Lacrymosa

LACRY copy

“eommanie. . . eomma. . . eomma. . .” suara itu terus mengusik Jin-ah yang sedang tertidur pulas diatas sofa panjang. Tubuhnya masih terasa lelah setelah hampir 3 minggu dia kurang tidur. Sedangkan suara itu masih terus menganggunya ditambah dengan seseorang yang mengguncang tubuhnya.
“ Tutup matamu, appa akan membangunkan eomma.”
“ Wae?”


“tutup saja matamu. . . jangan buka matamu sebelum mendengar teriakan eomma, arra?”
“ne. . .”
Jin-ah masih bisa mendengar percakapan dua orang itu samar tapi dia benar-benar tidak memperdulikan, tubuhnya sudah terlalu nyaman untuk sekedar membuka mata. Tiba-tiba terasa sesuatu menyentuh bibirnya, awalnya hanya sentuhan ringan namun sentuhan itu mulai bergerak liar dibibirnya hingga sesuatu yang cukup basah meringsek masuk kedalam mulutnya hingga membuatnya hampir tersedak dan memaksanya membuka matanya.
Jin-ah tersentak kaget saat melihat Jong-in yang menempel padanya dengan senyuman geli yang membuat Jin-ah langsung mendorong Jong-in menjauh dan langsung terduduk kegat.
“Yak! Mesum! Apa yang sedang kau lakukan hah!” jerit Jin-ah sedangkan pria itu hanya menyeringai sambil mengusap sudut bibirnya yang membuat perut Jin-ah bergelenyar geli membayangkan hal yang dari tadi pria itu lakukan. Sedangkan Gyu-ri terlihat kebingungan dengan tingkah keduanya.
“ kau saja yang tuli, anakmu memanggilmu berulang kali tapi kau masih saja tidur.” Ujar Jong-in sambil mengendikan bahunya kearah Gyu-ri yang duduk dipangkuannya. Sedangkan anak itu menatap Jin-ah sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Jin-ah. Terlihat air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, gadis itu langsung menghambur kearah Gyu-ri dan menangis dibahu putrinya itu. Tangan Gyu-ri melingkar dileher Jin-ah dengan arah tatapan yang menuju kearah Jong-in yang mengusap rambutnya dengan senyum yang mengembang diwajahnya.
“syukurlah. . .” gumam Jin-ah.
***
“ Gyu-ri~a!!” seru Baekhyun yang tiba-tiba muncul dengan mendorong pintu hingga menimbulkan bunyi yang cukup membuat orang tersentak kaget yang membuat Jong-in langsung berdecak kesal dan melepari pria itu dengan tatapan tajam walaupun sepertinya sama sekali tidak mempan padanya.
“ Ahjusshi. . . .” panggil Gyu-ri sambil mengulurkan kedua tangannya kearah Baekhyun yang membuat Baekhyun langsung menghambur kearah Gyu-ri dan mengangkat tubuh gadis mungil itu di lengannya.
Ada yang berbeda dengan Gyu-ri sejak bangun dari komanya. Gadis kecil itu lebih suka tersenyum dan lebih manusiawi sama seperti anak seumurannya yang membuat Jin-ah tercengang dengan hal yang baru dia lihat untuk pertama kalinya.
“ Wae?” Tanya Jong-in yang sepertinya sejak tadi memperhatikan Jin-ah.
“ tidak. . . hanya saja aku merasa Gyu-ri sedikit berbeda.” Ujar Jin-ah lalu berbalik menatap Jong-in yang sejak tadi berdiri disampingnya dengan tangan terlipat di depan dada dan tatapannya yang masih tertuju padanya.
“ kau sendiri banyak berubah. . . dulu siapa yang selalu kesal saat aku berada disampingmu.”
“ yak itu berbeda bodoh!”
“ kalian cepat sekali berbaikan. . .” ujar Baekhyun yang membuat Jong-in mengangkat alas kakinya kearah Baekhyun hanya saja urung dia lakukan karna kemungkinan sandal itu melayang kearah Gyu-ri cukup tinggi.
