rumah Jin-ah dengan mengunakan kaos singlet putih dan celana Jeans pendek, wajahnya yang kusut dengan kacamata besar yang bertengger dihidungnya, dan rambut yang berantakan.

Gadis itu hampir tersedak nafasnya sendiri saat melihat Jin-ah tertidur dilantai dengan selimut yang menutupi bagian atasnya hingga pangkal paha. Memperlihatkan kaki gadis itu yang bebas seolah gadis itu telanjang, yang jelas-jelas membuat Gyu-ri melangkah mundur beberapa langkah.

Sedangkan Chi hoon kebingungan harus memulai dari mana untuk menjelaskannya. Anak itu sepertinya tahu arah pandangan Gyu-ri yang membuatnya yakin gadis dihadapannya ini sedang berpikir yang tidak tidak.

“ anu. . . tunggu, aku bisa jelaskan. .”

“ kau. . . meniduri Jin-ah?! Dirumahnya?!! Demi tuhan. . .”

“ bukan begitu. . . bisa kah kau dengar penjelasanku?!”

“ beginikah cara kalian berkencan?!”

Chi hoon hanya berdecak lidah sambil meremas rambutnya dan detik berikutnya dia sudah menarik Gyu-ri masuk kedalam, lalu mengunci pintu rapat-rapat yang membuat gadis itu syok dengan perlakuan Chi hoon.

“ kau mau mencobanya atau mendengarnya?”

***

Jin-ah hanya tersenyum melihat kelakuan Jongin dan Taemin di 4 things_ Mnet. Keduanya memang kekanakan, dari dulu dan sampai sekarang masih tetap sama, terlebih sifat Jong-in yang sama sekali tidak mau kalah, bisa dilihat dari cara Jong-in bermain curang di acara itu. Dan mereka berdua selalu melakukan sesuatu dengan seenak perut mereka sendiri. Dari tidur di Practice room, bertengkar gara-gara bermain game, berdebat tentang sesuatu yang akan mereka lakukan, dan bahkan memilih makanan atau pakaian, semuanya seperti itu dan tidak pernah berubah. Hanya saja kata-kata Ravi VIXX yang memang tidak ia kenal sama sekali yang membuat otak Jin-ah berdengung penuh pertanyaan. Apa seorang Lee Taemin sedang jatuh cinta? Jadi siapa gadis itu hingga membuat dia selalu bebicara soal gadis pada pria bernama Ravi itu?

Tiba-tiba terdengar ponselnya yang berdering memekakan telinga hingga membuatnya dengan susah payah bangkit lalu berjalan kearah kamarnya lalu meraih ponsel yang tergeletak diatas ranjang. Terlihat nama Jongin tertera cukup besar dilayar ponselnya.

“ Ne Wae?” ujar Jin-ah pada ponselnya sambil menghempaskan tubuhnya di kasur. Gadis itu tengah kelaparan saat ini dan Chi hoon sama sekali belum pulang entah kemana anak itu pergi dia sendiri tidak tahu, yang jelas saat dia bangun hanya ada selimut yang tergulung di kakinya dan anak itu menghilang entah kemana. Padahal jam sudah menunjukan pukul 11 malam.

kau dirumah?” ujar pria itu. Bohong jika Jin-ah tidak merindukannya pria yang sedang berbicara tepat ditelinganya ini. Hanya saja tabu baginya untuk mengatakan hal itu padanya. Terlebih pertengkaran beberapa hari yang lalu membuatnya malu sendiri.

“ Chi hoon tidak dirumah. . .”

yang ku tanya itu kau, bukan Chi hoon. Buka kan pintu.”

kau didepan?”

Hm. . .” Gumam Jong-in yang membuat Jin-ah bergegas berjalan kearah pintu. Masih bisa merasakan nyeri yang menjalar dilututnya walaupun tidak terlalu. Hanya saja dia takut memperparah keadaannya sendiri jika dia memaksakan diri, karna bukan hanya dia yang akan kena dampaknya, tapi Chi hoon bisa dapat dampak yang lebih serius.

