Mianhae

mianhae

Semua orang langsung berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU, kecuali Jong-in yang masih membeku di tempat.

“ kami akan memindahkan nyonya Lee keruang pasien biasa, bisa saya bicara dengan suaminya?” ujar dokter itu. Jong-in bangkit tanpa tenaga, entah apa yang sebenarnya dia rasakan hanya sebuah ketakutan yang mengerikan setelah ini.

“ ne.” ujar Jong-in dengan suaranya yang terdengar serak, semua mata tertuju padanya tapi sepertinya dia tidak peduli apa pendapat mereka.

“ bisakah anda ikut dengan saya?”

***

Jong-in hanya duduk memandangi Jin-ah yang sama sekali tidak bergerak dan terdiam dengan tarikan nafas yang terlihat tersengkal-sengkal yang entah mengapa membuat dadanya terasa sesak seketika. Sudah hampir 5 jam pria itu tidak bergerak dari tempatnya, hanya diam tanpa mau bicara pada siapapun. Sudah cukup baginya melihat Jin-ah seperti ini, terlebih apa yang baru saja dia dengar merupakan pukulan keras tepat mengenai wajahnya.

Pria itu hanya bisa menunduk dan menangis dengan tangan yang menggegam tangan gadis itu, terlalu takut, terlalu lelah,dan lain sebagainya. Dia sendiri tidak bisa membayangkan apa reaksi Jin-ah saat mendengar ucapannya.

Pria itu mengangkat kepalanya memperlihatkan bagaimana hancurnya dirinya, sedangkan tangannya masih menggegam tangan Jin-ah erat. Terlihat sangat gemetaran,dengan tangis yang sama sekali sulit ia tahan.

“ Ireona jebal, nan eottheokaji …”

***

“oppa. . . Jin-ah akan baik-baik saja kan? Di bisa sembuh bukan? Operasi? Lakukan operasi, kau tak perlu menunggu persetujuan Jin-ah, kumohon katakan padaku agar dia sembuh. . .” ujar Eun-ji yang terus mendesak Yesung dan terus membuntuti pria itu kemanapun dia melangkah.

Sedangkan Yesung hanya bisa terdiam tanpa berani menjawab, mulut gadis itu terus mengatakan hal yang sama sepanjang waktu. Pria itu masih berusaha membuat gadis itu tenang, setidaknya satu menit agar dia dapat menjelaskannya padanya.

Pria itu berulang kali menarik tubuh gadis itu kepelukannya namun selalu gagal, sedangkan dia tidak punya cukup tenaga untuk melawan gadis itu. Mendengar dua kata yang Hyuk-jae sudah membuatnya ketakutan. Bagaimana dia menjelaskannya pada Eun-ji, bagaimana bisa Jong-in hanya diam, bagaimana bisa dia melewati semua ini, apa yang terjadi pada Eun-ji jika dia memberitahunya kondisi Jin-ah, semuanya membuatnya dalam pilihan yang sangat sulit.

“ kenapa kau diam saja Oppa? Dia tidak mungkin lumpuh bukan? “ ujar Eun-ji yang tak henti-hentinya bertanya pada Yesung, sedangkan pria itu hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apapun. Seolah mengumpulkan tenaga yang cukup untuk menghadapi gadis yang berdiri dihadapannya.

Terlihat pria itu menghela nafas lalu menatap Eun-ji tajam, berusaha memaksa Eun-ji menatapnya. Gadis itu terlihat ketakutan dengan apa yang akan dia dengar dari mulut Yesung.

“ kenapa kau harus memikirkannya sejauh itu?” tanya Yesung dengan wajah datar yang terang saja membuat emosi Eun-ji tersulut

“M.mwo?”

“ dia bahkan bukan adikmu, kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri? Kenapa kau tidak percaya saja pada Jin-ah? Bukankah kau yang mengatakan bahwa dia kuat? Seberapa jauh kau mengenalnya? Tidak cukupkah dia sekarat? Tidak hanya kau yang panik, tidak hanya kau yang tak mau ini terjadi. Bisakah kau tenangkan dirimu?”

“ hentikan” ujar gadis itu sambil menutup kedua talinganya, terlihat butiran air mata kembali meluncur di pelupuk matanya yang jelas saja membuat Yesung hanya bisa mengigit bibir bagian bawahnya. Berusaha meyakinkan diri.

“ kau yang memperburuk Eun-ji~a. . jadi kumohon dengarkan aku baik-baik dan kumohon padamu, jangan salahkan siapapun disini.”