“memangnya mereka bertengkar?”
“ Gyu-ri. . .” ujar seseorang yang membuat semua orang mengarahkan pandangannya kearah pintu. Terlihat Sehun yang berdiri di depan pintu dengan wajahnya yang memerah.
“Appa. . .” seru gadis itu sambil turun dari gendongan Baekhyun dan berlari kearah Sehun yang langsung menggendong tubuh mungil Gyu-ri. Pria itu terlihat menahan air mata yang memaksa untuk keluar berulang kali tangannya mengusap kepala anak seolah tidak percaya bahwa di benar-benar bisa melihat putrinya lagi.
“ Appa, Eomma eodia??” Tanya Gyu-ri sambil menatap wajah Sehun, sedangkan pria itu hanya tersenyum membalas pertanyaannya.
“eomma dirumah, eomma takut melihatmu sakit jadi dia di rumah.”
“ Wae?”
“ Gyu-ri. . .” panggil Jin-ah yang membuat Gyu-ri menoleh, sedangkan Jin-ah hanya menggelengkan kepalanya memberi isyarat untuk tidak mengusik Sehun lagi. Gyu-ri mengangguk dan memilih memeluk Sehun lagi kali ini sambil mengusap punggung Sehun.
***
“ kau cukup lama tidak bicara Dark. . .” ujar Jong-in sambil melempar sebuah apel yang di tangkap oleh tangan kering makhluk yang melayang disampingnya.
“ kau sangat labil, itu yang ku tahu. . .”ujar Dark yang membuat Jong-in hanya tersenyum. Pria itu baru saja izin keluar karna kamar rumah sakit itu penuh sesak dengan orang. Entah mengapa dia terlalu mengabaikan Dark hingga dia harus mempergokinya mengambil anggur yang tergeletak dia meja rumah sakit tadi.
“ kenapa kau tidak minta makan pada Baekhyun hyung.”
“ aku sudah memintanya. Kau fikir siapa yang memberiku makan setiap hari sejak kau frustasi?” ujar Drak yang membuat Jong-in mengangguk mengiyakannya. Baru kali ini dia mengabaikan Drak selama ini, padahal sebelumnya dia tidak
“ mian. . .” ujar Jong-in sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi, membiarkan wajahnya tertiup angin yang berhembus di sekitarnya. Sedangkan Drak yang sibuk melempar-lempar apel yang ada ditangannya terlihat melayang disamping Jong-in dengan santainya.
Sudah terlalu lama dia mengabaikannya dan anehnya dia pun sama sekali tidak prots atau ribut tentang sesuatu padanya. Benar-benar pertama kalinya dia mengabaikan Drak begitu lama selama hidupnya dan itu cukup membuatnya bersalah.
“ aku benar-benar tidak mengenalmu.” Gumam Drak sambil terus melempar apel yang dia pengang dengan tangannya yang kering itu, sedangkan Jong-in hanya mengerutkan keningnya karna dia sama sekali tidak tahu arah pembicaraan Drak yang sebenarnya.
“ apa maksudmu?”
Makhluk itu hanya diam menimbang-nimbang apel yang ada ditangannya hingga tiba-tiba dia mendongak dan diwajahnya yang datar tak berbentuk itu muncul sebuah lubang yang cukup membuat sebuah apel masuk begitu saja.
“kau seperti manusia sekarang, setidaknya itu lebih baik.”
Jong-in hanya tertawa ketika Drak menyebut ‘seperti manusia’. Dia sendiri yakin bahwa dia sudah berubah terlalu banyak hingga membuat pengawalnya ini mengatakan hal seperti itu padanya. Dan mungkin dia selama ini juga mengkhawatirkan kehidupan Jong-in sebelum akhirnya pria itu bertemu dengan Jin-ah. Melihatnya saja tanpa komentar sekarang saja sudah sangat menghiburnya.
“ kau benar” jawab Jong-in sekenanya setelah tertawa seenaknya.