“ Neo wasseo?” ujar Jin-ah setelah membuka pintu, dan langsung mendapat senyuman hangat yang membuatnya sangat ingin menangis karna merindukannya.

“ ayo kencan.” Ujar pria itu yang membuat Jin-ah kebingungan walaupun hatinya berteriak bahagia, namun hanya beberapa detik sebelum akhirnya dia melihat lututnya sendiri.

“ kakiku sakit. Lagipula kau dibuntuti dispacth beberapa waktu yang lalu bersama Baekhyun oppa, bagaimana jika itu terjadi pada kita? Bagaimana jika ada yang membuntuti kita? Aku tidak mau.” Gumam gadis itu sambil menunduk, untuk pertama kalinya dia membenci hal ini. Dia benar-benar ingin pergi dengan pria dihadapannya ini.

“ bagaimana jika kau kugendong selama jalan-jalan, lagi pula aku punya sesuatu yang bagus yang sengaja ku bawa hari ini. Dan jangan khawatirkan itu, penyamaranku sangat bagus bukan?” ujar pria itu dengan senyum menyebalkan yang selalu dia tunjukan.

“ apanya yang bagus?”

***

“ hooooaaaaaaa!!!!”

“ berhantilah berteriak, astaga. . .” kekeh Jong-in, dia tahu bahwa reaksi Jin-ah akan seperti ini yang membuatnya sudah siap dengan masker dan kacamata persegi kecil yang berada diatas hidungnya.

“ kapan kau membelinya?” tanya Jin-ah dengan antusias. Yang dimaksud gadis itu adalah motor matik berwarna oranye yang sedang ia naiki sekarang. Kali pertama dia menaiki motor bersama Jong-in yang membuatnya geli sendiri merasakannya. Dia bahkan tidak segan melingkarkan tangannya di pinggang Jong-in.

“ apa itu perlu? “ jawab Jong-in ketus yang membuat Jin-ah hanya mendengus mengabaikan pria itu dan memilih bersandar dipunggung pria itu. Jin-ah cukup lama terdiam dan sama sekali tidak memberikan respon yang membuat Jong-in yakin ucapannya barusan cukup membuat gadis itu terdiam seperti ini. Sebenarnya dia cukup kesal dengan ketidak tahuan Jin-ah tentang motor buntutnya ini. Bahkan orang lain saja tahu tentang hal ini, beberapa fansnya membuntutinya dan memotretnya bersama motor buntut yang baru saja di belinya, jadi bagaimana bisa gadis itu tidak tahu?

“ aku terlalu kasar ya?”

“ hah?”

“ ucapanku barusan. . .” ujar Jong-in yang membuat Jin-ah sedikit kaget, karna sebenarnya ucapannya barusan tidak terlalu menyakitkan. Pria itu akan sangat menyebalkan jika sedang cemburu. Dan mulutnya akan sangat tajam pada kondisi itu.

“ itu sudah biasa bagiku, lupakan. Lagi pula telat tiga tahun bagimu yang baru menyadarinya.” Dengus Jin-ah yang hanya dibalas kekehan aneh dari mulut pria itu.

Hari ini pertama kalinya mereka berdua terlihat seperti pasangan normal. Mungkin. Karna biasanya belum bisa dikatakan normal. Pasalnya memang mereka tak pernah melakukan hal lebih dari makan bersama lalu pulang saat berkencan. Terlebih jadwal pria itu yang tak bisa di rusuhi sedetikpun, membuat kencan yang berlangsung tengah malam hanya berlangsung singkat seperti cinderella. Dan Jin-ah lah yang berperan sebagai pangeran yang ditinggal pergi. Membosankan.