“ jangan katakan. .. tidak oppa, aku tak mau mendengarnya. Kumohon”

“ dia akan mati perlahan, dia tidak bisa disembuhkan.” Ujar Yesung yang membuat Eun-ji langsung menatap Yesung dan membeku disana. Tangan gadis itu terlihat gemetaran mendengar ucapan Yesung.

“ bohong, mana mungkin kau bisa mengatakan hal itu oppa. . . jika itu terjadi, Jong-in pasti sudah “

“ gila? Dia benar-benar gila sekarang, jadi hentikan tingkahmu ini.” Potong Yesung, terlihat bahu gadis itu terguncang dan terdengar juga isakan yang berasal dari mulutnya yang membuat Yesung tanpa sadar mengutuk tuhan. Gadis itu langsung meluncur kelantai memperlihat bagaimana lelah dan hancurnya gadis itu.

“ mengapa harus dia. . . mengapa harus Jin-ah. .”

***

“ kenapa kau tidur disini?” ujar seseorang yang membuat Jong-in memaksakan diri untuk terbangun. Pria itu sudah cukup lelah tentang semua yang terjadi, hingga dia tidak sempat berpikir dimana dia tidur sekarang.

“ Gwaenchana?” tanya Jong-in yang masih setengah sadar sedangkan Jin-ah hanya tersenyum sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Jong-in. dia bisa melihat dengan jelas jam yang terpasang di tembok. Jam itu masih menujukan pukul 2 malam.

“ hm . . . kau sudah makan?”

“ kau lapar?” tanya Jong-in ballik yang membuat Jin-ah hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Jong-in. Pria itu selalu saja mementingkannya di banding dirinya sendiri. Dan hal itu sudah sangat cukup membuat orang-orang merasa iri tentang hal itu.

“ berhenti mengkhawatirkanku. . .” dengus Jin-ah. Pria itu terus menatap wajah Jin-ah dengan sorot matanya yang tajam seolah sedang mencari kata yang pas untuk ia katakan. Wajahnya terlihat sangat lelah. Dia yakin pria ini menangis dan duduk disampingnya seharian penuh. Sedikit menyesal karna membuat pria itu kembali ketakutan seperti itu.

“ haruskah aku diam saja? Kau. . . menyembunyikan ini berapa lama?” ujar Jong-in yang sudah terbangun sepenuhnya. Terlihat Jin-ah yang sedikit kaget dengan ucapan Jong-in walaupun detik berikutnya tangannya terulur untuk merapihkan rambut Jong-in. seperti yang dia duga, akan sangat mudah bagi Jong-in mengetahui dia hamil jika dia dibawa kerumah sakit.

Sedikit menyesal karna rencananya gagal. Dia diam karna dia ingin memberitahu Jong-in tepat diulang tahunnya. Dan sepertinya hadiah kali ini hadiah terburuk yang dia berikan pada pria dihadapannya ini.

“ tiga hari yang lalu. . . padahal ulang tahunmu sebentar lagi. Aku ingin memberi tahumu saat ulang tahunmu nanti.”

“ Jin-ah. . .”

“dokter mengatakan apa?” tanya Jin-ah yang membuat Jong-in tidak sanggup untuk menatap istrinya itu. Jin-ah mempunyai firasat buruk tentang anak yang ada diperutnya dan kondisi tubuhnya. Tidak, dia tidak ingin mendengar Jong-in mengatakan bahwa dia keguguran atau sejenisnya. Demi tuhan dia tidak ingin kehilangan bayi yang bahkan belum berbentuk sempurna di perutnya.

Pria itu hanya diam berdiri menatap keluar jendela menghela nafas panjang lalu berjalan kekamar mandi. Jin-ah tahu pria itu sedang kesulitan mengatakannya, tapi dia benar-benar harus mengetahui hal yang ingin Jong-in sampaikan sekarang sebelum pihak lain ikut campur. Karna dia ingin menyelesaikan semuanya berdua.

Pria itu kembali dengan handuk kecil dikepalanya. Rambutnya terlihat basah dengan titik air yang masih menetes diujung rambutnya dan wajahnya. Sejak menikah dengan Jin-ah, pria itu selalu terlihat berantakan yang membuat Jin-ah merasa bersalah. Dia yakin bahwa dia terlalu banyak menyiksa batin dan raga pria itu. Dia bisa merasakan matanya yang mulai memanas dan bulir air mata yang tertahan di ujung matanya.