“ apa kau perlu aku pergi malam ini? Tadi pagi itu hebat sekali. . . dan malam sebelumnya”
“Yak! Kalau aku sedang bersama Jin-ah, kau cepat lah pergi. . .” dengus Jong-in membuatnya langsung mendengar kekehan mengerikan dari Drak yang entah seperti sudah bertahun-tahun tidak mendengar suara seperti itu dan cukup membuatnya merinding.
“ aku pergi kemana?? Aku kelaparan! Lagi pula itu lumayan keren untuk ditonton.”
“ Baiklah. Terserah kau saja.”
“ mulai sekarang, biarkan aku berada disamping putrimu. Aku sedikit menyesal tentang kejadian waktu terlebih aku merasa sesuatu yang mengerikan akan terjadi didekatnya.” Ujar Drak tiba-tiba yang membuat suasana disejkutar mereka langsung terasa sangat formal. Sedangkan Jong-in hanya menanggukan kepalanya dan melipat kedua tangannya didepan dada dengan tatapan tajam yang menarah kedepan.
“ lakukan saja yang menurutmu benar, kau yang paling kupercaya saat ini”
***
Jong-in menghentikan mobilnya didepan salah satu rumah yang entah milik siapa lalu turun dari mobil dan mengangkat Gyu-ri yang tertidur dengan perlahan, pria itu hanya menghela nafas melihat Jin-ah yang membeku di dalam mobil tanpa bergerak sedikitpun.
“ turunlah kau juga perlu istirahat.” Ujar Jong-in tapi sama sekali tidak mendapat respon dari Jin-ah yang membuat Jong-in mengitari mobilnya lalu membuka pintu dan menyeret tubuh Jin-ah keluar dari mobil lalu menariknya kedalam pelukannya dengan sebelah tangan dan sedikit mengusap rambut Jin-ah.
Gadis itu sepertinya masih ketakutan karna berdebat dengan Gyu-ri yang sebelumnya rebut meminta untuk pulang sedangkan Jin-ah melarangnya karna kondisi Gyu-ri yang belum stabil yang akibatnya, jahitan Gyu-ri terbuka lagi dan membuatnya menjerit kesakitan.
“ Gyu-ri baik-baik saja. . . kau malah akan membuat Gyu-ri merasa kau sedang marah padanya dengan sikapmu itu. Ayo masuk” ujar Jong-in. Jin-ah hanya mengangguk tanpa berniat mengangkat kepalanya sambil berjalan mengekori Jong-in yang berjalan kearah rumah yang bisa dikatakan kecil untuk dibandingkan dengan rumah Jong-in yang seperti sebuah istana megah.
“ sementara kita tinggal disini, aku membelinya tadi, dan kurasa didalamnya sudah di isi barang-barang yang kita perlukan.” Ujar Jong-in saat berada didepan pintu dan bergulat dengan kunci pintu yang sejak tadi tidak mau masuk kelubangnya. Tiba-tiba Jin-ah merebut kunci rumah itu dari Jong-in dan membuka pintu rumah itu.
Jong-in hanya diam tanpa mau berkomentar dan membiarkan Jin-ah melakukan apa yang dia mau. Jin-ah tetap berdiri diambang pintu tanpa berniat masuk kedalam rumah yang membuat Jong-in menghela nafas untuk sekian kalinya.
“ Ah~ya” ujar Jong-in yang membuat gadis itu mendongak dan menatap Jong-in.
“ waeyo? Kau tidak suka?” Tanya Jong-in yang juga masih berdiri didepan pintu.
“ Ani. . .” jawab gadis itu tapi suaranya terdengar gemetaran dan ketakutan. Jong-in tetap diam menunggu Jin-ah melanjutkan ceritanya walaupun dia yakin Gyu-ri sedang kedinginan berdiri diluar rumah cukup lama. Pria itu berusaha menghangatkan tubuh mungil Gyu-ri dengan mengusap-usap punggung anak itu dan sedikit membekap tubuhnya dengan hati-hati.