“ sudah sampai?” tanya Jin-ah saat Jong-in menghentikan laju motornya di tepi sungai Han. Tempat yang wajib dan selalu mereka kunjungi. Karna tidak ada tempat seaman sungai Han di Seoul. Menurut mereka.

“ hm. . . ayo.”ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Jin-ah yang membuat gadis itu kebingungan. Pasalnya, bukan tipe seorang Kim Jong-in melakukan hal itu.

Jin-ah mengedipkan matanya beberapa kali sambil menatap pria itu, cukup lama dia melakukannya hingga akhirnya dia meraih tangan pria itu. Sedikit canggung dengan perlakuan Jong-in yang lumayan aneh hari ini. Dan ayunan ringan tangan mereka membuat Jin-ah sedikit merasa bosan.

Mereka terus berjalan menyusuri taman yang ada di sekitar sungai Han tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Jin-ah dan Jong-in yang makin membuat suasana bertambah canggung.

Tiba-tiba berhenti berjalan dengan kepala tertunduk yang membuat Jong-in ikut berhenti dan mulai penasaran dengan apa yang sedang Jin-ah pikirkan. Pria itu mengikuti arah pandangan Jin-ah yang menuju kakinya yang hanya terbungkus sepatu kets

“ kakimu sakit?” tanya Jong-in. gadis itu mendongak dengan wajah datar lalu memiringkan kepalanya menatap Jong-in sedetail mungkin.

“ dimana Kai yang aku kenal? Kau asing, nyawamu tertukar kah?” tanya gadis itu, Jong-in sendiri memilih diam dan detik berikutnya pria itu sudah berjongkok menyentuh lutut Jin-ah sebentar lalu memunggungi gadis itu.

“kau sendiri yang protes sampai menangis seperti itu. Naik.” Perintah pria itu, Jin-ah hanya bisa mengangguk lalu mengalungkan lengannya di leher pria itu.

Sangat kaget, syok, tidak percaya bagaimana pertengkaran mereka beberapa waktu yang lalu berdampak pada sifat pria itu yang justru membuat Jin-ah merasa asing. Berfikir tentang sifatnya saat itu benar-benar kekanakan. Hanya rasa bersalah dan ucapan maaf yang terus berdengung dihatinya tanpa berani dia ungkapkan. Gengsinya yang membuatnya sulit mengatakannya walaupun dia ingin.

“ kau lebih banyak diam hari ini.” Ujar Jong-in yang memecah lamunan Jin-ah. Jong-in bisa merasakan tubuh Jin-ah menegang kaget dan kembali rileks didetik berikutnya. Gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang makin merapat keleher pria itu karna udara dingin yang cukup menusuk kulit.

“ kau yang membuatku bungkam, kau tahu? Kau yang aneh.”

“ hanya hari ini. . . puas?”

Jin-ah hanya berdecak lidah mendengar ucapan pria itu. Walaupun didalam hati kecilnya di tersenyum puas dengan jawaban pria itu. Setidaknya, pria itu tidak menjadi alien seperti sekarang ini. Jin-ah bisa merasakan semilir angin malam yang menyusuri sungai dan cukup membuat tubuh mengigil. Setidaknya kali ini, pria itu tetap bersama untuk beberapa jam kedepan.

Jong-in cukup senggang akhir-akhir ini walaupun masih ada jadwal lain diluar EXO, tapi cukup untuk pria itu istirahat. Tentu saja dia bisa melihatnya dari wajah pria itu. Sangat mengerikan saat melihat pria itu sedang diwawancari di Ask in a Box dan tergeletak dirumah sakit beberapa bulan yang lalu. Wajah sepucat orang mati dengan lingkaran hitam dibawah matanya dan terlihat sangat lelah. Dan untuk pertama kalinya, dia membenci pekerjaan pria itu.

“Jong-in~a. . . “

“ wae. . .”

“ ada sedikit masalah yang terjadi hari ini.” Ujar Jin-ah yang berusaha menimbulkan pertikaian kecil dengan pria itu. Jika pria itu mterpancing, maka pria itu masih sehat. Itu saja yang ada diotaknya saat ini.