“ Jong-in~a. . .”

“ aku tidak bisa mengatakannya. Demi tuhan. . . aku. . .”

“ apa bayinya meninggal?” tanya Jin-ah spontan yang membuat Jong-in mengangkat wajahnya dan melihat bagaimana wanita dihadapannya menangis memperlihatkan kerapuhannya.

“ ani. . .dia tidak mati, dia masih hidup” ujar Jong-in yang terdengar serak. Pria itu juga sepertinya menahan tangisnya terlalu lama hingga membuat suaranya terdengar sangat tersiksa. Perasaan buruk kembali menyerangnya, jadi apa yang membuat Jong-in sampai tidak bisa mengatakan hal yang sepertinya harus disampaikan padanya?

“ Lalu?”

Jong-in kembali terdiam menunduk hingga handuk yang ada dikepalanya menutupi wajahnya. Tangan pria itu terlihat sangat gemetaran. Jin-ah mengulurkan tangannya dan mengusap tangan Jong-in berusaha membuat Jong-in tenang dan bisa mengatakannya senyaman mungkin walau dia yakin akan sangat sulit bagi pria itu mengatakan hal yang sepertinya hal yang sangat buruk untuk diutarakan.

“ kau tidak bisa mempertahankannya Jin-ah. . . “ ujar Jong-in lirih dengan suaranya yang makin terdengar serak. Meski begitu, Jin-ah masih bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja Jong-in katakan padanya.

“ apa maksudmu?”

“ bisakah kau relakan bayimu?”

“ Jong-in. . . jangan bilang kau ingin. . .”

“ Kalian bisa mati bersama. . .”

“ lalu kau fikir aku mau membunuh anakku sendiri demi nyawaku?! Dia bahkan belum lahir!” jerit Jin-ah yang langsung terduduk menyingkirkan alat bantu pernapasan yang sejak tadi memang terpasang diwajahnya yang membuatnya seketika merasa sesak.

“ dan kau pikir aku menginginkan ini? Demi tuhan Jin-ah, aku tidak ingin kehilangan kalian berdua. . .” seru Jong-in yang tak kalah terpukulnya. Jin-ah bisa merasakan ketakutan Jong-in yang menjalar kearahnya. Pria itu kembali tertunduk mencengkram kepalanya. Jin-ah bisa mendengar suara isaknya sedikit.

Dia tahu ini akan terjadi. Setidaknya sebagai mahasiswa kedokteran dia tahu ini akan terjadi, dan dia sudah tahu sejak awal. Obat-obatan yang dia minum bisa membunuh bayinya itu sebabnya selama tiga hari dia tidak menyentuh obatnya sama sekali, dan jika dia tidak meminum obatnya, tubuhnya akan semakin ringkih. Dia tidak terlalu kaget Jong-in mengatakan hal itu padanya. Tapi tetap saja dia berteriak pada Jong-in yang membuat semuanya makin keruh.

Jin-ah masih berusaha menenangkan diri dan mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Jong-in. perlahan dia mengulurkan tangannya kearah tangan Jong-in yang sedang mencengkram rambutnya sendiri berusaha membuat pria itu melepas cengkramannya.

“ dia masih punya harapan hidup Jong-in~a. . . kumohon”

“ dan kau dengan egoisnya meninggalkanku?!”

“ dia masih bisa hidup!! Jangan katakan seolah dia sudah mati Jong-in! “ jerit Jin-ah walaupun detik berikutnya dia langsung menyesalinya. Pria dihadapannya ini masih tetap menatap Jin-ah dengan terus menahan air matanya yang sudah menggenang dan siap untuk tumpah.

Jin-ah hanya bisa mengigit bibir bagian bawahnya menahan sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Jin-ah berusaha menyeret tubuhnya kepinggir ranjang lalu membiarkan kakinya terjuntai kebawah, jujur saja dia tidak bisa merasakan kakinya sekarang, seolah tidak ada kaki disana tapi gadis itu tetap diam. Tangannya terulur menarik kepala Jong-in kearah perutnya dan mengusap kepala Jong-in dengan tenang. Dia benar-benar tidak ingin menyakiti pria ini lebih dalam lagi dengan melihatnya menahan sakitnya.

“ hidupku bahkan tidak lama lagi, jadi biarkan dia tetap dirahimku. . . dia bisa terus berada disampingmu jika aku tidak ada.”

“ kalian bisa mati bersama Jin-ah. . . kalian bisa dengan mudah meninggalkanku. .”