“ Rumah ini mirip dengan rumahku dulu. . .” ujar Jin-ah lirih dengan kepala tertunduk. Tiba-tiba Jong-in mendorong masuk lalu menutup pintunya yang membuat Jin-ah kebingungan menatap Jong-in yang sekilas terlihat raut wajahnya yang kesal.
Pria itu berdiri diambang pintu seperti menunggu sesuatu yang membuat Jin-ah hanya bisa diam tidak mengerti.
“ apa aku harus memintamu untuk melepaskan syal yang Gyu-ri pakai?” ujar pria itu yang membuat Jin-ah tanpa sadar sudah mendengus dan melangkah kearahnya dan dengan hati-hati melepaskan syal merah yang melilit leher Gyu-ri.
“ buatkan aku makan, aku lapar.” Ujar Jong-in sambil melangkah melewati Jin-ah dan mulai menaiki anak tangga.
“ ramen?” Tanya Jin-ah yang akhirnya angkat bicara setelah Jong-in hampir mendekati lantai dua.
“ terserah kau saja” ujar pria itu sebelum menghilang dari pandangan Jin-ah yang membuat gadis itu hanya tersenyum.
Baru akan melangkah kearah dapur dan melepas mantelnya tiba-tiba terdengar bel rumah yang memekakan telinga yang membuat gadis itu langsung berjalan kearah pintu dan menemukan Eun-ji dengan wajah pucatnya dan senyumnya yang tidak pernah hilang seperti biasa dan Sehun yang berdiri dibelakangnya.
“ Waseo? Masuklah. . .” ujar Jin-ah yang mempersilahkan kedua orang itu masuk. Eun-ji benar-benar terlihat sangat lemah dan seperti orang pengidap trauma berat dengan tatapan matanya yang kosong dan membuat Jin-ah tanpa sadar sudah mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.
“ Gyu-ri eodia?”
“ dia ada dikamar, Jong-in baru saja membawanya keatas.” Ujar Jin-ah yang membut gadis itu langsung berjalan kearah anak tangga dan mulai menaikinya satu persatu sedangkan Sehun tetap mengikuti langkah kaki gadis itu.
Jin-ah hanya bisa menghela nafas berat lalu melepas mantelnya dan menyisakan kemeja putih yang melekat ditubuhnya. Gadis itu mulai menggulung lengan bajunya sambil berjalan berkeliling mencari keberadaan dapur. Sedikit tersentak kaget karna dapur yang dia lihat jauh dari kata sederhana, terlalu mewah dan juga elegan, benar-benar membuat kaget.
Jin-ah melangkah masuk lalu mengambil sebatang sumpit lalu menggelung rambutnya dengan sumpit itu. Gadis itu kembali dikejutkan saat membuka lemari pendingin, semua bahan sangat lengkap dari sayuran bahkan kimchi berderet di rak khusus kimchi.
Dia belum terbiasa dengan cara hidup Jong-in yang semuanya terpenuhi dan serba mewah, dan jika diingat lagi, dia bahkan belum sempat hidup dengan pria itu sejak menikah, karna pernikahannya hampir hancur karna munculnya Hades. Jin-ah mendengus mengingat pria itu, pria dengan wujud yang sama, suara yang sama, dan senyum yang sama dengan suaminya, hanya saja tatapan mata pria itu dengan Jong-in jauh berbeda dan Jin-ah sangat yakin jika dia bertemu dengannya lagi, dia tak akan tertipu dengan tampang mereka berdua yang sangat mirip.
“ kau membuat makan malam?” ujar seseorang yang membuat Jin-ah tersentak kaget dan bahkan hampir menjatuhkan telur yang ada ditangannya.
“ Yak! Kau mengagetkanku bodoh” dengus Jin-ah saat menemukan Ren yang sudah duduk di atas meja dengan bulu hitam ditangannya.
Entah kenapa ada yang berbeda dengan penampilan pria itu kali ini, dia terlihat sangat tampan dengan rambutnya yang berwarna hitam pekat dan potongan rambut yang telihat lebih rapi berbeda pada saat pertama kali bertemu, kesan gadis cantik yang melekat padanya langsung menghilang dengan makhluk tampan yang tiba-tiba muncul didepannya ini.