“ katakan. . “ perintah pria itu, Jin-ah menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar lalu menyandarkan dagunya di bahu pria itu.

“ seseorang yang keras kepala ingin menjadi kekasihku tadi mendapat tamparan mematikan dari Chi hoon. Eotteokhe? Aku takut Chi hoon. . .”

“ ‘ingin menjadi kekasih’? apa maksudmu?” potong pria itu yang membuat Jin-ah yakinp ria itu masih sangat waras. Hanya pura-pura tidak waras untuk hari ini.

“ dia mengejarku sejak kelas satu. Terlalu keras kepala walaupun aku sudah mengatakan bahwa aku sudah punya kekasih di tetap tidak menyerah dan terus meminta bukti dari pernyataanku hingga aku sendiri akhirnya mengabaikannya. Dan tadi Chi hoon mengatakan pada pria itu bahwa. . “

“ tunggu dulu. Mengejarmu kau bilang?” sungut Jong-in sambil menghentikan langkah kakinya lalu menoleh kearah Jin-ah yang berada dibahunya.

“ aku mau jalan. . .” ujar Jin-ah sambil menggeliat berusaha turun dari punggung pria itu, tapi gagal.

“ yak…”

“turunkan aku.”

“ Ah~ya. . .”

“ demi tuhan aku hanya ingin jalan kaki.” Sungut Jin-ah yang membuat Jong-in menghela nafas lalu menurunkan gadis itu dengan perlahan walaupun tangannya masih mencengkram lengan Jin-ah barangkali gadis itu tersungkur setelah ia turunkan. Merasa gadis itu sudah menemukan titik keseimbangannya, Jongin melepaskan tangannya dari lengan Jin-ah.

Gadis itu mendongak menatap Jongin dengan wajah polosnya yang membuat Jongin diam. Memorinya masih tajam tentang Jin-ah, sejak dia pertama kali bertemu gadis itu lalu dia bertemu Taemin pada trainee dan mengenalkan Jin-ah pada Taemin membuat mereka bertiga seperti gerobolan anak kecil yang tak terpisahkan , dan bagaimana mereka bertiga pergi bersama setiap harinya kesekolah walaupun dengan arah berbeda, semuanya masih segar dan hidup dikepalanya, seolah baru kemarin mereka melewati hal ini. Dan hal yang tidak pernah gadis itu ketahui dari dulu adalah, bahwa dia dan Taemin pernah bertaruh hanya untuk mendapatkan gadis itu.

Pemenang sebenarnya adalah Taemin, namun dalam kenyataannya, Taemin gagal. Karna dia akhirnya tahu bahwa Jin-ah menyukai Jong-in, dan tahu alasan mengapa hanya dia yang di panggil oppa dan Jong-in tidak, karna Jong-in punya tempat sendiri dihati gadis itu selain sebagai sahabatnya dan dia hanya seorang teman dan kakak untuknya, tidak lebih. Taemin sendiri yang meminta Jongin tidak mengatakannya pada Jin-ah dan dia sendiri tidak suka pertengkaran konyol yang bisa berujung kehilangan gadis itu. Dan untuk sekian kalinya, dia menang.

“Wae?” tanya Jin-ah yang sepertinya sadar bahwa Jong-in terus menatapnya dan membuatnya terasa canggung sedangkan Jongin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Jin-ah.

“ Jin-ah? Kau Lee Jin-ah bukan? Sedang apa kau disini?” ujar seseorang yang membuat Jin-ah membeku ditempat. Gadis itu melihat Park hoon yang berdiri di belakang Jongin dan mulai berjalan mendekat kearahnya dengan wajah kesal.

Jin-ah benar-benar panik dan berusaha menyembunyikan wajah Jong-in dengan memberikan pria itu masker hitam yang selalu dia bawa pada Jong-in menyuruhnya untuk tetap membelakangi Park hoon.