***

Eun-ji langsung meringsek masuk kedalam kamar Jin-ah dan membuat Jin-ah sedikit tersentak kaget dengan kedatangan Eun-ji terlebih suara pintu yang di banting dengan kasar. Terlihat juga Yesung, Hyuk-jae dan ayahnya berdiri dibelakang gadis itu wajah mereka benar-benar suram yang membuat Jin-ah hanya bisa tersenyum melihatnya.

“ BODOH!!” seru gadis itu seketika bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras. Jin-ah hanya bisa tersenyum pahit melihatnya. Tangannya masih terus mengusap kepala Jong-in yang tertidur disampingnya setelah berjam-jam berjaga. Pria itu sama sekali tidak tidur semalaman sejak Jin-ah bangun. Dan sepertinya tidurnya akan diganggu lagi.

“ Jong-in bisa bangun. . . dia baru tidur 5 menit yang lalu, bisakah kau kecilkan suaramu? Mian membuat kalian khawatir.” Ujar Jin-ah dengan senyum yang mengembang diwajahnya yang membuat Eun-ji makin menangis sekeras-kearasnya. Terlihat juga 3 orang yang dibelakanganya menatapnya dengan raut wajah tersiksa.

“ appa. . .” ujar Jin-ah yang membuat pria paruh baya itu tersentak lalu menatap putrinya itu dengan senyum diwajahnya. Pria itu melangkah mendekat kearah Jin-ah menarik kursi yang tersedia disana dan duduk diatasnya diikuti Hyuk-jae yang berdiri diseberang ranjang. Tangannya terulur menyentuh kepala putrinya, pria itu bahkan seperti tidak menyentuh Jin-ah, takut dia akan membuat Jin-ah kesakitan.

“ lain kali jangan menahannya sendiri, katakan saja. Arra?” ujar pria itu dengan suaranya yang terdengar serak yang membuat Jin-ah hanya menahannya dengan senyuman.

“arraseo, mianhae appa.” Ujar gadis itu dengan senyuman yang mengembang makin lebar diwajahnya yang membuat Hyuk jae mengacak-acak rambutnya dan menujukan deretan giginya

“ baboya! Kenapa kau bisa tersenyum seperti itu?!”

“ lalu aku harus bagaimana? Menangis seperti Eun-ji? Astaga. . . Eun-ji~a. Kau jelek sekali.” Kekeh Jin-ah pada Eun-ji yang masih berdiri didepan pintu dan dibelakangnya masih ada Yesung.

Tiba-tiba Eun-ji berlari kearah Jin-ah dan memeluk gadis itu dan menangis sekeras-kerasnya disamping Jin-ah yang membuat Jong-in terbangun. Pria itu terlihat kebingungan dengan keadaan setengah sadar.

“Baboya!”

“ kau membangunkan suamiku bodoh! Kai~a, cuci muka sana.” perintah Jin-ah yang langsung dituruti oleh Jong-in tanpa protes sama sekali. Pria itu melangkah gontai kearah kamar mandi sambil menarik handuk yang disediakan diatas meja. Dia bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“ Yak! Sekalian mandi saja.” Seru Jin-ah yang hanya dibalas dengusan pria itu.

“ Arraseo. . .” ujar pria itu sebelum masuk kedalam kamar mandi. Ketiga pria yang ada disana terlihat kebingungan dengan keadaan sekarang ini. Pria itu terlihat begitu kacau kemarin, kenapa sekarang terlihat seolah tidak terjadi apa-apa?

“ wae?” tanya Jin-ah yang menyadari raut kebingungan ketiga pria itu. Sedangkan dirinya sendiri terbebani oleh Eun-ji yang menangis dipundaknya membuatnya meras tertidih batu berton-ton.

“ kalian terlihat baik-baik saja. Padalah Jong-in kemarin sangat kacau. . .” ujar Yesung sambil berjalan mendekat karah Jin-ah yang masih berbaring.

“ tentu saja kami baik-baik saja, dia saja yang berlebihan. Aku memang tidak apa-apa, hanya kelelahan.”

“ berhenti membual. Kau masuk ICU semalam” dengus Hyuk-jae yang membuat keduanya saling mengarahkan tatapan mengerikan seolah siap menerkam satu sama lain.

“ Jinjja? Ah. . . mungkin untuk memulihkan kondisiku. Appa. . .” ujar gadis itu yang bahkan terdengar seperti hinaan

“hm? Wae?”