“ kau sudah makan?”
“ manusia memang mudah kelaparan.” Kekeh Ren yang membuat Jin-ah hampir terkena serangan jantung saat tiba-tiba pria itu berpindah tempat dan sudah muncul didepannya.
“ kau berbentuk manusia sekarang “ desis Jin-ah sambil melempar tatapan tajam dan hanya diterima Ren dengan penuh senyum.
“ Lee Jin-ah “ panggil Ren yang membuat Jin-ah mendongak menatap pria itu, untuk kali pertama pria itu memanggil namanya terlebih wajahnya yang terlihat menderita, yang membuat Jin-ah menghentikan pekerjaan dan memilih mendengarkan apa yang akan Ren katakan padanya.
“ Mian, mianhae. . .” ujar pria itu yang terdengar serak yang membuat Jin-ah hanya mengerutkan keningnya. Sebenarnya apa yang ingin Ren katakan?
“ wae?”Tanya Jin-ah yang membuat pria itu menghela nafas berat dan terlihat enggan melanjutkan atau bahkan menjawab pertanyaan Jin-ah. Pria itu diam sambil memlintir bulu hitam yang ada ditangannya dengan tatapan matanya yang tidak fokus.
“maaf karna aku tidak menyelamatkan Gyu-ri waktu itu walaupun aku bisa dan aku ingin. Aku hanya malaikat yang tidak punya keberanian untuk menentang perintah dan maaf membuatmu. . .”
“ dia baik-baik saja sekarang, gomaweo Ren~a. . .” potong Jin-ah yang membuat pria itu mendongak menatap kearah Jin-ah yang tersenyum padanya, Jin-ah sedikit mendekat kearah Ren lalu meraih tangan pria itu lalu meremasnya. Sedangkan Ren hanya tersenyum pahit menerima ucapan terima kasih itu.
“ mulai sekarang, aku tidak bisa membantu kalian bahkan untuk melindungi kalian aku tidak bisa melakukannya lagi. “ ujar Ren sambil mendorong lepas tangannya dari genggaman Jin-ah. Gadis itu hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
“ itu perintah?” Tanya Jin-ah
“ hm.”
“ Gwaenchana, lakukan pekerjaanmu. Kami akan baik-baik saja, setidaknya untuk beberapa waktu.” Ujar Jin-ah yang kembali bergulat pada telur yang ada didepannya.
“ kau ingat buku itu, Leibe mortis. Dia menggunakannya lagi untuk mengumpulkan Holder. “ ujar Ren tiba-tiba yang membuat Jin-ah langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap Ren yang duduk dengan meminkan cangkir yang sengaja Jin-ah letakan diatas meja.
“Holder? Apa yang kau maksud dengan Holder?” Tanya Jin-ah, sedangkan Ren hanya tersenyum sambil berdiri dan berjalan perlahan kearah Jin-ah.
“ hanya itu yang bisa ku beritahu, hiduplah dengan tenang dan jangan mati.”
***
“ kau tahu Holder?” Tanya Jin-ah tiba-tiba disela makan Jong-in yang membuat pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Jin-ah.
“ hm. . . semacam senjata yang terbentuk oleh renkarnasi pada jiwa manusia. Wae?”
“ Ren bilang buku itu, Leiber Mortis, sedang digunakan lagi untuk mengumpulkan Holder, apa buku itu mencuri Holder?” Tanya Jin-ah lagi yang sepertinya membuat selera makan Jong-in menghilang tiba-tiba. Pria itu memilih menenggak air putih yang ada di gelasnya lalu melipat kedua tangannya diatas meja. Sedikit menyiapkan diri dengan apa yang akan dia katakan karna sejujurnya dia sangat membenci membahas hal seperti ini.
“ hm . . . aku memang belum mangatakannya padamu, buku itu tidak hanya membunuh, melainkan mengambil jiwa orang-orang itu dan dibiarkannya diruang hampa, bukan neraka maupun surga, bukan dunia nyata bukan pula dunia akhirat tapi suatu tempat yang hampa dan rentan membuat orang-orang yang nyawanya diambil oleh Leibe Mortis akan mudah hancur dan menghentikan renkarnasi, dan jika holder diambil dari jiwa mereka, secara otomatis jiwa itu hancur dan tidak bisa berenkarnasi, itu buruknya Leibe Mortis.”