“ aa. . Park hoon~sii. Aku . . .” ujar Jin-ah sedikit gagu, kepalanya benar-benar berdengung menyakitkan. Sama sekali tidak dapat berfikir jernih dengan hal ini, firasat buruknya benar-benar terjadi dan ini benar – benar buruk. Jin-ah langsung berdiri disamping Jong-in dan menggegam tangan pria itu erat sedangkan Park hoon sudah berdiri tepat didepannya dengan tatapan marah.

“ kalian berkencan tengah malam? Yak Honbae. . . mau sampai kapan kau membelakangiku? Aku masih tidak terima ucapanmu di kantin tadi.”

“ anu. . . Park Hoon~sii. . .” ujar Jin-ah yang maju satu langkah berusaha agar pria itu tidak memaksa Jong-in untuk berbalik.

“ jadi kita lanjutkan dengan yang tadi. Aku masih tidak bisa percaya bahwa kalian benar-benar pasangan kekasih. Aku tidak mudah ditipu dan bukan tipe orang yang rela begitu saja”

“ Yak! Apa kau tidak punya malu? Aku sudah ratusan kali menolakmu mencacimu tapi kau masih tidak jera juga?” dengus Jin-ah kesal, pria ini benar-benar keras kepala dan tidak tahu malu.

“ kalian berbohong bukan? Sudah ku duga. . .”ujar park hoon sambil menghela nafas lega dengan senyum miring yang terpasanga diwajahnya, sedangkan Jong-in terlihat sangat kesal hingga berulangkali menghembuskan nafas untuk menahan emosinya. Tangannya bahkan terkepal sempurna. Jin-ah yang tahu hanya berusaha menenangkan pria disampingnya ini.

“ apa kau tak punya rasa malu?” ujar Jong-in yang seketika membuat Jin-ah langsung menoleh kearah Jong-in dan menatapnya tajam tapi pria itu lebih menakutkan dari yang kira.

“ yak. . “

“ hahaha. . . mulutmu memang pedas ya? Tapi jangan kau kira aku tidak tahu bahwa kau itu adik kandung Jin-ah. Koneksiku lebih cepat. Berbaliklah aku tidak akan memukulmu.” Ujar Park hoon yang terdengar meramah walaupun di telinga Jong-in terdengar seperti seseorang meleparinya segumpal kotoran sapi kewajahnya.

“apa karna Lee Chi hoon itu adik Jin-ah?” ujar Jong-in yang berusaha membalik tubuhnya namun ditahan oleh Jin-ah dengan kedua tangannya.

“ Andwae oppa. . .” ujar Jin-ah yang membuat Jong-in mengerutkan keningnya. ‘Oppa’? baru kali ini setelah sekian tahun gadis dihadapannya ini tidak memanggilnya seperti itu, terlebih wajahnya yang benar-benar ketakutan yang membuatnya mengerutkan keningnya. Begitu panikkah gadisnya ini?

“kau masih berusaha menyembunyikanku ya? Kau bahkan memanggilku Oppa, Bagus. Tapi sayangnya aku tidak terlalu tahan.” Ujar Jong-in sambil menarik kedua tangan Jin-ah yang menahannya dan membalikan tubuhnya lalu melepas maskernya dan menatap Park hoon tajam.

Sangat mudah ditebak apa reaksi pria itu. Mulutnya benar-benar menganga kaget.

“Neo?!”

“ jadi kau bisa tahu alasan kenapa Jin-ah menolak menujukan kekasihnya? Jadi enyah dari gadisku dan adikku jika kau memang masih punya harga diri.” Ujar Jong-in sambil menarik Jin-ah kesisinya dan mengekangnya. Sedangkan Jin-ah mulai memberontak untuk melepaskan diri dan seperti biasa, sangat sulit untuk melepasakan diri dari pria itu.