“ Yak eun-ji aku bukan Yesung! berhenti memelukku.” Sungut Jin-ah sambil mendorong gadis itu menjauh.

“ aish. . kau ini.” Eun-ji hanya mendengus kesal sambil mengusap air matanya. Dan dengan cepat Yesung menarik Eun-ji kesisinya membiarkan tangannya melingkar dipinggang gadis itu.

“ appa. . .” ujar Jin-ah dengan senyuman dan matanya yang berbinar-binar. Yang tanpa sadar membuat ayahnya itu penasaran dan memperhatikan wajah putrinya yang sangat antusias. Sekilas dia bisa melihat sosok istrinya, ibu Jin-ah terpahat diwajah Jin-ah yang membuatnya merasa tertusuk sesuatu.

Entah bagaimana bisa dulu dia dengan begitu bodohnya meninggalkan putrinya sendiri dan membenci anak itu. Padahal gadis itu selalu memberikan senyuman yang sangat tulus padanya yang sempat membencinya.

“hm?”

“ kau mau cucu tidak?”

***

Jin-ah merasakan pegal di seluruh kakinya, akibat duduk dengan posisi yang sama hampir berjam-jam, sedangkan Jong-in dan yang lainnya pergi entah kemana. Sedikit terkekeh geli saat mengingat ekspresi orang-orang yang mengetahui bahwa dia hamil, setidaknya cukup baginya memberikan sedikit kebahagiaan kecil utuk mereka. Hanya saja dia masih belum bisa meyakinkan Jong-in, pria itu sama keras kepalanya dengannya sehingga sangat sulit memberikan sedikit pengertian untuk pria itu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, yang membuat Jin-ah mendongak dan detik berikutnya dia hanya bisa membeku saat melihat siapa yang datang.

“ A…abeoji..” ujar Jin-ah gugup. Kim Jong hoo, Pria itu sama mengerikannya dengan Jong-in saat pertama kali bertemu. Tapi entah mengapa detik berikutnya pria itu malah tersenyum ramah padanya untuk pertama kalinya.

Pria itu terus berjalan kearah Jin-ah lalu menaruh parsel buah diatas meja. Pria itu menarik kursi dan duduk di samping ranjang Jin-ah yang membuatnya bergerak tidak nyaman. Dia benar-benar merasa canggung bersebelahan dan saling berbicara satu sama lain dengan ayah Jong-in. mengingat, ayah mertuanya ini benar-benar membencinya.

“ dimana Jong-in?” ujar ayah Jong-in sambil terus melihat sekitar.

“ dia sedang pergi Abeoji. . .”

“ Lebih baik aku tidak bertemu dengannya. Bagaimana keadaanmu?” ujar pria itu akhirnya memfokuskan tatapannya kerah Jin-ah. Seolah melihat sosok Jong-in di masa yang akan datang, gerak-gerik ayah dan anak ini sama saja.

“ ne? ah. . . baik Abeoji.”

“ kudengar dari dokter Jang kau hamil.” Ujar pria itu yang terlalu blak-blakan yang membuat Jin-ah jadi salah tingkah. Tentu saja ayah Jong-in tahu bahwa dia hamil, rumah sakit ini miliknya jadi wajar semua informasi di berikan langsung kepadanya.

“Ne Abeoji. . .”

“ Berapa bulan? “

“ tiga bulan.” Jawab Jin-ah, pria itu terlihat menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya kepunggung kursi sambil menatap kearah luar jendela, tatapan pria itu terlihat lelah seolah menujukan kepasrahan. Cukup lama mereka terdiam dan tidak ada yang berniat memulai pembicaraan, Jin-ah benar-benar takut tidak bisa mengendalikan mulutnya yang terkadang diluar kendalinya.

“ Jin-ah. . .” ujar pria itu akhirnya yang membuat Jin-ah kaget.

“n. .ne Abeoji.”

“ sebagai istrinya, apa kau pernah merasa tidak mengenali suamimu?” tanya pria itu seolah butuh jawaban yang pasti dari Jin-ah sedangkan Jin-ah terlihat bingung menjawab pertanyaan pria itu.