“ lalu kenapa kaum mortis menggunakan buku itu? Bukankah kalian bisa membunuh hanya dengan melihat nama mereka lalu mencekiknya jika kau menginginkan dia mati?”
“ dia tak akan bisa mendengarnya. . . kau diamlah Dark. “ dengus Jong-in yang membuat Jin-ah sesaat merasa dia sedang berhadapan dengan orang tidak waras. Baekhyun memang pernah bercerita tentang pendamping yang selalu berada disamping mortis hanya saja itu sulit untuk diterima karna dia tidak melihat mahkluk yang di maksud.
“ itu perbedaannya, jiwa yang kita bunuh bisa berenkarnasi dan hidup dengan keadaan suci kembali. Sedangkan Leibe Mortis membuat sebuah jiwa merasakan penderitaan dahulu sebelum dia menebus dosanya” terang Jong-in yang membuat gadis itu hanya mengangguk mengerti apa yang dikatakan Jong-in gadis itu lalu menghela nafas terlihat bingung dengan kondisinya.
Benar, seperti yang pria ini katakan sebelumnya, bahwa dia tidak bisa kembali ke kehidupannya yang tenang dulu dan dia benar-benar harus melawan Hades, yang entah bagaimana bisa berhubungan dengannya.
Sebenarnya sejak kejadian itu Jin-ah selalu berfikir keras, siapa sebenarnya dibalik wajah Jong-in pada tubuh Hades situ, mengapa dia tidak menampakan wajahnya, mengapa dia bisa mengenal Jin-ah, bagaimana dia semarah itu saat Jin-ah menikah dan nyaris membunuh putrinya. Pertanyaan itu seolah berputar didalam kepalanya dan tanpa hentinya berdengung membuatnya terkadang merasakan sakit yang teramat sangat dikepalanya.
Yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana melindungi semuanya dan melenyapkan pria itu. Setidaknya dia bisa membantu Jong-in dengan kekuatannya sendiri walaupun dia yakin tidak membantu terlalu banyak.
Lagipula ada pertanyaan yang sejak dulu tidak bisa dipahami. Bagaimana bisa dia jatuh kepelukan pria yang begitu berbahaya, kapan dia jatuh cinta padanya, kapan dia mulai bergantung padanya, dan apa alas annya menerima pria itu disisinya. Seolah semuanya itu tidak akan terjawab, terlebh pernyataan konyol pria itu dan Baekhyun tentang takdir, hal itu benar-benar tidak masuk akal.
“Ah~ya!” seru Jong-in yang membuat Jin-ah tersentak kaget. Jong-in mengulurkan tangannya menyentuh kening Jin-ah yang membuat Jin-ah membeku ditempat. Sepertinya pria itu memanggilnya berkali-kali hanya saja dia tidak mendengarkannya.
Dia benar-benar belum terbiasa dengan sentuhan pria itu, baik sentuhan ringan maupun yang lebih dari ringan. Sehingga tanpa sadar dia sudah memasang wajah bodoh saat Jong-in menyentuhnya.
“ ada yang sedang kau pikirkan?” Tanya pria itu sambil melipat kedua tangannya diatas meja. Sedang Jin-ah hanya mengangguk memberikan senyum sambil mengangkat gelas yang ada dihadapannya.
“hm. . . Eun-ji Sehun bagaimana mereka.” Ujar Jin-ah sambil menenggak isi gelas yang ada ditangannya. Terlihat Jong-in yang melirik menatap pintu kamar yang ada dilantai 2 dengan pandangan kesal, atau mungkin marah.
“kurasa mereka akan mengganggu kita.” Dengus Jong-in sambil menyentak tubuhnya di punggung kursi. ‘mengganggu?’ apa maksud pria itu?