“ apa yang kau lakukan. . .astaga demi tuhan nasib sial ap. . .” ucapan Jin-ah tercekat saat tiba-tiba Jong-in menyapukan bibirnya di bibir Jin-ah sekilas lalu menatapnya dengan senyum miring yang jelas tergambar diwajahnya.

Sedangkan Jin-ah masih membeku kehilangan fokusnya. Benar-benar kehilangan apapun yang ada diotaknya, seolah baru saja otaknya ter-restart ulang yang membutuhkan waktu booting yang cukup lama.

“ bukan sial kan? Tunggu disini.” Ujar Jong-in sambil menjentikan jarinya didahi Jin-ah yang membuat Jin-ah memiris kesakitan dan hanya bisa mengerucutkan bibirnya sambil mengusap keningnya. Dan untuk seperkian detik, dia melupakann Park hoon yang masih terlihat syok dengan mulut yang masih saja menganga lebar seolah tidak percaya dengan apa yang barus saja ia lihat.

“ kau mau kemana Jong-in. “ seru Jin-ah saat Jong-in sudah menyeret Hoodie Park hoon yang masih tidak sadarkan diri dan masih hidup diruang hampa.

“ tunggu saja disitu atau kau akan pulang jalan kaki nanti.” Acam pria itu sambil menarik Park hoon yang terlihat pasrah. Sedangkan Jin-ah hanya bisa menghela nafas karna tidak mungkin di bisa menyeimbangkan langkah kakinya dengan pria itu dengan kaki seperti itu. Dia benar ketakutan sekarang, bagaimana bisa Jong-in dengan sembrono melakukan hal itu.

***

Jin-ah langsung bangkit saat melihat Jongin berjalan kearahnya dengan dua kaleng soda di tangannya. Yang paling membuatnya geram adalah wajah pria itu yang malah cengengesan seperti orang gila sedangkan dia yang dari tadi menunggunya hampir gila ketakutan karna menunggunya.

“ apa yang kalian bicarakan hah? Kau bisa membuatnya tidak menyebarkan isu tentang kita kan? Demi tuhan, apa yang sebenarnya yang ada diotakmu?”

Jin-ah tersentak kaget saat Jong-in tiba-tiba meletakan kaleng soda yang cukup dingin kekeningnya yang membuatnya hampir terjengkang kebelakang jika Jong-in tidak meraih pinggangnya dengan kekehan yang menyebalkan.

“ dinginkan dulu kepalamu” kekeh Jong-in yang terlihat sangat puas melihat ekspresi Jin-ah, yang berubah-ubah dalam jangka waktu yang dekat.

“YAK!”

“ dia tidak akan membuka mulutnya, tinggal bagaimana kita saja agar tidak ketahuan.” Ujar Jong-in sambil mengangkat Jin-ah dan mendudukan gadis itu di atas rumput lalu mengambil sisi disebelah gadis itu untuk duduk.

“ kau bicara baik-baik dengannya kan?” tanya Jin-ah sambil membuka kaleng soda yang baru saja dia rebut dari tangan Jong-in.

“ kau fikir aku memukulnya?”

“ wajahmu menakutkan tadi, aku bahkan sampai tidak bisa bernafas”

Jong-in bisa merasakan ketakutan gadis itu, saat dia sadar apa yang baru saja dia lakukan, pria itu benar-benar ketakutan. Hanya saja dia terlalu kalap karna akhirnya tahu bagaimana posisi gadis itu selama ini da benar-benar tidak rela gadisnya menderita sendirian. Posisi Jin-ah benar-benar sulit, jadi tidak heran jika gadis itu berteriak kearahnya beberapa hari yang lalu. Dia lah yang berlaku tidak adil pada Jin-ah, dia tidak pernah melihat dari sisi Jin-ah yang dia lihat hanya sisinya sebagai pria, itu saja, yang langsung terpatahkan bahwa posisinya benar-benar sangat nyaman dibanding gadis itu.