“ ne, saat dia marah dia terlihat bukan Jong-in yang aku kenal.” Jawab Jin-ah yang hanya di balas dengan helaan nafas pria itu, lalu menatap Jin-ah yang kali ini dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“ kau tahu, mungkin memang aku terlalu khawatir dengan hartaku sesuai yang Jong-in katakan padaku. Tapi aku hanya seorang ayah yang ingin anakku hidup dengan layak dan didampingi orang yang aku inginkan. Itulah sebabnya aku marah padamu, karna kau dan dia begitu keras kepala.” Ujar Pria itu yang tanpa sadar membuat Jin-ah seperti tertimpa batu yang sangat besar tepat menghancurkannya berkeping-keping. Jika dipikir ulang, memang dia lah yang salah. Hanya karna dia ingin merasakan secuil kebahagiaan sebelum dia pergi, dia menghancurkan kebahagian Jong-in.

Dia tahu akan hal itu, tapi tidak memperdulikannya, terlebih pria itu memaksanya untuk yakin bahwa pria itu tidak akan terluka apapun itu.

“tapi Jin-ah, kau baru saja meluluhkanku dengan anak yang ada diperutmu. Entah mengapa tiba-tiba aku mengingkan anak itu cepat lahir dan menggendongnya dengan tangan tuaku.” Kekeh pria itu yang membuat Jin-ah mengangkat kepalanya tercengang kaget dengan airmata yang tanpa sadar meluncur, pria itu meraih tangan Jin-ah dan mengusap punggung tangannya. Sedikit mengutuk tuhan yang tidak adil memberikan keadaan seperti ini pada menantunya.

“anakmu. . . bisakah dia memanggilku kakek dan menggendongnya?”

“ tentu saja Abeoji bisa menggendongnya, kalau Jong-in melarangnya, aku yang akan memukulnya. Lagipula Abeoji memang kakeknya bukan?” ujar Jin-ah yang tanpa sadar berbicara informal yang membuat gadis itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

“Juseonghamnida Abeoji. . .” ujar Jin-ah sambil menunduk menyumpahi mulutnya yang tidak terkendali. Tapi pria tua itu hanya tersenyum menanggapi tingkah Jin-ah.

“ kurasa aku tahu mengapa Jong-in menentangku dan memilihmu dibanding aku, ayahnya.” Ujar pria itu yang membuat Jin-ah merasa sesuatu tersangkut di kerongkongannya. Pria itu bangkit dari kursinya yang membuat Jin-ah menunduk karna sedikit takut

“ jaga dirimu baik-baik, hubungi aku jika kau perlu sesuatu, jangan katakan pada siapapun aku kesini, dan perbudak saja Jong-in untuk bayimu aku sangat merelakannya menjadi pembantu untuk cucuku. Satu lagi yang terpenting, kau harus hidup dan melihat bayimu bernafas, Arraseo? Ah aku lupa. . . selamat kau akan menjadi ibu dari cucuku.”

***

“ Hyung. . .” ujar Jong in memulai pembicara. Jong-in dan Hyuk jae berjalan beriringan di koridor rumah sakit. Keduanya membawa banyak makanan. Mereka belanja dengan kalap, apapun yang gadis itu suka dan tidak membayakan bagi bayinya. Bahkan ada bibi yang mengira mereka pasangan yang membuat Jong-In dan Hyuk jae langsung berjalan berjauhan.

“hm, wae?”

“ aku akan membawa Jin-ah ke Jeju setelah dia keluar dari rumah sakit.” Ujar Jong-in yang membuat Hyuk jae menghentikan langkah kakinya dengan kerutan dikeningnya. Sejak awal ada yang mengganjal tentang tingkah pria itu, dia yakin adik iparnya ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

“ sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku?” ujar pria itu yang membuat Jong-in hanya tersenyum menanggapi pria itu.

“ aku membeli rumah disana. . . .kurasa Jin-ah bisa merasa lebih nyaman disana dibanding dengan apartemen. Akan ku berikan alamatnya nanti”

“jawab pertanyaanku Kim Jong-in. apa bayi yang ada diperut Jin-ah terjadi sesuatu? Kau terlihat panik kemarin.” Ujar Hyuk jae tajam sedangkan Jong-in hanya tersenyum sambil memalingkan wajahnya kearah anak dua anak kecil yang saling kejar-kejaran di dalam sebuah ruangan dan seorang wanita yang Jong-in yakin itu ibu mereka. Wanita itu tetap tersenyum melihat tingkah anak-anaknya tak peduli dengan selang oksigen menyalur kearah hidunganya dan nafasnya yang tersengkal-sengkal.

“ Hyung. . . dia anakku, dan Jin-ah istriku. Aku tidak akan menyakiti keduanya, bisakah kau percaya padaku?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s