“ mengganggu? Mengganggu apa?” Tanya Jin-ah yang membuat Jong-in mendesah kesal. pria itu terlihat malas mengatakannya, hanya saja wajah Jin-ah yang tidak bisa diabaikan begitu saja karna sekali gadis itu merasa penasaran entah bagaimana gadis itu langsung memaksanya secara tidak langsung untuk mengungkapkannya.
“ apa kau tidak tahu makna ‘mengganggu’?” ulang Jong-in sambil menyangga wajahnya dengan tangannya yang bertumpu pada meja. Jin-ah terlihat sedang memikirkan maksudnya hingga membuatnya memilih diam hingga gadis itu menemukannya sendiri.
Jong-in menyeringai puas saat Jin-ah tiba-tiba tersentak dan wajahnya yang mulai memerah seperti kepiting rebus yang menggoda.
“wajah mu memerah. . .” bisik Jong-in dengan seringainya yang membuat gadis itu langsung menahan nafasnya dan membuat wajahnya memerah sampai ketelinga dan jelas saja membuat Jong-in tertawa geli melihatnya.
“Diam kau!”
***
“ sudah kau temukan?”
“Memang satu persatu korban mulai bertambah, dan sialnya bukan hanya di Korea, dia sudah menyebar keseluruh negara untuk mengambil Holder, tapi tidak satupun dari korban berhubungan” ujar Suho sambil melipat lengan bajunya sampai didekat siku.
“Lay hyung, kau harus berhati-hati mulai sekarang, terlebih idenitasmu,” ujar Jong-in pada Lay yang sedang duduk dengan Gyu-ri yang berada dipangkuannya. Gadis kecil itu terlihat sangat lengket pada Lay dibandingkan orang-orang yang ada di rumah ini, bahkan Jin-ah sekalipun.
“ aku mengerti.”
“ kau yang terkuat dan bisa menggunakan Holder mu itu, hyung kumohon kau benar-benar berhati-hati” ujar D.O yang ikut menimpali, sedangkan pria itu hanya tersenyum manis menanggapinya.
“ aku akan menjaga diriku tenang saja. . .” ujar pria itu sambil mengusap kepala Gyu-ri.
Ada hal yang baru saja Jin-ah ketahui hari ini. Bahwa orang yang selalu merawat luka Gyu-ri, berada disamping gadis itu berdiam berjam-jam tanpa bergerak dengan keringat yang selalu mengucur deras adalah seorang Holder., Holder penyembuh, Uniqorn. Dia salah satu manusia yang bisa menggunakan Holder dari dalam dirinya dan salah satu yang terkuat dari yang sejak tadi dibahas Jong-in.
Sudah hampir 2 bulan sejak kejadian itu, semuanya seolah kembali kejalan buntu tanpa ada petunjuk, bahkan daftar orang-orang yang dikumpulkan sebelumnya pun sudah menghilang. Dan setiap harinya orang-orang yang tidak tahu apa-apa, mati. Dan jelas saja membuat emosi Jong-in tidak stabil.
“ Ahjusshi . . .” ujar Gyu-ri sambil menarik kerah baju pria itu yang membuat pria itu harus membungkuk.
“ hm?”
“ ada seseorang yang didalam tubuhku memaksa untuk meminjam tubuhku sebentar, tapi dia tidak bisa melakukannya. Kau bisa melakukannya?” ujar Gyu-ri yang membuat semua orang yang ada disana langsung menatap Gyu-ri kebingungan, termasuk Lay.
“ tidak ada siapapun didalam tubuhmu Gyu. . .”
“ Ah. . . mian” ujar Gyu-ri dengan suara dan logat berbeda yang membuat semua orang yang ada disitu waspada tingkat tinggi. Terlebih Jin-ah yang bahkan langsung meraih pisau buah walaupun detik berikutnya Jong-in bangkit dan merebutnya dari tangan Jin-ah lalu mendudukannya di pangkuannya dan mengunci tubuhnya dengan kedua tangannya.