“ lain kali katakan padaku jika ada yang menggangumu.” Ujar Jong-in sambil mengusap kepala Jin-ah lalu sedikit memainkan rambut gadis itu yang entah dalam ingatannya rambut gadis itu semakin tipis.

“ dan kau akan menunjukan bahwa kau ini kekasihku? Yang benar saja, aku tidak mau mati dibunuh fans mu yang menyeramkan itu” dengus Jin-ah sambil menatap pria itu. Selalu dan selalu, posisi duduk Jong-in yang selalu bergaya ala bos, senyuman miring menyebalkan yang ada diwajahnya, dan cara pria itu menyentuhnya selalu sama dan sangat dia kenali hingga tidak jarang dia selalu membanding-bandingkan sentuhan pria itu dengan pria lain yang menyentuh kepalanya termasuk Taemin dan Chi hoon. Pria itu berbeda, hanya itu yang dia rasakan.

“ hahaha kau mengakuiku sebagai kekasihmu ya?” tawa pria itu yang membuat Jin-ah hanya mendengus sambil menekuk kakinya namun berakhir dengan teriakan kecil yang keluar dari mulutnya saat mengangkat kaki kanannya membuatnya urung melakukan apa yang ingin dia lakukan.

“ tertawa saja sepuasmu.” Dengus Jin-ah sedangkan Jong-in tetap tersenyum seperti orang gila. Pria itu tiba-tiba merubah posisi duduknya hingga menghadap gadis itu yang membuat Jin-ah menoleh kearah pria itu.

“ aku suka kalian. . .”

“hah?”

“ Pretty Boy. . . kau dan Taemin oppa, sudah sangat lama tidak melihat kalian menari bersama sejak Taemin debut. Kalian jadi sering bersama ya. . . menyebalkan”

“wae? Kau cemburu? “

“tentu saja, kalian bermain bersama seperti itu. Sudah lupa denganku ya?”

“ ayo main batu kertas gunting.” Ujar pria itu sambil menujukan kepalan tangannya yang hanya dipandang kosong oleh Jin-ah.

“ hah?”

“ kai bai ho! “ ujar Jong-in yang membuat Jin-ah kebingungan dan berakhir dengan kekalahannya. Yang benar saja. . .

“ catha!” seru pria itu sambil mengangkat tangannya itu, sedangkan untuk sepersekian detik dia kehilangan konsentrasinya.

“ Mwoya! Mwoya igeo! Kau curang !” sungut Jin-ah tidak terima.

“ wae, wae, wae? aku tak pernah kalah kau tahu? Lakukan yang aku minta.” Kekeh Jong-in yang terlihat senang sekali dengan protes gadis itu.

“ demi tuhan kau ini benar-benar menyeb. . .” ucapan Jin-ah tercekat saat bibir Jong-in sudah bergerak dipermukaan bibir gadis itu sehingga tanpa sadar membuat Jin-ah memejamkan matanya perlahan, membiarkan semuanya berlangsung semestinya.

Jong-in baru memposisikan kepalanya agar lebih leluasa menyentuh bibir Jin-ah saat tiba-tiba ponsel Jin-ah berdering memekakan telinga yang membuat Jin-ah tersentak dan mendorong Jong-in. terlihat nama Chi hoon yang terpampang dilayar ponsel gadis itu.

nunna, neo eodia?”

“ aku. . .” baru kan mengatakan sesuatu pada Chi hoon, Jong-in sudah merebut ponsel Jin-ah dengan kecepatan kilat yang membuatnya kebingungan, karna pada dasarnya dia belum benar-benar kembali seperti semula.

“ kau tahu, kau ini benar-benar menganggu, aku bahkan baru mulai. “ ujar Jong-in yang membuat Jin-ah langsung menangkap sinyal buruk atas ucapan pria itu.

“ YAK!”

-TBC

One thought on “What is Love #2 Scene >>Dating

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s