“ Annyeong” ujar gadis itu lagi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
“ Athena. ” ujar Jong-in yang membuat Gyu-ri menelengkan kepalanya dan menatap Jong-in dengan wajahnya yang sangat sulit ditebak sedangkan Lay hanya bisa membeku ditempat karna gadis itu sedang berada dipangkuannya. Tidak hanya Gyu-ri, ekspresi Jong-in pun tidak dapat ditebak.
“ benar, aku Athena, walaupun sekedar ingatanku. Gadis mungil ini, adalah anakku. Bisa dikatakan seperti itu.” Ujar gadis itu sambil melompat turun dari pangkuan Lay dan berjalan ke arah sofa yang masih kosong lalu dengan susah payah gadis itu duduk diatas sofa. Tatapannya benar-benar dingin, seperti Gyu-ri yang biasanya walaupun versi yang ini lebih mengerikan dibanding sebelum-belumnya.
“ Baik! langsung saja kukatakan. Kalian tidak bisa memburu, menangkap bahkan membunuh Hades sekarang, dan itu juga berlaku padaku. Diam saja dan persiapkan diri dengan baik, tunggu dia muncul menemui kalian seperti sebelumnya.” Ujar gadis itu sambil melipat kedua kakinya dengan tangan yang entah sejak kapan sudah bermain dengan rambutnya.
“ apa maksudmu?” tanya Baekhyun yang hanya dia tanggapi dengan senyum dan detik berikutnya gadis itu menyentak tubuhnya kepunggung sofa.
“ sudah jelas bukan? Hades yang sekarang, hades yang telah pulih itu, tidak bisa kau bunuh dengan mudah, terlebih memang dia tidak punya nyawa yang sebenarnya. Kau tak akan bisa membunuhnya, tidak , lebih tepatnya belum saatnya. Jadi kumohon jangan sia-siakan diri kalian. Bersembunyilah dan persiapkan perang yang akan di mulai” ujar gadis itu sambil menghamburkan tatapanya kesemua orang yang ada di sana. Tatapan yang dingin dan penuh pemaksaan untuk menatapanya.
“ bukan berarti aku tidak membantu, hanya saja dengan tubuhku yang sekecil ini, aku tidak mungkin bisa bertarung.” Lanjut gadis itu lagi. Sedangkan semua orang yang ada disana sepertinya tidak berniat untuk berkomentar sedikitpun.
“ lalu apa yang harus kita lakukan jika dalam persembunyian kita tertangkap. Dan bagaimana orang-orang yang mati di bunuh Hades?” Tanya Chanyeol yang terlihat frustrasi hingga mengajukan pertanyaan bodoh itu.
“ itulah sebabnya aku keluar dari tubuh ini, waktuku sedikit, jadi dengarkan aku baik-baik “
***
“ Athena muncul tuanku. . .” ujar seorang gadis sambil berlutut pada pria yang duduk diatas pagar balkon dengan gelas wine ditangannya. Pria itu sepertinya tidak terlalu peduli dengan gadis yang sedang berlutut dibelakangnya.
“ kau terlalu ambisius Rae ah, dan juga terburu-buru” ujar pria itu sambil berdiri dan berjalan diatas pagar dengan sempoyongan. Namun gadis itu hanya memasang wajah biasa saja seolah tidak khawatir tuannya itu jatuh.
“ juseonghamnida. . .” ujar gadis itu sambil menundukan kepalanya. Pria itu tertawa keras lalu berputar dengan menumpukan satu kakinya sebagai poros.
“ aniya, aniya. . . kau tak perlu minta maaf. Aku hanya memperingatkan itu padamu.” Ujar pria itu sambil berjalan kesisi yang lain hingga akhirnya dia berhenti dan menatap deretan mobil yang berlalu lalang dibawahnya dengan memasang wajah yang begitu dingin. Tiba-tiba dia meremas gelas yang ada ditangannya hingga hancur menyisakan remahan gelas yang jatuh. Mata pria itu berubah seperti lautan dalam yang berwarna hijau.
“Kim Jong-in. . . akan kuhancurkan seperti kau menghancurkanku. . .”
-TBC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s